Saya inget persis malam itu. Anak pertama saya baru tidur jam sembilan malam setelah hampir dua jam rewel, istri juga sudah kelelahan duluan, dan saya duduk di dapur dengan laptop yang masih nyala tapi tidak ada yang saya kerjakan.

Yang ada di kepala saya saat itu cuma satu pikiran: apa yang sudah saya capai hari ini?

Dan jawabannya terasa kosong. Padahal saya tahu saya sudah kerja. Saya sudah hadir. Saya sudah berusaha. Tapi semuanya terasa seperti treadmill, bergerak tapi tidak kemana-mana.

Mungkin kamu pernah di tempat yang sama. Atau sedang di sana sekarang.

Masalahnya Bukan Effort Kamu. Masalahnya adalah Cara Mengukur

Coba pikir sejenak. Di game video, kalau kamu main satu jam dan tidak ada angka experience yang naik, tidak ada item yang kamu dapat, tidak ada map yang ter-unlock, kamu akan berhenti main cukup cepat. Bukan karena malas. Tapi karena tidak ada tanda bahwa kamu maju.

Nah, banyak Daddy yang hidupnya persis seperti itu. Mereka kerja, mereka hadir, tapi sistem pengukuran dalam kepala mereka terlalu sedikit atau terlalu sempit. Ukurannya cuma gaji bulan ini lebih besar atau tidak, jabatan naik atau tidak, rumah sudah lunas atau belum.

Padahal hari-hari kamu dipenuhi oleh hal-hal yang sebenarnya punya nilai, yang tidak diukur oleh sistem itu.

Anak kamu minta kamu bacain buku malam ini dan kamu ada. Itu achievement yang tidak ada badge-nya, tapi nyata. Kamu berhasil tidak marah saat anak tantrum di saat kamu sendiri juga capek. Itu level yang susah dan kamu lewati. Kamu selesaikan satu tugas kerja yang sudah kamu tunda seminggu. Kamu maju satu langkah di area yang kamu inginkan.

Tapi kalau kamu tidak punya sistem untuk melihat ini, semua itu hilang begitu saja. Dan yang tersisa cuma perasaan bahwa hari ini belum cukup.

Life’s a Game: Bukan Klise, tapi Framework Nyata

Ada konsep yang saya temukan dari dunia product design, khususnya gamification, dan konsep ini ternyata lebih relevan untuk kehidupan personal daripada yang saya kira pertama kali.

Intinya sederhana: manusia termotivasi oleh progress yang terlihat. Bukan progress yang besar. Bukan progress yang dramatis. Cukup progress yang bisa dirasakan.

Di game, ini didesain dengan sangat hati-hati. Ada experience points yang naik setiap kamu melakukan sesuatu. Ada achievement kecil yang bisa kamu raih. Ada level yang jelas, dari 1 ke 2 ke 3, dan transisinya terasa. Ada milestone celebration ketika kamu naik level.

Kehidupan nyata tidak menyediakan semua itu secara otomatis. Kamu harus desain sendiri.

Tentukan Level Kamu Sekarang

Ini yang pertama. Bukan soal mana yang lebih baik atau lebih sukses dari orang lain. Ini soal kamu sendiri: kamu ada di fase apa sekarang?

Kalau bicara soal jadi Daddy, levelnya mungkin berbeda-beda untuk setiap orang. Mungkin kamu masih di Level 1, masih adaptasi dengan jadi orang tua, masih belajar cara tetap waras di tengah semua tuntutan. Itu valid. Dan itu adalah fase yang harus dijalani, bukan dilewati dengan paksa.

Mungkin kamu sudah di Level 2, di mana rutinitas sudah mulai terbentuk tapi masih ada banyak hal yang belum stabil, entah itu finansial, waktu, atau kehadiran kamu untuk keluarga.

Tidak ada yang salah dengan ada di Level berapa pun. Yang jadi masalah adalah ketika kamu tidak tahu kamu ada di mana, jadi kamu tidak tahu kemana harus melangkah.

