Saya inget banget, ada beberapa bulan waktu itu saya bolak-balik buka laptop malam-malam, mikir mau mulai sesuatu di luar kerjaan utama saya. Tapi tiap kali sudah di depan halaman kosong, ada suara di kepala yang bilang, “ah nanti aja, tunggu anak-anak lebih besar dulu.” Terus saya tutup laptop lagi.
Itu terjadi bukan sekali. Berulang kali. Dan saya baru sadar belakangan bahwa yang menahan saya bukan waktu, bukan juga skill. Yang menahan saya adalah keyakinan yang saya sendiri belum pernah tes apakah itu benar atau cuma cerita yang saya ulang-ulang di kepala.
Saya kenal satu kerangka sederhana, namanya Limiting Belief Buster, dari salah satu sesi coaching bisnis yang saya ikuti. Awalnya saya pikir ini cuma teori motivasi lagi. Tapi setelah saya coba pakai sendiri untuk mikirin kenapa saya nunda-nunda mulai sesuatu, ternyata ini yang paling praktis dari semua yang pernah saya coba. Bukan karena bikin saya semangat tiba-tiba. Tapi karena bikin saya spesifik soal apa yang sebenarnya menahan saya.
Dua Jenis Keyakinan yang Sering Ketuker
Ini bagian yang menurut saya paling penting dari framework Limiting Belief Buster, dan paling sering dilewatkan orang.
Ada dua jenis keyakinan yang menahan kita mulai sesuatu, dan mereka kelihatannya mirip tapi sebenarnya beda total.
Keyakinan soal kemampuan. Ini tentang diri kamu sendiri, soal bisa atau tidak bisa. Contohnya “saya tidak jago jualan,” atau “saya tidak punya cukup pengetahuan buat mulai ini.” Keyakinan ini bikin kamu menghindar dari aktivitas tertentu, karena kamu pikir kamu tidak sanggup.
Keyakinan soal identitas. Ini bukan soal bisa atau tidak, tapi soal boleh atau tidak boleh, soal siapa kamu kalau kamu berhasil. Contohnya “kalau saya jadi orang yang punya banyak income tambahan, saya bakal jadi ayah yang lebih fokus ke uang daripada ke anak,” atau “orang yang sukses secara materi itu biasanya jadi sombong, dan saya tidak mau jadi begitu.”
Kebanyakan orang, termasuk saya waktu itu, cuma sadar sama jenis pertama. Kita coba bangun rasa percaya diri, coba belajar skill baru, coba dorong diri sendiri lebih berani. Tapi keyakinan soal identitas dibiarkan begitu saja. Dan itu yang paling sering bikin orang berhenti tepat sebelum ada hasil, bukan sebelum mulai.
Dua Pertanyaan yang Bikin Saya Berhenti Muter-Muter
Framework ini punya dua pertanyaan inti, dan masing-masing untuk jenis keyakinan yang berbeda.
Pertanyaan 1: “Kenapa Bukan Saya?”
Ini pertanyaan untuk keyakinan soal kemampuan.
Waktu itu saya lihat seseorang yang mulai jualan produk digital kecil dan dalam beberapa bulan sudah punya pelanggan tetap. Reaksi pertama saya, “wah keren, tapi saya kayaknya nggak bisa kayak gitu.” Itu keyakinan yang menahan, dan kalau saya biarkan, dia cuma jadi kalimat kosong di kepala.
Pertanyaannya adalah: kenapa bukan saya? Apa alasan spesifik yang bikin saya tidak bisa melakukan hal yang sama?
Waktu saya coba jawab jujur, jawabannya bukan “saya tidak sanggup.” Jawabannya lebih spesifik: “saya belum tahu cara packaging produk digital yang sederhana” dan “saya belum tahu harus mulai dari mana untuk cari orang pertama yang mau beli.” Itu bukan ketidakmampuan. Itu skill gap yang bisa dipelajari.
Perbedaan ini kelihatan kecil tapi dampaknya besar. Keraguan yang samar itu bikin lumpuh. Kalimat spesifik itu bisa diselesaikan.
Pertanyaan 2: “Ada Nggak Orang Kayak Saya yang Udah Berhasil?”
Ini pertanyaan untuk keyakinan soal identitas, dan pertanyaan pertama tidak akan cukup buat jenis ini.
