Audit Diri Sebelum Bikin Produk Digital

Jujur ya. Saya pernah hampir bikin kursus tentang topik yang salah.

Bukan karena topiknya jelek. Topiknya bagus, pasar ada, orang memang mencari informasi itu. Tapi waktu saya duduk dan mulai nulis modul pertama, saya sadar: saya tidak excited dengan ini. Saya excited dengan hasilnya, dengan gambaran income yang masuk, tapi bukan dengan prosesnya. Dan itu masalah.

Kalau kamu Daddy yang kerja kantoran, punya anak kecil, dan waktu produktif kamu per hari cuma sekitar 2-4 jam di luar pekerjaan utama, satu proyek yang tidak bisa sustain energinya akan habis sebelum jadi. Jadi ada dua hal yang harus kamu audit sebelum mulai bikin apapun: passion yang genuine dan proof point yang konkret.

Kenapa Audit Ini Perlu Dilakukan Duluan

Banyak orang skip tahap ini. Mereka langsung loncat ke “riset market” atau “cari tools terbaik”. Dan 6-9 bulan kemudian, produknya tidak jadi karena ditengah jalan mereka capek.

Bukan karena mereka malas. Tapi karena membangun digital product butuh sustained effort yang panjang. Kamu tidak bisa sustained kalau topiknya tidak genuine nyambung sama kamu. Dan kamu tidak bisa jual kalau tidak ada bukti kamu sudah menyelesaikan masalah yang kamu ajarkan.

Ini bukan tentang sempurna. Ini tentang jujur ke diri sendiri di awal, supaya kamu tidak buang waktu yang tidak banyak di proyek yang salah.

Audit Pertama: Passion Check

Apa yang Kamu Baca Tanpa Ada yang Suruh?

Waktu kamu punya 15 menit bebas dan tidak tahu mau buka apa, kamu buka apa? Bukan yang “seharusnya” kamu baca. Yang actually kamu buka.

Podcast yang kamu dengarkan waktu macet. Video YouTube yang kamu klik waktu tidak lagi scrolling untuk kerja. Topik yang muncul di pikiran waktu kamu menunggu anak keluar dari sekolah.

Itu topik yang genuine kamu minati. Bukan yang terdengar profitable di grup WhatsApp bisnis.

Saya sendiri sadar saya selalu balik ke topik yang sama: bagaimana cara kerja lebih efisien dengan waktu terbatas, terutama untuk orang yang punya tanggung jawab keluarga. Ini bukan sesuatu yang saya putuskan untuk diminati. Saya simply selalu kepikiran ini.

Apakah Topik Ini Masih Menarik Setelah 6 Bulan Sibuk?

Ini tes yang lebih keras. Bayangkan 6 bulan terakhir ini ada proyek besar di kantor, anak sakit bergantian selama 3 minggu, dan ada urusan keluarga yang menyita energi. Dalam kondisi itu, apakah kamu masih sesekali kepikiran dan excited tentang topik ini?

Kalau ya, itu passion yang tahan banting. Kalau tidak, mungkin itu hanya excitement sesaat yang terasa lebih kuat karena momennya sedang tenang.

Pertanyaan yang Jujur: Apakah Kamu Tertarik Topiknya atau Hasilnya?

Ini perbedaan yang subtle tapi penting. Tertarik dengan topik artinya kamu genuinely menikmati belajar, diskusi, dan eksplorasi di area itu. Tertarik dengan hasilnya artinya kamu tertarik dengan income atau status yang mungkin datang dari situ.

Keduanya tidak salah. Tapi kalau kamu hanya tertarik hasilnya, momentum kamu akan turun drastis setelah 2-3 bulan pertama excitement mulai habis dan realitasnya ternyata lebih lambat dari yang diharapkan.

Audit Kedua: Proof Point

Proof Point Bukan Berarti Harus Punya Gelar atau Record Besar

Ini yang paling bikin orang macet. Mereka pikir harus ada pencapaian besar dulu, sesuatu yang bisa di-screenshot dan viral, sebelum mereka “layak” untuk mengajarkan sesuatu.

Tidak harus. Yang kamu butuh adalah 3 proof point yang konkret dan spesifik. Bukan yang impresif, tapi yang genuine dan bisa dibuktikan.

Proof point yang valid contohnya:

  • Kamu berhasil bangun rutinitas pagi yang konsisten 45 menit selama 4 bulan, bahkan di minggu-minggu yang berat, dan itu ubah cara kamu masuk ke hari kerja
  • Kamu negotiasi dengan manager untuk WFH 3 hari seminggu dengan argumen yang kamu siapkan sendiri, dan sudah jalan 8 bulan
  • Kamu bantu adik kamu yang freelance untuk pricing servicenya dengan lebih baik, dan dia naik income 30% dalam satu kuartal

Tiga hal seperti itu adalah proof point yang cukup untuk memulai.

Format yang Membantu: Achievement, Cara, Timeline, Metric

Untuk tiap proof point, isi ini:

  • Achievement: Apa yang berhasil kamu capai atau bantu orang lain capai?
  • Cara: Bagaimana persisnya kamu lakukan itu? Langkah apa saja?
  • Timeline: Berapa lama prosesnya?
  • Metric atau bukti: Ada angka atau perbandingan sebelum-sesudah?

