Ada tukang ledeng yang mengubah tagline bisnisnya dan hasilnya cukup berbeda. Sebelumnya dia pakai: “instalasi plumbing profesional dan efisien.” Setelah diubah jadi: “tidak perlu khawatir memasang dishwasher sendiri dan bikin rumah kebanjiran, saya datang dan beres dalam hitungan menit.”
Kata “khawatir” dan “kebanjiran” bukan kalimat yang dia karang sendiri. Itu kata-kata yang berulang kali dia dengar dari pelanggan yang cerita kenapa mereka butuh bantuannya.
Itu intinya. Kata-kata yang paling kena bukan kata yang kamu pilih karena kedengarannya profesional. Tapi kata yang sama persis dengan yang ada di kepala orang yang butuh jasamu.
Kenapa Bahasa Kita Sendiri Seringkali Tidak Bekerja
Kita yang tahu produk atau jasa kita sendiri cenderung mendeskripsikannya dari sudut pandang kita. Sudut pandang orang yang sudah paham mekanisme, proses, dan fiturnya.
Tapi calon pembeli tidak peduli mekanismenya. Mereka peduli satu hal: apakah ini akan menyelesaikan masalah yang mereka rasakan.
Ada contoh yang cukup nyata dari industri fitness: sebuah gym menulis “optimasi rutinitas fitness untuk profesional sibuk.” Terdengar oke. Tapi ketika mereka tanya ke member mereka kenapa bergabung, jawabannya lebih seperti “saya mau badan lebih fit tanpa tambahan stress di jadwal yang sudah penuh.” Jauh berbeda.
Yang satu bicara soal “optimasi rutinitas”. Yang lain bicara soal “badan lebih fit tanpa tambahan stress”. Satu bahasa pemilik gym, satu bahasa pelanggan.
Untuk Daddy karyawan yang mulai side hustle dengan waktu terbatas, ini bukan soal teori marketing. Ini soal efisiensi. Kalau setiap konten atau pesan kamu harus “diterjemahkan” dulu oleh calon pembeli sebelum mereka bisa mengerti relevansinya, kamu kehilangan orang-orang yang sebetulnya butuh jasamu tapi tidak punya energi untuk decode pesanmu.
Cara Mengumpulkan Bahasa Pelanggan Tanpa Riset Formal
Ini yang membuat sebagian besar Daddy karyawan langsung exit: kata “riset”. Kedengarannya seperti project tersendiri yang butuh waktu berbulan-bulan.
Sebetulnya tidak harus segitunya.
Cara 1: Cermati Kata-kata di Percakapan yang Sudah Ada
Kalau kamu sudah pernah dapat pertanyaan atau pesan dari calon pelanggan, baca ulang. Perhatikan kata-kata yang mereka pakai. Bukan kata yang kamu harap mereka pakai.
Mereka bilang “ribet” bukan “kompleks”. Mereka bilang “pusing” bukan “overwhelming”. Mereka bilang “modal sedikit” bukan “capital yang minimal”. Kata-kata sehari-hari itu adalah material yang berharga.
Kalau belum ada percakapan seperti itu, lihat komentar di konten sejenis dari orang lain di industri yang sama. Baca apa yang orang pertanyakan, apa yang mereka keluhkan, apa yang mereka minta.
Cara 2: Tanya Langsung dengan Pertanyaan Terbuka
Kalau ada orang yang sudah pernah kamu bantu atau yang ada di posisi yang mau kamu bantu, tanya dua pertanyaan ini:
Satu: “Sebelum kamu pakai [produk/jasa sejenis], apa tantangan utama yang kamu hadapi?” Biarkan mereka jawab dengan kata-kata mereka sendiri.
Dua: “Kalau masalah itu sudah terselesaikan, apa yang paling kamu rasakan berbeda dalam keseharianmu?” Ini untuk bagian hasil.
Jawaban dari dua pertanyaan itu biasanya sudah cukup untuk mengisi pesan dasarmu dengan bahasa yang lebih resonan.
Cara 3: Perhatikan Keberatan yang Muncul Berulang
Setiap kali calon pembeli ragu atau tidak jadi beli, biasanya ada keberatan yang tidak mereka ucapkan. Tapi kadang mereka ucapkan, dalam bentuk pertanyaan seperti “apakah ini mudah dipahami?” atau “apakah ini cocok kalau saya tidak punya background di bidang ini?”
Kumpulkan pertanyaan-pertanyaan itu. Itu bukan hanya sinyal keberatan, tapi juga material untuk pesanmu. Kalau “apakah mudah dipahami” sering muncul, kata “mudah dipahami bahkan tanpa background teknis” bisa masuk ke deskripsi produkmu.
Cara Menggunakannya dalam Pesan dan Konten
Setelah kamu punya kumpulan kata dari pelanggan, cara pakainya cukup straightforward.
Untuk deskripsi produk atau jasa: pastikan ada minimal 1-2 frasa yang langsung datang dari bahasa pelanggan, terutama di bagian masalah yang kamu selesaikan dan hasil yang mereka dapatkan.
Untuk konten: mulai dari situasi atau perasaan yang familiar bagi target audiensmu, pakai kata-kata yang sama dengan yang mereka pakai untuk mendeskripsikan situasi itu. Orang yang baca akan merasa “ini persis yang saya alami,” dan itu membuat mereka lebih mau lanjut baca.
Untuk menangani keberatan: kalau ada kata atau frasa yang berulang kali muncul sebagai keberatan, jawab langsung dengan bahasa yang sama. Bukan dengan bahasa yang terdengar defensif, tapi dengan bahasa yang menunjukkan kamu sudah memikirkan kekhawatiran itu.