Kalau keyakinan saya adalah “orang yang fokus cari income tambahan itu jadi kurang hadir buat anak,” saya tidak bisa selesaikan itu dengan bilang “kenapa bukan saya bisa hadir dan juga cari income.” Karena masalahnya bukan soal bisa, tapi soal apakah itu boleh saya lakukan tanpa jadi orang yang saya sendiri tidak mau jadi.
Yang bisa mematahkan keyakinan ini adalah bukti. Ada nggak orang yang punya latar belakang, nilai, dan batasan waktu yang mirip saya, tapi tetap berhasil punya income tambahan sambil tetap hadir untuk anak? Kalau ada satu orang saja, keyakinan itu mulai retak. Karena logika di kepala kita yang bilang “kalau kamu kejar income, otomatis kamu kurang hadir” langsung terbantahkan sama satu bukti nyata.
Saya cari, dan memang ketemu beberapa. Bukan orang terkenal, cuma orang yang saya kenal atau baca cerita mereka, yang kerja terbatas jamnya karena memang komitmen sama keluarga, tapi tetap bangun sesuatu di luar kerjaan utama secara perlahan. Begitu saya lihat itu ada, keyakinan saya yang bilang “saya harus pilih salah satu” jadi tidak masuk akal lagi.
Tabel ini yang saya pakai sendiri buat mulai memetakan:
| Jenis Keyakinan | Cirinya | Pertanyaan yang Cocok |
|---|---|---|
| Soal kemampuan | “Saya tidak bisa / tidak jago” | Kenapa bukan saya? Apa yang spesifik menahan? |
| Soal identitas | “Kalau berhasil, saya jadi orang yang tidak saya mau” | Ada nggak orang kayak saya yang sudah berhasil dan tetap jadi diri yang saya hargai? |
| Campuran keduanya | Muncul sebagai “saya tidak pantas” atau “bukan waktu saya” | Pisahkan dulu, jawab satu-satu, jangan digabung |
Kesalahan yang Hampir Saya Lakukan
Waktu pertama kali saya coba framework ini, saya bikin dua kesalahan yang menurut saya perlu saya kasih tahu, karena kemungkinan besar kamu juga akan mengalami yang sama.
Kesalahan pertama, saya coba pecahkan semua keyakinan yang menahan saya dalam satu malam. Ada sekitar tujuh atau delapan hal yang muncul begitu saya mulai jujur ke diri sendiri. Hasilnya saya kewalahan, dan tidak ada satu pun yang benar-benar selesai. Yang lebih masuk akal adalah pilih satu, maksimal dua, yang kalau dipatahkan bakal ngasih dampak paling besar buat langkah kamu sekarang. Sisanya nanti saja.
Kesalahan kedua, saya pikir begitu saya sadar keyakinan itu cuma cerita, bukan fakta, otomatis keyakinan itu langsung hilang. Nyatanya tidak. Sadar itu cuma langkah pertama. Keyakinan lama masih akan muncul lagi, terutama di momen kamu mulai ada progres kecil. Itu normal, dan bukan tanda kamu gagal memakai frameworknya.
Bagaimana Ini Bekerja di Kehidupan Saya
Yang saya alami sendiri bukan soal langsung dapat hasil besar. Yang saya alami adalah keyakinan kecil yang bikin saya nunda nulis dan bangun sistem yang sekarang jadi Not A Perfect Daddy ini.
Selama beberapa bulan, keyakinan saya yang paling menahan adalah “saya belum cukup ahli untuk nulis dan dibaca orang.” Itu keyakinan soal kemampuan. Waktu saya tanya ke diri sendiri kenapa bukan saya, jawabannya bukan “saya tidak bisa nulis.” Jawabannya adalah “saya belum pernah konsisten nulis lebih dari dua minggu.” Itu bisa diselesaikan, bukan dengan motivasi, tapi dengan komitmen kecil yang saya ulang tiap hari.
Ada juga keyakinan identitas yang lebih halus, yaitu takut kelihatan kayak orang yang cari perhatian kalau saya share hal-hal personal soal jadi Daddy. Yang bantu saya lewat itu adalah nemu beberapa orang yang nulis jujur soal keluarga mereka tanpa kelihatan cari validasi, dan tetap dihargai. Begitu saya lihat itu mungkin, saya berhenti nahan diri.
