Waktu saya pertama kali serius coba bikin konten untuk income tambahan, saya langsung mencari topik yang “besar”. Produktivitas. Digital marketing. Personal finance. Topik-topik yang jelas ada pasarnya.

Dan memang ada pasarnya. Tapi juga ada ratusan, mungkin ribuan, orang yang sudah main di sana lebih lama dari saya. Orang-orang yang sudah punya audiens puluhan ribu, sudah punya track record, sudah dipercaya. Saya masuk sebagai orang baru yang tidak ada bedanya dengan ribuan orang baru lainnya.

Ini yang disebut red ocean. Airnya merah karena semua orang berebut di tempat yang sama. Bukan berarti tidak bisa berhasil di sana, tapi jalurnya lebih panjang dan lebih melelahkan. Dan untuk Daddy yang kerjaan utamanya saja sudah menyita banyak energi, melelahkan itu mahal sekali harganya.


Kenapa Daddy Justru Punya Keunggulan di Blue Ocean

Ini yang menarik: justru karena kamu Daddy karyawan yang hidupnya sangat spesifik, kamu punya sudut pandang yang tidak bisa ditiru orang lain dengan mudah.

Kamu tahu rasanya meeting Zoom setengah enam pagi sambil anakmu nangis di belakang. Kamu tahu cara ngatur keuangan keluarga ketika gaji satu orang, tanggungan dua orang ditambah cicilan rumah. Kamu tahu bagaimana caranya tetap hadir untuk anak padahal otakmu masih di kerjaan sore itu. Pengalaman itu nyata dan sangat spesifik.

Pengalaman spesifik itu adalah blue ocean-mu.

Orang yang baca konten tentang produktivitas umum bisa dapat itu dari mana saja. Tapi konten yang bicara persis tentang situasimu sebagai Daddy karyawan, dengan anak segini umurnya, dengan kondisi kerja seperti ini, dengan budget segini, itu tidak banyak yang bisa bikin. Apalagi dengan pengalaman langsung, bukan teori.


Cara Praktis Cari Blue Ocean untuk Dirimu

Langkah 1: Mulai dari Niche yang Sudah Ada, Bukan dari Nol

Cari topik besar yang kamu sukai atau kamu tahu setidaknya sedikit. Produktivitas. Keuangan keluarga. Parenting. Skill kerja. Tidak perlu yang kamu jago banget, yang penting kamu tertarik dan punya pengalaman.

Ini bukan langkah akhirnya, ini cuma starting point.

Langkah 2: Tambahkan Filter “Daddy Karyawan” di Atasnya

Sekarang ambil topik itu dan tanya: bagaimana kalau topik ini dikhususkan untuk Daddy karyawan dengan anak kecil? Apa yang berubah?

Kalau topiknya produktivitas, pertanyaannya jadi: produktivitas seperti apa yang realistis untuk orang yang kerjanya 8-9 jam, pulang capek, dan masih harus hadir untuk anak? Bukan produktivitas gaya startup founder yang bisa kerja 16 jam sehari.

Kalau topiknya personal finance, pertanyaannya jadi: keuangan keluarga seperti apa yang bisa dikelola dengan gaji karyawan, sambil tetap punya dana darurat dan dana pendidikan anak, tanpa harus jadi pelit dan tidak quality time dengan keluarga?

Sudut pandang spesifik itu yang membuat kamu berbeda.

Langkah 3: Cek Apakah Sudutmu Sudah Ada yang Isi

Sebelum commit, riset dulu. Search di Instagram, TikTok, YouTube dengan kata kunci spesifik. Kalau sudah ada yang main persis di sudut yang sama dan sudah punya audiens besar, kamu perlu satu level lebih spesifik lagi. Kalau belum ada, atau yang ada masih kecil dan tidak konsisten, itu tanda yang bagus.

Yang kamu cari bukan nol pesaing. Yang kamu cari adalah ruang yang belum padat, yang kamu bisa masuki dengan kontribusi nyata.

Langkah 4: Validasi dengan 10-15 Konten Pertama

Jangan commit ke sudutmu sebelum ada tanda-tanda resonansi dari audiens. Buat 10-15 konten dengan sudut spesifikmu itu, liat responsnya. Bukan cuma jumlah like, tapi kualitas respon. Apakah orang komentar hal-hal yang sangat personal? Apakah ada yang DM dan bilang “ini persis kondisi saya”? Tanda-tanda seperti itu lebih berharga dari ribuan view tanpa engagement.


Contoh Blue Ocean yang Konkret dari Kehidupan Sehari-Hari Daddy

Biar tidak abstrak, saya kasih beberapa contoh cara kerja ini:

Niche fitness itu merah banget. Tapi “fitness untuk Daddy karyawan yang tidak bisa ke gym dan cuma punya 20 menit pagi sebelum anak bangun” itu berbeda. Ada sudut spesifik yang belum penuh.

Niche personal finance sangat ramai. Tapi “cara Daddy kelola uang keluarga ketika istrinya cuti melahirkan dan income sementara turun 40%” itu sangat spesifik. Situasi yang sangat real tapi hampir tidak ada konten khusus tentang ini.

