Ada momen yang saya rasa akan dikenali banyak orang yang pernah tergoda untuk mulai bikin kursus atau konten edukatif.
Kamu baca buku soal topik X. Kamu nonton video soal topik X. Kamu riset soal topik X. Dan setelah beberapa minggu, kamu merasa sudah cukup tahu untuk berbagi. Jadi kamu mulai bikin konten, atau bahkan mulai bikin produk untuk dijual, tentang topik X itu.
Ini terasa logis. Tapi ini adalah satu dari beberapa kesalahan yang paling mahal yang bisa kamu buat saat mulai.
Masalah dengan “Belajar dulu, Ajarkan Nanti”
Saya tidak mau menghakimi, karena jujur ya, godaan ini sangat nyata. Apalagi sekarang informasi soal “cara bikin kursus”, “cara monetisasi pengetahuan”, dan seterusnya ada di mana-mana. Kelihatannya mudah.
Tapi ada satu hal yang tidak bisa kamu dapat dari buku atau video orang lain: pengalaman langsung melewati proses itu sendiri.
Dan ini bukan soal ego atau kredensial. Ini soal substansi. Ketika kamu mengajarkan sesuatu yang belum pernah kamu jalani sendiri, ada hal-hal yang tidak bisa kamu sampaikan:
Kamu tidak tahu di mana orang biasanya stuck. Karena kamu sendiri belum pernah stuck di sana.
Kamu tidak tahu bagian mana yang kelihatannya mudah di teori tapi ternyata susah di praktik. Karena kamu belum pernah coba di praktik.
Kamu tidak punya cerita nyata untuk diceritakan. Hanya cerita orang lain yang kamu pinjam.
Dan orang lain bisa merasakannya. Mungkin tidak langsung, tapi lama-lama terasa.
Ada Seorang Perempuan yang Hampir Salah Langkah
Saya pernah dengar cerita tentang seseorang yang punya personal brand cukup besar, dan dia ingin mulai mengajarkan orang lain cara bikin produk digital. Masalahnya, dia sendiri belum pernah bikin produk digital sebelumnya.
Dia paham teorinya. Dia tahu framework-nya. Tapi belum pernah melakukannya.
Yang dia lakukan kemudian adalah mundur selangkah dan bertanya: “Apa yang sebetulnya sudah saya lakukan dan berhasil?”
Jawabannya ada di sana: dia punya pengalaman nyata mengelola konten untuk brand, membangun akun media sosial dari kecil, dan menghasilkan dari pekerjaan itu. Dia punya pengalaman konkret dengan hasil nyata di area itu.
Jadi itulah yang dia jual dulu. Bukan “cara bikin produk digital” tapi “cara tumbuh di media sosial”, yang memang dia tahu karena sudah dia jalani sendiri.
Dan hasilnya jauh lebih mudah karena dia bisa bicara dari pengalaman nyata, bisa jawab pertanyaan yang unexpected karena dia pernah menghadapi situasi itu, dan bisa meyakinkan orang lain karena dia punya hasilnya.
Urutan yang Benar: Lakukan, Dokumentasikan, Ajarkan
Kalau kamu mau mulai membangun sesuatu dari keahlian atau pengetahuan kamu, urutannya penting.
Langkah 1: Lakukan
Kerjakan sesuatu yang hasilnya bisa kamu ukur. Bukan hanya “saya sudah coba” tapi ada angkanya, ada hasilnya, ada timeline yang jelas. Berapa lama kamu kerjakan, apa yang kamu hasilkan, apa yang tidak berhasil.
Ini tidak harus sempurna atau sukses besar. Tapi harus nyata.
Langkah 2: Dokumentasikan selama proses
Ini yang sering dilewati orang. Mereka lakukan sesuatu, berhasil, tapi waktu mau mengajarkan, banyak detailnya sudah lupa atau tidak bisa diingat dengan jelas.
Catat selama prosesnya. Apa yang kamu coba. Apa yang berhasil. Apa yang tidak. Apa yang mengejutkan kamu. Di mana kamu stuck dan bagaimana kamu keluar dari sana.
Catatan itu yang nantinya jadi bahan paling berharga ketika kamu mengajar, karena di sana ada insight yang tidak akan kamu dapat dari buku manapun.
Langkah 3: Ajarkan dari pengalaman, bukan dari teori
Ketika kamu akhirnya mengajarkan, basis materinya adalah catatan pengalaman kamu sendiri. Bukan framework dari buku. Bukan cerita orang lain. Pengalaman kamu sendiri, lengkap dengan bagian-bagian yang tidak berjalan mulus.
Justru bagian yang tidak mulus itu yang paling valuable. Karena orang yang belajar dari kamu akan menghadapi hal yang sama, dan mereka butuh tahu bagaimana menghadapinya.
Bagaimana Ini Relevan untuk Daddy yang Kerja Full-Time
Ini bukan hanya berlaku untuk yang mau bikin kursus. Ini berlaku untuk siapa saja yang mau share sesuatu dan membangun kredibilitas di topik tertentu.
Kalau kamu mau mulai bikin konten soal manajemen keuangan keluarga, pastikan kamu sudah punya sistem keuangan yang jalan di rumahmu sendiri dulu. Kalau mau konten soal produktivitas, pastikan kamu sudah punya sistem yang benar-benar kamu jalani, bukan yang kamu baca teorinya saja.
Saya sendiri mencoba menerapkan ini. Saya tidak akan nulis soal hal-hal yang belum saya jalani, atau kalau saya nulis, saya jujur bahwa ini masih dalam proses. Bukan karena takut dikritik, tapi karena itu fair untuk orang yang meluangkan waktu membaca.
