Saya pernah bikin konten yang, menurut saya sendiri, cukup bagus. Informatif, ada struktur, ada hook. Tapi hasilnya sepi. Bukan sepi satu dua like, tapi benar-benar sepi, 40-50 tayangan, tidak ada komentar berarti, bukan share.
Dan waktu itu reaksi saya adalah menyalahkan algoritma.
Tapi setelah saya pelajari lebih dalam, ternyata masalahnya bukan algoritma. Masalahnya adalah saya menulis untuk audience yang tidak ada di titik itu. Saya sedang ngomong tentang solusi spesifik, sementara orang yang nonton belum sepenuhnya sadar ada masalah yang perlu diselesaikan. Seperti kamu masuk ke toko furnitur, dan pramuniaganya langsung nawarin sofa seharga Rp 15 juta, padahal kamu baru masuk cuma mau lihat-lihat.
Ada satu framework yang mengubah cara saya berpikir tentang konten, dan itu dari Eugene Schwartz, copywriter legendaris dari tahun 1960-an. Konsepnya: 5 Level Kesadaran Audience. Sederhana tapi membuka banyak hal yang sebelumnya tidak saya mengerti.
Kenapa Kontenmu Bagus tapi Tidak Kerja
Pertama, saya mau cerita dulu kenapa ini penting untuk Daddy yang baru mulai bikin konten, bukan hanya untuk copywriter profesional.
Kalau kamu mau membangun personal brand, monetisasi skill, atau sekadar ingin kontenmu berguna bagi orang lain, kamu perlu memahami bahwa orang yang melihat kontenmu tidak berada di titik yang sama. Ada yang baru pertama kali ketemu topik ini. Ada yang sudah lama tahu masalahnya tapi belum tahu solusi apa yang tersedia. Ada yang sudah tahu beberapa solusi tapi belum yakin pilihannya. Ada yang sudah hampir yakin tapi masih ragu-ragu.
Satu konten tidak bisa menjawab semua level itu sekaligus. Dan kalau kamu pakai pendekatan yang sama untuk semua level, kamu akan kehilangan sebagian besar audience-mu.
5 Level Kesadaran: Penjelasan Versi Daddy
Level 1: Unaware, Tidak Tahu Ada Masalah
Ini orang yang hidupnya berjalan normal, menurut mereka. Mereka tidak tahu ada sesuatu yang bisa lebih baik, atau ada masalah yang diam-diam sedang menggerogoti.
Contoh dalam konteks Daddy creator: seseorang yang bikin konten asal-asalan, menganggap engagement rendah itu normal. Dia tidak tahu bahwa ada cara untuk bikin konten yang benar-benar konek dengan audience.
Kalau kamu bikin konten untuk Level 1, kamu tidak bisa langsung ngomong “pelajari 5 level awareness ini.” Mereka tidak tahu kenapa itu relevan. Konten yang cocok untuk Level 1 adalah konten yang membuka kesadaran akan masalah, bukan solusi. Artikel atau video yang judulnya “Kenapa konten yang bagus sepi penonton” lebih masuk ke kepala mereka dibanding “Cara pakai framework Eugene Schwartz untuk konten.”
Level 2: Problem Aware, Tahu Ada Masalah tapi Belum Tahu Solusi
Mereka tahu ada sesuatu yang tidak beres. Tapi tidak tahu harus mulai dari mana.
Daddy yang sudah beberapa bulan bikin konten, tahu engagement-nya rendah, tahu ada yang kurang, tapi tidak tahu apa yang perlu diperbaiki. Apakah masalahnya di visual? Di copywriting? Di topik? Di frekuensi posting? Mereka tahu ada masalah, tapi belum tahu nama masalahnya.
Konten untuk Level 2 adalah yang membantu mereka mendefinisikan masalah lebih jelas, dan mulai menunjukkan bahwa ada beberapa solusi yang tersedia. Bukan langsung jualan satu solusi spesifik.
