Saya pernah post di Instagram tentang produk digital yang baru saya buat. Nulis caption panjang, desain grafisnya bagus, hashtag udah bener. Dan saya tunggu.
Nol penjualan. Satu pun tidak.
Yang bikin saya bingung waktu itu, saya sudah punya ratusan followers. Beberapa bahkan sering like dan comment konten saya sebelumnya. Tapi pas saya nawarin sesuatu? Diam.
Saya pikir masalahnya di produknya. Atau harganya terlalu mahal. Atau captionnya kurang meyakinkan. Saya revisi, posting lagi, masih nol.
Ternyata masalahnya bukan di semua itu. Masalahnya jauh lebih fundamental dari itu.
Yang Salah Bukan Produknya
Ada framework yang namanya Customer Value Journey, atau saya singkat CVJ. Konsepnya sederhana tapi sering banget diabaikan oleh Daddy yang baru mau mulai side income.
Intinya begini: orang tidak beli dari orang yang baru mereka kenal. Kepercayaan itu tidak terbentuk dalam satu post Instagram. Ada tahapan yang harus dilalui, ada jarak yang harus diperpendek dulu antara kamu dan calon pembeli, sebelum mereka mau mengeluarkan uang.
Analogi simpelnya kayak gini. Kamu ketemu seseorang di acara networking, ngobrol 5 menit, terus kamu minta nomor HP-nya. Mungkin dia kasih, mungkin tidak. Tapi kalau dalam 5 menit itu kamu langsung bilang “eh, saya jual kursus Rp500rb, mau beli?” tanpa lebih dulu bangun koneksi, kemungkinan besar dia akan sopan-sopan menolak atau pura-pura tidak dengar.
Di media sosial, mekanismenya sama persis. Orang perlu merasa kenal kamu dulu, percaya sama kamu dulu, sebelum mereka mau buka dompet.
Dan CVJ ini memetakan perjalanan itu jadi 7 tahap yang konkret.
7 Tahap Customer Value Journey
Tahap 1: Awareness
Orang tidak bisa beli dari kamu kalau mereka tidak tahu kamu ada.
Awareness adalah tahap paling awal. Seseorang baru pertama kali menemukan konten kamu, entah lewat Instagram, TikTok, Google, atau direkomendasikan teman. Di tahap ini mereka belum tahu siapa kamu, belum ada trust sama sekali.
Taktik yang bekerja di sini: posting konten secara konsisten di platform yang tepat, SEO kalau kamu punya blog atau YouTube, atau kalau punya budget ya paid ads. Tapi untuk Daddy yang kerja 2-4 jam/hari, fokus ke satu platform dulu lebih efektif daripada nyebar ke mana-mana.
Yang penting di tahap ini: jangan jualan. Belum saatnya. Tugas kamu di sini cuma satu, bikin orang tahu kamu ada.
Tahap 2: Engagement
Orang tahu kamu ada. Sekarang tugasnya bikin mereka tertarik untuk mau dengar lebih lanjut.
Engagement bukan cuma soal like dan comment. Engagement yang sesungguhnya adalah ketika seseorang mau meluangkan waktu untuk baca artikel kamu sampai selesai, nonton video kamu sampai habis, atau baca thread kamu dengan serius. Mereka mau investasikan perhatian mereka.
Konten yang efektif di tahap ini adalah yang edukatif, menghibur, atau sangat relatable. Kalau kamu nulis tentang income tambahan untuk keluarga muda, tulislah yang benar-benar terasa dari pengalaman, bukan teori marketing textbook. Orang langsung bisa bedain mana yang genuine dan mana yang cuma pengen jualan.
Saya sendiri pernah posting konten yang kelihatannya bagus tapi engagement-nya rendah, dan waktu saya cek lagi, ternyata kontennya terlalu generic. Tidak ada cerita personal, tidak ada angka konkret, tidak ada yang membuat orang berpikir “ini beneran dialami seseorang”. Begitu saya mulai nulis lebih jujur dan spesifik, engagement-nya naik cukup signifikan.
