Saya pernah nulis satu thread yang menurut saya cukup bagus. Riset lumayan, contohnya konkret, formatnya rapi. Saya posting, nunggu respon, dan yang muncul cuma 3 like dari orang-orang yang entah kenapa selalu like apapun yang saya posting. Bukan karena kontennya menarik. Mungkin mereka hanya baik hati.

Yang lebih bikin bingung, ada teman saya yang nulis konten seadanya, gaya bahasa biasa saja, tapi responsnya ramai. Komennya banyak, ada yang share, ada yang bilang “ini banget deh.”

Saya lama mikir ini soal kualitas tulisan. Ternyata bukan.

Masalahnya adalah saya nulis untuk siapa yang saya bayangkan senang dengan tulisan saya, bukan untuk orang yang benar-benar perlu apa yang saya tulis. Dan dua hal itu ternyata beda banget.

Ini yang saya pelajari dari cara Chris Do menjelaskan soal marketing yang tepat sasaran. Intinya sederhana: kamu tidak bisa nulis konten yang bagus, buat produk yang tepat, atau charge harga yang worth it kalau kamu belum tahu siapa yang kamu tuju. Bukan sekadar “siapa” dalam arti data. Tapi siapa dalam arti apa yang ada di kepalanya, apa yang dia takutkan, apa yang dia mau tapi belum bisa diucapkan.

Kenapa Demographics Saja Tidak Cukup

Kebanyakan orang yang baru mulai membangun personal brand atau side hustle melakukan hal yang sama: mereka describe target audiensnya seperti mengisi formulir sensus. “Laki-laki, 28-35 tahun, kerja kantoran, punya anak satu atau dua, income menengah ke atas.”

Itu demographics. Dan kalau itu yang kamu pakai sebagai acuan nulis konten, yang terjadi adalah kamu nulis untuk sebuah statistik, bukan untuk manusia nyata.

Saya sendiri pernah di posisi itu. Tahu audiens saya “Daddy muda yang kerja kantoran,” tapi waktu nulis konten, saya tidak tahu apa yang sebenarnya mereka khawatirkan. Jadinya konten saya generik. Informasinya bisa jadi benar, tapi tidak ada yang terasa “ini gue banget.”

Yang bikin konten terasa personal bukan seberapa banyak kamu riset topiknya. Yang bikin konten terasa personal adalah ketika pembacamu merasa kamu nulis khusus buat dia.

Dan itu hanya bisa terjadi kalau kamu tahu psychographics mereka.

Psychographics: Yang Tidak Kelihatan dari Data

Psychographics itu bukan data yang bisa kamu download dari Google Analytics. Ini soal isi kepala orang itu, yang biasanya tidak pernah dia ucapkan langsung tapi selalu ada di latar belakang pikirannya ketika dia scroll konten kamu.

Contoh konkret. Dua orang bisa punya demographics identik: sama-sama Daddy, 32 tahun, karyawan di perusahaan swasta, anak satu umur 2 tahun. Tapi psychographics mereka bisa sangat berbeda.

Orang pertama: frustrasi dengan atasannya yang tidak fleksibel, takut ketinggalan momen anak tumbuh besar, percaya bahwa sistem korporat tidak akan pernah memberi ruang untuk hidup yang dia mau, sudah mulai cari-cari tahu soal side hustle tapi tidak tahu mulai dari mana.

Orang kedua: sama-sama Daddy, sama-sama kerja kantoran, tapi motivasinya beda. Dia tidak terlalu frustrasi dengan pekerjaannya. Yang dia mau adalah income tambahan supaya bisa beli rumah lebih cepat, dan dia tidak terlalu peduli soal waktu dengan anak karena istrinya yang handle itu.

Kalau kamu nulis konten yang address “kamu ingin lebih hadir untuk anak tapi sistem kerja tidak memungkinkan,” orang pertama akan langsung resonan. Orang kedua mungkin ikut-ikutan like, tapi konten kamu tidak benar-benar masuk ke masalah dia.

Ini bedanya konten yang “bagus secara teknis” dengan konten yang “tepat sasaran.”

