FOMO yang Bikin Daddy Selalu Merasa Ketinggalan
Saya inget banget hari itu. Buka Instagram sambil makan malam, dan langsung lihat teman SMA yang baru posting soal bisnisnya yang sebulan omzetnya puluhan juta. Di bawahnya, ada teman kuliah yang baru naik jabatan jadi manajer di usia 30. Dan di story, ada kenalan yang katanya baru dapat klien dari luar negeri.
Makanan saya tiba-tiba tidak terasa enak.
Bukan karena saya tidak bahagia dengan hidup saya. Tapi karena di 10 menit itu, tanpa persiapan apapun, otak saya tiba-tiba mulai stok-opname hidupnya sendiri. Dan perbandingannya tidak pernah menguntungkan saya.
Ini FOMO versi Daddy. Dan menurut saya ini lebih halus dan lebih berbahaya dari FOMO biasa karena ia datang bersamaan dengan rasa tanggung jawab kepada keluarga. Bukan cuma “saya ketinggalan” tapi “keluarga saya ketinggalan karena saya.”
Kenapa FOMO Bekerja Lebih Kuat pada Daddy
Ada alasan psikologisnya. Otak manusia punya bias yang disebut “availability heuristic” – kita cenderung menilai sesuatu berdasarkan seberapa mudah kita bisa membayangkan contohnya. Kalau feed sosial media kamu penuh dengan konten kesuksesan orang lain, otak kamu akan mulai menganggap itu adalah norma, bukan pengecualian.
Yang tidak terlihat di feed: 100 orang lain yang sedang menjalani hidup yang biasa-biasa saja, tidak posting apapun karena tidak ada yang terasa “layak” diposting. Kamu hanya lihat highlight reel dari beberapa orang – dan menginternalisasinya sebagai standar rata-rata.
Untuk Daddy karyawan yang hidupnya sudah padat, ada faktor tambahan: rasa tanggung jawab finansial kepada keluarga membuat FOMO terasa lebih justified. “Saya harus kejar ini karena keluarga saya butuh lebih banyak.” Itu kalimat yang terasa mulia tapi sering kali dipakai sebagai pembenaran untuk keputusan yang sebetulnya didorong oleh ketakutan, bukan perencanaan.
Apa yang Sebenarnya Terjadi di Otak Waktu FOMO
Pola FOMO bekerja persis seperti pola curiosity gap di komunikasi – ini bukan kebetulan. Otak kita bekerja untuk menutup “gap” antara apa yang kita miliki dan apa yang kita pikir kita seharusnya miliki. Marketer yang pintar memanfaatkan ini dengan subject line email seperti “Apa yang kamu lewatkan sementara orang lain sudah bergerak…” atau “Hanya tersisa 3 spot untuk…”
FOMO spontan bekerja dengan mekanisme yang sama, hanya saja “subject line”-nya datang dari apa yang kamu lihat di sekitarmu.
Dan sama seperti email yang menarik tapi isinya tidak relevan dengan hidupmu akan menghabiskan waktumu tanpa memberi manfaat nyata, FOMO yang tidak dikelola akan menghabiskan energi mental yang harusnya bisa kamu pakai untuk hal yang benar-benar penting.
Cara Memutus Siklus FOMO: Satu Pertanyaan Utama
Saya tidak percaya kita bisa menghilangkan FOMO sepenuhnya. Itu bukan realistis. Tapi ada satu pertanyaan yang membantu saya mengkalibrasi ulang setiap kali FOMO muncul:
“Konkretnya, apa yang berubah untuk keluarga saya kalau saya kejar ini dan berhasil dalam 6 bulan?”
Bukan: “ini terdengar bagus.” Bukan: “orang lain sudah di sana.” Bukan: “saya tidak mau menyesal.”
Konkretnya: siapa yang merasakan bedanya? Apa bedanya? Dalam waktu berapa lama?
Pertanyaan itu keras karena memaksa kamu keluar dari mode perbandingan dan masuk ke mode perencanaan. Dan dalam banyak kasus, jawabannya mengungkapkan bahwa apa yang kamu mau kejar itu tidak sejelas yang kamu kira.
Kadang jawabannya memang jelas dan konkret. Maka itu memang layak dikejar dengan rencana yang nyata. Tapi kalau kamu tidak bisa menjawabnya dengan spesifik, itu pertanda bahwa kamu sedang bereaksi terhadap FOMO, bukan mengambil keputusan yang terarah.
Yang Saya Pelajari dari Anak-Anak Saya
Ada sesuatu yang tidak terduga dari punya anak kecil: mereka menghancurkan FOMO-mu dengan cara yang paling efisien.
Bukan karena punya anak itu membuat semua ambisi hilang. Tapi karena anak kamu ada di hadapanmu sekarang, minta perhatian sekarang, butuh kamu hadir sekarang. FOMO adalah tentang sesuatu yang ada di tempat lain atau di masa depan – dan anak kecil adalah pengingat yang sangat efektif bahwa “sekarang” itu nyata dan berharga.
