Saya masih inget waktu pertama kali harus bikin halaman “Tentang Saya” untuk sesuatu yang bukan CV kerja kantoran. Saya buka laptop, kursor kedip-kedip di halaman kosong, dan yang keluar dari kepala saya cuma dua pilihan: nulis riwayat kerja formal kayak lagi apply LinkedIn, atau kosongin aja dulu, nanti dipikirin lagi. Saya pilih yang kedua. Dan halaman itu kosong lebih lama dari yang saya mau akui.

Kalau kamu Daddy yang lagi mulai jualan jasa sampingan, produk digital kecil, atau sekadar mulai personal brand di luar kerjaan kantor, saya yakin banyak dari kamu ngalamin versi yang sama. Bukan karena kamu tidak punya apa-apa untuk diceritakan, tapi karena kamu bingung format yang benar itu kayak apa. Akhirnya dua hal yang sering kejadian, halaman Tentang Saya diisi CV lengkap dari lulus kuliah tahun berapa, kerja di mana saja, sampai sertifikasi yang sebenarnya tidak relevan buat orang yang baru mau kenal kamu. Atau yang lebih sering, halamannya dibiarkan kosong atau cuma satu kalimat generic kayak “Halo, saya suka membantu orang lain berkembang,” yang sebenarnya tidak bilang apa-apa.

Masalahnya, halaman ini sering jadi titik keputusan buat orang yang baru pertama kali nemu kamu. Sebelum mereka klik tombol beli atau kirim pesan tanya harga, mereka mampir dulu ke halaman ini buat mikir, “orang ini beneran ada nggak sih, dan kenapa saya harus percaya sama dia.”

Kenapa Halaman Ini Penting Buat Personal Brand Kecil

Kalau kamu jualan produk digital kecil-kecilan atau nawarin jasa sampingan, kamu nggak punya nama besar yang sudah dikenal orang. Nggak ada logo perusahaan yang bikin orang otomatis percaya. Yang kamu punya cuma satu orang, yaitu kamu sendiri, dan halaman ini adalah tempat orang memutuskan apakah satu orang itu bisa dipercaya atau tidak.

Kesalahan paling umum yang biasa kejadian adalah halaman ini diisi sesuatu yang isinya semua tentang si pemilik brand, bukan tentang orang yang lagi baca. Sejarah panjang, penghargaan yang dipajang, atau malah nol informasi karena bingung mau nulis apa. Padahal yang sebenarnya dicari calon pembeli itu sederhana, mereka mau tahu apa yang kamu lakukan buat mereka, kenapa mereka harus percaya kamu, dan apakah ada orang beneran di balik brand ini atau cuma template kosong.

Halaman Tentang Saya yang cuma bicara soal brand itu sebenarnya kehilangan kesempatan buat connect. Dan buat personal brand kecil, connect itu justru satu-satunya modal yang kamu punya di fase awal, karena kamu belum punya reputasi besar yang bicara sendiri.

Formula 5 Bagian yang Bisa Kamu Pakai Sekarang

Ini bukan formula yang butuh waktu berminggu-minggu buat nulisnya. Yang kamu butuh cuma kejujuran soal apa yang kamu punya sekarang, bukan apa yang kamu harap nanti punya.

1. One Line: Apa yang Kamu Lakukan untuk Mereka

Kalimat pertama harus langsung jawab pertanyaan “kenapa saya harus baca lebih jauh.” Bukan tentang siapa kamu, tapi tentang apa yang kamu bantu selesaikan buat orang yang baca.

Contoh yang salah, “Saya adalah seorang digital marketer dengan pengalaman lebih dari 5 tahun di berbagai industri.” Ini tentang kamu, bukan tentang mereka.

Contoh yang lebih baik, “Saya bantu pemilik toko online kecil bikin caption produk yang bikin orang mau beli, tanpa harus belajar copywriting dari nol.” Kalimat ini langsung ngomong ke orang yang lagi baca, dan mereka tahu persis apakah ini relevan buat mereka atau tidak.