ICP: Lebih dari Sekadar Persona Fiktif

ICP itu singkatan dari Ideal Client Profile. Atau kalau konteksnya konten personal brand dan side hustle, bisa kita sebut Ideal Reader Profile atau Ideal Audience Profile. Tapi prinsipnya sama.

Banyak yang sudah pernah dengar soal membuat persona. Dan biasanya berhenti di sini: beri nama, isi usia, kota, pekerjaan, income. Terus ditempel di dinding dan tidak pernah dilirik lagi.

Yang membuat ICP benar-benar bekerja adalah ketika kamu isi bagian yang lebih tidak nyaman untuk diisi: frustrasi, ketakutan, dan definisi sukses versi mereka.

Beri Nama dan Konteks Nyata

Mulai dengan memberi nama. Bukan supaya lebay atau dramatis, tapi supaya otakmu berhenti memperlakukan ini sebagai abstraksi. Sebut saja Andi. Andi itu karyawan, 31 tahun, punya anak 8 bulan.

Lalu isi konteksnya secara konkret. Andi bekerja dari jam 8 pagi sampai jam 6 sore. Pulang, anak sudah ngantuk. Waktu akhir pekan selalu ada saja yang menyita. Dia ingin punya penghasilan tambahan tapi takut kalau mencoba-coba malah energinya habis dan waktu dengan anak makin berkurang.

Itu sudah lebih hidup dari sekadar “Daddy karyawan, 28-35 tahun.”

Isi Bagian yang Tidak Enak

Ini yang sering dilewati. Ada tiga pertanyaan yang harus kamu jawab untuk Andi:

Frustrasi dengan situasi sebelumnya atau solusi yang pernah dicoba: Andi sudah pernah coba ikut beberapa webinar soal side hustle. Hasilnya? Banyak yang hanya jual course lanjutan. Dia frustrasi dengan konten yang terlalu teoritis, terlalu hype, atau terlalu jauh dari kondisi nyata orang yang sudah capek kerja kantoran.

Ketakutan terbesar: Kalau dia mulai side hustle, dia takut jadi lebih absen dari kehidupan keluarga. Dia takut istrinya makin sendirian. Dia takut anaknya nanti tidak kenal dia. Bukan takut gagal secara finansial, tapi takut “sukses” di bisnis tapi gagal sebagai ayah.

Definisi sukses versi dia: Bukan jadi pengusaha dengan omzet miliaran. Itu terlalu jauh. Definisi suksesnya saat ini adalah: bisa ambil cuti tanpa panik soal uang, bisa hadir untuk anak tanpa pikiran penuh deadline.

Kalau kamu tahu tiga hal ini, setiap kalimat yang kamu tulis bisa diarahkan langsung ke salah satu dari tiga hal ini. Kontenmu tidak akan lagi terdengar generik.

Ketakutan yang Kamu Share

Ada satu hal yang Chris Do mention yang cukup menampar saya. Kita cenderung target audiens yang align dengan value kita, tapi broke, karena kita sendiri punya belief sistem yang sama soal uang.

Artinya: kalau kamu sendiri tidak nyaman charge harga tinggi, kamu akan terus tarik audiens yang juga tidak nyaman bayar. Bukan karena kamu pilih-pilih, tapi karena konten dan energi yang kamu keluarkan secara tidak sadar menarik orang-orang yang mirror belief kamu.

Ini bukan soal side hustle dan pricing saja. Di konten personal brand pun sama. Kalau kamu sendiri tidak percaya bahwa kamu layak didengar, kontenmu akan terus menarik orang yang skeptis dan butuh banyak diyakinkan. Sementara orang yang sudah ready to learn dan siap take action tidak merasa kamu bicara ke mereka.

Framework ICP untuk Daddy yang Mau Mulai Konten

Kalau kamu baru mulai membangun personal brand, atau punya side hustle dan mau mulai konten tapi bingung nulis untuk siapa, ini caranya yang paling sederhana.

