Saya pernah punya minggu di mana saya kerja lebih dari biasanya, ngambil hampir semua proyek sampingan yang datang, tapi pas ditotal di akhir bulan, hasilnya biasa aja. Malah lebih capek dari bulan-bulan yang saya lebih pilih-pilih.
Itu yang bikin saya akhirnya duduk dan mulai hitung ulang, bukan cuma total pemasukan, tapi pemasukan dibagi jam yang saya pakai untuk dapetin itu. Dan hasilnya bikin saya diam sebentar, karena ternyata sebagian kecil dari yang saya kerjakan itu yang sebenarnya bikin income tambahan saya jalan, sisanya cuma bikin kalender penuh.
Ini bukan cerita motivasi soal kerja lebih pintar. Ini cara konkret ngecek ulang kemana waktu kamu yang cuma 2-4 jam itu sebenarnya pergi, dan kenapa buat Daddy yang waktunya terbatas, ini jauh lebih penting dibanding Daddy yang punya waktu 8-10 jam sehari buat kerja.
Kenapa Aturan 80/20 Ini Beda Buat Daddy yang Waktunya Sempit
Ada prinsip lama di dunia bisnis, kira-kira begini: 80% hasil biasanya datang dari 20% sumber. Bukan angka pasti, tapi arahnya konsisten kelihatan di banyak situasi. 80% keuntungan sebuah usaha sering datang dari sekitar 20% pelanggannya. 80% traffic sebuah tulisan sering datang dari 20% kontennya.
Kalau kamu punya waktu 10 jam sehari buat kerja sampingan, ketimpangan ini masih bisa “ditutupi” dengan kerja lebih banyak jam. Hasilnya tetap kelihatan oke walau kamu buang-buang waktu di 80% aktivitas yang kurang ngaruh, karena kamu punya cukup jam buat nutup kerugian itu.
Tapi kalau kamu Daddy karyawan yang cuma bisa nyisihin 2-4 jam kerja sampingan sehari, dan itu pun harus dibagi lagi sama waktu istirahat dan waktu keluarga, kamu nggak punya jam ekstra buat nutup ketimpangan itu. Setiap jam yang kepakai buat aktivitas yang salah, itu jam yang harusnya bisa jadi waktu sama anak, atau jam tidur yang kamu butuh buat besok kerja kantor. Makanya di sini, tahu mana 20% yang penting bukan soal efisiensi doang, ini soal jam kamu yang emang terbatas dan nggak bisa ditambah.
Cara Nemuin 20% yang Paling Ngaruh
Langkah 1: Tarik Data 2-3 Bulan Terakhir
Kalau kamu udah jalanin income tambahan minimal 2 bulan, coba tulis ulang semua sumber pemasukan yang masuk, sekecil apapun. Bisa dari klien freelance, jasa desain, jualan online, konten berbayar, apapun bentuknya. Tulis juga perkiraan jam yang kamu pakai buat masing-masing.
Kalau belum ada 2 bulan data, nggak apa, mulai catat dari sekarang. Yang penting kamu tahu perbandingan hasil per jam, bukan cuma total hasil.
Langkah 2: Cari yang Paling Untung Per Jam, Bukan yang Paling Besar Totalnya
Ini bagian yang sering salah. Orang biasanya fokus ke klien atau proyek yang bayarannya paling besar, padahal yang lebih penting itu hasil dibagi jam kerja. Proyek Rp1,5 juta yang selesai dalam 3 jam itu lebih baik dibanding proyek Rp3 juta yang makan waktu 10 jam, meski yang kedua kelihatan lebih besar di angka.
Coba urutkan semua sumber income tambahan kamu dari yang paling tinggi hasil per jamnya. Biasanya, 2-3 sumber teratas ini yang jadi “20%” kamu.
Langkah 3: Kenali Ciri Klien atau Proyek yang Menguras tapi Hasilnya Kecil
Di antara semua yang kamu kerjakan, pasti ada yang polanya sama: klien yang sering revisi tanpa henti, proyek yang butuh koordinasi lama sebelum mulai kerja, atau tawaran yang bayarannya kecil tapi kamu ambil karena takut kehilangan kesempatan. Ini yang harus kamu tandai sebagai kandidat pertama buat dikurangi.
Bukan berarti langsung tolak semua yang masuk kategori ini. Tapi mulai sadar, dan mulai bilang tidak lebih sering ke pola yang sama.
