Saya duduk di depan laptop jam 10 malam, anak-anak sudah tidur, dan saya membuka halaman sign-up MailerLite untuk pertama kalinya.
List subscriber saya: kosong. Nol. Angka yang paling jujur yang bisa ada.
Saya ingat rasa tidak nyaman itu. Bukan rasa takut yang dramatis, tapi lebih ke rasa “apakah ini masuk akal?” Apakah ada orang yang mau baca email dari saya setiap minggu? Saya bukan influencer. Saya bukan orang terkenal. Saya Daddy yang kerja, punya dua anak, dan entah kenapa malam itu memutuskan untuk mulai membangun sesuatu yang belum pernah saya coba sebelumnya.
Ini catatan jujur tentang apa yang terjadi selanjutnya.
Kenapa Saya Akhirnya Mulai
Bukan karena saya sudah siap. Bukan karena sudah ada rencana yang matang. Jujur, saya mulai karena saya capek hanya mengonsumsi konten orang lain tentang “cara membangun income digital” tanpa pernah memulai apapun sendiri.
Ada satu pertanyaan yang terus muncul di kepala saya: kalau besok pagi saya kena PHK, aset digital apa yang saya punya? Follower Instagram saya waktu itu sekitar 1.200. Koneksi LinkedIn beberapa ratus. Dan tidak ada jalur komunikasi langsung dengan siapapun yang tidak perlu melewati algoritma platform.
Jawaban jujurnya: tidak ada aset digital yang nyata.
Bukan posisi yang nyaman kalau dipikir-pikir, terutama waktu saya melihat anak-anak tidur dan sadar bahwa saya ingin ada pilihan lebih banyak untuk diri sendiri dan keluarga ke depannya.
Malam itu saya tidak setup strategi 12 bulan. Saya hanya buat akun dan tulis email pertama.
Bulan Pertama: Angka yang Tidak Mengesankan
Subscriber di akhir minggu pertama: 12 orang. Semua dari koneksi personal yang saya inbox satu per satu dan minta pendapat mereka tentang sebuah checklist yang saya buat.
Rasa tidak nyamannya nyata. Ada perasaan malu waktu harus minta orang untuk subscribe ke sesuatu yang saya sendiri belum yakin akan konsisten saya kirimkan. Tapi saya kirimkan tetap.
Di akhir bulan pertama: 31 subscriber.
Waktu itu saya baca di mana-mana bahwa “target bulan pertama adalah 20-40 subscriber.” Jadi angka 31 sebenarnya di range normal. Tapi tidak terasa seperti pencapaian. Terasa seperti: oke, ini angka kecil sekali.
Yang membantu saya tetap lanjut bukan motivasi ekstrinsik dari “lihat progressnya bro!” Tapi dari satu hal sederhana: ada 3 orang yang membalas email pertama saya. Tiga orang yang saya tidak saling kenal secara dekat, yang meluangkan waktu untuk balas dan bilang bahwa checklist yang saya kirim berguna buat mereka.
Itu yang bikin saya kirim email kedua.
Tiga Hal yang Tidak Saya Sangka Sebelumnya
Menulis Email Jauh Lebih Berbeda dari Nulis Caption
Saya pikir karena saya sudah terbiasa nulis caption Instagram, nulis email akan mudah. Ternyata beda sama sekali. Caption Instagram harus langsung impactful di 3 baris pertama karena orang scroll cepat. Email bisa lebih panjang dan lebih personal, tapi itu justru lebih susah karena kamu harus maintain perhatian orang lewat paragraf, bukan visual.
Butuh sekitar 2 bulan sebelum saya menemukan nada yang natural untuk email saya. Dan “natural” itu ternyata justru waktu saya nulis seperti ngomong ke teman, bukan waktu saya coba terdengar profesional.
Angka Open Rate Lebih Menggembirakan dari Angka Subscriber
Di bulan kedua, open rate email saya ada di 58%. Dari 54 subscriber waktu itu, sekitar 31 orang membuka setiap email.
Angka absolut-nya kecil. Tapi persentasenya tinggi, dan itu artinya orang yang subscribe memang mau baca. Fokus ke open rate lebih masuk akal daripada obsesi dengan jumlah subscriber, terutama di awal.
Konsistensi Lebih Susah dari yang Saya Ekspektasikan
Ada dua minggu di bulan ketiga saya tidak kirim email. Anak sulung sakit, jadwal kerja padat, dan saya terus menunda sampai akhirnya satu minggu jadi dua minggu.
Yang menarik: subscriber saya tidak langsung semua unsubscribe. Waktu saya kembali kirim email dengan penjelasan jujur bahwa saya absen karena situasi keluarga, beberapa orang justru membalas dengan respons yang hangat.
Ini mengajarkan saya bahwa subscriber email lebih sabar dari yang saya kira, selama kamu jujur dan konten kamu memang bernilai.
Bulan Keenam: Tempat Saya Sekarang
Di bulan keenam, subscriber saya ada di angka 247. Open rate konsisten di 32-38%. Setiap email yang saya kirim rata-rata dibuka oleh 80-90 orang.
