Saya inget banget waktu itu lagi bantu susun skema harga buat satu penawaran jasa sampingan punya orang yang saya kenal. Bukan buat saya sendiri, tapi dia baru mulai jualan skill-nya dan bingung soal harga. Dia mau kasih diskon gede biar orang mau ambil paket panjang, tapi entah kenapa feeling-nya diskon itu kok kayak nggak nendang. Orang tetep aja pilih yang bulanan, coba-coba dulu, terus kabur bulan depan.
Saya bilang, coba dibalik logikanya. Jangan kasih diskon di depan. Kasih fee kecil di opsi bulanan, lalu hapus fee itu buat yang mau komit. Konsep ini namanya waived fee, biaya yang dihapuskan sebagai insentif komitmen, dan begitu saya pelajari lebih dalam, ternyata ini salah satu cara paling murah buat bikin calon klien berhenti ragu-ragu.
Kalau kamu Daddy yang lagi coba nambah income sampingan, entah jual jasa, bikin kelas kecil, atau nawarin skill kamu ke orang, kamu pasti pernah kena masalah ini. Orang tertarik, nanya-nanya, tapi pas ditawarin paket panjang mereka mundur. Kamu kasih diskon 20 persen, masih aja ragu. Akhirnya margin kamu tipis dan yang komit cuma segelintir. Ini bukan soal harga kamu kemahalan. Ini soal cara kamu framing keputusannya.
Apa Itu Waived Fee dan Kenapa Beda dari Diskon
Waived fee itu sederhana. Kamu pasang biaya kecil, biasanya biaya admin, biaya onboarding, atau biaya setup, untuk orang yang mau pakai jasa kamu bulan per bulan tanpa komitmen. Tapi kalau mereka mau komit 3, 6, atau 12 bulan, biaya itu kamu hapus sama sekali.
Bedanya sama diskon kelihatan sepele tapi efeknya beda jauh. Diskon itu kamu ngasih sesuatu yang belum mereka punya. Waived fee itu kamu ngambil sesuatu yang tadinya akan mereka bayar. Secara matematika hasilnya bisa sama persis, tapi otak orang memproses dua hal ini dengan cara yang beda banget.
Ada satu hal lagi yang saya suka dari konsep ini, ini juga jadi cara natural buat memisahkan orang yang serius sama orang yang cuma coba-coba. Yang serius biasanya nggak keberatan komit lebih lama karena mereka memang butuh hasil jangka panjang. Yang masih ragu, ya biar aja ambil opsi bulanan dulu, toh fee yang mereka bayar juga nutup sebagian biaya kamu buat onboarding mereka.
Kenapa Otak Kita Lebih Ngeri Rugi Daripada Seneng Untung
Ini bagian yang menurut saya paling penting dipahami, karena ini alasan kenapa waived fee bekerja lebih kuat dari diskon. Namanya loss aversion. Manusia itu secara natural lebih termotivasi menghindari kerugian dibanding mengejar keuntungan, walaupun nilainya sama persis.
Coba bayangin dua kalimat ini. “Hemat Rp150.000 kalau kamu komit 6 bulan.” Sama, “Hindari biaya Rp150.000 kalau kamu komit 6 bulan.” Rupiahnya sama. Tapi kalimat kedua itu kerasa lebih mendesak, karena otak kita membaca ini sebagai ancaman kehilangan uang, bukan cuma peluang yang lewat.
Ini juga alasan kenapa waived fee sekaligus bikin harga kamu kelihatan lebih jelas. Orang jadi ngerti, “oh, biaya bulanan saya murni buat layanan, biaya admin itu cuma buat yang belum komit.” Ini beda sama kasih diskon di harga bulanan, yang kadang malah bikin orang mikir, “kalau bisa didiskon segini, berarti harga aslinya emang di-mark up.”
Cara Terapkan ke Jasa atau Skill Sampingan Kamu
Kalau kamu mau coba, ini langkah yang saya pakai waktu bantu orang lain susun skema harganya.
Langkah 1: Tentuin Fee dan Besarannya
Fee ini bisa kamu sebut biaya admin, biaya onboarding, atau biaya setup, tergantung jasa kamu apa. Kalau kamu jual jasa konsultasi, ini bisa jadi biaya sesi assessment awal. Kalau kamu jualan kelas atau membership, ini bisa jadi biaya pendaftaran.
Soal besarannya, patokan kasar 0,5 sampai 1 kali harga bulanan kamu. Kalau harga jasa kamu Rp300.000 per bulan, fee-nya sekitar Rp150.000 sampai Rp300.000. Kalau fee-nya cuma Rp20.000, orang nggak bakal peduli mau dihapus atau nggak, jadi nggak ngefek sebagai insentif.
Langkah 2: Desain Dua Opsi yang Jelas
Ini bagian yang paling gampang salah. Banyak orang cuma nyebutin fee-nya di kontrak atau chat WhatsApp aja, nggak ditawarin secara eksplisit sebagai dua pilihan. Padahal orang harus lihat perbandingannya langsung biar keputusannya kerasa jelas.
| Opsi | Biaya Admin | Komitmen | Cocok Untuk |
|---|---|---|---|
| Bulanan | Kena, sekali di awal | Bisa berhenti kapan saja | Yang masih coba-coba, belum yakin |
| Komit 3-6 bulan | Dihapus | Minimal 3-6 bulan | Yang sudah yakin butuh hasil jangka panjang |
| Komit 12 bulan | Dihapus + sedikit potongan bulanan | Minimal 12 bulan | Yang mau harga paling stabil dan hasil maksimal |
Waktu kamu presentasiin ke calon klien, jangan cuma bilang “ada dua paket”. Bilang eksplisit, “kalau ambil bulanan, ada biaya admin Rp200.000 di awal. Tapi kalau kamu komit 3 bulan, biaya itu saya hapus.” Kalimat itu yang bikin keputusan kerasa konkret.
