Anti-Goals: Cara Saya Jaga Fokus Side Project 90 Hari
Ada satu fase yang hampir semua orang lalui ketika mulai side project sambil punya pekerjaan dan anak kecil.
Fase itu terasa seperti ini: kamu sudah mulai, ada momentum, tapi tiba-tiba ada yang menggoda untuk pivot. Mungkin ada niche lain yang terlihat lebih menarik. Mungkin ada teman yang tawari proyek sampingan dengan bayaran langsung. Mungkin ada tren baru yang bikin kamu berpikir “mungkin yang ini lebih relevan dari yang sedang saya kerjakan sekarang.”
Dan karena waktu kamu terbatas, kapasitas mental kamu juga terbatas, setiap godaan itu punya risiko nyata: kamu keluar dari jalur dan kehilangan semua progress yang sudah dibangun.
Saya sudah pernah ada di sana. Lebih dari sekali.
Waktu 90 Hari Saya yang Hampir Buyar
Sekitar bulan kedua dari side project yang sedang saya bangun, ada dua hal datang hampir bersamaan.
Yang pertama: ada teman lama yang tawari proyek konsultasi jangka pendek. Bayarannya bagus, waktunya “tidak banyak”. Teorinya, saya bisa kerjakan ini sambil tetap jalan kan side project saya.
Yang kedua: saya lihat ada niche lain yang populer di Instagram dan langsung pikir, mungkin yang ini lebih potensial dari yang sedang saya garap sekarang.
Dua godaan yang berbeda tapi sama-sama berbahaya.
Waktu saya hampir iya-kan keduanya, ada satu hal yang menahan saya. Bukan tekad baja. Bukan motivasi tinggi. Tapi daftar yang saya tulis sendiri sebelum mulai: anti-goals.
Apa Itu Anti-Goals
Konsep ini sederhana tapi jarang disebut di kebanyakan artikel soal produktivitas.
Kalau goals adalah “apa yang ingin saya capai”, anti-goals adalah “apa yang tidak akan saya lakukan, apapun kondisinya, selama periode ini.”
Contoh anti-goals yang spesifik:
- “Tidak akan pivot niche sebelum 90 hari konsisten”
- “Tidak akan terima proyek freelance baru yang mengganggu jadwal konten”
- “Tidak akan bandingkan progress saya dengan orang yang sudah berjalan lebih lama”
Tiga kalimat sederhana, tapi masing-masing punya kekuatan pengambilan keputusan yang besar.
Ketika tawaran proyek freelance datang, anti-goals saya langsung aktif: ini masuk kategori yang tidak akan saya lakukan. Keputusan sudah dibuat sebelum godaan muncul. Tidak perlu energi mental untuk menimbang-nimbang.
Ketika saya lihat niche lain yang tampak menarik, anti-goals saya mengatakan: pivot sebelum 90 hari tidak ada dalam opsi. Saya catat untuk dievaluasi nanti, tapi sekarang bukan waktunya.
Kenapa Ini Efektif untuk Daddy yang Waktu dan Energinya Terbatas
Orang dewasa membuat ribuan keputusan kecil setiap hari. Setiap keputusan mengonsumsi kapasitas mental yang terbatas. Semakin banyak keputusan yang harus dibuat, semakin turun kualitas keputusan berikutnya.
Ini problem yang lebih akut untuk Daddy yang punya pekerjaan, anak kecil, dan side project. Kapasitas mental kamu sudah terkuras dari pagi sebelum sampai ke waktu side project.
Anti-goals bekerja dengan mengeliminasi kategori keputusan tertentu sepenuhnya. Kamu tidak perlu pikir ulang setiap kali situasi itu muncul. Kamu sudah putuskan sebelumnya, di saat pikiran masih jernih, bukan di momen di mana godaan paling terasa.
Tiga Anti-Goals yang Paling Sering Relevan untuk Side Project
Ini bukan daftar universal. Tapi kalau kamu baru mulai dan tidak tahu mau tulis apa, tiga ini hampir selalu relevan:
Anti-goal pertama: tidak pivot sebelum waktu minimum
Tentukan dulu: berapa minimum yang masuk akal untuk kamu lihat tanda-tanda apakah ini berjalan atau tidak? 90 hari adalah angka yang banyak dipakai karena cukup panjang untuk membangun momentum tapi tidak terlalu panjang untuk terus-menerus di jalur yang benar-benar salah.
Sebelum waktu itu, respon terhadap godaan pivot sudah jelas: catat, tapi jangan kerjakan sekarang.
Anti-goal kedua: tidak minta persetujuan terus-menerus
Ini yang sering tidak disadari: kebiasaan minta pendapat orang lain terlalu sering tentang apakah kamu sudah di jalur yang benar. Dari pasangan, dari teman, dari random orang di internet.
Tidak ada yang salah dengan minta feedback. Yang menjadi masalah adalah kalau setiap kali ada uncertainty kamu butuh validasi eksternal untuk lanjut. Itu menguras kapasitas, dan kalau orang yang kamu tanya tidak aligned dengan visi kamu, itu bisa jadi source of distraction yang signifikan.
Anti-goal: selama periode ini, evaluasi dilakukan berdasarkan data dari usaha sendiri, bukan dari opini yang tidak memiliki konteks lengkap tentang apa yang sedang dibangun.
Anti-goal ketiga: tidak membandingkan progress dengan orang yang kondisinya berbeda
Ini yang paling sering bikin mental down tanpa alasan yang valid.
