Saya inget banget momen itu. Sudah posting hampir 3 bulan. Konsisten. Isi kontennya soal digital marketing, hal yang saya geluti sehari-hari. Tapi yang berkomentar cuma teman-teman lama dan bots.
Problemnya bukan frekuensi. Bukan juga kualitas visual. Masalahnya jauh lebih dasar dari itu.
Konten saya bicara ke semua orang. Dan karena itu, tidak ada yang merasa konten itu bicara ke mereka.
Ini yang kebanyakan orang baru sadar jauh terlambat, setelah buang waktu dan tenaga untuk posting konten yang sebenarnya tidak ada yang benar-benar nunggu.
Masalah dengan “Konten untuk Semua Orang”
Ada pola yang konsisten dari konten yang sepi: terlalu generik.
“Tips produktivitas untuk kamu yang sibuk” – siapa yang sibuk? Semua orang. Tapi tidak ada yang ngerasa konten itu untuk mereka.
“Cara meningkatkan penjualan bisnis kamu” – bisnis apa? Skala berapa? Masalah spesifik apa?
“Cara bahagia sebagai orang tua” – ini terlalu luas sampai jadi tidak bermakna.
Yang terjadi di kepala pembaca waktu baca judul seperti itu adalah: mungkin berguna, tapi nanti aja deh. Bukan sekarang. Dan nanti itu tidak pernah datang.
Bandingkan dengan ini: “Cara stay waras waktu anak rewel dan deadline kantor bentrok bersamaan.” Siapa yang baca itu dan langsung ngerasa itu tentang mereka? Hampir semua Daddy yang punya anak dan masih kerja.
Spesifisitas adalah yang membedakan konten yang dibaca dan konten yang di-scroll lewat.
Kenapa Spesifisitas Terasa Menakutkan
Ada kekhawatiran yang masuk akal: kalau saya terlalu spesifik, penonton saya jadi lebih sedikit.
Logikanya terdengar benar. Tapi di praktek, yang terjadi sebaliknya.
Bayangin kamu bikin konten soal “diet untuk pria di atas 40 yang punya perut buncit dan mau bisa kejar-kejaran sama anak tanpa ngos-ngosan.” Ini sangat spesifik. Tapi siapa yang baca dan langsung klik? Setiap pria 40-an dengan kondisi itu, yang mungkin jumlahnya jutaan.
Sekarang bandingkan dengan “tips diet sehat untuk semua orang.” Ini menjangkau semua orang di permukaan, tapi tidak ada yang berhenti scroll karena ngerasa konten itu benar-benar untuk mereka.
Spesifisitas bukan membatasi, justru memanggil. Kamu tidak bicara ke lebih sedikit orang – kamu bicara lebih keras ke orang yang tepat.
Dan satu hal lagi yang tidak banyak orang sadari: satu topik yang spesifik justru menghasilkan lebih banyak ide konten. Kalau kamu bicara soal “diet untuk pria 40-an,” sekarang kamu punya variasi: diet untuk pria 40-an yang kerja shift malam, yang sering dinner dengan klien, yang istrinya masak yang sama setiap hari, yang gym-nya tutup karena budget mepet. Setiap variasi itu adalah konten baru yang spesifik dan relevan.
Spesifisitas melipat gandakan ide konten, bukan membatasinya.
Dua Elemen yang Harus Kamu Pahami Dulu
Sebelum mulai riset, ada dua hal yang harus jadi fondasi.
Pertama, masalah spesifik audience. Bukan masalah umum, tapi situasi konkret yang mereka alami. Bukan “kurang waktu” tapi “jam 6 sore pulang kerja, anak minta main, tapi kepala masih penuh meeting tadi.” Bukan “ingin lebih produktif” tapi “scrolling WhatsApp kerja 1 jam setelah anak tidur, padahal rencananya mau belajar skill baru.”