Tahap 3: Subscribe
Ini tahap yang paling krusial dan paling sering diabaikan.
Subscribe artinya kamu punya kontak mereka. Email, nomor WhatsApp, atau masuk ke grup yang kamu kelola. Kenapa ini penting banget? Karena selama kamu hanya punya followers, kamu tidak punya audiens yang beneran kamu kontrol. Algorithm Instagram bisa berubah besok dan konten kamu tidak muncul ke siapa-siapa. Tapi kalau kamu punya database email atau kontak WhatsApp, kamu bisa hubungi mereka kapan pun tanpa tergantung algorithm.
Ini yang namanya bebas dari algorithm.
Cara dapat kontak mereka: beri sesuatu yang bernilai secara gratis. Lead magnet namanya. Bisa checklist, template, mini-ebook, video singkat, atau akses ke komunitas private. Yang penting nilainya cukup tinggi sehingga mereka mau tukar dengan email atau nomor mereka.
Kalau kamu belum punya database kontak sama sekali, ini langkah pertama yang harus kamu bangun sebelum mulai jualan apapun.
Tahap 4: Convert
Baru di sini kamu bisa mulai jualan. Dan perhatikan kata “mulai”.
Convert adalah pembelian pertama. Bukan pembelian terbesar, bukan upsell mahal. Tujuannya di tahap ini adalah membuktikan bahwa kamu bisa deliver value, dan membangun kepercayaan melalui transaksi pertama yang low-risk buat mereka.
Makanya banyak yang menyarankan offer pertama yang harganya relatif terjangkau. Bukan berarti murahan, tapi low-friction. Gampang untuk diputuskan. Tidak butuh pembeli berpikir panjang.
Yang penting di tahap ini: ada bukti nyata bahwa kamu bisa dipercaya. Testimonial, hasil kerja sebelumnya, atau demo yang jelas. Semakin spesifik buktinya, semakin mudah mereka untuk memutuskan beli.
Tahap 5: Excite
Ini tahap yang membedakan yang biasa-biasa dari yang beneran membangun bisnis.
Setelah seseorang beli, mayoritas penjual fokus ke penjualan berikutnya. Tapi CVJ bilang: stop. Pastikan pembeli pertama ini merasa wow dulu.
Excite artinya kamu overdeliver. Kasih lebih dari apa yang mereka bayar. Deliver lebih cepat dari yang dijanjikan. Ada bonus yang tidak mereka ekspektasikan. Ada touch personal yang bikin mereka merasa diperhatikan.
Kenapa ini penting? Karena orang yang merasa wow setelah beli pertama kali, sangat besar kemungkinannya untuk beli lagi. Dan bahkan merekomendasikan kamu ke orang lain. Satu pembeli yang excited bisa membawa 2-3 calon pembeli baru tanpa kamu keluar uang marketing.
Saya baru benar-benar paham ini waktu saya coba kirimkan bonus yang tidak dijanjikan ke beberapa pembeli pertama saya. Responnya berbeda sekali. Beberapa langsung DM bilang terima kasih dan tanya produk lain apa yang saya punya.
Tahap 6: Ascend
Kalau pembeli sudah puas dan excited, sekarang waktunya nawarkan yang lebih besar.
Ascend atau Scale adalah tentang meningkatkan lifetime value dari setiap pelanggan. Orang yang sudah pernah beli dari kamu dan puas, jauh lebih mudah untuk diajak beli lagi dibanding orang yang baru pertama kali kenal kamu. Biaya akuisisinya nol karena kepercayaan sudah ada.
Di sini kamu bisa menawarkan produk yang lebih lengkap, layanan yang lebih premium, paket bundling, atau subscription. Intinya: jangan tinggalkan pelanggan yang sudah ada hanya untuk terus cari pelanggan baru. Itu cara yang paling lelah dan paling mahal.