Kamu Daddy dengan anak kecil, pekerjaan full-time, waktu 2-4 jam kerja per hari. Progress kamu tidak bisa dibandingkan dengan creator yang single, tidak kerja kantoran, dan punya 8-10 jam per hari untuk fokus ke side project.
Bukan karena kamu lebih lemah. Tapi karena kondisinya memang berbeda fundamental. Membandingkan itu tidak adil untuk diri kamu sendiri dan tidak memberikan informasi yang berguna.
Anti-goal: tidak akan menjadikan angka orang lain sebagai benchmark untuk diri sendiri selama periode ini.
Cara Buat Anti-Goals Sendiri
Tidak rumit. Cukup tiga langkah.
Pertama, pikirkan tiga distraksi terbesar yang paling mungkin menggoda kamu keluar dari jalur dalam 90 hari ke depan. Jujur dengan diri sendiri: apa yang biasanya berhasil mengalihkan perhatian kamu?
Kedua, untuk setiap distraksi, tulis satu kalimat eksplisit yang menggambarkan perilaku yang tidak akan kamu lakukan.
Ketiga, simpan di tempat yang mudah dilihat. Bukan di aplikasi notes yang tidak pernah dibuka. Tempel di meja kerja, atau jadikan wallpaper HP. Ini reminder yang perlu terlihat, bukan tersimpan.
Bagaimana Ini Bekerja di Kehidupan Saya
Anti-goals pertama yang saya tulis terasa sederhana sampai akhirnya benar-benar diuji.
Tawaran proyek yang datang di bulan kedua itu akhirnya saya tolak. Bukan dengan dramatic speech soal prioritas. Saya hanya bilang: “Terima kasih, tapi sedang fokus ke sesuatu yang lain untuk beberapa bulan ke depan, mungkin nanti.”
Mudah? Tidak sepenuhnya. Ada rasa FOMO soal bayarannya. Tapi karena keputusan itu sudah ada dalam anti-goals saya, saya tidak perlu spend 3 hari menimbang-nimbang dan tanya ke banyak orang.
Dan di bulan kelima, ketika side project saya mulai menunjukkan tanda-tanda yang menggembirakan, saya bersyukur tidak ada yang memotong momentum di bulan kedua.
Kalau saya iya-kan proyek itu, saya mungkin masih ada di fase “sedang nyoba ini itu” sampai sekarang.
Siapa yang Akan Dapat Manfaat Paling Besar?
Cocok kalau kamu: Sudah punya side project yang sedang berjalan tapi sering merasa tergoda untuk pivot atau mengambil hal lain yang masuk, dan merasa setiap kali ada tawaran baru kamu perlu waktu lama untuk putuskan apakah iya atau tidak.
Mungkin belum waktunya kalau: Kamu masih di fase ideasi dan belum commit ke satu arah. Anti-goals paling efektif setelah kamu sudah punya arah yang cukup jelas untuk diproteksi. Kalau arah belum jelas, yang perlu dilakukan adalah klarifikasi arah dulu, bukan proteksi.
Daftar Newsletter Kalau Kamu Mau Lanjut Eksplor
Topik soal membuat sistem yang melindungi kehadiran kamu untuk keluarga sekaligus tetap tumbuh secara personal dan finansial, itu yang sering saya tulis lebih dalam di newsletter. Tidak ada formula perfect, tapi ada pola-pola yang bisa dipelajari dari orang yang sudah mencobanya.
Newsletter Not A Perfect Daddy ->
Pertanyaan yang Sering Muncul
Apakah anti-goals ini bisa dipakai juga untuk kehidupan keluarga, bukan cuma side project?
Sangat bisa. Banyak yang pakai versi serupa untuk keputusan parenting: “Tidak akan check HP selama 1 jam pertama setelah pulang kerja”, misalnya. Prinsipnya sama: keputusan dibuat lebih awal supaya di momen yang kritis kamu tidak perlu mikir ulang dari awal.
Bagaimana kalau anti-goals saya terlalu ketat dan ada kondisi darurat yang benar-benar harus dilakukan?
Anti-goals bukan aturan absolut yang tidak bisa diubah. Ini commitmen yang kamu buat ke diri sendiri. Darurat nyata, tentu saja override. Yang perlu dijaga adalah supaya “darurat” tidak jadi excuse untuk hal-hal yang sebetulnya hanya godaan yang tidak mendesak. Cara test: apakah ini masih relevan seminggu dari sekarang? Kalau ya, mungkin memang darurat. Kalau tidak, itu bisa menunggu.
Apakah saya perlu share anti-goals ke orang lain supaya lebih akuntabel?
Boleh, tapi tidak wajib. Share ke satu orang yang kamu percaya dan yang mengerti konteks apa yang sedang kamu bangun itu cukup. Yang penting bukan seberapa publik anti-goals kamu, tapi seberapa konkret dan seberapa sering kamu review sendiri.
Bagaimana cara tahu waktunya untuk update atau revisi anti-goals?
Di akhir periode yang sudah ditentukan, misalnya 90 hari. Bukan di tengah jalan kecuali ada perubahan situasi yang fundamental dan bukan sekedar godaan. Revisi di tengah jalan dengan alasan yang tidak kuat itu sama saja dengan tidak punya anti-goals.
Apakah anak bisa “merasakan” perbedaan kalau Daddy punya sistem yang lebih jelas seperti ini?
Secara eksplisit mungkin tidak. Tapi anak peka terhadap stabilitas ritme dan kehadiran. Ketika kamu tidak terus-menerus galau soal keputusan side project kamu, ada lebih banyak bandwidth mental untuk hadir ketika bersama anak. Dan itu yang mereka rasakan, bukan sistem yang kamu pakai di belakang layar.