Kedua, keinginan spesifik mereka. Apa yang benar-benar mereka inginkan? Dan ini jawabannya berbeda-beda tergantung usia, situasi, dan konteks hidup. Seorang pria 25 tahun yang mau turun berat badan ingin terlihat menarik dan percaya diri waktu kenalan. Pria 45 tahun dengan masalah yang sama lebih ingin bisa bangunkan anak pagi hari tanpa punggung sakit dulu, dan mengurangi risiko kesehatan supaya masih ada waktu sama keluarga.
Masalah sama, tapi driver emosional yang berbeda. Konten yang sama tidak akan menyentuh keduanya.
Proses Riset yang Sebenarnya Sederhana
Ini bukan proses yang rumit. Dengan AI, ini bisa dilakukan dalam 1-2 jam dan hasilnya bisa dipakai berbulan-bulan.
Langkah 1: Definisikan Audience Sejelas Mungkin
Bukan “orang yang mau sukses.” Tapi “Daddy karyawan 30-38 tahun, anak baru lahir sampai 5 tahun, income keluarga Rp10-25 juta per bulan, kerja kantoran full-time, mau tambah income tanpa harus resign.”
Makin spesifik deskripsinya, makin berguna output riset yang kamu dapat.
Langkah 2: Minta AI Generate 50 Situasi
Masukkan deskripsi audience kamu ke AI (ChatGPT, Claude, yang mana yang kamu pakai), lalu minta: “Berikan saya 50 situasi spesifik, masalah, dan keinginan dari audience ini. Sedetail mungkin.”
Kenapa 50? Karena 10 situasi pertama biasanya generik. Situasi ke-20 sampai 50 inilah yang biasanya specific dan jadi angle konten yang benar-benar tajam.
Output yang kamu dapat akan terlihat seperti ini (kalau audience-nya Daddy karyawan):
- “Anak minta dibacakan buku malem-malem, tapi kepala masih penuh dengan presentasi besok yang belum siap”
- “Istri minta quality time, tapi saya sudah kehabisan energi emotional setelah kerja 9 jam”
- “Gaji sudah naik tapi tabungan keluarga gak pernah tumbuh karena pengeluaran ikut naik”
- “Ada ide side hustle tapi takut gagal dan buang waktu yang harusnya buat keluarga”
- “Anak sakit, istri juga butuh istirahat, tapi project kantor tidak bisa mundur”
Setiap poin ini adalah konten. Masing-masing bisa jadi satu artikel, satu video, satu thread.
Langkah 3: Gali Lebih Dalam Satu Situasi
Ambil satu situasi yang paling kuat, lalu minta AI untuk menggali lebih dalam: “Ceritakan 5 momen spesifik di mana seseorang mengalami situasi ini.”
Contoh kalau situasinya “takut gagal kalau mulai side hustle”:
- Waktu scrolling Instagram dan lihat orang lain posting income screenshot, ngerasa ketinggalan
- Waktu istri tanya “emang kamu bisa?” dan kamu gak bisa jawab dengan yakin
- Waktu ada peluang tapi memilih tidak ambil karena “belum siap”
- Waktu ngitung tabungan dan sadar kalau tidak ada perubahan dalam 6 bulan terakhir
Situasi-situasi ini jadi hook konten. Bukan “cara mulai side hustle” tapi “cara mulai side hustle waktu kamu takut istri kamu bertanya ‘emang bisa?’”
Langkah 4: Ulangi Per Topik
Kalau kamu punya 3 topik utama dan masing-masing menghasilkan 50 situasi, kamu punya 150 angle konten. Itu cukup untuk 6-12 bulan konten kalau kamu posting 3-4 kali seminggu.
Ini bukan soal kerja keras lagi. Ini soal kerja cerdas di awal supaya eksekusinya jadi lebih mudah.
Bagaimana Ini Bekerja di Kehidupan Saya
Waktu saya pertama kali coba proses ini secara serius, yang paling mengejutkan adalah betapa berbedanya situasi-situasi yang di-generate AI dengan apa yang selama ini saya tulis.