Kalau kamu kesulitan isi salah satu dari keempat ini, itu tanda proof point itu mungkin belum cukup kuat, atau kamu perlu lebih konkret dalam mengingatnya.

Bagaimana Kalau Proof Point Saya Merasa Terlalu Kecil?

Kecil menurut siapa? Ini yang paling perlu di-reframe.

Kalau audience yang mau kamu bantu adalah Daddy karyawan yang baru mulai, dan kamu punya 3 proof point tentang sistem kerja sehari-hari yang konkret dan bisa diajarkan, itu sudah lebih relevan dari seseorang yang punya satu achievement besar yang tidak bisa diduplikasi oleh orang biasa.

Yang audience mau adalah: bisa saya lakukan ini juga? Proof point yang relatable dan realistis lebih kuat dari proof point yang impressive tapi tidak applicable.

Bagaimana Saya Melewati Audit Ini Sendiri

Waktu saya jujur dengan diri sendiri tentang passion check, saya hapus satu topik dari daftar yang awalnya kelihatan “lebih profitable”. Bukan karena tidak ada pasarnya, tapi karena saya sadar saya tertarik dengan hasilnya, bukan dengan prosesnya.

Yang tersisa adalah topik yang saya masih excited diskusikan bahkan waktu tidak ada yang minta. Itu yang saya lanjutkan.

Untuk proof point, saya inget sempat minder karena rekord saya tidak ada yang “besar” di atas kertas. Tapi waktu saya tulis konkret, ada 4-5 hal spesifik yang saya sudah lakukan dan bisa ajarkan. Itu cukup untuk mulai.

Yang saya temukan: orang tidak perlu kamu sempurna. Mereka perlu kamu genuine. Dan genuine itu dimulai dari jujur ke diri sendiri di tahap audit ini.

Siapa yang Akan Dapat Manfaat Paling Besar?

Cocok kalau kamu: Daddy yang sudah punya beberapa topik kandidat tapi belum yakin harus mulai dari mana, atau yang sudah sempat mulai tapi macet di tengah jalan dan ingin reset dengan fondasi yang lebih solid.

Mungkin belum waktunya kalau: Kamu belum punya pengalaman apapun di topik yang ingin diajarkan, atau kamu masih dalam fase eksplorasi yang sangat awal dan belum ada satu hal pun yang kamu sudah jalani lebih dari 3 bulan.

Kalau Kamu Mau Teman Berpikir

Satu hal yang membantu saya waktu itu adalah punya partner yang bisa dengarkan proof point saya dan kasih feedback jujur: ini cukup konkret atau masih terlalu vague?

Kalau mau saya kirim template audit lengkap yang bisa kamu isi sendiri di 2-3 jam duduk, masuk ke newsletter Not A Perfect Daddy di sini. Gratis, dan saya kirim tiap minggu.

Gabung Newsletter Not A Perfect Daddy →

Pertanyaan yang Sering Muncul

Berapa lama proses audit ini harusnya saya lakukan?

Idealnya 1-3 hari dedicated, bukan sebulan. Duduk 1-2 jam untuk passion check, duduk lagi 1-2 jam untuk tulis proof point. Total sekitar 3-4 jam duduk yang fokus. Kalau lebih dari 2 minggu kamu masih “audit”, kemungkinan besar kamu sedang overthinking, bukan genuinely tidak tahu. Jawaban sering sudah ada, tinggal kamu mau jujur ke diri sendiri atau tidak.

Bagaimana kalau saya tidak punya satupun proof point yang terasa cukup?

Itu bisa jadi sinyal kamu perlu dulu “beli” pengalaman sebelum buat produk. Artinya: jalankan sistem yang ingin kamu ajarkan di kehidupan kamu sendiri dulu selama 2-3 bulan, catat hasilnya, baru pertimbangkan untuk ajarkan ke orang lain. Atau, bantu 1-2 orang secara gratis atau dengan bayaran kecil dulu, lihat apa yang terjadi. Dari situ baru proof point mulai terbentuk.

Boleh tidak proof point saya dari orang lain yang saya bantu, bukan dari pengalaman saya sendiri?

Boleh, selama kamu terlibat langsung dan ada hasilnya yang bisa diverifikasi. “Saya bantu teman saya setting sistemnya dan 3 bulan kemudian dia bilang lebih konsisten” itu proof point yang valid. Yang tidak valid adalah “saya lihat orang lain berhasil di YouTube”. Harus ada keterlibatan aktif dari kamu.

Apakah passion dan proof point harus dari topik yang sama persis?

Tidak harus 100% sama, tapi harus overlapping. Kalau passion kamu adalah produktivitas dan proof point kamu adalah tentang cara kamu belajar bahasa baru dalam 6 bulan, itu masih bisa nyambung kalau angle-nya tentang sistem belajar yang efisien. Yang tidak ideal adalah passion dan proof point yang benar-benar tidak ada irisan sama sekali.