Saya masih ingat satu periode di mana saya merasa sangat sibuk tapi tidak tahu ke mana hasilnya. Jadwal penuh. Notifikasi terus. Meeting sana-sini. Tapi di akhir minggu, kalau ditanya “apa yang sudah maju minggu ini?” jawaban saya lebih banyak diam dari pada penjelasan.

Yang lucu, solusi pertama yang terpikirkan waktu itu adalah tambah sesuatu. Cari taktik baru. Coba platform baru. Ikut kelas baru. Padahal ternyata masalahnya bukan kurang aktivitas – masalahnya terlalu banyak aktivitas yang tidak menghasilkan apa-apa.

Ini yang saya pelajari: prinsip eliminasi lebih powerful dari prinsip penambahan. Dan buat Daddy yang hanya punya 2-4 jam kerja sehari, ini bukan sekedar strategi produktivitas – ini keharusan.

Kenapa Kita Selalu Mau Tambah, Bukan Kurangi

Ada sesuatu yang menarik dari cara kita berpikir tentang produktivitas. Kalau hasil kurang memuaskan, reaksi default hampir semua orang adalah: “Apa yang harus saya tambahkan?” Bukan: “Apa yang harus saya hentikan?”

Ini masuk akal secara psikologis, sih. Menambahkan sesuatu terasa seperti progress. Menghentikan sesuatu terasa seperti menyerah.

Tapi 80/20 rule memberikan perspektif berbeda. Dalam hampir semua konteks – pekerjaan, bisnis, kebiasaan – sekitar 20% aktivitasmu menghasilkan 80% dari total hasilmu. Artinya, 80% dari apa yang kamu kerjakan hari ini berkontribusi paling banyak 20% ke hasilmu.

Kalau kamu Daddy karyawan dengan waktu kerja yang ketat, 80% yang tidak produktif itu bukan cuma membuang waktu – dia aktif mencuri waktu yang seharusnya bisa buat kamu hadir untuk anak, buat istirahat, atau buat aktivitas yang benar-benar gerakkan karir atau income kamu.

3 Layer Eliminasi yang Perlu Kamu Audit

Framework eliminasi ini bekerja di tiga level. Saya coba jabarkan dari yang paling mudah dulu.

Layer 1: Aktivitas Harian

Ini audit paling mendasar. Minta dirimu sendiri: dari semua yang kamu kerjakan bulan lalu, berapa persen yang benar-benar menghasilkan kemajuan nyata?

Cara auditnya cukup sederhana. List semua aktivitas yang kamu kerjakan – mulai dari meeting, email, konten, riset, networking, kelas yang diikuti, sampai “cek media sosial sebentar”. Lalu beri setiap aktivitas skor 0 sampai 10 berdasarkan satu pertanyaan: seberapa besar ini berkontribusi ke hasil yang kamu ukur?

Kalau kamu karyawan, mungkin “hasil” artinya performa yang dinilai atasan, proyek yang selesai, atau skill yang berkembang. Kalau kamu punya side income, mungkin artinya revenue atau klien baru.

Setelah di-score, lihat 3 sampai 5 aktivitas teratas. Apakah mereka cover 80% lebih dari hasilmu? Kalau ya, sisanya adalah kandidat eliminasi atau setidaknya kandidat untuk dikurangi drastis.

Beberapa aktivitas yang sering muncul sebagai low-impact tapi terasa penting: cek media sosial setiap jam, hadir di setiap komunitas online yang diundangi, mengerjakan email non-urgent di malam hari, ikut meeting yang bisa diganti dengan update tertulis 5 menit.

Layer 2: Proyek yang Sedang Berjalan

Layer ini lebih berat secara emosional. Karena kita bicara tentang menghentikan sesuatu yang sudah dimulai – dan itu tidak nyaman.

Pertanyaannya: dari semua proyek yang sedang kamu kerjakan, mana yang kalau dihentikan hari ini, dampaknya paling terasa ke hidupmu? Itu yang harus dijaga. Sisanya perlu dipertimbangkan ulang.

Kriteria proyek yang worth keeping: dia menghasilkan 30% lebih dari total hasil kamu, dia inti dari posisi atau identitas profesional kamu, ada demand yang jelas dari orang lain, dan – ini jujur – kamu masih bersemangat mengerjakannya.

Kriteria proyek yang sudah saatnya dihentikan atau di-pause: kontribusinya kurang dari 10% ke hasil total, dia dimulai karena “siapa tahu berguna” bukan karena ada demand nyata, atau kamu mengerjakannya karena rasa bersalah kalau tidak dilanjutkan.

Saya pernah pegang beberapa “proyek kecil” paralel dalam waktu yang sama. Waktu akhirnya saya tanyakan dengan jujur: dari semua ini, mana yang benar-benar penting? Jawabannya tidak sebanyak yang saya kira. Dan setelah yang lain di-pause, proyek utama maju jauh lebih cepat.

Layer 3: Komitmen dan Permintaan dari Luar

Ini yang paling underrated. Kita sering tidak sadar berapa banyak energi yang terkuras bukan dari pekerjaan kita sendiri, tapi dari permintaan orang lain yang kita iyakan.

“Bisa bantu review sebentar?” – sebentar tidak pernah sebentar.