Contoh Perbandingan Konkret
Ini contoh sederhana yang menunjukkan bedanya:
Sebelum pakai bahasa pelanggan: “Saya membantu para profesional sibuk meningkatkan efektivitas manajemen waktu mereka dengan sistem yang terstruktur.”
Setelah pakai bahasa pelanggan: “Saya bantu Daddy yang kerja full-time menemukan 1-2 jam ekstra per hari tanpa harus tidur lebih malam atau makan siang di depan laptop.”
Yang kedua lebih panjang tapi jauh lebih konkret. Orang yang masuk target langsung bisa merasakan apakah itu relevan buat mereka.
Kata “1-2 jam ekstra”, “kerja full-time”, “tanpa harus tidur lebih malam”, dan “makan siang di depan laptop” adalah semua hal yang diambil dari konteks kehidupan nyata target audiensnya, bukan dari cara pemilik jasa mendeskripsikan produknya.
Bagaimana Ini Bekerja di Kehidupan Saya
Saya perlu jujur: saya tidak selalu langsung sadar soal ini. Ada periode waktu di mana saya tulis deskripsi konten dan produk dengan bahasa yang saya pikir kedengarannya paling profesional. Hasilnya tidak terlalu resonan.
Momen yang bikin saya sadar adalah waktu saya baca ulang beberapa DM dari orang yang pernah tanya ke saya, dan saya perhatikan mereka tidak pernah pakai kata “optimasi” atau “efisiensi”. Mereka pakai kata “capek”, “tidak ada waktu”, “bingung mulai dari mana”. Kata-kata yang jauh lebih sederhana.
Setelah saya mulai pakai kata-kata itu dalam konten dan deskripsi, ada perbedaan di kualitas percakapan yang muncul. Orang yang masuk lebih relevan, pertanyaan mereka lebih spesifik, dan lebih sedikit energi yang terbuang untuk menjelaskan dari nol.
Bukan perubahan besar-besaran dalam semalam. Tapi cukup terasa, dan cukup membuat saya sadar ini worth dikerjakan dengan serius.
Siapa yang Akan Dapat Manfaat Paling Besar?
Cocok kalau kamu: sudah mulai coba side hustle atau income tambahan tapi belum pernah secara sadar menggunakan bahasa yang datang dari pelanggan, atau merasa kontenmu sudah bagus tapi responsnya tidak sesuai harapan.
Mungkin belum waktunya kalau: kamu belum punya gambaran sama sekali soal siapa target audiensmu, karena bahasa pelanggan tidak bisa kamu kumpulkan kalau kamu belum tahu mau bantu siapa.
Kalau Ini Terasa Berguna
Di newsletter Not A Perfect Daddy, saya sering bahas hal-hal seperti ini, tips praktis soal income tambahan yang masuk akal untuk Daddy karyawan, bukan teori bisnis yang asumsinya kamu punya 8 jam sehari untuk eksekusi.
Kalau mau saya kirim langsung ke email kamu setiap minggu, masuk di sini gratis.
Gabung Newsletter Not A Perfect Daddy →
Pertanyaan yang Sering Muncul
Berapa banyak percakapan atau data yang saya butuhkan sebelum bisa mulai?
Tidak perlu banyak. Lima sampai sepuluh percakapan yang dicatat dengan baik sudah cukup untuk mulai mengidentifikasi pola kata-kata yang berulang. Bahkan dua atau tiga percakapan sudah lebih baik dari tidak ada sama sekali. Mulai dari yang ada, jangan tunggu sampai kamu punya riset yang sempurna.
Bagaimana kalau pelanggan menggunakan kata yang berbeda-beda dan tidak ada yang konsisten?
Itu sinyal bahwa target audiensmu mungkin terlalu beragam, atau kamu belum cukup spesifik tentang siapa yang mau kamu bantu. Coba perkecil dulu targetmu ke kelompok yang lebih spesifik, lalu ulangi prosesnya. Biasanya ketika audiensnya lebih spesifik, kata-kata yang mereka pakai akan lebih konsisten.
Apakah saya bisa pakai kata-kata yang saya temukan di forum atau grup online, atau harus dari pelanggan langsung?
Kata-kata dari forum atau grup online sangat valid, bahkan sangat berguna karena orang di sana biasanya lebih bebas mengungkapkan masalah mereka tanpa filter. Yang penting kamu pastikan mereka memang masuk kategori target audiensmu, bukan komunitas yang terlalu berbeda konteksnya.
Kalau saya sudah pakai bahasa pelanggan, apakah saya masih perlu belajar teknik copywriting?
Bahasa pelanggan itu fundasi. Teknik copywriting seperti cara menyusun kalimat, cara bikin opening yang kuat, atau cara mengarahkan ke call to action itu bisa membantu, tapi efeknya akan jauh lebih besar kalau fondasinya sudah benar. Urutan yang benar: dapat bahasa pelanggan dulu, baru optimalkan cara menyampaikannya.
Seberapa sering saya perlu mengupdate bahasa ini?
Bahasa pelanggan bisa berubah seiring waktu, terutama kalau kondisi pasar berubah atau masalah yang mereka hadapi berevolusi. Tidak perlu update tiap bulan, tapi coba luangkan waktu setiap 3-6 bulan untuk cek ulang apakah kata-kata yang kamu pakai masih resonan atau sudah ada kata baru yang lebih kena.