2. Proof: Bukti Konkret yang Kamu Punya Sekarang

Ini bagian yang sering bikin Daddy yang baru mulai jadi ragu, soalnya rasanya belum “cukup besar” buat dipamerkan. Tapi proof itu nggak harus angka yang bikin orang kagum. Proof itu cukup konkret dan jujur.

Kalau kamu baru mulai, proof bisa berupa jumlah project yang sudah kamu selesaikan meski kecil, berapa lama kamu sudah belajar atau praktek di bidang ini, sertifikasi yang relevan meski bukan dari institusi besar, atau bahkan jumlah orang yang sudah kamu bantu secara informal sebelum kamu jadikan bisnis. Dua sampai tiga bukti konkret itu sudah cukup. Nggak perlu maksa nyari angka yang belum kamu punya.

3. Human Element: Ada Orang Beneran di Sini

Ini bagian yang paling gampang dilewatin tapi paling penting buat personal brand kecil, karena ini justru kelebihan kamu dibanding brand besar. Orang mau tahu ada manusia beneran di balik layar, bukan sistem otomatis atau tim anonim.

Foto asli kamu, bukan logo atau ilustrasi generic, ditambah satu kalimat yang nunjukin personality kamu. Bisa soal kenapa kamu mulai kerjain ini, atau hal kecil yang bikin kamu “kamu banget.” Contoh, “Saya kerjain ini sambil momong dua anak, jadi kalau saya balas pesan agak malam, itu karena saya lagi nunggu anak saya tidur dulu.” Kalimat kayak gini justru bikin orang ngerasa lebih dekat, bukan kurang profesional.

4. Values: Satu Nilai yang Kelihatan di Cara Kamu Kerja

Nggak perlu daftar lima nilai perusahaan kayak visi misi korporat. Cukup satu nilai yang beneran kelihatan dalam cara kamu kerja sehari-hari.

Misalnya, kalau kamu selalu jujur soal berapa lama waktu pengerjaan meski itu bikin orang mikir dua kali sebelum order, itu nilai yang bisa kamu sebut. “Saya lebih milih bilang jujur soal waktu pengerjaan daripada janji cepat terus bikin kamu kecewa.” Satu kalimat, tapi itu ngasih tahu orang gimana kamu akan memperlakukan mereka nanti.

5. CTA: Langkah Selanjutnya yang Jelas

Setelah orang baca sampai sini, mereka harus tahu persis apa yang bisa mereka lakukan. Jangan biarkan mereka menutup halaman sambil mikir, “oke terus saya harus ngapain.”

Bisa sesederhana, “Kalau kamu mau lihat contoh kerjaan saya, klik di sini,” atau “Kalau kamu punya pertanyaan, kirim pesan langsung, saya balas sendiri.” Kuncinya, CTA ini harus konkret, bukan cuma “hubungi saya” tanpa arah jelas.

Tabel Perbandingan: Sebelum vs Sesudah Formula

Bagian Versi yang Salah Versi dengan Formula
Pembuka “Saya adalah profesional dengan pengalaman X tahun” “Saya bantu [target orang] menyelesaikan [masalah spesifik]”
Bukti Kosong atau daftar riwayat kerja panjang 2-3 bukti konkret yang relevan sekarang
Elemen manusia Foto formal tanpa konteks, atau tanpa foto sama sekali Foto asli plus satu kalimat personality
Nilai Daftar visi misi generic Satu nilai konkret yang kelihatan dari cara kerja
Penutup Tidak ada arahan jelas Satu langkah konkret yang bisa diambil pembaca

Bagaimana Ini Bekerja di Kehidupan Saya

Saya belum pernah nulis ulang halaman Tentang Saya pakai formula lima bagian ini secara persis, jadi saya nggak mau klaim ini formula ajaib yang sudah saya buktikan sendiri di satu halaman spesifik. Tapi yang pernah saya alami adalah nulis ulang perkenalan diri saya untuk daddy.co.id, dan prosesnya mirip. Awalnya saya juga kepikiran mau nulis soal latar belakang kerja saya di dunia digital marketing, tahun-tahun pengalaman, semacam itu. Tapi begitu saya mikir dari sisi pembaca, yang sebenarnya mereka mau tahu bukan riwayat kerja saya, tapi kenapa saya nulis blog ini dan kenapa mereka harus percaya apa yang saya tulis.