Saya kerja maksimal 2-4 jam kerja sehari sekarang, dan proyek ini salah satu yang saya bangun di dalam jam itu, bukan di luar jam yang seharusnya untuk keluarga. Itu bagian yang paling penting buat saya. Bukan soal seberapa besar hasilnya, tapi soal apakah caranya konsisten dengan yang saya mau jadi sebagai Daddy.
Siapa yang Akan Dapat Manfaat Paling Besar?
Cocok kalau kamu: sudah lama mikirin satu ide income tambahan tapi selalu berhenti di tahap “nanti aja,” dan kamu belum pernah coba pisahkan alasan kamu jadi spesifik.
Mungkin belum waktunya kalau: kamu baru saja punya anak pertama dan masih dalam fase menyesuaikan ritme tidur dan rumah tangga. Belum apa-apa yang salah kalau kamu tunda dulu, memang bukan waktunya semua hal sekaligus.
Kalau Kamu Mau Pelajari Cara Memetakan Keyakinan Kamu Sendiri
Saya sengaja tidak bikin ini jadi kelas atau workshop, karena menurut saya cukup dengan dua pertanyaan yang saya bagikan di atas, kamu sudah bisa mulai sendiri malam ini juga.
Tapi kalau kamu mau saya tulis lebih dalam soal cara memetakan keyakinan yang menahan kamu, sebelum mulai side hustle atau langkah besar lainnya, saya tulis lebih dalam di newsletter Not A Perfect Daddy. Daftar di daddy.co.id/newsletter.
Gabung Newsletter Not A Perfect Daddy →
Pertanyaan yang Sering Muncul
Kenapa saya harus pisahkan dua jenis keyakinan ini, bukannya sama saja intinya “ragu”?
Karena solusinya beda total. Kalau keyakinan kamu soal kemampuan, solusinya belajar skill dan latihan kecil, itu masalah teknis. Kalau keyakinan kamu soal identitas, solusinya adalah menemukan bukti bahwa nilai yang kamu pegang dan hasil yang kamu incar bisa jalan bersamaan. Kalau kamu coba pakai solusi skill untuk masalah identitas, kamu akan makin percaya diri secara teknis tapi tetap sabotase diri sendiri di momen sebelum berhasil. Ini yang sering bikin orang plateau padahal sudah kerja keras.
Saya sudah tahu keyakinan saya, tapi kok tetap sulit berubah?
Ini normal. Sadar itu langkah pertama, bukan langkah terakhir. Kalimat baru yang kamu pilih (“saya bisa belajar packaging produk digital”) perlu dibuktikan lewat tindakan kecil yang berulang, bukan cuma diucapkan sekali. Butuh waktu, dan dari yang saya baca, kisaran 30 sampai 60 hari baru terasa beneran melekat, bukan cuma jadi kalimat afirmasi kosong.
Bagaimana kalau saya tidak kenal siapa-siapa yang mirip situasi saya untuk pertanyaan kedua?
Kamu tidak harus kenal langsung. Baca cerita mereka, tonton wawancara singkat, atau cari di komunitas online. Yang penting bukan kedekatan personal, tapi kesamaan konteks: latar belakang, batasan waktu, atau nilai yang mereka pegang. Satu contoh yang cukup mirip sudah cukup untuk mulai meretakkan keyakinan yang menahan.
Apakah framework ini bisa dipakai untuk hal selain side hustle?
Bisa. Saya sendiri pakai untuk keyakinan soal delegasi kerja, soal kepercayaan diri ngomong di depan orang, dan beberapa hal lain di luar income. Intinya sama: pisahkan dulu apakah ini soal kemampuan atau soal identitas, baru pilih pertanyaan yang cocok.
Apakah ini berarti saya harus langsung mulai bisnis besar begitu keyakinannya patah?
Tidak harus, dan menurut saya justru jangan. Begitu keyakinan yang menahan sudah retak, langkah selanjutnya tetap harus kecil dan bisa diukur. Satu langkah lebih jauh dari posisi kamu sekarang sudah cukup. Bukan lompatan besar yang bikin kamu kembali ragu karena terlalu banyak sekaligus.

