Saya inget waktu itu saya duduk di depan laptop, dan di layar ada sekitar 7 tab terbuka. Ada kursus copywriting, ada kursus dropship, ada kursus affiliate, ada kursus jual ebook. Semua saya beli, semua saya mulai, semua saya berhenti di tengah jalan.
Bukan karena malas. Saya sudah cukup kerja keras waktu itu. Tapi ada satu hal yang tidak pernah saya tanya ke diri sendiri sebelum beli semua itu: ini cocok untuk saya atau tidak?
Saya pikir kalau saya ikuti cara orang lain yang sudah berhasil, saya akan berhasil juga. Logikanya masuk kan. Tapi yang saya tidak sadari, saya ini bukan orang itu. Background beda, kekuatan beda, konteks hidup beda. Cara dia berhasil belum tentu cara saya berhasil.
Ini yang akhirnya saya pelajari, dan ini yang mau saya bagikan.
Kenapa Ikut-Ikutan Tidak Bekerja untuk Banyak Daddy
Ada pola yang saya lihat berulang. Daddy liat orang sukses jual digital product. Dia beli kursus digital product. Dia ikuti step by stepnya. Tiga bulan kemudian, hasilnya tipis, atau malah tidak ada sama sekali. Lalu dia pikir dia gagal karena kurang kerja keras atau kurang modal.
Padahal bukan itu masalahnya.
Masalahnya adalah dia belum pernah tanya: kenapa saya harus jual ini? Apa yang membuat saya, secara spesifik, lebih layak berbicara tentang topik ini dibanding orang lain?
Kalau tidak ada jawaban yang kuat untuk pertanyaan itu, kamu akan habis energi di tempat yang tidak seharusnya. Kamu kerja keras tapi arahnya muter-muter.
Saya tidak mau kamu habiskan 2-4 jam kerja seharimu di arah yang salah.
Framework 3P: Titik Awal yang Lebih Jujur
Ada satu framework sederhana yang saya temukan relevan, dan saya rasa ini lebih jujur dari “ikuti passion kamu” yang generic itu.
Namanya 3P Framework. Tiga pertanyaan, tiga area untuk digali.
P Pertama: Problems
Masalah apa yang sudah kamu selesaikan di hidupmu sendiri?
Bukan masalah orang lain. Masalah kamu. Yang kamu lalui sendiri, yang kamu cari jawabannya sendiri, yang akhirnya kamu temukan solusinya.
Kalau kamu pernah turun berat badan 20 kg, itu adalah problem yang sudah kamu selesaikan. Kalau kamu pernah keluar dari karir yang tidak kamu sukai dan bangun sesuatu yang baru, itu problem yang sudah kamu selesaikan. Kalau kamu pernah belajar nego gaji dari nol dan akhirnya naik 40%, itu juga problem.
Saya sendiri pernah punya masalah dengan cara belajar yang tidak efisien. Beli buku tapi tidak selesai baca. Ikut kursus tapi tidak selesai. Sampai saya temukan cara yang cocok untuk saya, dan itu jadi sesuatu yang bisa saya bagikan ke orang lain yang punya masalah yang sama.
Tuliskan semua masalah hidup yang pernah kamu selesaikan sendiri. Tidak perlu masalah yang besar atau dramatis. Masalah yang relevan untuk orang lain di posisi yang sama dengan posisi kamu 3-5 tahun lalu.
P Kedua: Positions
Posisi atau karir apa yang pernah kamu jalani?
Setiap posisi yang kamu pernah duduki itu adalah pengalaman yang orang lain ingin tahu. Ada orang di luar sana yang sedang di titik di mana kamu sudah melewatinya.
Kamu pernah jadi supervisor di pabrik? Ada ribuan orang yang mau belajar cara navigasi dunia manufaktur. Kamu pernah jadi accounting di perusahaan menengah? Ada orang yang mau belajar cara kerja finance dari sudut pandang praktisi. Kamu pernah jadi guru SD 5 tahun? Ada orang tua yang mau belajar cara mendampingi anak belajar di rumah.
Ini bukan tentang pangkat atau jabatan tertinggi yang kamu capai. Ini tentang pengalaman di dalam posisi itu yang orang lain tidak punya.
Saya pernah di posisi yang sangat spesifik: karyawan yang belajar digital marketing sendiri sambil tetap kerja full-time, dengan dua anak kecil di rumah. Tidak banyak orang yang punya kombinasi konteks yang sama persis. Dan ternyata itu yang bikin konten dan produk saya terasa relevan untuk audiens yang spesifik.