Jadi saya ganti jadi cerita soal saya sebagai Daddy dari dua anak yang kerja maksimal 2-4 jam kerja sehari supaya bisa hadir untuk anak, dan blog ini adalah tempat saya nulis apa yang beneran saya coba di kehidupan sendiri, bukan teori yang saya baca doang. Itu jauh lebih nyambung ke pembaca daripada daftar pengalaman kerja formal.

Siapa yang Akan Dapat Manfaat Paling Besar?

Cocok kalau kamu: baru mulai bangun personal brand kecil atau jualan produk digital atau jasa sampingan, dan halaman Tentang Saya kamu sekarang isinya CV formal, kosong, atau kalimat generic yang nggak bilang apa-apa ke pembaca.

Mungkin belum waktunya kalau: kamu belum ada halaman jualan atau produk sama sekali, jadi belum ada tempat halaman Tentang Saya ini mau dipasang. Selesaikan dulu apa yang mau kamu tawarkan, baru masuk ke bagian ini.

Kalau Kamu Mau Latihan Nulis Bio Tanpa Overthinking

Formula ini kelihatan sederhana di atas kertas, tapi eksekusinya sering bikin orang stuck di kalimat pertama. Kalau kamu mau saya kirim contoh-contoh kalimat lain yang bisa langsung kamu adaptasi, plus cara saya mikirin konten dengan waktu kerja terbatas, saya tulis lebih dalam di newsletter Not A Perfect Daddy. Daftar di daddy.co.id/newsletter.

Gabung Newsletter Not A Perfect Daddy →

Pertanyaan yang Sering Muncul

Gimana kalau saya introvert dan nggak nyaman cerita hal personal?

Kamu nggak perlu cerita seluruh kehidupan pribadi. Human element itu cukup satu kalimat kecil yang jujur, bukan curhat panjang. Bisa sesederhana nyebutin kamu kerja di sela waktu terbatas karena momong anak, itu udah cukup bikin orang ngerasa ada manusia beneran di baliknya.

Apakah saya perlu foto profesional yang difoto studio?

Nggak harus. Foto yang jelas, wajah kelihatan, dan terlihat kamu beneran itu sudah cukup. Yang penting bukan kualitas foto studio, tapi bahwa itu foto asli kamu, bukan avatar atau ilustrasi yang bikin orang nggak yakin ada orang sungguhan di balik brand ini.

Saya baru mulai, apa boleh proof-nya cuma dari pengalaman pribadi tanpa klien?

Boleh. Kalau kamu belum punya klien berbayar, proof bisa dari project yang kamu kerjain buat diri sendiri atau keluarga, lama waktu kamu belajar hal itu, atau hasil yang bisa kamu tunjukkan meski skalanya kecil. Yang penting jujur dan konkret, bukan seberapa besar angkanya.

Apa halaman ini harus dalam bentuk teks saja atau boleh video?

Boleh dua-duanya. Kalau kamu lebih nyaman ngomong daripada nulis, video singkat satu sampai dua menit yang nyampein lima bagian formula ini bisa jadi alternatif. Yang penting substansinya tetap sama, bukan formatnya.

Berapa sering saya harus cek dan revisi halaman ini?

Nggak perlu sering-sering, tapi ada baiknya dicek ulang tiap kali ada perubahan berarti, misalnya dapat testimoni baru, ganti fokus layanan, atau ngerasa kalimat pembuka udah nggak sesuai lagi sama apa yang kamu tawarkan sekarang. Kerja cerdas, bukan kerja keras juga berlaku di sini, jangan buang waktu revisi tiap minggu kalau nggak ada perubahan signifikan.