Jumat sore itu saya duduk di lantai sama anak perempuan saya main ular tangga. Dia curang, pura-pura nggak lihat dadunya jatuh di angka kecil, saya pura-pura nggak sadar dia curang, dan kami ketawa berdua sampai lupa waktu. Saya beneran ada di situ, nggak mikirin kerjaan sama sekali.

Selasa malam, minggu yang sama, anak yang sama, minta hal yang sama, main sama-sama. Saya jawab singkat, “bentar ya,” sambil masih mikirin satu chat kerjaan yang belum kebalas. Lima menit jadi dua puluh menit, dan waktu saya akhirnya nyampe ke lantai, energinya udah beda, saya ikut main tapi kepala saya masih di tempat lain.

Anaknya sama. Permintaannya sama. Yang beda cuma saya, dan saya-nya beda bukan karena saya pilih. Beda karena hari itu, versi saya yang nongol udah ditentuin dari jauh sebelum dia minta main.

Kenapa Ini Bukan Soal Sayang atau Nggak Sayang

Ini yang bikin saya lama nggak sadar. Saya nggak lebih sayang anak saya di hari Jumat dibanding Selasa. Rasa sayangnya sama persis. Yang beda adalah kondisi saya waktu rasa sayang itu harus keluar jadi tindakan.

Waktu energi saya penuh, versi Daddy yang sabar dan hadir itu gampang keluar, hampir otomatis. Waktu energi saya udah kepakai buat rapat kantor yang berat atau chat kerjaan yang nggak kelar-kelar, versi yang keluar itu versi yang seadanya, bukan versi yang saya mau.

Dan yang paling bikin saya kepikiran, anak saya nggak punya cara buat tahu bedanya. Dia nggak bisa mikir “oh ini Daddy lagi capek doang, aslinya nggak gini.” Dia cuma ngalamin Daddy yang ada di depannya saat itu. Kalau minggu ini lebih sering ketemu versi yang seadanya dibanding versi yang hadir, itu yang jadi pengalamannya soal siapa Daddy-nya.

Konsep yang Bikin Saya Mikir Ulang: Versi 10.0 Diri Sendiri

Saya nemu satu konsep dari kerangka 5 Daily Non-Negotiables yang sama yang udah saya bahas beberapa kali di blog ini, tapi bagian ini belum pernah saya angkat sendiri. Namanya versi 10.0 dari diri sendiri.

Idenya gini. Coba inget-inget momen-momen di hidup kamu waktu kamu ngerasa paling tenang, paling percaya diri, paling jernih menghadapi apapun. Bukan cuma satu momen. Biasanya ada beberapa, tersebar di waktu yang beda, situasi yang beda. Ada momen kamu jelas banget mikirnya waktu masalah kerja lagi berat. Ada momen kamu sabar banget waktu anak rewel parah. Ada momen kamu tenang banget waktu semua orang di sekitar kamu panik.

Kalau kamu bisa nyambungin semua momen itu jadi satu orang yang beroperasi sepanjang hari, bukan cuma nongol sesekali kalau kebetulan lagi enak, itu yang disebut versi 10.0. Bedanya bukan kamu jadi orang lain. Kamu tetap kamu, dengan semua kekurangan yang sama. Bedanya di frekuensi. Seberapa sering versi terbaik itu yang keluar, dibanding versi reaktif yang biasanya muncul waktu capek, kesel, atau energi udah di titik bawah.

Tanpa sistem apapun, kerangka ini bilang versi reaktif itu yang lebih sering menang, sekitar delapan dari sepuluh kali. Bukan karena kamu orangnya jelek. Karena versi terbaik kamu butuh kondisi tertentu buat muncul, dan kalau kondisinya nggak dijaga, ya dia jarang keluar sendiri.

Kenapa Ini Lebih Berat Konsekuensinya Buat Daddy Dibanding Buat Kerjaan

Kerangka aslinya ditulis buat orang yang mau bangun bisnis, biar tampil stabil di depan tim. Kalau bosnya kadang keren kadang galak nggak jelas, tim jadi nggak percaya, tapi paling buruk mereka resign, cari kerjaan lain.

Anak nggak bisa resign dari Daddy-nya.

Dia nggak punya opsi cari Daddy lain kalau versi yang dia dapat kebanyakan versi yang seadanya. Dia cuma nyimpen pengalaman itu, dan pengalaman itu yang lama-lama jadi keyakinan dia soal gimana rasanya deket sama orang yang katanya sayang dia. Ini bukan buat nakut-nakutin. Ini yang bikin saya ngerasa konsep ini jauh lebih penting buat konteks Daddy dibanding konteks bisnis aslinya.

Lima Kebiasaan Kecil Sebagai Pemicu, Bukan Checklist

Saya udah beberapa kali bahas lima kebiasaan dari kerangka ini di artikel lain, review tujuan, gerak badan, baca, dan lainnya. Tapi ada satu cara liat yang belum saya angkat, yaitu lima kebiasaan itu bukan tujuannya sendiri. Mereka pemicu buat manggil versi 10.0 lebih sering.

Review tujuan pagi manggil momen kejernihan, ngingetin kenapa saya kerja maksimal 2-4 jam terus pulang, bukan kerja sampai malam. Gerak badan manggil momen energi dan ketenangan, badan yang keluar keringat biasanya lebih gampang sabar dibanding badan yang tegang diam. Baca sepuluh halaman manggil momen mikir jernih, bukan mikir sempit gara-gara kepala penuh notifikasi.