Anak saya yang lebih kecil, yang sekarang sekitar 4 tahun, punya kosakata yang cukup terbatas untuk hal-hal yang tidak dia sukai. Tapi kalau dia merasa saya tidak benar-benar ada – fisik ada tapi pikiran ke mana-mana – dia bilang: “Daddy, sini.”
Dua kata. Tapi cukup untuk mengingatkan saya bahwa saat ini tidak akan datang lagi. Dan itu jauh lebih konkret dari apapun yang ada di feed Instagram.
Bagaimana Ini Bekerja di Kehidupan Saya
Saya tidak bilang saya sudah bebas dari FOMO. Saya masih merasakannya. Tapi saya mulai punya ritme yang membantu: setiap kali ada sesuatu yang membuat saya merasa “harus kejar ini sekarang”, saya tunggu 24-48 jam sebelum membuat keputusan apapun.
Kebanyakan FOMO menguap dalam 24 jam. Yang tersisa setelah itu biasanya adalah hal yang memang layak dipertimbangkan lebih serius.
Ini bukan cara untuk jadi pasif atau tidak ambisius. Ini cara untuk memisahkan keputusan yang didorong oleh ketakutan dari keputusan yang didorong oleh tujuan. Dan sebagai Daddy yang kerja dalam ritme 2-4 jam kerja yang terfokus, saya tidak punya bandwidth untuk mengejar setiap hal yang kelihatan menarik – jadi lebih baik saya kejar yang memang punya alasan yang jelas.
Siapa yang Akan Dapat Manfaat Paling Besar?
Cocok kalau kamu: sering merasa seperti ketinggalan meski sudah bekerja keras, sering membuat keputusan impulsif berdasarkan apa yang orang lain lakukan, atau sering burnout karena mengejar terlalu banyak hal sekaligus.
Mungkin belum waktunya kalau: kamu sedang dalam tahap awal karier atau bisnis dan memang perlu banyak eksperimen – di tahap itu, “mencoba banyak hal” adalah strategi yang valid, bukan FOMO. Konteksnya berbeda.
Kalau Kamu Mau Satu Langkah Lebih Jauh dari Sekadar Berhenti FOMO
Tidak cukup berhenti mengejar hal yang salah – kamu juga perlu mulai membangun hal yang tepat. Saya tulis tentang topik ini, soal membangun sistem dan income yang sesuai dengan ritme Daddy karyawan, di newsletter Not A Perfect Daddy. Kalau mau saya kirim langsung ke email kamu setiap minggu:
Gabung Newsletter Not A Perfect Daddy →
Pertanyaan yang Sering Muncul
Apakah berhenti dari media sosial itu solusinya?
Berhenti total dari media sosial itu salah satu opsi dan bisa membantu, tapi bukan satu-satunya cara dan bukan selalu yang paling praktis. Yang lebih sustainable: kurasi apa yang kamu consume secara aktif. Unfollow akun yang secara konsisten membuat kamu merasa buruk tentang hidup kamu sendiri. Ini bukan tentang menutup mata dari realita – ini tentang tidak membiarkan algorithm orang lain menentukan standar kebahagiaanmu.
Bagaimana kalau FOMO saya soal karier itu memang ada dasarnya? Misalnya saya memang benar-benar tertinggal secara gaji atau jabatan dibanding rekan yang sebaya?
Kalau ada gap yang konkret dan memang ingin kamu tutup, itu bukan FOMO – itu adalah tujuan yang spesifik. Perbedaannya: tujuan yang spesifik punya langkah yang bisa direncanakan. FOMO tidak punya ujungnya karena selalu ada yang lebih tinggi. Kalau kamu bisa duduk dan bilang “saya ingin naik ke posisi X dalam 18 bulan dengan langkah A, B, C”, itu adalah ambisi yang sehat, bukan FOMO.
Anak saya kecil dan saya merasa bersalah kalau tidak memberi yang terbaik secara finansial. Bagaimana cara berdamai dengan itu?
Ini pertanyaan yang saya juga belum punya jawaban sempurna. Yang saya tahu: “yang terbaik” tidak selalu berarti income paling besar. Ada trade-off antara waktu dan uang yang masing-masing keluarga perlu tentukan sendiri berdasarkan nilai-nilai mereka, bukan berdasarkan standar eksternal. Saya tidak bisa bilang jawaban satu angka karena konteks setiap keluarga berbeda – tapi pertanyaan yang membantu adalah: apa yang anak saya butuhkan dari saya yang tidak bisa dibeli dengan uang?
Apakah FOMO ini lebih berat dirasakan Daddy yang istrinya bekerja vs yang istrinya di rumah?
Dinamikanya memang berbeda. Daddy yang pasangannya bekerja kadang merasa tekanan dari perbandingan langsung di dalam rumah tangga sendiri. Daddy yang pasangannya di rumah mungkin merasa tekanan yang berbeda karena menjadi satu-satunya sumber income. Tapi FOMO sendiri hadir di kedua situasi – cuma dari sudut yang berbeda. Yang penting bukan menghilangkan tekanannya tapi punya cara untuk meresponsnya yang tidak mengorbankan hal yang paling penting.

