Kenapa Saya Berhenti Tebak-tebak Produk yang Mau Dijual

Saya lagi duduk di meja kerja, anak saya yang kecil sudah tidur, dan saya sedang menulis daftar ide produk digital yang “mau saya buat.” Ada 7 ide di daftar itu. Semua terdengar masuk akal. Semua berdasarkan hal yang saya tahu. Tidak satu pun dari 7 ide itu yang keluar dari apa yang pernah ditanya audiens saya.

Saya tidak sadar masalahnya waktu itu.

Saya pikir proses buat produk digital itu linear: kamu punya skill, kamu pikirkan apa yang bisa dikemas dari skill itu, kamu buat produknya, lalu kamu jual. Logis, kan? Masalahnya, “logis menurut saya” dan “yang dicari orang” itu dua hal yang bisa sangat berbeda.

Ini cerita bagaimana saya akhirnya berhenti menebak-nebak.

Produk yang “Masuk Akal” tapi Tidak Ada yang Beli

Waktu itu saya buat sesuatu yang menurut saya jelas dibutuhkan. Saya kerjakan selama hampir 3 minggu di sela-sela waktu kerja yang sudah padat. Saya launch, promosikan lewat konten, tunggu. Hasilnya tidak seperti yang dibayangkan.

Yang menyebalkan bukan hasil penjualannya saja, tapi waktu yang sudah diinvestasikan. Tiga minggu itu bisa dipakai untuk hal lain. Untuk anak. Untuk istirahat. Untuk sesuatu yang lebih pasti.

Dan yang lebih menyebalkan lagi: belakangan saya sadar, kalau saya mau sedikit lebih teliti membaca komentar dan DM selama 2 bulan sebelumnya, saya mungkin tidak akan buat produk itu sama sekali. Atau saya akan buat sesuatu yang berbeda, yang lebih dibutuhkan.

Momen yang Mengubah Cara Pikir Saya

Beberapa bulan kemudian, saya iseng buka kembali semua DM yang masuk dalam 6 minggu terakhir. Saya kategorikan berdasarkan topik pertanyaannya. Tidak pakai tools canggih, cuma dicatat manual.

Hasilnya mengejutkan. Ada satu topik yang muncul jauh lebih sering dari yang lain. Bukan topik yang ada di 7 ide produk saya waktu itu. Sama sekali tidak.

Dari 40-an DM yang masuk, sekitar 60% berputar di satu area yang sama. Dan saya selama ini tidak pernah benar-benar perhatikan, karena saya sibuk dengan asumsi saya sendiri tentang apa yang “seharusnya” diinginkan orang.

Itu pertama kalinya saya mengerti bahwa audiens sudah memberi tahu saya apa yang mereka mau. Saya yang tidak mendengarkan.

Cara Baca Sinyal yang Sudah Ada di Depan Kamu

Kalau kamu sudah posting konten selama beberapa bulan, ada tiga tempat di mana audiensmu sudah meninggalkan petunjuk tentang apa yang mereka butuhkan:

Komentar yang berulang. Bukan komentar “bagus kak” atau emoji. Komentar yang mengandung pertanyaan, atau cerita pendek tentang situasi mereka sendiri. Kalau 10 orang komentar hal yang serupa di satu konten, itu bukan kebetulan.

Saves di Instagram. Orang hanya save konten yang mereka anggap akan berguna lagi di masa depan. Kalau kontenmu banyak di-save, itu artinya ada sesuatu di konten itu yang terasa berguna, bukan sekadar entertaining. Konten yang banyak di-save tapi likes-nya biasa saja seringkali lebih berharga sebagai sinyal produk.

DM yang tidak diminta. Ini yang paling kuat. Kalau ada yang sampai DM kamu untuk tanya sesuatu, itu artinya mereka benar-benar butuh dan rela repot. Ini level ketertarikan yang lebih dalam dari sekadar komentar.

Ketiga sumber ini kalau dikumpulkan dan dicategorikan selama 4-6 minggu, biasanya ada 2-3 tema yang muncul secara konsisten. Dari situ ide produknya bukan lagi tebakan, tapi respons terhadap permintaan yang sudah ada.

Yang Berubah Setelah Saya Ganti Pendekatan

Saya mulai tracking secara simple. Setiap minggu, saya sisihkan 30 menit untuk buka analytics dan baca ulang komentar dan DM. Bukan untuk membalas, tapi untuk mencatat.

Selama 6 minggu, dari tracking itu muncul pola yang cukup jelas. Saya buat versi gratis dulu, bukan langsung paid. Saya promosikan lewat konten 4-5 kali selama 5 minggu. Responsnya berbeda dari sebelumnya.

Saya tidak bisa bilang hasilnya dramatis atau langsung mengubah segalanya, karena itu tidak jujur dan tidak ada gunanya kamu dengar. Yang bisa saya bilang: prosesnya terasa lebih tenang. Ada lebih sedikit “semoga ini laku.” Ada lebih banyak “saya sudah lihat orang minta ini.”