“Mau kolaborasi konten?” – bisa bagus, tapi biasanya mengambil 3-5 kali lebih banyak waktu dari yang diestimasi.

“Ikut komunitas ini, seru!” – dan tiba-tiba ada 30 notifikasi grup sehari yang perlu direspons.

Default rule yang membantu saya: kecuali permintaan ini selaras langsung dengan 3 prioritas utama saya atau saya genuinely excited, jawabannya tidak.

Cara menolak tanpa merusak hubungan pun tidak susah. Cukup jujur: “Terima kasih sudah dipikirin. Sekarang saya lagi fokus penuh ke [satu hal spesifik], jadi belum bisa ambil komitmen baru. Semoga proyeknya lancar!”

Tidak ada yang perlu dipermasalahkan. Dan orang yang menghargai kamu akan mengerti.

Bagaimana Ini Bekerja di Kehidupan Saya

Saya sendiri menjalankan audit aktivitas ini setidaknya sekali per kuartal. Biasanya saya lakukan di akhir minggu – duduk 30 menit, list apa saja yang saya kerjakan bulan itu, dan tanya jujur ke diri sendiri: mana yang benar-benar moved the needle?

Yang saya temukan konsisten: selalu ada 2-3 aktivitas yang terasa produktif tapi sebenarnya tidak menghasilkan apa yang saya ukur. Biasanya ini aktivitas yang “terlihat kerja” – meeting yang bisa jadi email, riset yang tidak pernah dieksekusi, platform yang saya maintain karena kebiasaan bukan karena efektif.

Setiap kali saya berani menghentikan hal-hal itu, ada waktu yang kembali. Dan waktu yang kembali itu – dalam konteks saya yang bekerja dalam window sempit sehari – jauh lebih berarti dari teknik produktivitas apapun yang pernah saya coba.

Siapa yang Akan Dapat Manfaat Paling Besar?

Cocok kalau kamu: merasa sibuk tapi hasil tidak proporsional dengan waktu yang dikeluarkan, sedang handle lebih dari 3-4 “proyek” paralel, atau waktu produktif kamu kurang dari 3 jam sehari dan kamu tidak bisa pilih mana yang paling penting.

Mungkin belum waktunya kalau: kamu baru mulai dan belum punya cukup data aktivitas untuk diaudit – dalam kasus ini, coba dulu semua selama 60-90 hari, baru audit. Atau kalau kamu masih dalam fase eksplorasi dan memang perlu mencoba banyak hal untuk tahu apa yang bekerja.

Kalau Kamu Mau Bangun Sistem Kerja yang Lebih Fokus

Eliminasi ini salah satu fondasi dari apa yang saya sebut Daddy Freedom System – cara kerja efektif dalam window waktu terbatas. Kalau kamu mau saya bahas lebih dalam bagaimana menyusun waktu 2-4 jam sehari supaya hasilnya tidak kalah dari orang yang kerja 8 jam, saya tulis lebih banyak di newsletter Not A Perfect Daddy.

Daftar di Newsletter Not A Perfect Daddy ->

Pertanyaan yang Sering Muncul

Kalau saya eliminasi sesuatu dan ternyata salah, gimana?

Ini kekhawatiran yang wajar. Yang saya sarankan: jangan eliminasi sekaligus banyak hal. Mulai dari 1-2 aktivitas atau komitmen per minggu. Tes selama 30 hari minimum. Kalau memang ada yang ternyata perlu dikembalikan, kamu bisa kembalikan – tapi beri dirimu waktu untuk benar-benar melihat dampaknya tanpa terburu-buru kembali ke kebiasaan lama.

Gimana cara jujur menilai impact aktivitas kalau ukurannya tidak selalu bisa dikuantifikasi?

Tidak semua hal bisa diukur dengan angka, memang. Untuk yang tidak bisa diukur langsung, tanyakan ini: “Kalau saya tidak melakukan ini bulan lalu, apa yang akan berbeda?” Kalau jawabanmu adalah “tidak ada yang berubah signifikan”, itu petunjuk kuat.

Bagaimana kalau atasan atau klien yang minta saya lakukan hal-hal itu?

Konteks bekerja untuk orang lain memang beda. Di sini kuncinya bukan menolak langsung, tapi negosiasi prioritas. Kalau kamu bisa tunjukkan ke atasan bahwa dengan memfokuskan 80% energi ke 3 hal ini hasilnya lebih baik dari tersebar di 10 hal, itu percakapan yang worth having. Tidak selalu berhasil, tapi layak dicoba.

Apa bedanya eliminasi dengan kemalasan?

Eliminasi adalah keputusan berbasis data tentang apa yang menghasilkan dan apa yang tidak. Kemalasan adalah menghindari hal-hal yang sebenarnya menghasilkan karena tidak nyaman melakukannya. Bedanya ada di satu pertanyaan: “Apakah hal ini memang tidak menghasilkan, atau saya hanya tidak mau susah mengerjakannya?” Jawab dengan jujur.

Berapa sering saya perlu audit ulang?

Paling tidak sekali per kuartal, atau setiap kali merasa bahwa cara kerja saya mulai tidak efisien lagi. Situasi berubah – apa yang dulu penting mungkin sekarang sudah tidak relevan, dan sebaliknya. Audit bukan one-time event, ini kebiasaan yang perlu dibangun.