Dan jujur, ini salah satu hal yang saya percaya dari prinsip sederhana: kamu tidak bisa membantu orang di tempat yang belum pernah kamu datangi sendiri.
Pengecualian: Sharing sebagai Sesama Pelajar
Ada satu situasi di mana kamu bisa berbagi meski belum punya hasil akhir: ketika kamu jujur bahwa kamu sedang dalam perjalanan.
“Saya baru mulai belajar ini, dan ini yang saya temukan di minggu pertama” itu valid. Bahkan bisa sangat resonan untuk orang yang posisinya sama dengan kamu.
Yang tidak valid adalah berpura-pura sudah sampai ketika kamu baru mulai. Atau mengajarkan seolah-olah kamu tahu jalan keluarnya ketika kamu belum pernah menemukan jalan keluarnya sendiri.
Bagaimana Ini Bekerja di Kehidupan Saya
Saya pernah tergoda juga. Ada topik yang saya pikir saya cukup paham dari membaca dan mengamati, dan saya hampir mulai bikin konten soal itu sebelum saya benar-benar pernah mencobanya.
Yang menghentikan saya adalah pertanyaan sederhana: kalau ada yang tanya pertanyaan yang di luar yang saya pelajari dari buku, apa yang akan saya jawab?
Saya tidak tahu jawabannya. Dan itu cukup untuk saya tunda.
Sekarang saya lebih sering pilih topik yang lebih sempit tapi dari pengalaman nyata, daripada topik yang lebih luas tapi dari teori. Hasilnya mungkin tidak se-viral yang bisa saya bayangkan, tapi saya bisa ngomong dengan lebih yakin karena saya tahu apa yang saya omongkan.
Siapa yang Akan Dapat Manfaat Paling Besar?
Cocok kalau kamu: sedang berpikir untuk mulai berbagi pengetahuan secara online, baik lewat konten gratis maupun produk berbayar, dan ingin tahu dari mana seharusnya memulai.
Mungkin belum waktunya kalau: kamu belum ada bayangan sama sekali topik apa yang mau disampaikan. Dalam situasi itu, langkah sebelumnya adalah mengidentifikasi dulu pengalaman apa yang sudah kamu punya yang mungkin berguna untuk orang lain.
Kalau Kamu Mau Tahu Lebih Lanjut Soal Ini
Topik ini sering saya bahas dari sudut pandang ayah yang mencoba membangun sesuatu sambil tetap hadir untuk anak. Prinsip-prinsip yang sederhana tapi tidak selalu terlihat. Kalau mau dapat pembahasan seperti ini rutin, kamu bisa masuk ke newsletter Not A Perfect Daddy.
Kalau mau saya kirimkan hal seperti ini langsung ke email kamu, masuk ke newsletter Not A Perfect Daddy di sini, gratis dan saya kirim tiap minggu.
Gabung Newsletter Not A Perfect Daddy →
Pertanyaan yang Sering Muncul
Kalau pengalaman saya masih sedikit, apakah yang saya share itu valuable?
Iya, sangat bisa. Justru ada advantage unik ketika kamu baru belajar sesuatu: kamu masih ingat dengan jelas bagian mana yang membingungkan, bagian mana yang tidak jelas dari sumber-sumber yang ada, dan pertanyaan apa yang tidak ada jawabannya di tempat lain. Itu insight yang seorang ahli yang sudah bertahun-tahun di bidangnya sering tidak bisa berikan, karena mereka sudah lupa rasanya tidak tahu.
Bagaimana cara mulai mendokumentasikan proses ketika saya sedang menjalaninya?
Simpel: tulis jurnal singkat, bahkan 5 menit sehari cukup. Apa yang kamu coba hari ini, apa hasilnya, apa yang mengejutkan kamu. Tidak perlu format rapi. Dari jurnal itu kamu bisa menarik insight ketika waktunya mulai berbagi. Voice memo juga bisa kalau kamu lebih suka bicara daripada nulis.
Apakah ini berarti saya harus sukses besar dulu sebelum bisa mengajarkan?
Tidak. Sukses besar bukan syaratnya. Yang jadi syarat adalah pengalaman langsung dengan hasil yang bisa kamu ukur, sekecil apapun. Kalau kamu berhasil menabung Rp 500.000 per bulan konsisten selama 6 bulan dengan metode tertentu, itu sudah cukup untuk kamu ajarkan metode itu ke orang yang belum bisa menabung sama sekali. Proporsikan scope pengajaran kamu dengan scope pengalaman kamu.
Saya kerja penuh waktu dan punya anak kecil. Kapan saya bisa punya pengalaman yang cukup untuk diajarkan?
Kamu mungkin sudah punya lebih dari yang kamu sadari. Pengalaman mengelola waktu dengan anak, pengalaman dengan tool atau sistem tertentu di pekerjaan kamu, pengalaman dengan hal-hal kecil di kehidupan sehari-hari yang bisa direplikasi orang lain. Mulai dari yang paling dekat dengan kehidupan kamu sendiri, bukan dari topik yang kamu pikir paling marketable.
Apakah saya perlu sertifikasi atau gelar untuk bisa mengajarkan sesuatu?
Untuk sebagian besar hal yang relevan di kehidupan nyata orang biasa, tidak. Yang lebih penting dari sertifikasi adalah bisa menjawab pertanyaan dari pengalaman nyata, punya hasil yang bisa ditunjukkan, dan jujur tentang batas dari apa yang kamu tahu. Sertifikasi berguna untuk konteks tertentu seperti bidang medis atau hukum, tapi untuk skill kehidupan sehari-hari, pengalaman nyata yang terdokumentasi jauh lebih meyakinkan.

