Saya masih ingat sore itu. Anak laki-laki saya, waktu itu masih 3 tahun, jatuh dari sepeda roda tiga di halaman. Saya lagi berdiri paling dekat, mungkin dua meter dari dia. Istri saya ada di dalam rumah, di dapur, gak lihat kejadiannya sama sekali. Tapi begitu dia nangis, dia langsung lari melewati saya, ke arah pintu, teriak “Mama.”
Saya berdiri di situ agak kaget. Bukan marah, lebih ke… aneh aja rasanya. Saya yang paling dekat, saya yang paling cepat bisa gerak, tapi refleks pertamanya bukan ke saya. Dan jujur, itu bikin saya kepikiran cukup lama. Bukan cuma soal sore itu, tapi soal pola yang sepertinya udah lama terjadi dan saya baru sadar.
Ini artikel bukan soal siapa yang lebih hebat jadi orang tua. Ini soal satu hal yang saya pelajari dari tempat yang gak terduga, ilmu marketing, yang ternyata kalau dipikir-pikir lagi, cocok banget buat jelasin kenapa pola kedekatan anak-orang tua kebentuk seperti itu. Dan begitu saya paham, saya jadi tahu apa yang bisa saya ubah, tanpa harus nyalahin diri sendiri dulu.
Ada Konsep yang Namanya “Siapa yang Muncul Duluan di Kepala”
Di dunia marketing, ada dua hal yang bikin sebuah brand tumbuh. Yang pertama namanya mental availability, gampangnya: seberapa besar kemungkinan kamu kepikiran sama brand itu pas kamu lagi butuh sesuatu. Contoh gampang, pas kamu laper dan pengen kopi, siapa yang pertama muncul di kepala kamu? Belum soal kamu beli atau enggak, tapi soal siapa yang pertama “nongol” duluan.
Yang kedua namanya physical availability, seberapa gampang brand itu ditemukan dan dijangkau pas kamu udah kepikiran mau beli. Kalau brand kopi itu cuma buka satu cabang di ujung kota, ya walaupun dia yang pertama muncul di kepala kamu, kamu tetap gak akan beli, karena terlalu jauh untuk dijangkau saat itu.
Nah, saya baca ini dari salah satu bacaan marketing yang saya pelajari buat kerjaan, dan pas lagi baca, saya kepikiran sore itu. Anak saya, tanpa dia sadar, juga punya semacam “peringkat” siapa yang duluan muncul di kepalanya pas ada masalah. Dan ternyata, peringkat itu gak dibentuk dari siapa yang paling sayang. Dibentuk dari pola kecil yang diulang-ulang.
Kenapa Anak Punya “Peringkat” Kayak Gitu
Mental Availability: Siapa yang Kepikiran Duluan
Anak kecil belum bisa mikir panjang soal “siapa yang lebih sayang sama saya”. Yang mereka punya cuma memori tentang, “kalau saya nangis, biasanya siapa yang datang.” Kalau selama ini yang paling sering menangani momen jatuh, sakit perut, atau bangun tengah malam karena mimpi buruk itu ibunya, ya otomatis ibunya yang jadi jawaban pertama di kepala mereka. Bukan karena mereka gak sayang ke ayahnya, tapi karena pola itu yang paling sering diulang dan paling gampang diingat.
Saya cek ke diri sendiri, dan jujur, saya sadar. Selama beberapa tahun awal jadi ayah, saya kerja dengan jam yang gak menentu, sering pulang pas anak-anak udah tidur, dan urusan “darurat kecil” hampir selalu ditangani istri saya. Bukan karena saya gak mau, tapi karena struktur waktu saya waktu itu memang belum memungkinkan. Dan anak, tanpa sengaja, ngerekam itu semua sebagai pola.