Saya belum punya produk untuk dijual. Saya belum menghasilkan income dari email list ini. Tapi saya punya sesuatu yang lebih penting saat ini: saya tahu bahwa ada sekitar 80-90 orang yang memang mau mendengar dari saya setiap minggu.
Itu modal yang nyata. Bukan modal finansial, tapi modal kepercayaan. Dan kepercayaan itu yang akan jadi pondasi apapun yang saya bangun ke depan.
Bagaimana Ini Bekerja di Kehidupan Saya
Saya membangun email list ini dengan rata-rata 2-4 jam seminggu. Satu jam untuk riset dan nulis draft, satu jam untuk revisi dan kirim, dan sisanya untuk membalas email dari subscriber yang membalas.
Ini bukan Daddy Freedom System yang besar atau rumit. Ini hanya satu kebiasaan mingguan yang saya jaga konsisten, meski kadang kondisinya tidak ideal.
Yang saya temukan setelah 6 bulan: proses yang paling berharga bukan jumlah subscriber yang tumbuh, tapi kejelasan yang muncul tentang apa yang benar-benar ingin saya bagikan dan untuk siapa.
Siapa yang Akan Dapat Manfaat Paling Besar?
Cocok kalau kamu: Daddy karyawan yang sudah punya satu topik yang kamu tahu lebih dalam dari rata-rata orang, tidak mencari income instan tapi mau membangun sesuatu paralel dengan pekerjaan utama, dan punya minimal 2 jam per minggu yang bisa didedikasikan secara konsisten.
Mungkin belum waktunya kalau: Kamu masih sangat baru sebagai ayah (bayi di bawah 6 bulan) dan belum punya ritme harian yang stabil, atau kamu sedang dalam tekanan finansial akut yang butuh solusi dalam hitungan minggu, bukan bulan. Email list bukan jalur income cepat, dan mendekatinya dengan ekspektasi itu hanya akan membuat kamu frustrasi dan berhenti.
Kalau Kamu Mau Mulai Hari Ini
Tidak ada yang perlu disiapkan lebih. Kamu bisa daftar MailerLite gratis sekarang, tulis email pertama, dan kirim ke 5 orang yang kamu percaya dan minta pendapat mereka. Itu permulaan yang sudah cukup.
Kalau mau saya ceritakan lebih banyak tentang prosesnya lewat email mingguan, termasuk update jujur tentang progres dan kesalahan yang saya buat, masuk ke newsletter Not A Perfect Daddy di sini.
Gabung Newsletter Not A Perfect Daddy →
Pertanyaan yang Sering Muncul
Harus mulai dari topik apa kalau saya tidak yakin mau bicara soal apa?
Ini pertanyaan yang sering muncul dan jawabannya lebih sederhana dari yang kelihatan: tulis tentang satu perubahan konkret yang kamu buat dalam 12 bulan terakhir dan kenapa itu berhasil. Tidak harus tentang bisnis atau investasi. Bisa tentang cara kamu atur jadwal kerja supaya bisa tetap hadir untuk anak. Bisa tentang kebiasaan membaca sebelum tidur yang mengubah cara kamu berpikir. Sesuatu yang spesifik dan nyata dari kehidupan kamu sendiri.
Apakah saya harus punya website dulu sebelum mulai email list?
Tidak. MailerLite dan Substack keduanya menyediakan halaman landing page untuk signup tanpa kamu perlu punya website sendiri. Website sendiri bagus untuk jangka panjang, tapi bukan prasyarat untuk mulai. Jangan biarkan “saya harus setup website dulu” jadi alasan tunda yang tidak perlu.
Bagaimana cara tidak terdengar aneh waktu minta orang untuk subscribe ke email saya?
Ganti cara framing-nya. Bukan “subscribe ke newsletter saya” tapi “saya bikin satu resource [topik] yang mungkin berguna buat kamu, mau saya kirimkan?” Yang pertama terasa seperti promosi. Yang kedua terasa seperti tawaran yang tulus. Orang jauh lebih mudah menerima tawaran yang tulus.
Apa yang harus saya lakukan kalau sudah 2 bulan tidak kirim email dan subscriber mungkin sudah lupa dengan saya?
Kirim email sekarang. Jangan tunggu waktu yang “tepat” karena tidak ada waktu yang tepat. Buka dengan jujur: “Saya absen beberapa waktu karena [situasi nyata]. Saya kembali dan minggu ini mau berbagi [topik yang relevan].” Kejujuran itu yang biasanya membuat orang tetap bertahan, bukan kesempurnaan jadwal.
Berapa banyak email yang perlu saya kirim sebelum mulai mendapat subscriber dari orang yang tidak saya kenal?
Tidak ada angka pasti, tapi dari pengalaman saya dan yang saya baca: biasanya setelah 10-15 email yang konsisten terkirim, konten kamu cukup matang untuk mulai disebarkan ke orang yang belum kenal kamu. Di titik itu, kamu sudah punya cukup konten untuk bisa meyakinkan orang asing bahwa kamu layak diikuti.

