Ini bukan artikel tentang cara nulis yang lebih cepat atau lebih bagus. Ini lebih ke pengakuan jujur tentang kenapa saya tidak pernah konsisten nulis selama bertahun-tahun, dan apa yang akhirnya berubah.

Saya mulai kerja di dunia digital sejak lama. Saya tahu cara kerja konten, saya tahu nulis itu penting untuk personal brand, saya bahkan sering menyarankan klien untuk nulis konten. Tapi saya sendiri tidak melakukannya secara konsisten.

Bukan karena tidak ada waktu, soalnya kalau jujur, waktu itu selalu bisa dicari. Bukan karena tidak ada yang mau ditulis, karena isi kepala saya sebenarnya selalu penuh. Alasannya lebih halus dari itu.

Yang Sebenarnya Menghentikan Saya

Ada dua hal yang saya temukan setelah cukup jujur ke diri sendiri.

Yang pertama adalah standar yang tidak pernah bisa saya penuhi sendiri. Setiap kali mau nulis, ada suara di kepala yang bilang “ini belum cukup bagus untuk dipublish.” Standar itu abstrak, tidak ada angkanya, tidak ada penjelasannya, dan karena abstrak itu tidak pernah bisa dipenuhi. Jadi hasilnya selalu sama: tidak jadi publish.

Yang kedua adalah tidak tahu mau mulai dari mana setiap kali duduk mau nulis. Kepala penuh ide tapi begitu duduk di depan dokumen kosong, semua itu buyar. Saya tahu ini terdengar paradoks tapi ini nyata. Terlalu banyak pilihan itu paralisasi, bukan kemudahan.

Dua hal itu, standar abstrak dan titik mulai yang tidak jelas, adalah kombinasi yang sangat efektif untuk bikin seseorang tidak pernah nulis bertahun-tahun.

Yang Akhirnya Berubah

Perubahan pertama yang nyata bukan soal teknik nulis. Perubahan pertama adalah saya berhenti mencoba untuk menulis “artikel yang bagus” dan mulai mencoba untuk menulis “satu artikel yang selesai.”

Itu perbedaan yang terdengar kecil tapi dampaknya besar. “Bagus” itu subjektif dan tidak pernah terukur. “Selesai” itu binary. Selesai atau belum. Dan ketika target saya berubah dari “bagus” ke “selesai”, tiba-tiba artikel yang 80 persen itu sudah bisa dipublish.

Perubahan kedua adalah saya berhenti mencoba memilih topik di saat yang sama dengan nulis. Ini yang saya tidak sadar selama bertahun-tahun: saya selalu mencoba dua hal sekaligus dalam satu sesi. Mikir mau nulis apa dan nulis itu sendiri. Dan karena otak saya tidak cukup fokus untuk dua hal sekaligus, keduanya tidak ada yang selesai.

Sekarang, mau nulis apa itu keputusan yang saya buat di waktu yang terpisah, biasanya beberapa hari sebelumnya atau di awal minggu. Saat duduk nulis, keputusan itu sudah ada. Sesi nulis jadi benar-benar sesi nulis.

Soal Hadir untuk Anak dan Nulis

Ada guilt yang cukup lama saya bawa juga. Setiap kali mau nulis, ada pikiran “waktu ini harusnya untuk anak.” Dan setiap kali sama anak, ada pikiran “seharusnya saya sudah nulis sesuatu hari ini.”

Yang membantu adalah ketika saya mulai melihat dua hal ini bukan sebagai kompetitor tapi sebagai dua tangki yang berbeda. Saya tidak sedang memilih antara hadir untuk anak atau membangun sesuatu. Saya sedang mengatur kapan masing-masing tangki diisi.

Waktu bersama anak adalah waktu bersama anak, sepenuhnya. Waktu nulis adalah waktu nulis, sepenuhnya. Ketika keduanya punya slot yang jelas dan tidak saling tumpeng tindih, guilt itu berkurang karena tidak ada yang “dicuri” dari yang lain.

Saya nulis di waktu yang memang sudah saya alokasikan, bukan di waktu yang seharusnya untuk hal lain. Dan karena sistemnya sudah ada, saya tahu persis kapan nulis dan kapan hadir sepenuhnya.

Apa yang Saya Buat Berbeda Sekarang

Kalau saya bandingkan cara nulis sekarang dengan cara saya mencoba nulis bertahun-tahun yang lalu, ada beberapa hal yang berubah cukup signifikan.

Dulu saya tidak punya daftar topik yang disiapkan lebih awal. Sekarang saya punya, dan daftar itu terus bertambah setiap kali saya punya pengalaman baru atau belajar sesuatu yang menarik. Artinya, saya tidak pernah duduk dengan dokumen kosong dan tidak tahu mau ke mana.

Dulu saya mencoba nulis artikel yang “sempurna” dalam satu sesi panjang. Sekarang saya pisahkan drafting dan editing. Draft pertama itu jelek dan memang boleh jelek. Yang penting keluar dulu semua. Baru di sesi terpisah saya rapikan. Dua hal yang berbeda ini tidak bisa dilakukan dengan baik di waktu yang sama.

Dulu saya tidak punya standar “selesai” yang jelas. Sekarang “selesai” berarti: semua section ada, sudah bisa dibaca dari awal sampai akhir tanpa ada yang bolong, dan ada satu takeaway yang jelas. Kalau sudah memenuhi itu, artikel dipublish. Tidak perlu sempurna.

Dan satu hal lagi yang perubahannya lebih ke mindset daripada teknis: saya berhenti membandingkan tulisan saya dengan standar konten yang dibuat orang lain yang sudah nulis bertahun-tahun. Itu bukan perbandingan yang adil dan tidak membantu apapun. Yang lebih berguna adalah bandingkan tulisan saya bulan ini dengan tulisan saya 3 bulan yang lalu. Kalau ada perbaikan di situ, itu sudah progress yang nyata.