Langkah 1: Mulai dari diri sendiri, 1-2 tahun lalu

Siapa kamu 1-2 tahun lalu? Apa yang kamu khawatirkan? Apa yang kamu inginkan tapi tidak tahu cara mendapatkannya? Apa yang kamu cari di Google pada jam 11 malam?

Itu adalah ICP-mu yang paling jujur. Kamu sudah hidup sebagai orang itu. Kamu tahu rasa frustrasinya, ketakutannya, dan definisi suksesnya karena kamu pernah ada di sana.

Ini bukan jalan pintas. Ini adalah cara yang paling valid untuk memulai, terutama kalau kamu belum punya audiens.

Langkah 2: Isi tiga kolom ini

Buka notes di hp kamu. Tulis tiga kolom:

Frustrasi: Apa yang sudah dicoba tapi tidak berhasil atau mengecewakan? Bukan soal produkmu atau kontenmu, tapi soal situasi hidupnya yang bikin dia frustrasi.

Ketakutan: Apa yang dia takutkan kalau dia mencoba sesuatu yang baru? Biasanya ini lebih dalam dari sekadar “takut gagal.” Bisa jadi takut dilihat bodoh. Takut mempermalukan keluarga. Takut ternyata dia memang tidak berbakat.

Definisi sukses versi dia: Bukan sukses versi majalah bisnis. Sukses versi orang ini, di kondisi hidupnya sekarang, adalah seperti apa? Biasanya jauh lebih sederhana dari yang kita bayangkan.

Langkah 3: Jadikan filter sebelum publish

Sebelum kamu publish konten apapun, tanya dua pertanyaan: Apakah Andi akan nod waktu baca ini? Dan apakah Andi merasa ini ditulis untuk dia?

Kalau jawabannya tidak, revisi dulu. Bukan tambah informasi. Tapi ubah angle-nya supaya lebih masuk ke salah satu dari tiga kolom tadi.

Langkah 4: Update secara berkala

ICP bukan dokumen yang dibuat sekali lalu disimpan. Setiap kali ada komentar, DM, atau respon dari pembaca yang paling resonan, catat. Itu adalah data update untuk ICP-mu.

Dalam 3-6 bulan pertama nulis konten, ICP yang kamu mulai dengan akan berubah cukup signifikan karena kamu akan tahu lebih banyak dari data nyata, bukan asumsi.

Bagaimana Ini Bekerja di Kehidupan Saya

Saya sendiri mengalami titik balik ini waktu mulai menulis konten daddy.co.id. Awalnya saya nulis apa yang menurut saya menarik, topik yang saya sukai, framework yang saya pelajari dari buku-buku yang saya baca. Responsnya lumayan, tapi tidak ada yang benar-benar bilang “ini yang saya cari.”

Waktu saya mulai nulis dengan anchor yang jelas, yaitu Daddy karyawan yang capek tapi ingin lebih hadir untuk anak, dan mengisi detail psychographics yang lebih spesifik, responnya berubah. Bukan hanya lebih banyak, tapi lebih dalam. Orang mulai DM dengan cerita yang sangat konkret, sangat personal. Itu sinyal bahwa konten sudah menyentuh sesuatu yang nyata.

Yang saya lakukan bukan nulis lebih panjang atau lebih teknis. Saya hanya nulis untuk satu orang yang lebih jelas di kepala saya, bukan untuk “semua Daddy.”

Siapa yang Akan Dapat Manfaat Paling Besar?

Cocok kalau kamu: Daddy yang sudah mulai atau mau mulai personal brand atau konten media sosial tapi merasa kontennya kurang direspon meski topiknya sudah cukup bagus. Atau kamu yang baru mulai side hustle dan bingung mau nulis konten tentang apa karena tidak tahu bicara ke siapa.

Mungkin belum waktunya kalau: Kamu belum mulai nulis sama sekali dan masih di tahap memutuskan topik. Di tahap itu yang lebih penting adalah mulai dulu, baru setelah ada beberapa konten kamu bisa lihat mana yang paling resonan dan mulai pertajam ICP dari data nyata.