P Ketiga: Pain Points
Apa yang kamu lihat di sekitarmu, di dunia, di lingkunganmu, yang bikin hatimu “gatal”?
Ini bukan tentang apa yang kamu benci. Ini tentang apa yang menurut kamu seharusnya ada tapi belum ada, atau ada tapi salah, dan kamu punya gambaran bagaimana seharusnya.
Saya lihat banyak konten parenting di Indonesia yang terlalu idealis, terlalu judge, terlalu jauh dari realita Daddy yang kerja full-time dengan gaji pas-pasan dan dua anak yang butuh perhatian. Itu yang bikin saya mulai nulis untuk daddy.co.id, bukan karena mau jadi blogger, tapi karena ada pain point yang nyata di sana.
Pain point yang membuat hatimu “gatal” biasanya menunjukkan gap yang ada di pasar, dan gap itu bisa jadi tempat kamu masuk.
Karunia adalah Benih, Bukan Pohon yang Sudah Jadi
Ini bagian yang sering bikin orang macet.
Mereka pikir kalau mau bisnis dari passion atau karunia, mereka harus sudah ahli dulu. Sudah expert. Sudah punya portofolio panjang. Sudah diakui orang banyak.
Tapi karunia itu seperti benih. Benih itu valid, tapi dia perlu dikultivasi dulu sebelum bisa menghasilkan buah. Kamu tidak langsung punya pohon yang siap panen. Kamu mulai dari benih, kamu rawat, kamu siram, kamu tunggu.
Dan prinsipnya sederhana: live it first, then teach it.
Kamu tidak bisa ngajarin orang cara bangun kebiasaan tidur yang baik kalau kamu sendiri masih tidur jam 2 pagi tiap malam. Tapi kamu tidak perlu sempurna dulu untuk mulai. Kamu hanya perlu sudah satu langkah lebih jauh dari orang yang kamu bantu.
Satu langkah. Bukan satu dekade di depan.
Ini yang sering saya lihat salah kaprah: orang nunggu sampai mereka merasa “siap” dan “cukup ahli” sebelum berani berbagi. Padahal yang kamu anggap sudah biasa dan sudah kamu kuasai itu belum tentu biasa bagi orang di posisi yang 2-3 tahun di belakangmu.
Satu Tambahan: Review History Kamu
Kalau kamu masih buntu setelah 3P, ada satu cara yang lebih konkret.
Buka YouTube history kamu dari 12 bulan terakhir. Buka Google search history. Buka podcast kamu. Lihat pola apa yang muncul berulang tanpa ada yang nyuruh.
Topik apa yang kamu cari terus tanpa alasan yang jelas? Konten apa yang kamu habiskan waktu lebih lama dari biasanya? Pertanyaan apa yang kamu googling berulang kali karena belum dapat jawaban yang memuaskan?
Di sana ada petunjuk yang lebih jujur dari jawaban introspeksi yang dipaksakan. Karena apa yang kamu cari secara spontan itu lebih dekat ke karunia dan minat aslimu dibanding jawaban yang kamu pikirkan panjang lebar saat ada tekanan.
Saya sendiri pakai cara ini. Dan polanya jelas: saya selalu kembali ke topik seputar cara kerja efisien untuk orang dengan waktu terbatas, parenting praktis tanpa idealisme berlebihan, dan cara membangun income yang tidak butuh 16 jam kerja sehari. Itu yang akhirnya jadi pondasi konten dan produk saya.
Bagaimana Ini Bekerja di Kehidupan Saya
Jujur, proses ini tidak terjadi dalam satu malam untuk saya.
Saya cukup lama ikut-ikutan sebelum akhirnya duduk dan tanya ke diri sendiri: sebetulnya apa sih yang saya sudah tahu? Apa yang sudah saya lalui? Dan siapa yang butuh itu?
Waktu saya jawab 3P itu untuk diri saya sendiri, jawabannya sudah lebih jelas. Masalah yang saya selesaikan: cara kerja efisien dengan waktu sangat terbatas sambil punya dua anak kecil. Posisi yang saya jalani: praktisi digital marketing yang juga ayah. Pain point yang bikin saya gatal: konten Daddy Indonesia yang kebanyakan tidak realistis.
Dari sana, arahnya lebih jelas. Saya tidak perlu ikut semua kursus yang ada. Saya hanya perlu mengembangkan apa yang sudah ada di dalam saya, dan mulai bagikan ke orang yang butuh.