Langkah 3: Hitung Breakeven Biar Kamu Nggak Rugi
Sebelum kamu hapus fee buat yang komit, hitung dulu biaya riil onboarding kamu. Kalau biaya waktu dan effort kamu buat onboarding satu klien setara Rp150.000, dan klien yang komit biasanya bertahan minimal 3 bulan lebih lama dibanding yang bulanan, hampir selalu menghapus fee itu tetap untung buat kamu. Kamu dapat balik dari retensi yang lebih panjang, bukan dari fee itu sendiri.
Bagaimana Ini Bekerja di Kehidupan Saya
Saya sendiri pernah nawarin sesi konsultasi lepas ke beberapa kenalan yang minta tolong soal strategi konten atau cara mulai income sampingan. Dulu saya kasih diskon kalau mereka ambil paket 3 sesi sekaligus. Hasilnya biasa aja, kebanyakan tetep ambil satu sesi dulu, lihat dulu cocok atau nggak.
Terus saya coba ubah caranya. Sesi satuan saya kasih biaya admin kecil buat nutup waktu saya nyiapin bahan sebelum sesi. Tapi kalau ambil paket 3 sesi ke atas, biaya admin itu saya hapus sama sekali, harga per sesinya sama, cuma biaya admin itu yang hilang. Reaksinya beda jauh. Orang yang tadinya masih mikir-mikir jadi lebih cepat mutusin ambil paket, bukan karena lebih murah, tapi karena mereka ngerasa rugi kalau cuma ambil satu terus kena biaya itu. Momen itu saya sadar, orang nggak digerakkan sama angka yang lebih kecil, tapi sama rasa kehilangan yang mereka mau hindari.
Ini juga yang saya pegang sekarang tiap mau nawarin sesuatu ke orang, entah produk digital atau jasa lepas. Kerja cerdas, bukan kerja keras itu bukan cuma soal jam kerja, tapi juga soal gimana kamu framing tawaran biar orang lebih mudah bilang ya, tanpa kamu harus banting harga.
Siapa yang Akan Dapat Manfaat Paling Besar?
Cocok kalau kamu: jual jasa atau produk yang sifatnya recurring, misalnya konsultasi bulanan, retainer, kelas berjenjang, atau membership. Teknik ini butuh ada elemen “berlanjut” biar konsep komitmennya masuk akal.
Mungkin belum waktunya kalau: kamu jual produk sekali beli tanpa komponen lanjutan, atau kamu masih di fase belum ada calon klien sama sekali. Percuma mikirin struktur harga secanggih ini kalau belum ada yang nawar ke kamu.
Kalau Mau Susun Skema Harga Kamu Sendiri
Saya sering bahas hal-hal kecil semacam ini, cara framing tawaran, cara desain harga yang bikin orang lebih mudah komit, di newsletter saya. Kalau kamu mau saya kirim breakdown lebih dalam langsung ke email kamu, gabung aja ke Not A Perfect Daddy, gratis, saya kirim tiap minggu.
Gabung Newsletter Not A Perfect Daddy →
Pertanyaan yang Sering Muncul
Apakah waived fee ini sama dengan diskon yang dibungkus istilah lain?
Secara nominal bisa terlihat mirip, tapi cara kerjanya beda. Diskon itu ngasih sesuatu yang belum ada, waived fee itu ngambil kembali sesuatu yang tadinya akan dibayar. Buat calon klien, kehilangan rasa “harus bayar fee” itu lebih kuat dorongannya dibanding cuma dapat potongan harga. Kalau kamu udah sering pakai diskon dan hasilnya biasa aja, coba ganti framing-nya ke fee yang dihapus, bukan angka yang dipotong.
Berapa lama komitmen minimal yang wajar saya minta?
Tergantung jenis jasa kamu, tapi patokan umum 3 bulan buat yang paling ringan, 6 bulan buat yang medium, 12 bulan buat yang butuh waktu lama untuk kelihatan hasilnya. Jangan langsung minta komitmen 12 bulan kalau jasa kamu baru dan belum ada yang pernah pakai, orang belum cukup percaya buat komit selama itu.
Apakah saya harus jelasin fee itu untuk apa?
Wajib. Ini kesalahan paling sering, orang pasang fee tapi nggak jelasin fee itu nutup apa. Kalau kamu bilang “biaya admin Rp150.000 buat nyiapin materi awal dan setup akses kamu”, orang jauh lebih terima dibanding kalau kamu cuma nulis “biaya admin” tanpa keterangan.
Kalau calon klien tetap pilih opsi bulanan, apa saya rugi?
Nggak. Justru fee yang mereka bayar itu nutup sebagian biaya onboarding kamu buat klien yang belum tentu bertahan lama. Anggap aja itu bentuk kompensasi buat effort kamu di awal, sambil tetap kasih pintu keluar buat mereka yang belum yakin.
Apakah ini cuma cocok buat yang udah punya banyak klien?
Justru sebaliknya, ini lebih mudah dicoba waktu klien kamu masih sedikit, karena kamu bisa uji dua framing ini langsung ke orang yang lagi nanya-nanya sekarang. Satu langkah lebih jauh dari sekadar nunggu orang komit sendiri adalah kamu yang desain jalannya biar keputusan mereka lebih mudah.