Niche Excel atau Google Sheets juga sudah banyak. Tapi “cara pakai Google Sheets untuk track keuangan keluarga dengan anggaran di bawah Rp10 juta per bulan, termasuk dana pendidikan anak” itu lebih spesifik dan punya sudut yang lebih Daddy-oriented.

Pola yang sama bisa diterapkan ke hampir semua skill atau topik yang kamu minati.


Yang Perlu Kamu Hindari

Ada jebakan umum di sini yang mau saya sebut.

Jangan terlalu sempit sampai tidak ada pasarnya. Ada perbedaan antara spesifik yang tepat dan spesifik yang terlalu niche sehingga audiensnya tidak cukup besar untuk jadi bisnis. Kalau kamu bikin konten untuk “Daddy karyawan shift malam di pabrik garmen Karawang yang punya anak kembar berumur 4 bulan”, itu terlalu sempit.

Ukuran yang cukup: bayangkan apakah ada setidaknya 10.000 orang di Indonesia yang bisa masuk dalam deskripsi audiensmu. Kalau iya, biasanya cukup untuk memulai.

Jangan skip langkah validasi. Sering orang langsung yakin sudutnya bagus dan langsung bikin produk tanpa cek resonansi dulu. Bikin konten dulu, ukur responsnya, baru commit ke produk.


Bagaimana Ini Bekerja di Kehidupan Saya

Waktu saya akhirnya berhenti coba masuk ke topik-topik besar yang sudah ramai dan mulai fokus ke sudut yang lebih spesifik dari pengalaman saya sendiri sebagai Daddy yang juga kerja di bidang digital, sesuatu mulai berubah. Bukan langsung besar, tapi engagement-nya berbeda. Orang yang komentar bukan lagi komentar generic. Mereka cerita situasinya sendiri, tanya hal yang sangat spesifik, dan ada yang minta lebih.

Itu yang saya tidak dapat waktu kontennya terlalu luas. Bukan karena kontennya jelek, tapi karena tidak ada orang yang merasa benar-benar “disapa langsung”.

Saya belum bisa bilang blue ocean saya sudah sempurna. Tapi saya tahu perbedaan rasanya ketika berkonten di ruang yang terlalu penuh versus berkonten di sudut yang lebih kosong dengan audiens yang sangat ingin mendengar.


Siapa yang Akan Dapat Manfaat Paling Besar?

Cocok kalau kamu: sudah coba buat konten atau bisnis sampingan tapi merasa tenggelam di antara banyaknya pesaing, atau belum mulai tapi khawatir niche yang kamu minati sudah terlalu ramai.

Mungkin belum waktunya kalau: kamu belum punya skill atau pengalaman apapun yang bisa dijadikan sudut spesifik. Dalam kondisi itu, fokuslah dulu membangun skill di pekerjaan utamamu selama 6-12 bulan sebelum cari sudut blue ocean.

Soal Blue Ocean Ini, Ada Banyak yang Ingin Saya Bagikan Lebih Lanjut

Kalau kamu mau tahu lebih dalam tentang cara menemukan sudutmu sendiri sebagai Daddy, saya tulis topik-topik seperti ini secara rutin di newsletter Not A Perfect Daddy. Bukan resep ajaib, tapi pengalaman nyata yang bisa kamu adaptasi.

Kalau mau saya kirim langsung ke email kamu, masuk ke newsletter di sini, gratis.

Gabung Newsletter Not A Perfect Daddy →


Pertanyaan yang Sering Muncul

Bagaimana kalau sudut yang saya pilih ternyata tidak ada yang mau?

Kalau setelah 8-10 minggu konten konsisten dengan sudut spesifik tapi tidak ada tanda-tanda resonansi sama sekali, ini kemungkinan ada dua masalah: audiensmu tidak ada online, atau masalah yang kamu coba solve tidak cukup painful untuk orang mau cari solusinya. Dalam kondisi ini, pivot sedikit, bukan ganti total. Coba angle yang sedikit berbeda dengan audiens atau masalah yang sama.

Apakah saya perlu expertise yang dalam untuk masuk blue ocean?

Tidak harus deep expert. Yang lebih penting adalah pengalaman langsung dan kemampuan untuk mengartikulasikan pengalamanmu dengan jelas. Kalau kamu sudah pernah jalani sendiri situasi yang kamu bicarakan, itu lebih berharga dari kualifikasi formal di mata audiensmu. Tapi jangan fabricate pengalaman yang tidak kamu miliki, karena itu yang paling cepat merusak kepercayaan.

Apakah blue ocean bisa diterapkan bukan cuma untuk konten tapi juga untuk produk digital?

Justru sangat bisa dan sebaiknya begitu. Kalau kamu bikin template, course, atau panduan, pastikan sudutnya juga spesifik. “Template keuangan pribadi” itu merah. “Template keuangan untuk keluarga muda dengan 1 anak di bawah 3 tahun dan gaji gabungan Rp10-20 juta” itu sudah lebih biru. Produk yang punya positioning spesifik jauh lebih mudah dijual.

Bagaimana kalau saya punya lebih dari satu sudut yang menarik?

Pilih satu dulu. Jangan paralel. Energimu terbatas, dan 2-4 jam per hari itu tidak cukup untuk validasi dua sudut sekaligus dengan serius. Commit ke satu sudut selama minimal 3 bulan, ukur hasilnya, baru pertimbangkan ekspansi ke sudut kedua.