Itu perbedaan yang signifikan untuk mental health, terutama kalau kamu Daddy yang waktunya terbatas dan tidak mau buang 3 minggu untuk sesuatu yang tidak jelas demand-nya.

Apa yang Perlu Kamu Mulai Perhatikan Mulai Sekarang

Kalau kamu sudah punya konten yang jalan, minimal ada dua hal yang bisa kamu lakukan hari ini:

Pertama, buka 10 konten terbaik kamu berdasarkan engagement dan baca semua komentarnya. Tulis ulang pertanyaan atau situasi yang disebut orang, dengan kata-kata mereka, bukan kata-kata kamu.

Kedua, cek DM dalam 4 minggu terakhir. Kalau banyak, pilih 20-30 secara acak dan cari pola topiknya.

Itu saja dulu. Dari dua hal ini biasanya sudah cukup untuk mulai terlihat ada tidak ada sinyal yang lebih kuat dari topik tertentu.

Ini bukan cara yang butuh waktu banyak. Yang dibutuhkan cuma kebiasaan untuk memerhatikan apa yang sudah ada di depan kamu, bukan terus-terusan menebak dari asumsimu sendiri. Kerja cerdas, bukan kerja keras, bukan cuma soal tools atau sistem, tapi juga soal apakah kamu menggunakan informasi yang sudah tersedia sebelum memulai sesuatu yang besar.

Bagaimana Ini Bekerja di Kehidupan Saya

Yang saya lakukan sekarang sederhana: setiap akhir bulan, saya buka catatan DM dan komentar yang saya kumpulkan dari bulan itu, dan saya bandingkan dengan bulan sebelumnya. Kalau ada topik yang muncul 3 bulan berturut-turut, itu yang saya prioritaskan.

Waktu untuk ini tidak banyak, sekitar 1-2 jam sebulan. Tapi impactnya lumayan karena saya tidak lagi buat sesuatu yang “menurut saya” bagus, tapi yang memang diminta.

Anak saya yang besar, yang sekarang sudah 8 tahun, kadang nanya saya lagi bikin apa. Saya jawab jujur: saya lagi baca-baca apa yang ditanya orang. Dia tidak paham, tapi saya paham. Dan itu cukup.

Siapa yang Akan Dapat Manfaat Paling Besar?

Cocok kalau kamu: sudah posting konten selama minimal 1-2 bulan dan punya engagement, sekecil apapun. Kamu tidak butuh viral, kamu butuh konsisten dan sabar membaca sinyalnya.

Mungkin belum waktunya kalau: baru mulai posting atau kontennya masih sangat sedikit. Prioritaskan konsistensi konten dulu selama 2-3 bulan, baru mulai analisis.

Kalau Kamu Mau Mulai Perjalanan Ini dengan Lebih Terstruktur

Saya tulis lebih banyak soal bagaimana membangun income dari konten sambil tetap hadir untuk keluarga di newsletter Not A Perfect Daddy. Kalau mau saya kirim tips mingguan langsung ke email kamu, gratis dan tidak ribet.

Gabung Newsletter Not A Perfect Daddy ->

Pertanyaan yang Sering Muncul

Bagaimana kalau konten saya engagement-nya rendah? Apa masih bisa baca polanya?

Bisa, tapi dengan satu catatan: kalau engagement sangat rendah (misalnya rata-rata 2-3 komentar per post), datanya mungkin belum cukup untuk melihat pola yang reliable. Yang bisa kamu lakukan adalah mulai tracking dari sekarang sambil terus konsisten posting, dan baru analisis setelah volume komentarnya cukup. Tidak ada angka magis, tapi saya pakai patokan minimal 50-100 komentar total sebelum mulai baca pola.

Kalau topik yang paling banyak ditanya itu bukan topik yang saya mau buat produknya, apa yang harus dilakukan?

Jujurnya, ini keputusan yang tidak ada jawaban universalnya. Tapi pertimbangan praktisnya: kalau topik itu tidak menarik sama sekali buat kamu, membuat produk di sana dan marketing-nya jangka panjang akan terasa berat. Lebih baik cari titik tengah, misalnya area yang kamu suka tapi masih dalam ekosistem yang sama dengan topik yang diminta.

Saya sudah lama posting tapi tidak pernah dapat DM. Apa yang salah?

Beberapa kemungkinan: konten belum spesifik cukup untuk memancing pertanyaan mendalam, atau cara berkomunikasinya terlalu satu arah sehingga audiens tidak merasa diajak berdialog. Coba sesekali tutup konten dengan pertanyaan spesifik ke audiens, bukan pertanyaan generik seperti “gimana menurut kalian?” tapi pertanyaan yang lebih tajam dan relevan untuk situasi mereka.

Apakah cara ini juga berlaku untuk platform selain Instagram?

Ya, berlaku untuk platform manapun dengan logika yang sama. Di YouTube, perhatikan komentar video dan pertanyaan di community posts. Di TikTok, perhatikan komentar dan duet request. Bahkan di LinkedIn, engagement di post tertentu bisa jadi sinyal. Mekanismenya sama, hanya tools analytics-nya yang berbeda.