Physical Availability: Kepikiran Doang Gak Cukup
Ini bagian yang menurut saya lebih halus. Kadang saya ada di rumah, tapi lagi pegang laptop, atau lagi telepon kerjaan, atau capek habis meeting dan cuma pengen duduk diam. Secara fisik saya ada, tapi secara “bisa dijangkau” enggak. Dan anak, sama seperti orang dewasa cari kopi tadi, kalau ngerasa susah dijangkau, ya dia bakal pilih yang paling mudah dijangkau saat itu.
Jadi dua hal ini jalan bareng. Kamu bisa aja jadi orang yang paling sayang, tapi kalau gak sering hadir di momen kecil yang berulang (mental availability rendah) dan susah dijangkau pas dibutuhkan (physical availability rendah), ya otomatis bukan kamu yang jadi pilihan pertama. Ini bukan soal siapa menang siapa kalah, ini cuma cara kerja otak anak dalam merekam pola.
Bagaimana Ini Bekerja di Kehidupan Saya
Setelah sore itu, saya coba ubah satu hal aja dulu, gak langsung semua. Saya pilih satu ritual yang saya pegang sendiri tiap hari, yaitu antar tidur. Jam 8 malam, saya yang baca buku atau nemenin ngobrol sebelum anak laki-laki saya tidur, konsisten, hampir tiap hari, kecuali memang saya lagi di luar kota.
Butuh sekitar dua bulan sampai saya notice perubahan kecil. Suatu malam dia lagi rewel karena giginya sakit, dan dia manggil saya duluan, bukan mamanya. Saya gak bilang ini “berhasil total”, karena sampai sekarang pun kalau soal makan atau mandi, dia masih lebih nyaman sama ibunya. Tapi untuk urusan tidur dan cerita sebelum tidur, sekarang dia udah nge-rekam saya sebagai jawaban pertama. Itu satu langkah lebih jauh dari posisi saya sebelumnya, dan buat saya itu udah cukup jadi bukti bahwa pola ini memang bisa diubah, asal konsisten di satu titik dulu.
Anak perempuan saya yang sekarang 8 tahun, ceritanya beda lagi. Karena dia lahir duluan, saat itu saya belum terlalu paham soal ini, dan butuh waktu lebih lama buat dia ngerasa saya “gampang dijangkau”. Tapi itu juga mengajarkan saya, gak pernah terlambat buat mulai ngubah pola, cuma butuh lebih sabar aja kalau mulainya lebih belakangan.
Kenapa Kedekatan Itu Harus Terus Disegarkan, Gak Cukup Sekali Bangun
Ada satu bagian dari ilmu marketing yang sama yang menurut saya penting juga buat dipahami di sini. Brand yang berhenti muncul, berhenti beriklan, lama-lama dilupakan orang, walaupun dulu pernah sangat dikenal. Alasannya sederhana, memori manusia itu memudar kalau gak diperkuat lagi secara berkala. Bukan karena orangnya jadi gak peduli, tapi karena otak memang kerja seperti itu.
Saya sempat kena efek ini juga. Setelah ritual antar tidur itu jalan beberapa bulan dan kelihatan hasilnya, saya jadi agak lengah, mikir “ah udah aman, gak perlu terlalu dijaga lagi.” Saya beberapa kali skip karena capek atau ada kerjaan mendadak. Dan bener aja, dalam sekitar dua minggu, saya notice anak saya balik lagi lebih sering minta ditemenin mamanya buat urusan tidur. Bukan drastis, tapi kelihatan jelas polanya balik geser.
Ini yang bikin saya sadar, membangun mental availability itu bukan proyek sekali jadi terus selesai. Lebih mirip kayak nyiram tanaman, kamu gak bisa nyiram sekali banyak lalu berhenti berbulan-bulan dan berharap tanamannya tetap segar. Harus ada pengulangan yang terus dijaga, walaupun porsinya kecil, supaya “posisi” kamu di kepala anak gak pelan-pelan tergeser lagi.
Ini juga yang menurut saya penting buat ayah yang kerjanya padat, karena kamu gak perlu ngerasa harus terus-terusan bikin momen besar buat “menjaga posisi”. Justru yang perlu dijaga adalah ritual kecil yang udah terbentuk itu, dibuat sesulit mungkin untuk kamu skip, bukan dibuat makin besar dan makin berat sampai akhirnya kamu capek sendiri dan berhenti total.
