Saya inget waktu pertama kali DM ke seseorang yang saya kagumi di Twitter. Saya ketik, hapus, ketik lagi, hapus lagi, dan akhirnya kirim sesuatu yang generik banget: “Konten kamu selalu inspiring, sukses terus ya.” Dia tidak balas. Dan saya tidak kaget, karena itu bukan conversation starter, itu tepuk tangan yang dikirim lewat inbox.

Bertahun-tahun setelah itu, saya baru paham bahwa yang salah bukan medannya, tapi caranya.

Banyak Daddy yang mulai membangun personal brand atau income tambahan akhirnya terjebak di satu titik: sudah buat konten, sudah posting rutin, tapi pertumbuhan terasa lambat karena tidak ada siapa-siapa yang kenal kamu. Algoritma tidak bisa menggantikan kepercayaan yang dibangun lewat koneksi manusia yang genuine. Dan networking yang genuine itu, ternyata ada framework-nya, bukan sekadar “jadilah diri sendiri dan semoga berhasil.”

Yang membuat saya terkejut adalah betapa berbedanya hasilnya ketika saya ganti pendekatan dari “gimana caranya kamu bisa bantu saya” ke “apa yang bisa saya berikan dulu sebelum minta apa-apa.”

Kenapa Networking Terasa Sales-y dan Bagaimana Cara Keluarnya

Kebanyakan orang melakukan networking seperti ini: kenalkan diri, ceritakan apa yang kamu kerjakan, minta sesuatu, harapkan balasan. Urutannya itu yang bermasalah, karena kamu meminta kepercayaan sebelum ada alasan untuk mempercayaimu.

Ada pola yang disebut aturan 70/20/10 dalam percakapan networking yang genuine. Ini bukan rumus kaku, tapi lebih ke komposisi yang wajar: 70% tentang orang yang kamu hubungi dan interest mereka, 20% tentang pengalaman atau situasi yang kalian punya bersama, dan hanya 10% tentang kamu. Kebanyakan orang yang networking dengan cara konvensional membalik ini: 70% tentang diri sendiri, sisanya basa-basi tentang orang lain. Dan orang yang menerima percakapan itu bisa merasakan bedanya.

Ini bukan soal manipulasi atau pura-pura. Ini soal urutan yang lebih manusiawi. Dan untuk Daddy yang kerja 2-4 jam per hari dan tidak punya waktu untuk networking yang buang-buang energi, pendekatan ini justru lebih efisien karena koneksi yang terbangun lebih tahan lama.

7 Langkah Non-Needy Networking

Langkah 1: Reach Out dengan Tujuan yang Jelas

Hubungi orang yang benar-benar menginspirasi kamu, atau yang kamu lihat ada potensi mutual benefit yang nyata, bukan sekadar orang besar yang kamu ingin follower-nya “tumpah” ke kamu. Tujuan yang jelas dari awal membuat percakapan terasa berbeda. Kamu tidak butuh apa-apa dari mereka saat itu, kamu hanya ingin terhubung dengan orang yang karyanya kamu hormati.

Langkah 2: Inspired Compliment yang Spesifik

Ini yang membedakan DM yang dibaca dari DM yang di-skip. Sebutkan sesuatu yang sangat spesifik dari konten atau karya mereka. Bukan “konten kamu bagus” tapi “artikel kamu tentang sistem batching konten itu yang saya coba minggu lalu dan ternyata yang step ketiga yang paling mengubah flow kerja saya.” Spesifisitas itu bukti bahwa kamu genuinely membaca, bukan sekadar nama-dropping.

Langkah 3: Show Interest, Bukan Kebutuhan

Tanya tentang apa yang sedang mereka bangun atau rencanakan. Tapi tanya karena kamu genuinely penasaran, bukan karena kamu butuh informasi untuk agenda kamu sendiri. Orang bisa merasakan perbedaan antara rasa ingin tahu yang genuine dan pertanyaan yang dibuat-buat sebagai jembatan menuju pitch.

Langkah 4: Lead with Value

Ini langkah yang paling banyak orang skip karena terasa aneh untuk memberi sebelum ada hubungan. Padahal ini justru yang membangun hubungan itu. Kalau kamu ketemu artikel, tool, atau resource yang relevan dengan project atau goals mereka yang baru saja mereka ceritakan, kirim. Tanpa minta apa-apa sebagai balasan. Kalimatnya bisa sesimple: “Tadi baca ini dan langsung kepikiran tentang yang kamu bilang soal [topik spesifik], mungkin relevan.”

Langkah 5: Tawaran Video Call (Opsional, tapi Powerful)

Ini tidak selalu diperlukan, terutama kalau kamu sedang membangun koneksi dengan orang yang hidupnya sibuk atau yang sudah punya banyak permintaan serupa. Tapi kalau kesempatan itu ada dan kamu rasa cocok, video call 20-30 menit memberikan kedalaman yang tidak bisa dibangun lewat teks.

Saya sendiri pernah beberapa kali ngobrol dengan orang yang sebelumnya hanya koneksi tekstual, dan perbedaan kedalamannya signifikan. Orang yang tadinya cuma “akun yang saya follow” berubah jadi seseorang yang saya benar-benar kenal dan mau bantu karena ada sejarah percakapan nyata.

Langkah 6: Follow Up Berbasis Memori

Ini yang membedakan networking yang genuine dari yang performatif. Ingat apa yang mereka ceritakan sebelumnya, dan kalau kamu ketemu sesuatu yang relevan, kirim dengan konteks. “Kamu pernah bilang lagi riset soal [topik] bulan lalu, kebetulan tadi baca ini…” Ini menunjukkan bahwa kamu hadir dalam percakapan, bukan sekadar antri untuk minta sesuatu.