Tentukan Achievement yang Bisa Kamu Raih Minggu Ini

Ini yang paling praktis dan ini yang sering terlewat.

Achievement bukan target tahunan. Achievement adalah hal kecil yang konkret, yang kalau selesai kamu bisa bilang “ini sudah selesai” tanpa perlu menunggu validasi dari siapa-siapa.

Contoh untuk minggu ini:

  • Makan malam bersama keluarga minimal 4 kali tanpa HP di meja.
  • Selesaikan satu modul kecil dari topik yang kamu pelajari.
  • Olahraga minimal 20 menit dua kali dalam seminggu.
  • Tulis satu ide yang sudah lama ada di kepala kamu.

Tidak ada yang wow. Tidak ada yang akan bikin orang terkesan. Tapi setiap achievement yang selesai adalah bukti bahwa kamu bergerak.

Rayakan Meskipun Tidak Ada yang Merayakan

Ini yang paling susah buat Daddy karyawan yang hidupnya isinya tanggung jawab terus.

Di game, ketika kamu naik level, ada animasi, ada suara, ada notifikasi. Di kehidupan nyata tidak ada itu. Tidak ada bos yang bilang “kerja bagus, kamu sudah jadi Daddy yang lebih baik bulan ini.” Tidak ada notif bahwa konsistensi kamu minggu ini sudah tercatat.

Jadi kamu harus jadi system kamu sendiri.

Caranya sederhana: akui ke diri sendiri ketika sesuatu yang penting selesai. Ini tidak harus dipublikasi, tidak harus diceritakan ke siapa-siapa. Tapi sadar bahwa ini achievement, ini sesuatu yang kamu perjuangkan dan kamu dapat, itu sendiri sudah mengubah cara otak kamu memproses perjalanan kamu.

Saya bukan orang yang natural untuk merayakan hal-hal kecil. Latar belakang saya lebih ke “selesai satu, langsung ke berikutnya” tanpa pause. Tapi setelah bertahun-tahun, saya mulai belajar bahwa tanpa acknowledgment ke diri sendiri, semua yang sudah dikerjakan terasa seperti tidak pernah ada. Dan itu yang bikin capek, bukan pekerjaan itu sendiri.

Progress yang Tidak Kelihatan Bukan Berarti Tidak Ada

Ada satu fase dalam banyak game di mana kamu grinding. Kamu terus main, terus mengumpulkan poin, tapi level belum naik juga. Kalau kamu tidak tahu bahwa level berikutnya butuh 10.000 experience points dan kamu baru punya 7.000, kamu akan pikir usaha kamu sia-sia.

Padahal kamu tinggal 3.000 lagi.

Ini yang terjadi untuk banyak Daddy yang merasa stuck. Mereka sebenarnya sedang grinding di fase yang butuh konsistensi lebih lama dari yang mereka kira, tapi karena tidak ada progress bar yang terlihat, mereka pikir tidak ada yang terjadi.

Yang saya sarankan: tentukan satu area yang paling penting untuk kamu sekarang, lalu tentukan apa progress bar-nya. Kalau soal kehadiran untuk anak, mungkin progress bar-nya adalah berapa kali dalam seminggu kamu benar-benar ada, bukan fisik tapi mental, tanpa distraksi. Kalau soal income, mungkin progress bar-nya adalah berapa konten yang kamu buat, berapa orang yang kamu bantu, berapa skill yang kamu tambah bulan ini.

Angka-angka kecil ini adalah experience points yang terus kamu kumpulkan, meskipun tidak terasa.

Bagaimana Ini Bekerja di Kehidupan Saya

Saya bukan tipe yang suka journaling panjang-panjang. Terlalu banyak waktu, dan saya punya batasan jam kerja yang nyata. Tapi satu hal yang saya coba lakukan adalah di akhir hari, saya tanya ke diri sendiri satu pertanyaan: “Hari ini saya maju di mana?”

Bukan “hari ini saya berhasil apa,” karena itu terlalu luas. Tapi “maju di mana,” yang lebih fokus.