Dan yang penting: saya tidak nunggu sampai sempurna. Saya mulai dari apa yang sudah saya punya, sambil terus belajar.
Ada satu hal yang saya yakini, dan ini bukan cuma soal bisnis tapi soal hidup: kalau kamu sudah melihat jalan yang benar, ada sesuatu yang lebih besar yang bisa kamu minta petunjuknya. Saya pribadi berdoa sebelum memutuskan langkah besar. Bukan karena saya yakin langsung dapat jawaban instan, tapi karena itu cara saya tetap tenang di tengah ketidakpastian.
Siapa yang Akan Dapat Manfaat Paling Besar?
Cocok kalau kamu: sudah punya pengalaman kerja minimal 3-5 tahun di bidang apapun, merasa stuck tidak tahu harus mulai dari mana untuk income tambahan, dan mau jujur dalam proses evaluasi diri.
Mungkin belum waktunya kalau: kamu masih di tahun pertama karir dan belum punya pengalaman yang bisa dikontekstualisasi, atau kamu mau “cepat kaya” dan tidak mau proses pelan yang butuh konsistensi.
Kalau Mau Saya Kirim Framework dan Pertanyaan 3P-nya Langsung ke Email Kamu
Saya punya versi worksheet sederhana dari 3P Framework ini yang bisa kamu isi sendiri di rumah, 30 menit, dan kamu akan keluar dengan gambaran yang lebih jelas soal arah bisnis yang cocok untuk kamu.
Kalau mau, masuk ke newsletter Not A Perfect Daddy di sini, gratis, dan saya kirim tiap minggu.
Gabung Newsletter Not A Perfect Daddy →
Pertanyaan yang Sering Muncul
Apakah saya harus berhenti kerja dulu sebelum mulai bisnis dari pengalaman ini?
Tidak, sama sekali tidak perlu. Justru sebaliknya, konteks kamu sebagai karyawan aktif itu adalah bagian dari cerita yang relevan. Banyak orang yang ingin belajar dari seseorang yang masih di kondisi yang sama dengan mereka, bukan dari yang sudah keluar dan “sukses”. Kalau kamu masih kerja 8-9 jam sehari dan tetap bisa bangun sesuatu di 2-4 jam sisanya, itu justru lebih relatable dan lebih bisa dipercaya.
Bagaimana kalau pengalaman saya sangat niche, hanya segelintir orang yang peduli?
Niche itu justru bagus di tahap awal. Kamu tidak butuh ribuan orang untuk validasi pertama. Kamu butuh puluhan orang yang sangat relevan. Dari sana kamu bisa tumbuh. Masalah yang terlalu luas dan terlalu generic justru lebih susah dijual karena kamu tidak punya keunggulan spesifik.
Saya takut tidak ada yang mau beli pengalaman saya karena saya bukan orang terkenal.
Ini yang disebut false humility, dan ini lebih berbahaya dari yang kamu pikir. Ketika kamu bilang pengalaman kamu tidak berharga karena kamu tidak terkenal, kamu sebetulnya sedang tidak adil terhadap diri sendiri. Ada orang di luar sana yang persis butuh apa yang kamu punya, dan mereka tidak bisa menemukan kamu karena kamu belum mau keluar. Terkenal atau tidak itu masalah nanti, bukan syarat untuk mulai.
Berapa jam per hari yang realistis untuk membangun ini sambil kerja full-time dan punya anak kecil?
Jujur: 1-2 jam per hari sudah cukup di tahap awal, kalau konsisten. Yang lebih penting dari jumlah jamnya adalah kualitas fokusnya. Satu jam tanpa distraksi lebih produktif dari 3 jam sambil scroll-scroll dan sering diinterupsi. Saya sendiri kerja dengan sistem 2-4 jam kerja terfokus, dan itu kondisi nyata, bukan angka yang dilebih-lebihkan.
Apakah framework 3P ini juga cocok untuk Daddy yang baru mau mulai dari nol tanpa pengalaman digital sama sekali?
Ya, tapi dengan ekspektasi yang realistis. 3P Framework membantu kamu menemukan arah dan topik, bukan langsung menghasilkan uang. Setelah tahu arahnya, kamu masih perlu belajar cara mendistribusikan pengalaman itu dalam format yang bisa dikonsumsi dan dibeli orang. Tapi langkah pertama yang benar tetap lebih baik dari langkah cepat yang arahnya salah.