Bagaimana Ini Bekerja di Kehidupan Saya

Sekarang ritme yang bekerja untuk saya kurang lebih begini: di awal minggu saya sudah punya topik yang mau ditulis. Topik ini bukan hasil brainstorming mendadak, tapi hasil dari daftar yang memang sudah saya siapkan sebelumnya. Saya tulis dalam satu atau dua sesi masing-masing 45-60 menit, biasanya malam setelah anak tidur atau pagi sebelum semua orang bangun.

Tidak setiap minggu berjalan mulus. Ada minggu di mana artikelnya tidak selesai karena ada hal lain yang tidak bisa ditunda. Tapi karena sistemnya sudah ada, minggu berikutnya tinggal lanjut, tidak perlu mulai dari nol lagi.

Ini bukan Not A Perfect Daddy yang punya sistem sempurna. Ini Daddy yang punya sistem yang cukup untuk bergerak maju, dan itu sudah jauh lebih baik dari empat tahun tunda.

Siapa yang Akan Dapat Manfaat Paling Besar?

Cocok kalau kamu: Daddy yang sudah lama “mau nulis tapi belum mulai” dan sadar bahwa masalahnya bukan di luar tapi di dalam, atau yang punya pengetahuan dan pengalaman yang layak dibagikan tapi selalu tertahan oleh standar diri sendiri yang tidak pernah cukup.

Mungkin belum waktunya kalau: Kamu belum punya alasan yang cukup jelas kenapa mau nulis. Bukan alasan yang megah, tapi setidaknya ada satu orang spesifik yang kamu bayangkan akan terbantu. Tanpa itu, sistem apapun tidak akan bertahan lama.

Satu Langkah Lebih Jauh dari Sekadar Niat

Kalau kamu mau saya ceritakan lebih dalam soal cara membangun sistem konten yang tidak terlalu bergantung pada mood atau motivasi, saya tulis lebih banyak tentang itu di newsletter Not A Perfect Daddy. Daftar gratis di daddy.co.id/newsletter dan saya kirim tiap minggu, hal-hal kecil yang praktis bukan ceramah panjang.

Gabung Newsletter Not A Perfect Daddy ->

Pertanyaan yang Sering Muncul

Bagaimana cara mengatasi perasaan “tulisan saya tidak cukup bagus”?

Ini pertanyaan yang tidak ada jawaban sekali-selesai. Yang bekerja untuk saya adalah tanya ke diri sendiri: “Apakah satu orang saja bisa terbantu oleh tulisan ini?” Kalau jawabannya ya, itu sudah cukup alasan untuk publish. Kamu tidak perlu nulis untuk semua orang. Cukup untuk satu orang yang spesifik.

Berapa lama butuh waktu sebelum nulis terasa lebih natural dan tidak menyiksa?

Dari yang saya alami dan lihat, sekitar 20-30 artikel yang dipublish. Bukan diraft, tapi dipublish. Di sana kamu biasanya mulai menemukan ritme dan suara sendiri. Sebelum angka itu, prosesnya masih awkward dan itu normal.

Apakah ada cara untuk nulis lebih cepat bagi Daddy yang waktunya sempit?

Ada beberapa hal yang membantu: tahu topiknya sebelum duduk nulis, draft kasar dulu tanpa edit sama sekali, edit di sesi terpisah. Yang paling berdampak biasanya adalah pisahkan drafting dan editing. Banyak orang memperlambat diri sendiri karena mencoba edit sambil menulis.

Kapan waktu terbaik untuk nulis bagi Daddy dengan anak kecil?

Tergantung ritme keluarga. Sebagian orang lebih produktif di pagi hari sebelum anak bangun. Sebagian lain di malam setelah anak tidur. Yang penting: pilih satu waktu yang konsisten, lindungi waktu itu, dan jangan mencoba nulis di celah-celah waktu bersama anak karena hasilnya tidak maksimal di kedua sisi.

Bagaimana kalau sudah mulai tapi kemudian berhenti lagi selama berminggu-minggu?

Jangan hitung jumlah minggu yang terlewat. Kembali saja ke artikel berikutnya. Konsistensi jangka panjang itu bukan soal tidak pernah berhenti, tapi soal selalu kembali. Dan semakin kuat sistemmu, semakin mudah untuk kembali karena kamu tidak harus mulai dari nol setiap kali.

Apakah pengalaman bertahun-tahun itu benar-benar dibutuhkan sebelum bisa nulis konten yang berguna?

Tidak, dan ini salah satu alasan paling sering yang saya dengar dari orang yang menunda. Tapi yang paling berguna untuk dibaca justru bukan dari orang yang sudah ahli, tapi dari orang yang baru 6-12 bulan lebih maju dari pembacanya. Jarak itu cukup untuk punya insight yang relevan, tapi tidak terlalu jauh sehingga lupa rasanya baru mulai. Kalau kamu sudah lebih dulu dari seseorang di satu bidang, itu sudah cukup untuk nulis tentang perjalanan itu.

Berapa banyak artikel yang perlu dipublish sebelum bisa mulai membangun audience?

Tidak ada angka ajaib, tapi dari yang saya amati, biasanya setelah 15-20 artikel yang dipublish secara konsisten, mulai ada tanda-tanda yang terasa berbeda. Artikel lama mulai dapat traffic organic, beberapa orang mulai subscribe, ada yang share. Sebelum angka itu, kebanyakan effort terasa seperti berbicara ke ruang kosong dan itu normal. Jangan berhenti di sana.