Tahap 7: Advocate
Tahap terakhir adalah ketika pelangganmu menjadi tim marketing kamu yang tidak dibayar.
Advocate adalah orang yang dengan sukarela merekomendasikan kamu ke teman, keluarga, atau followersnya. Ini adalah sumber pelanggan baru yang paling powerful karena datang dengan trust yang sudah terbentuk. Orang lebih percaya rekomendasi dari teman daripada iklan manapun.
Tapi advocate tidak terbentuk otomatis. Mereka adalah produk dari semua tahap sebelumnya yang kamu lakukan dengan baik, terutama tahap Excite. Orang yang biasa-biasa saja tidak akan merekomendasikan kamu. Orang yang benar-benar terkesan, akan.
Cara mempercepatnya: minta testimonial secara aktif, bikin program referral kalau memungkinkan, dan terus berikan pengalaman yang lebih dari ekspektasi.
Dua Tahap yang Paling Sering Di-skip
Kalau saya lihat pola kesalahan Daddy yang baru mulai side income, ada dua tahap yang hampir selalu di-skip.
Pertama, tahap Subscribe. Orang langsung fokus bikin produk dan posting jualan, tapi tidak pernah build database kontak. Akibatnya setiap kali mau jual sesuatu, harus mulai dari nol lagi. Harus nunggu algorithm bagus, harus bayar ads, harus posting bertubi-tubi berharap ada yang beli. Kalau punya database email 500 orang yang sudah engage dengan konten kamu, satu email pengumuman produk baru bisa langsung menghasilkan penjualan di hari yang sama.
Kedua, tahap Excite. Ini yang paling disepelekan karena terasa tidak urgent. Udah ada yang beli, next step dong. Tapi pengalaman saya, pembeli yang tidak excited setelah pembelian pertama, jarang banget balik lagi. Dan mereka jelas tidak akan merekomendasikan kamu. Jadi kamu terus mengejar pelanggan baru, terus keluar energi untuk Awareness dan Engagement, tapi tidak ada yang stik lama.
Bagaimana Ini Bisa Dijalankan dengan Waktu Terbatas
Saya paham kamu bukan marketer full-time. Mungkin kamu kerja kantoran, punya anak yang butuh perhatian, dan punya waktu mungkin 1-2 jam per hari untuk side income. Kabar baiknya, CVJ tidak harus dijalankan semua sekaligus.
Prinsipnya: satu tahap, satu fokus, satu bulan.
Bulan pertama fokus ke Awareness dan Engagement. Pilih satu platform, posting minimal 3-4 kali seminggu, konten yang personal dan spesifik. Bukan jualan.
Bulan kedua mulai bangun Subscribe. Buat satu lead magnet sederhana. Bisa checklist satu halaman yang relevan dengan niche kamu. Promosikan di bio dan konten.
Bulan ketiga baru mulai Convert. Buat satu produk atau jasa yang harganya low-friction. Tawarkan ke database kontak yang sudah kamu bangun.
Dan seterusnya.
Cara ini lebih efektif dan jauh lebih sustainable dibanding langsung push ke semua tahap sekaligus, yang ujungnya tidak ada yang berjalan baik karena energi terbagi.
Bagaimana Ini Bekerja di Kehidupan Saya
Waktu saya pertama kali paham CVJ ini, yang paling langsung saya ubah adalah cara saya bikin konten. Saya berhenti posting konten yang ujungnya “link di bio” atau “DM untuk info lebih lanjut”. Saya mulai fokus ke konten yang genuinely bermanfaat tanpa agenda jualan.
Itu mengubah engagement saya cukup drastis dalam beberapa minggu. Orang mulai komen dan DM untuk bertanya, bukan karena saya minta, tapi karena kontennya memang berguna untuk mereka. Dan dari situ saya mulai arahkan ke lead magnet, kumpulkan kontak, dan baru mulai nawarin produk.