Siapa yang Akan Dapat Manfaat Paling Besar?
Cocok kalau kamu: ngerasa anak lebih deket ke pasangan padahal kamu sama-sama ada di rumah, dan kamu udah coba “lebih perhatian” tapi ngerasa gak ada perubahan berarti. Cocok juga kalau kamu baru mulai punya waktu lebih fleksibel (misalnya baru pindah kerja atau baru atur ulang jam kerja) dan mau mulai bangun kedekatan yang selama ini kurang.
Mungkin belum waktunya kalau: anak kamu masih bayi di bawah setahun, karena di fase itu kedekatan ke ibu memang secara biologis lebih dominan (menyusui, dan lain-lain), dan itu bukan sesuatu yang perlu kamu “perbaiki”. Fokus dulu ke hadir untuk anak dengan cara yang memang bisa kamu lakukan di fase itu, urusan peringkat kedekatan bisa dipikirkan belakangan.
Kalau Kamu Mau Bangun Ritual Kecil yang Konsisten
Ritual antar tidur yang saya cerita di atas itu cuma satu contoh. Saya kumpulin beberapa pola lain yang lebih cocok untuk berbagai umur anak, dan saya bahas lebih dalam di newsletter saya.
Kalau kamu mau saya kirim langsung ke email kamu, masuk ke newsletter Not A Perfect Daddy di sini, gratis, dan saya kirim tiap minggu.
Gabung Newsletter Not A Perfect Daddy →
Pertanyaan yang Sering Muncul
Apakah normal kalau saya ngerasa “kalah” dibanding pasangan soal kedekatan sama anak?
Wajar banget ngerasa gitu, saya juga sempat begitu. Tapi coba dilihat lagi, ini bukan soal kalah menang, ini soal pola yang emang bisa diubah kalau kamu tahu bagian mana yang perlu dipegang konsisten. Perasaan “kalah” itu biasanya karena kita bandingin diri dengan hasil akhir, padahal yang perlu dilihat itu proses kecil yang berulang.
Berapa jam per hari yang perlu saya alokasikan supaya lebih dekat dengan anak?
Gak harus banyak. Ritual saya cuma 15-20 menit tiap malam, tapi konsisten. Yang penting bukan berapa jam totalnya, tapi seberapa bisa diprediksi kehadiran kamu di momen itu. Anak lebih gampang “merekam” satu momen kecil yang pasti terjadi tiap hari, dibanding satu hari penuh yang cuma terjadi sesekali di akhir pekan.
Kalau saya kerja kantoran dengan jam yang gak fleksibel, apakah masih bisa membangun mental availability ini?
Bisa, tapi kamu perlu cari satu titik waktu yang memang bisa kamu pegang, walau kecil. Bisa telepon video pas jam makan siang, bisa jadi orang yang selalu antar sekolah pagi, atau selalu yang mandiin waktu weekend. Yang penting satu titik itu benar-benar konsisten, bukan tergantung mood atau kesibukan hari itu.
Apakah kalau anak lebih dekat ke ibu berarti saya gagal jadi ayah?
Enggak. Ini murni soal pola waktu dan keterjangkauan, bukan ukuran kegagalan. Banyak ayah yang justru sangat hadir tapi belum ketemu pola yang pas buat anaknya. Yang penting kamu sadar dan mau coba, bukan langsung nyalahin diri sendiri di titik ini.
Apakah pola ini bisa berubah lagi kalau nanti saya kembali sibuk?
Bisa, karena memang dibangun dari pengulangan. Kalau ritualnya berhenti lama, mental availability itu bisa memudar lagi, sama seperti brand yang berhenti beriklan lama-lama dilupakan orang. Makanya bukan soal sekali usaha besar, tapi soal menjaga satu pola kecil tetap berjalan, walau kamu lagi di fase sibuk sekalipun.