Saya selalu nulis soal “cara meningkatkan produktivitas.” Tapi waktu saya minta AI generate situasi spesifik untuk audience saya, yang muncul justru hal-hal seperti “beli laptop baru buat side hustle tapi takut istri protes” atau “ikut webinar malam-malam saat anak tidur tapi besoknya ngantuk di kantor.” Situasi-situasi itu tidak pernah terpikirkan sebelumnya.
Dan konten yang saya buat dari situasi spesifik itu performanya jauh lebih baik. Bukan karena lebih viral, tapi karena yang berkomentar bilang “ini persis kondisi saya sekarang.”
Itu yang saya cari. Bukan jangkauan luas, tapi resonansi dalam.
Siapa yang Akan Dapat Manfaat Paling Besar?
Cocok kalau kamu: sudah punya topik atau niche konten yang jelas tapi bingung kenapa engagement tidak naik meski sudah rutin posting. Atau baru mau mulai dan ingin fondasi yang kuat sebelum keluar konten pertama.
Mungkin belum waktunya kalau: kamu belum tahu sama sekali mau bicara soal apa atau untuk siapa. Proses ini butuh setidaknya satu topik dan satu gambaran kasar tentang audience kamu dulu.
Mau Saya Kirim Template Prompt-nya Langsung ke Email Kamu?
Saya punya template prompt yang saya pakai untuk sesi riset seperti ini. Kalau mau saya kirim, masuk ke newsletter Not A Perfect Daddy. Gratis, dan saya kirim seminggu sekali, tidak lebih.
Gabung Newsletter Not A Perfect Daddy →
Pertanyaan yang Sering Muncul
Apakah ini berlaku kalau saya baru mulai dan belum ada audience?
Justru ini paling berguna kalau kamu baru mulai. Kamu tidak perlu nunggu audience ada dulu untuk riset – kamu riset dulu, baru bangun audience berdasarkan riset itu. Cara termudah: bayangkan satu orang spesifik yang paling ingin kamu bantu. Umur berapa, kondisi hidupnya seperti apa, masalah spesifik apa yang dia hadapi. Riset untuk satu orang itu dulu.
Bagaimana kalau AI-nya generate situasi yang tidak relevan?
Itu sinyal bahwa deskripsi audience kamu masih terlalu generik. Coba tambahkan lebih banyak detail: pekerjaan spesifik, status keluarga, level income, masalah utama yang sudah diketahui. Semakin spesifik input, semakin relevan output. Kalau masih tidak relevan, coba ganti framing: minta AI “bertindak sebagai [audience kamu] dan ceritakan 10 masalah yang kamu hadapi minggu ini.”
Berapa sering saya harus ulang proses riset ini?
Tidak terlalu sering. Situasi dasar manusia tidak berubah cepat. Yang saya lakukan: riset besar setiap 6 bulan, dan selama itu perhatikan komentar dan DM yang masuk. Komentar organik dari audience yang sudah ada adalah data riset gratis yang sering lebih akurat dari AI.
Apakah ini bisa dipakai selain untuk konten?
Bisa. Prinsip spesifisitas ini berlaku untuk apapun yang kamu komunikasikan: email promosi, penawaran jasa, judul digital product, bahkan cara kamu menjelaskan pekerjaan kamu ke calon klien. Selalu mulai dengan situasi spesifik audience, bukan fitur atau keunggulan yang kamu mau tonjolkan.
Saya takut “terlalu niche” dan kehilangan peluang dari audience yang lebih luas.
Saya pernah di posisi yang sama. Yang saya temukan: audiensi yang “luas tapi tidak engaged” jauh lebih sulit dimonetisasi dibanding audiensi yang “sempit tapi sangat engaged.” 100 orang yang benar-benar relate dengan konten kamu nilainya lebih tinggi dari 10.000 orang yang lewat sambil lalu. Mulai sempit, buktikan resonansinya, baru expand kalau kamu mau.