Langkah 4: Cari Tahu Dari Mana 20% Terbaik Kamu Ini Datang
Setelah ketemu jenis kerjaan atau klien yang paling menguntungkan, langkah berikutnya adalah lihat dari mana mereka datang. Referral dari teman? Portofolio tertentu yang kamu tunjukin? Grup komunitas spesifik? Begitu tahu sumbernya, kamu bisa alokasikan waktu terbatas kamu buat lebih sering muncul di sana, bukan nyebar effort ke semua kanal secara rata.
| Pendekatan | Waktu yang Dipakai | Hasil per Jam |
|---|---|---|
| Ambil semua yang datang | Semua jam tersedia terpakai | Rendah, karena banyak yang “menguras” |
| Fokus ke sumber tertinggi saja | Sebagian jam tersedia, sisanya jadi waktu keluarga | Tinggi, karena hanya kerjakan yang paling ngaruh |
| Tolak semua kecuali yang cocok banget | Sedikit jam terpakai | Bisa sangat tinggi, tapi butuh waktu bangun reputasi dulu |
Bagaimana Ini Bekerja di Kehidupan Saya
Dulu, sebelum saya sadar soal ini, saya nerima hampir semua jenis kerjaan konsultasi dan proyek digital yang datang, apapun bentuknya, selama ada yang bayar. Efeknya, waktu kerja saya melar terus, dan yang kena dampaknya ya waktu sama anak-anak, terutama sore-sore yang harusnya jadi waktu mereka.
Waktu saya coba tarik data beberapa bulan ke belakang, saya lihat jelas, sebagian kecil jenis kerjaan yang saya pegang itu yang sebenarnya paling cocok sama skill saya dan paling cepat selesai, tapi saya kasih porsi waktu yang sama kayak proyek lain yang jauh lebih lama dan lebih ribet koordinasinya. Setelah saya mulai lebih selektif, dan berani menolak yang nggak masuk kategori itu, jam kerja sampingan saya malah berkurang, tapi hasilnya nggak turun. Ini yang bikin saya percaya, kerja cerdas, bukan kerja keras, bukan cuma slogan, tapi memang bisa diukur kalau kamu mau duduk dan lihat datanya.
Siapa yang Akan Dapat Manfaat Paling Besar?
Cocok kalau kamu: sudah punya income tambahan yang jalan minimal 2 bulan, tapi ngerasa jam kerja sampingan kamu makin panjang tanpa hasil yang naik sebanding, dan ngerasa waktu buat anak makin terkorbankan.
Mungkin belum waktunya kalau: kamu baru mulai income tambahan dan belum ada cukup data buat dibandingkan. Di fase ini, fokus dulu ke coba banyak hal dan kumpulkan data, baru masuk ke tahap seleksi seperti di atas.
Kalau Kamu Mau Sistem yang Lebih Lengkap, Bukan Cuma Satu Prinsip
Aturan 80/20 ini satu potongan kecil dari cara saya atur waktu kerja sampingan supaya tetap masuk di 2-4 jam kerja sehari. Kalau kamu mau lihat gambaran lengkapnya, gimana saya susun waktu, prioritas, dan batasan supaya tetap hadir untuk anak sambil tetap tumbuh secara finansial, saya bahas lebih detail lewat Daddy Freedom System.
Kalau kamu mau saya kirim langsung tips serupa ke email kamu, masuk ke newsletter Not A Perfect Daddy di sini, gratis, dan saya kirim tiap minggu.
Gabung Newsletter Not A Perfect Daddy →
Pertanyaan yang Sering Muncul
Gimana kalau ternyata semua sumber income tambahan saya sama-sama kecil hasilnya?
Kalau itu yang terjadi, artinya bukan soal pilih yang mana yang lebih baik, tapi soal apakah kamu perlu ganti jenis income tambahan sama sekali. Kadang orang mempertahankan satu jalur cuma karena udah biasa, padahal hasil per jamnya dari awal memang kecil dan nggak akan berubah banyak walau dioptimasi.
Apakah saya perlu tolak klien lama yang udah lama kerja sama walau hasilnya kecil?
Nggak harus langsung tolak, apalagi kalau ada hubungan personal atau kamu masih butuh diversifikasi sumber income. Tapi coba pelan-pelan naikkan tarif atau kurangi frekuensi, sambil alihkan porsi waktu yang terbebas ke sumber yang lebih menguntungkan.
Saya kerja kantor 9-10 jam, gimana caranya masih sisa waktu buat analisis kayak ini?
Analisis awal ini biasanya cuma butuh satu sampai dua jam sekali, bukan rutinitas harian. Kamu bisa lakuin di akhir pekan atau malam setelah anak tidur. Setelah itu, kamu tinggal jalanin keputusannya, bukan analisis ulang setiap hari.
Kalau saya masih ragu mau tolak proyek yang kurang menguntungkan, gimana caranya mulai pelan-pelan?
Mulai dari yang paling gampang dulu, misalnya satu jenis proyek yang paling sering bikin capek tapi hasilnya paling kecil. Coba kurangi frekuensi terima proyek itu selama satu bulan, lalu lihat apakah waktu yang terbebas bisa kamu isi dengan sumber yang lebih baik atau malah jadi waktu istirahat yang kamu memang butuh.
Apakah prinsip 80/20 ini juga berlaku buat waktu saya sama keluarga, bukan cuma income?
Bisa dipakai cara pikirnya, meski saya nggak akan sarankan hitung-hitungan seketat itu buat waktu keluarga. Tapi kalau kamu sadar, sebagian kecil momen, misalnya 20 menit sore hari tanpa gadget, sering lebih berarti buat anak dibanding 2 jam nemenin tapi sambil mikirin kerjaan, itu prinsip yang sama, cuma dipraktikkan di ranah yang beda.