Langkah 7: Ask Setelah Relationship Terbentuk

Barulah ada ask. Dan framing-nya tetap berbasis nilai yang sudah kamu berikan, bukan request dingin yang seolah melupakan semua percakapan sebelumnya. “Saya lagi eksplor ini, kira-kira kamu punya perspektif?” terdengar sangat berbeda dari “Bisa review karya saya?” padahal keduanya meminta hal yang serupa.

Mastermind: Cara Leverage yang Paling Underrated

Hampir semua creator yang tumbuh cepat ada di group chat kecil dengan creator lain di level yang sama. Bukan dengan orang besar yang mereka harap bisa “menarik naik”. Tapi dengan orang yang sedang berjuang di tantangan yang sama, karena justru di sana pertukaran yang paling genuine terjadi.

Setupnya sederhana: 3-5 orang, level follower atau stage yang mirip, mau saling berbagi strategi yang work secara real-time, dan sesekali saling support engagement konten satu sama lain. Bukan grup yang dipenuhi tangkapan layar income atau konten motivasional, tapi grup yang isinya “coba cara ini, hasilnya segini, kamu mau test juga?” dan “ada yang punya perspektif soal topik ini?”

Grup lebih dari 10 orang hampir selalu mati pelan-pelan karena koneksi yang genuine tidak bisa dibangun di antara terlalu banyak orang sekaligus. Keep it small, keep it genuine.

Bagaimana Ini Bekerja di Kehidupan Saya

Jujur, saya bukan orang yang natural dalam networking. Saya lebih nyaman kerja sendiri di belakang layar dan berharap konten yang bagus cukup berbicara sendiri. Ternyata tidak selalu begitu.

Yang saya coba sekarang adalah menyisihkan satu sesi kecil dalam seminggu, sekitar 15-20 menit, khusus untuk satu DM yang thoughtful ke seseorang yang kontennya genuinely berdampak ke saya minggu itu. Bukan target, bukan KPI, hanya satu percakapan yang saya mulai dengan curiosity, bukan dengan agenda. Beberapa dari percakapan itu tidak ke mana-mana, dan itu tidak apa-apa. Beberapa lainnya berkembang jadi pertukaran yang saya tidak antisipasi.

Yang paling menarik adalah pertemanan yang berkembang dari proses ini seringkali lebih valuable dari “hasil” yang saya bayangkan akan saya dapatkan dari networking.

Siapa yang Akan Dapat Manfaat Paling Besar?

Cocok kalau kamu: sudah mulai posting konten dan punya niche yang cukup jelas, tapi merasa pertumbuhan stagnan karena tidak ada orang yang kenal kamu di luar audiensmu sendiri. Juga cocok kalau kamu tipe yang introvert dan selama ini menghindari networking karena terasa performatif.

Mungkin belum waktunya kalau: kamu belum punya konten sama sekali atau belum ada kejelasan tentang apa yang kamu bangun. Networking tanpa ada sesuatu untuk dibagikan terasa lebih sulit karena lebih susah memberikan nilai yang spesifik ke orang lain.

Kalau Mau Dalami Lebih Jauh Tentang Membangun Sistem Koneksi yang Sustain

Saya sesekali menulis tentang topik-topik seperti ini di newsletter Not A Perfect Daddy, termasuk eksperimen kecil yang saya coba sendiri dan hasilnya, baik yang berhasil maupun yang tidak. Kalau kamu mau saya kirim langsung ke email kamu, masuk ke sini, gratis.

Gabung Newsletter Not A Perfect Daddy ->

Pertanyaan yang Sering Muncul

Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membangun koneksi yang genuine?

Tidak ada jawaban yang pasti, tapi yang saya temukan adalah bahwa 2-3 pertukaran yang substantif dengan satu orang dalam rentang 4-6 minggu biasanya sudah cukup untuk menggeser hubungan dari “akun yang saling follow” ke “orang yang saling kenal.” Ini bukan hitungan yang eksak, dan ada faktor chemistry yang tidak bisa dikontrol. Intinya, tidak usah terburu-buru. Satu koneksi per bulan yang berkembang jadi hubungan nyata lebih baik dari 20 kenalan yang tidak pernah lebih dari satu percakapan.

Bagaimana kalau orang yang saya DM tidak balas?

Kebanyakan tidak balas, dan itu normal. Orang-orang yang punya konten yang bagus sering menerima banyak pesan dan tidak selalu bisa merespons semuanya. Ini bukan penolakan personal, ini hanya kenyataan volume. Yang penting adalah kamu tidak kirim ulang dengan nada mendesak atau follow up yang terasa memaksa. Kalau setelah 2 minggu tidak ada balasan, move on ke orang berikutnya.

Apakah mastermind group harus formal dengan jadwal meeting rutin?

Tidak harus. Yang paling sustainable adalah grup yang organik, di mana orang berbagi kalau ada sesuatu yang menarik untuk dibagikan, bukan karena ada jadwal mandatory. Beberapa grup mastermind yang saya tau yang bertahan bertahun-tahun justru yang tidak terlalu banyak aturan formalnya. Yang mengikat mereka adalah genuine interest terhadap topik dan saling percaya, bukan struktur.

Bagaimana cara memulai kalau saya belum kenal siapa-siapa di niche saya?

Mulai dari replies. Komentari konten orang-orang yang kamu ikuti secara reguler, dan buat komentar yang bisa berdiri sendiri sebagai perspektif, bukan hanya pujian. Setelah beberapa minggu reply yang konsisten, kamu sudah membangun sedikit visibilitas dan familiar face sebelum DM langsung. Itu membuat langkah Reach Out di langkah 1 terasa lebih natural karena ada konteks percakapan sebelumnya.