Level 3: Solution Aware, Tahu Ada Solusi tapi Belum Tahu Punyamu
Ini yang paling banyak jumlahnya di audience konten edukasi. Mereka sudah tahu, misalnya, bahwa ada yang namanya “framework konten,” “copywriting,” “content strategy.” Tapi mereka tidak tahu spesifiknya, atau tidak tahu versi kamu yang mana.
Kalau kamu punya pendekatan atau sistem sendiri, ini levelnya kamu mulai positioning. Bukan “pelajari copywriting,” tapi “ini cara saya membangun konten yang konek dengan audience saya yang spesifik, beda dari kebanyakan advice umum yang kamu temuin.”
Level 4: Solution Aware dan Kenal Kamu, tapi Belum Yakin
Mereka sudah pernah lihat kontenmu. Mungkin sudah follow. Tapi masih ada pertanyaan di kepala: “Apa ini beneran cocok buat situasi saya? Ini bukan untuk orang yang lebih advanced? Apakah effort-nya sepadan?”
Konten untuk Level 4 adalah yang menjawab keberatan itu. Case study spesifik, testimonial, FAQ yang jujur, perbandingan nyata.
Level 5: Sudah Yakin, Tinggal Perlu Dorongan Terakhir
Mereka sudah hampir. Hanya butuh satu hal terakhir: kemudahan untuk mulai. Tombol yang jelas, langkah pertama yang sederhana, tidak ada friction.
Di Mana Kesalahan Paling Sering Terjadi
Kalau saya lihat konten Daddy creator yang baru mulai, pola yang paling sering muncul adalah ini: mereka langsung bikin konten Level 4 atau 5. Konten yang membahas kelebihan sistem atau produk mereka, atau konten yang sudah sangat spesifik untuk orang yang sudah almost-convinced.
Padahal sebagian besar audiencenya masih Level 1 atau 2. Belum tahu ada masalah yang perlu diselesaikan.
Hasilnya? Konten yang sebenarnya berkualitas, tapi tidak dapat traction. Bukan karena salah, tapi karena salah alamat.
Bagaimana Ini Bekerja di Kehidupan Saya
Saya akan jujur: saya baru benar-benar mengerti ini secara praktis belakangan, meskipun materialnya sendiri sudah lama ada.
Yang saya ubah adalah cara saya berpikir tentang siapa yang akan melihat konten ini. Sebelum nulis atau bikin konten apapun, saya tanya ke diri sendiri: orang ini ada di level berapa? Apakah mereka sudah tahu ada masalah yang saya bahas, atau saya perlu membantu mereka melihat masalah itu dulu?
Kalau saya tidak tahu jawabannya, saya pilih yang lebih rendah. Lebih aman bikin konten yang sedikit lebih educational dari yang diperlukan, daripada bikin konten yang terlalu advanced dan orang tidak connect.
Dan satu hal yang menarik, tapi mungkin tidak obvious: konten untuk Level 1 dan 2 biasanya yang paling viral, karena menjangkau lebih banyak orang. Konten untuk Level 4 dan 5 biasanya yang paling convert, tapi reach-nya lebih kecil. Keduanya perlu, tergantung tujuan kamu saat itu.
Cara Praktis Menggunakan Framework Ini
Kalau kamu baru mulai bikin konten dan bingung mau mulai dari mana, ini yang saya sarankan.
Pertama, petakan tiga jenis konten untuk tiga level berbeda. Level 1-2 untuk menjangkau orang baru yang belum tahu ada masalah. Level 3 untuk mulai positioning apa yang kamu tawarkan. Level 4-5 untuk mengkonversi yang sudah hampir yakin.
Kedua, kalau kamu baru mulai dan belum punya banyak follower, fokus dulu ke Level 1 dan 2. Konten yang membuka kesadaran menjangkau lebih banyak orang, dan dari sana mereka mulai perjalanan naik level.
Ketiga, perhatikan komentar dan DM. Itu adalah petunjuk paling jelas di mana audiencemu berada. Kalau banyak yang nanya “ini apa sih?” berarti kontenmu terlalu Level 4 untuk audience yang masih Level 1. Kalau banyak yang nanya soal perbandingan atau “lebih baik dari X tidak?” berarti mereka sudah di Level 3.