Kalau Kamu Mau Mulai, Tapi Tidak Tahu Dari Mana

Saya kirim tips dan framework seperti ini tiap minggu, konteksnya selalu untuk Daddy yang ingin kerja cerdas, bukan kerja keras, sambil tetap hadir untuk anak. Kalau itu yang kamu cari, masuk ke newsletter Not A Perfect Daddy di bawah ini.

Kalau mau saya kirim lebih banyak tentang membangun konten dan side hustle yang align dengan waktu dan energi yang kamu punya sebagai Daddy, masuk ke newsletter Not A Perfect Daddy di sini, gratis, dan saya kirim tiap minggu.

Gabung Newsletter Not A Perfect Daddy →

Pertanyaan yang Sering Muncul

Bagaimana kalau ICP saya terlalu sempit dan audiensnya jadi terlalu kecil?

Ini kekhawatiran yang wajar, tapi biasanya kebalikannya yang terjadi. Konten yang sangat spesifik justru lebih sering di-share karena orang yang cocok merasa “ini harus dilihat teman saya yang lagi di posisi yang sama.” Konten yang terlalu luas tidak punya magnetic pull seperti itu karena tidak ada yang merasa ini ditulis khusus untuk mereka.

Niche yang sempit di awal juga jauh lebih mudah dibangun konsistensinya karena kamu tahu persis apa yang relevan dan apa yang tidak. Setelah audiens terbangun, kamu bisa perlahan expand.

Saya tidak punya data audiens karena masih baru mulai. Harus bagaimana?

Mulai dari asumsi yang paling jujur berdasarkan pengalaman pribadi, lalu treat setiap konten yang kamu buat sebagai eksperimen. Konten yang dapat respon paling personal adalah indikator bahwa ICP-mu sudah mengarah ke tempat yang benar. Yang tidak dapat respon sama sekali biasanya terlalu generic atau terlalu jauh dari kehidupan nyata ICP-mu.

Dalam 30 konten pertama, kamu sudah punya cukup data untuk mulai pertajam ICP. Jangan tunggu sampai riset sempurna sebelum mulai.

Apakah ICP untuk konten personal brand sama dengan ICP untuk digital product?

Prinsipnya sama, tapi angle-nya perlu sedikit disesuaikan. Untuk konten personal brand, ICP-mu adalah siapa yang ingin kamu bantu dan siapa yang ingin kamu ajak ngobrol jangka panjang. Untuk digital product, ICP-mu adalah orang yang punya masalah spesifik yang produkmu bisa selesaikan, dan mereka harus punya kemampuan serta kemauan untuk membayar solusi itu.

Kamu bisa mulai dari ICP konten, lalu persempit lagi untuk ICP produk. Biasanya ICP produk adalah subset lebih kecil dari ICP konten.

Kalau audiens saya sudah ada tapi ICP saya belum jelas, harus mulai dari mana?

Mulai dengan lihat 5-10 komentar atau DM yang paling personal dan meaningful yang pernah kamu terima. Apa kesamaan konteks dari orang-orang itu? Apa yang mereka ceritakan sebagai situasi mereka? Itu adalah ICP-mu yang sudah ada di data, kamu hanya perlu menemukan dan mendokumentasikannya.

Kalau belum ada komentar seperti itu, tanya langsung ke beberapa follower yang paling aktif. Pertanyaan sederhananya: “Apa yang paling kamu khawatirkan soal [topik yang kamu bahas]?” Jawabannya biasanya langsung memberi kamu bahan untuk psychographics ICP yang jauh lebih akurat dari asumsi.

Apakah saya perlu satu ICP atau boleh beberapa?

Untuk awal, satu ICP yang sangat spesifik jauh lebih efektif. Bukan karena kamu hanya boleh bantu satu jenis orang, tapi karena kalau kamu punya tiga ICP berbeda di kepala, kontenmu akan terus berpindah arah dan tidak ada satupun yang benar-benar merasa kamu bicara ke mereka.

Setelah satu ICP solid dan audiensnya terbangun, baru kamu bisa pertimbangkan apakah ada ICP kedua yang make sense untuk kamu bangun.