Saya inget waktu awal-awal mau serius nulis lagi, saya sempat coba nulis buat “semua orang tua.” Draftnya ada di laptop saya, judulnya generic banget, isinya nyoba nyenggol semua orang: ayah baru, ayah yang udah lama, ibu yang baca juga boleh, yang mau side income boleh, yang cuma mau baca cerita juga boleh. Saya baca ulang draft itu sekarang dan rasanya hambar. Bukan karena tulisannya jelek, tapi karena gak ada satupun orang yang ngerasa itu ditulis khusus buat dia.
Butuh waktu buat saya sadar, tapi akhirnya saya berhenti nulis buat “semua orang tua” dan mulai nulis khusus buat Daddy karyawan capek yang baru punya anak. Bukan Daddypreneur yang udah sukses, bukan orang yang punya waktu berlimpah buat eksperimen konten. Spesifik: ayah yang kerja full-time, capek, baru adaptasi jadi orang tua, dan pengen tetap hadir untuk anak sambil juga tumbuh secara finansial. Begitu saya nyempitin ke situ, semuanya jadi lebih jelas, mulai dari topik yang saya tulis sampai cara saya nulisnya.
Kenapa Nyempitin Target Justru Bikin Kamu Lebih Terlihat
Ada logika yang kelihatannya berlawanan dengan insting, tapi sebenarnya masuk akal kalau dipikir pelan-pelan. Kalau pesan kamu spesifik, target kamu spesifik, dan kebutuhan yang kamu jawab juga spesifik, orang yang cocok sama itu akan langsung merasa “ini ngomong ke saya.” Sebaliknya, kalau pesan kamu general supaya bisa nyenggol banyak orang, hasilnya justru gak ada satu kelompok pun yang merasa itu spesial buat mereka.
Ini juga soal kredibilitas. Ada usaha reparasi gadget yang tadinya terima semua merk HP, dari yang murah sampai yang mahal. Begitu mereka putuskan cuma terima satu merk tertentu aja, penjualan mereka naik dua kali lipat dalam waktu setahun. Bukan karena mereka jadi lebih ahli dalam semalam, tapi karena orang lebih percaya sama tempat yang “cuma ngerjain satu hal” dibanding tempat yang “bisa ngerjain semua hal.” Orang asosiasikan fokus dengan keahlian, meskipun secara teknis belum tentu selalu benar.
Ada juga alasan operasional yang jarang dibahas. Kalau kamu fokus ke satu tipe masalah atau satu tipe orang, kamu jadi lebih cepat dan lebih baik dalam ngerjain itu, karena kamu ngulang pola yang sama terus-menerus. Sebaliknya kalau kamu coba layani semua tipe orang dengan semua tipe masalah, kamu selalu mulai dari nol setiap kali, dan itu menguras waktu yang buat kamu udah terbatas cuma 2-4 jam kerja per hari.
Dan yang terakhir, soal kompetisi. Semakin general pesan kamu, semakin banyak orang lain yang juga ngomong hal yang sama ke audiens yang sama. Semakin spesifik kamu, semakin sedikit orang yang benar-benar ngomong ke kelompok itu dengan cara yang sama persis kayak kamu.
Dua Cara Nyempitin Niche
Ada dua pendekatan yang bisa kamu pakai, dan gak harus pilih salah satu doang, kadang gabungan dua ini yang paling kuat.
Niche berdasarkan siapa orangnya
Ini artinya kamu fokus ke satu tipe orang spesifik, dan kamu bahas banyak hal yang relevan buat hidup mereka. Contohnya ya blog ini sendiri: saya fokus ke Daddy karyawan capek yang baru punya anak. Dari situ saya bisa bahas macam-macam, mulai dari cara bagi waktu, cara nambah income, sampai cara mikirin mindset, karena semuanya masih relevan buat satu tipe orang yang sama.
Keuntungannya, kamu bisa jadi rumah buat banyak kebutuhan orang itu sekaligus, gak cuma satu topik doang. Tapi resikonya, kamu harus benar-benar paham dunia orang itu dari dalam, bukan cuma tebak-tebak dari luar.
Niche berdasarkan fungsi atau skill
Ini artinya kamu fokus ke satu masalah atau satu skill spesifik, tapi terbuka buat berbagai macam orang yang punya masalah itu. Misalnya kalau kamu fokus khusus ke “cara bikin sistem kerja 2-4 jam sehari,” kamu bisa bahas itu buat karyawan, buat pemilik usaha kecil, buat freelancer, siapapun yang punya masalah yang sama soal waktu.
Keuntungannya, kolam calon pembaca kamu lebih luas karena gak dibatasi satu tipe orang doang. Tapi resikonya, kamu harus benar-benar dalam di satu topik itu, karena itu satu-satunya alasan orang mau dengar kamu.
Empat Pertanyaan untuk Nemuin Niche Kamu
Kalau kamu masih bingung mau nyempitin ke mana, coba jawab empat pertanyaan ini pelan-pelan, gak perlu buru-buru:
- Siapa orang yang paling sering nanya ke kamu soal topik yang kamu kuasai, entah lewat chat, komentar, atau ngobrol langsung?
- Kalau kamu bantu satu tipe orang, siapa yang hasilnya paling kelihatan dan paling cepat? Bukan yang paling banyak bayar, tapi yang paling gampang kamu bantu sampai berhasil.