Beberapa hari jawabannya adalah saya berhasil tetap sabar saat anak laki-laki saya yang 4 tahun minta sesuatu berulang kali saat saya sedang fokus. Beberapa hari jawabannya adalah saya selesaikan satu hal yang sudah tertunda. Beberapa hari jawabannya kecil, tapi tetap ada jawaban.

Dan itu yang membuat saya tidak merasa hidup ini treadmill. Ada record yang jalan meski tidak selalu dramatis.

Siapa yang Akan Dapat Manfaat Paling Besar?

Cocok kalau kamu: merasa setiap hari berlalu tapi tidak ada yang berubah, atau sering merasakan bahwa usaha kamu tidak sebanding dengan apa yang kamu dapatkan. Framing ini tidak mengubah situasi eksternal kamu, tapi mengubah cara kamu memproses apa yang sudah ada.

Mungkin belum waktunya kalau: kamu sedang dalam fase krisis yang serius, baik finansial, kesehatan, atau hubungan. Ketika kondisi dasar belum stabil, mindset framework belum cukup. Yang dibutuhkan lebih ke solusi praktis dulu, baru kemudian cara pandang.

Kalau Kamu Mau Lebih Dalam dari Ini

Saya tulis lebih banyak tentang cara menjaga kehadiran mental sebagai Daddy, bukan cuma hadir fisik, di newsletter Not A Perfect Daddy. Kalau mau saya kirim langsung ke email kamu, daftar gratis di bawah ini.

Gabung Newsletter Not A Perfect Daddy →

Pertanyaan yang Sering Muncul

Ini terdengar seperti self-help biasa. Apa bedanya dengan motivasi pada umumnya?

Bedanya ada di titik masuk. Motivasi biasanya mendorong kamu dengan energi dari luar: “kamu bisa,” “jangan menyerah,” dan sebagainya. Framing ini tidak mendorong kamu, tapi mengubah cara kamu melihat apa yang sudah ada. Dua hal yang berbeda. Yang satu butuh energi tambahan, yang satu berjalan dengan energi yang sudah ada.

Saya sudah coba banyak framework mindset tapi tidak ada yang bertahan lama. Kenapa ini berbeda?

Kemungkinan besar framework sebelumnya butuh terlalu banyak setup atau terlalu banyak effort untuk dijaga. Yang ini cukup satu pertanyaan di akhir hari. Tidak ada ritual panjang, tidak ada jurnal 20 menit. Kamu bisa mulai dengan se-kecil itu dan lihat apakah ada perbedaan setelah 2-3 minggu sebelum memutuskan apakah ini cocok untuk kamu atau tidak.

Bagaimana cara menentukan “level” saya sekarang tanpa terasa subjektif?

Pilih satu area kehidupan yang paling penting untuk kamu saat ini, misalnya kehadiran sebagai Daddy. Lalu tanyakan: apa yang belum bisa saya lakukan dengan konsisten sekarang di area ini? Jawaban dari pertanyaan itu adalah hint dari level kamu. Level bukan tentang seberapa bagus kamu, tapi seberapa banyak yang masih perlu kamu develop.

Apakah framing ini berlaku juga untuk bagian kehidupan yang menyedihkan atau berat?

Ini pertanyaan yang bagus, dan jawabannya adalah: bisa, tapi dengan hati-hati. Framing “ini level yang susah” bisa membantu kamu tidak collapse saat melewati masa berat. Tapi jangan pakai ini untuk mengecilkan rasa sakit yang nyata. Ada masa di mana yang kamu butuhkan bukan reframing tapi support, entah dari pasangan, teman, atau profesional.

Saya tidak main game sama sekali. Apakah analogi ini masih relevan untuk saya?

Tidak perlu main game untuk pakai prinsip ini. Intinya bukan game-nya, tapi mekanisme psikologis di baliknya: manusia butuh progress yang terlihat untuk tetap termotivasi. Kalau analoginya game tidak cocok untuk kamu, ganti dengan analogi yang lebih personal, misalnya naik level di karir, atau progress latihan olahraga. Prinsipnya sama.