Dan ini yang saya temukan paling berguna: satu topik bisa kamu bahas dari 5 sudut yang berbeda, masing-masing untuk level yang berbeda. Topik yang sama, pendekatan yang berbeda, audience yang berbeda. Itu juga cara membuat satu sumber konten jadi lebih banyak outputnya.
Kapan Ini Cocok, Kapan Belum Waktunya
Framework ini paling berguna kalau kamu sudah mulai aktif bikin konten dan ingin lebih sistematis. Kalau kamu masih di tahap “baru mau mulai, belum tahu topiknya apa,” settle dulu soal niche dan topik utama. Framework awareness level ini tentang messaging, bukan tentang apa yang perlu kamu bahas.
Juga, ini bukan teori yang perlu kamu hafal sampai detail. Yang paling penting adalah satu pertanyaan: “Orang yang akan lihat ini, mereka sudah tahu ada masalah ini atau belum?” Kalau sudah, kamu bisa langsung ke solusi. Kalau belum, mulai dari problem-awareness dulu.
Saya sudah coba jalankan ini sambil kerja dalam 2-4 jam sehari, dan yang membantu adalah tidak perlu bikin konten untuk semua level sekaligus. Pilih satu level per sesi konten. Lebih fokus, lebih mudah dieksekusi.
Satu Hal yang Sering Terlewat
Yang paling non-obvious dari framework ini, menurut saya, bukan soal 5 levelnya. Itu mudah dihafal.
Yang sering terlewat adalah: mayoritas konten creator, termasuk yang sudah cukup berpengalaman, bikin konten dari perspektif mereka sendiri, dari sudut pandang orang yang sudah di Level 5. Mereka sudah tahu semua detailnya, sudah convinced, sudah paham kenapa ini penting. Lalu mereka bikin konten dengan asumsi audiencenya juga sudah di level yang sama.
Padahal audience yang baru ketemu mereka pertama kali, yang mereka paling butuh untuk pertumbuhan, biasanya masih ada di Level 1 atau 2.
Kurva empati itu yang perlu kamu latih. Bukan soal menurunkan kualitas konten, tapi soal memulai dari titik yang benar.
Kalau kamu mau membangun konten sebagai bagian dari cara kamu hadir untuk keluarga, dalam artian kamu membangun income yang lebih stabil tanpa harus kerja lebih panjang, framework ini adalah fondasi yang sering dilewati orang karena terlalu ingin langsung ke teknis.
Saya tulis lebih banyak soal konten dan cara membangun sistem yang sustainable untuk Daddy di newsletter Not A Perfect Daddy. Kalau kamu mau, daftar di daddy.co.id/newsletter.
FAQ
Apakah saya perlu bikin konten untuk semua 5 level? Tidak harus sekaligus. Mulai dari level yang paling banyak audiencemu berada. Biasanya Level 1-2 untuk creator baru yang ingin tumbuh, Level 3-4 untuk yang sudah punya base dan ingin convert.
Berapa lama sampai bisa tahu framework ini bekerja? Minimal 3-4 minggu kalau kamu konsisten bikin konten per level. Perhatikan engagement dan komentar yang masuk, itu lebih bicara dari jumlah like.
Apakah ini berlaku untuk semua platform, Instagram, YouTube, TikTok? Ya. Levelnya sama, format kontennya yang beda. Video pendek lebih efektif untuk Level 1-2. Long-form video atau artikel lebih efektif untuk Level 3-4.
Kalau saya tidak yakin audience saya di level mana, mulai dari mana? Mulai dari Level 2. Konten yang membantu orang mendefinisikan masalah mereka dengan lebih jelas hampir selalu relevan, dan tidak terlalu early atau terlalu late untuk sebagian besar audience.
Apakah framework ini khusus untuk yang jual produk atau jasa? Tidak. Berlaku juga untuk personal brand yang belum monetisasi. Awareness level tentang bagaimana audiencemu memproses informasi, bukan hanya soal membeli sesuatu.