- Di mana kamu punya pengalaman yang gak semua orang punya, meskipun kelihatannya kecil? Buat saya itu pengalaman jadi ayah yang kerja full-time tapi tetap coba hadir untuk anak, bukan pengalaman jadi pengusaha besar.
- Kalau kamu harus berhenti ngomong ke satu kelompok orang selamanya supaya bisa fokus ke kelompok lain, kelompok mana yang paling gak rugi kamu tinggalin?
Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini biasanya udah nunjukin arah, meskipun belum sempurna di percobaan pertama.
Kenapa Rasanya Kayak Membatasi Diri, Padahal Bukan
Waktu pertama kali mikirin ini, rasanya aneh. Kayak saya sengaja nutup pintu buat orang lain yang mungkin sebenarnya juga butuh apa yang saya tulis. Tapi setelah dijalani, saya sadar itu perasaan yang salah arah. Nyempitin niche itu bukan nutup pintu, itu bikin pintu yang ada jadi lebih jelas kelihatan dari jauh. Orang yang lewat dan gak cocok, mereka emang bakal lewat aja, dan itu gak apa-apa. Yang penting orang yang memang cocok, mereka berhenti, karena mereka ngerasa ini rumah mereka.
Generalis itu justru yang gampang dilupakan. Bukan karena kualitasnya kurang, tapi karena gak ada yang bisa diingat secara spesifik dari mereka.
Bagaimana Ini Bekerja di Kehidupan Saya
Setelah saya putuskan fokus ke Daddy karyawan capek yang baru punya anak, saya jadi lebih gampang mutusin mau nulis apa dan mau nolak topik apa. Kalau ada ide yang lebih cocok buat pengusaha yang udah besar atau buat orang yang belum punya anak, saya biarkan aja lewat, gak saya paksa tulis cuma karena “kayaknya menarik.” Hasilnya, saya jadi lebih cepat nulis karena gak lagi bingung nyari sudut pandang yang bisa nyenggol semua orang. Saya cukup tanya satu hal: ini relevan buat Daddy yang capek kerja dan baru punya anak, atau bukan? Kalau iya, saya tulis. Kalau bukan, saya lewatkan, meskipun idenya bagus.
Siapa yang Akan Dapat Manfaat Paling Besar?
Cocok kalau kamu: sudah rutin bikin konten atau ngomong ke orang lewat tulisan, tapi ngerasa hasilnya biasa aja karena selama ini kamu nyoba ngomong ke semua orang sekaligus.
Mungkin belum waktunya kalau: kamu baru banget mulai dan belum ada cukup pengalaman ngomong ke siapapun. Coba dulu ngobrol dan bikin konten ke berbagai tipe orang, baru dari situ kamu bisa lihat pola siapa yang paling nyambung sama kamu.
Kalau Kamu Mau Bantuan Nemuin Niche Kamu Sendiri
Saya bahas lebih dalam soal cara nemuin dan mempertajam niche di newsletter Not A Perfect Daddy, termasuk gimana saya sendiri mikirin ulang fokus konten setiap beberapa bulan. Ini satu langkah lebih jauh dari sekadar nulis konten dan berharap semua orang tertarik.
Gabung Newsletter Not A Perfect Daddy →
Pertanyaan yang Sering Muncul
Bukankah nyempitin target bikin saya kehilangan calon pembaca atau pelanggan lain?
Perasaannya memang begitu di awal, tapi yang sebenarnya terjadi kebalikannya. Kalau kamu ngomong ke semua orang, gak ada satupun yang merasa itu ngomong ke dia secara khusus. Kalau kamu ngomong ke satu kelompok spesifik, kelompok itu ngerasa dilihat, dan orang di luar kelompok itu yang penasaran biasanya tetap ikut baca juga.
Bagaimana cara menemukan niche saya sendiri kalau saya belum yakin siapa target saya?
Lihat ke belakang dulu. Siapa orang yang paling sering nanya ke kamu soal topik yang kamu kuasai? Siapa yang paling gampang kamu bantu dan hasilnya paling kelihatan? Dari situ biasanya sudah ada pola, dan pola itu yang jadi titik awal niche kamu, bukan hasil brainstorming di kertas kosong.
Apakah niche itu permanen, atau bisa berubah seiring waktu?
Bisa berubah, dan wajar berubah. Niche itu bukan penjara seumur hidup, tapi titik fokus untuk periode tertentu. Yang penting di periode itu kamu benar-benar fokus, bukan setengah-setengah coba melayani semua orang sekaligus supaya aman.
Kalau saya nyempitin niche, apakah growth saya jadi lebih lambat di awal?
Kadang iya secara jumlah, tapi kualitasnya jauh lebih baik. Growth yang lambat tapi ke orang yang tepat itu lebih berharga dibanding growth cepat ke orang yang gak relevan dan gak akan pernah jadi pembaca setia atau pelanggan.
Apa bedanya niche berdasarkan siapa orangnya dengan niche berdasarkan apa yang saya kerjakan?
Niche berdasarkan siapa orangnya artinya kamu fokus ke satu tipe orang spesifik dan bahas banyak hal yang relevan buat mereka. Niche berdasarkan fungsi artinya kamu fokus ke satu skill atau satu masalah spesifik, tapi terbuka untuk berbagai tipe orang yang punya masalah itu. Dua-duanya valid, tinggal mana yang lebih cocok dengan kekuatan kamu.