Prosesnya tidak cepat, tapi setiap penjualan yang terjadi jauh lebih mudah karena kepercayaannya sudah dibangun sebelumnya.
Hadir untuk anak juga jadi lebih gampang diatur karena sistem ini bisa dijalankan asinkron. Tidak harus selalu online, tidak harus langsung balas semua DM. Proses nurturing lewat email dan konten bisa jalan sendiri.
Siapa yang Akan Dapat Manfaat Paling Besar?
Cocok kalau kamu: baru mulai mau punya side income, sudah punya konten tapi penjualannya nol atau belum konsisten, atau punya produk bagus tapi tidak tahu kenapa tidak ada yang beli.
Mungkin belum waktunya kalau: kamu belum punya kejelasan tentang target audiensnya siapa dan mau jual apa. CVJ adalah framework distribusi, bukan framework mencari ide produk. Kalau produknya sendiri masih belum jelas, selesaikan itu dulu.
Kalau Mau Belajar Lebih Lanjut Soal Sistem Income yang Realistis untuk Daddy
Saya juga nulis soal sistem kerja yang lebih spesifik untuk situasi Daddy yang waktu dan energinya terbatas di newsletter saya. Bukan teori, tapi yang bisa langsung dicoba bahkan dengan waktu kurang dari 2 jam sehari.
Kalau mau saya kirim langsung ke email kamu, masuk ke newsletter Not A Perfect Daddy di sini. Gratis, dan saya kirim tiap minggu.
Gabung Newsletter Not A Perfect Daddy →
Pertanyaan yang Sering Muncul
Saya sudah posting rutin tapi engagement-nya tetap rendah. Berarti saya masih di tahap apa?
Kalau konten sudah keluar rutin tapi engagement rendah, kemungkinan besar ada masalah di kualitas konten di tahap Engagement, bukan di kuantitas. Coba cek: apakah konten kamu spesifik dan personal, atau masih terlalu generic? Apakah ada pengalaman nyata di dalamnya, atau cuma informasi yang bisa ditemukan di mana saja? Engagement naik ketika orang merasa konten itu ditulis spesifik untuk situasi mereka, bukan untuk semua orang.
Harus mulai dari Instagram atau platform mana?
Tidak ada jawaban universal. Tapi untuk Daddy yang waktu terbatas, pilih platform yang audiensnya paling banyak overlap dengan target kamu, dan yang paling comfortable kamu pakai. Kalau kamu lebih nyaman nulis panjang, blog atau newsletter lebih masuk akal daripada TikTok yang perlu video. Kalau kamu sudah punya 200 followers Instagram yang engage, mulai dari sana. Jangan pindah platform hanya karena kelihatannya lebih trendi, kecuali kamu sudah konsisten di yang pertama.
Lead magnet harus sepanjang apa atau sekompleks apa?
Tidak harus panjang atau rumit. Lead magnet yang paling efektif biasanya yang sangat spesifik dan langsung bisa dipakai. Satu checklist satu halaman yang menjawab satu masalah spesifik bisa lebih efektif dari ebook 30 halaman yang terlalu general. Kuncinya: ada nilai yang jelas dan langsung bisa dirasakan begitu mereka download atau akses.
Berapa lama waktu realistis dari nol sampai bisa dapat penjualan pertama?
Kalau kamu membangun dari nol dengan waktu 1-2 jam per hari dan fokus pada CVJ, perkiraan realistis untuk penjualan pertama adalah 2-4 bulan. Itu kalau kamu konsisten di tahap Awareness dan Engagement dulu, tidak buru-buru ke Convert. Orang yang terlalu cepat ke Convert biasanya penjualan pertamanya memang lebih cepat, tapi sering berhenti di situ karena tidak ada fondasi kepercayaan yang cukup untuk beli lagi.