Waktu leisure yang terjadwal, yang jujur paling sering saya lewatkan, itu juga pemicu, biar energi yang keluar buat anak nanti sore nggak kosong dari awal. Nggak perlu semua kelima ini kelar sempurna tiap hari. Yang penting arahnya, tiap kebiasaan itu naikin kemungkinan versi terbaik kamu yang nongol, bukan versi yang capek dan reaktif.

Bagaimana Ini Bekerja di Kehidupan Saya

Saya coba perhatiin sendiri selama beberapa minggu, hari mana versi saya yang “keluar” itu paling sering versi yang saya mau, dan hari mana yang paling sering versi seadanya. Ternyata polanya jelas. Senin dan Selasa malam paling rawan, karena energi kerja kantor lagi penuh dan saya belum sempet reset apa-apa dari pagi. Sabtu pagi hampir selalu versi yang saya mau, karena nggak ada tekanan waktu.

Saya nggak berhasil ngubah semua hari jadi kayak Sabtu. Itu nggak realistis. Tapi saya coba satu hal kecil, geser jam gerak badan saya jadi lebih pagi, sebelum kerjaan kantor mulai, bukan nunggu sore setelah semuanya numpuk. Efeknya nggak bikin Selasa malam jadi kayak Sabtu, tapi jaraknya jadi lebih pendek. Saya masih capek, tapi versi yang keluar pas anak minta main nggak sejauh seadanya kayak sebelumnya.

Saya juga percaya konsistensi kayak ini nggak cuma soal disiplin saya sendiri. Ada hari-hari saya minta tolong lewat doa singkat sebelum masuk rumah, bukan buat jadi sempurna, tapi buat inget siapa yang lagi nunggu di dalam.

Siapa yang Akan Dapat Manfaat Paling Besar?

Cocok kalau kamu: ngerasa anak-anak kamu dapat Daddy yang untung-untungan, kadang hadir penuh kadang seadanya, dan kamu sendiri sadar bedanya bukan karena sayangnya beda, tapi karena kondisi kamu yang beda.

Mungkin belum waktunya kalau: kamu sedang di fase burnout berat atau ada tanda-tanda depresi yang butuh bantuan profesional. Framework disiplin harian bukan pengganti bantuan medis atau konseling kalau memang itu yang kamu butuh sekarang. Beresin itu dulu.

Kalau Kamu Mau Bahas Ini Lebih Dalam

Saya sering tulis soal cara jaga versi diri yang konsisten ini di tengah jam kerja yang cuma 2-4 jam, di newsletter Not A Perfect Daddy. Kalau kamu mau saya kirim langsung ke email kamu tiap minggu, ini satu langkah lebih jauh yang bisa kamu ambil sekarang. Daftar di daddy.co.id/newsletter.

Gabung Newsletter Not A Perfect Daddy →

Pertanyaan yang Sering Muncul

Apa bedanya versi 10.0 ini sama sekadar “usaha jadi Daddy yang lebih baik”?

Bedanya di kekonkretannya. “Usaha jadi lebih baik” itu niat umum yang gampang menguap. Versi 10.0 lebih spesifik, kamu benar-benar inget momen nyata kamu pernah jadi versi terbaik itu, dan tugasnya bukan jadi orang baru, cuma manggil versi yang udah pernah ada itu lebih sering.

Saya udah coba lebih sadar diri tapi tetap sering reaktif ke anak, apa saya gagal?

Nggak gagal, cuma belum konsisten di pemicunya. Kesadaran doang tanpa kebiasaan yang manggil versi terbaik itu biasanya nggak cukup, karena waktu energi kamu udah di titik bawah, kesadaran itu kalah sama refleks capek. Yang lebih ngebantu itu benerin kondisi dari pagi, bukan cuma niat pas udah di depan anak.

Apakah ini berarti saya harus selalu jadi Daddy yang sabar, nggak boleh marah sama sekali?

Nggak. Marah yang wajar dan proporsional itu manusiawi, anak juga perlu tahu Daddy-nya manusia, bukan robot yang selalu tenang. Bedanya bukan soal nol marah, tapi soal marahnya jadi kejadian sesekali yang masuk akal, bukan default harian gara-gara kamu udah kehabisan cadangan dari pagi.

Bagaimana kalau pasangan saya nggak ngerti kenapa saya jadi lebih perhatiin rutinitas pagi saya sendiri?

Ajak ngobrol jujur soal alasannya, bukan cuma bilang “saya lagi coba sistem baru.” Jelasin kamu lagi coba biar versi Daddy yang sampai ke anak lebih konsisten, bukan buat kabur dari tanggung jawab rumah. Kebanyakan pasangan lebih paham begitu tahu tujuannya soal hadir untuk anak, bukan soal kamu butuh waktu sendiri doang.

Kenapa harus lewat kebiasaan kecil, kenapa nggak langsung niat aja tiap pagi?

Karena niat doang gampang kalah begitu hari mulai berat. Kebiasaan kecil kayak review tujuan atau gerak badan itu semacam jangkar yang nggak butuh niat baru tiap hari, dia jalan karena udah jadi rutinitas, bukan karena kamu harus semangat dulu buat mulai.