Saya tidak ingat persis kapan pertama kali kepikiran ini. Tapi saya ingat momennya: sore hari, anak perempuan saya baru pulang dari sekolah, dan saya sedang di meja kerja dengan empat tab Chrome yang terbuka. Dia masuk kamar, ngomong sesuatu, dan saya jawab tanpa benar-benar dengar apa yang dia bilang. Dia keluar lagi. Selesai.
Bukan kejadian besar. Tidak ada drama. Tidak ada yang menangis. Tapi saya duduk di sana setelahnya dan ngerasa ada yang tidak beres.
Yang bikin lebih tidak enak: ini bukan pertama kalinya.
Saya sudah punya goals. Sudah tulis target income. Sudah pasang jadwal. Tapi entah kenapa, di momen-momen kecil seperti itu, sistem yang saya bangun tidak terasa cukup kuat untuk mendorong saya keluar dari mode autopilot.
Sampai akhirnya saya coba satu latihan yang, jujur, saya agak enggan lakukan karena rasanya tidak nyaman.
Bayangkan Versi Kamu yang Paling Tidak Mau Kamu Jadi
Namanya sederhana: Nightmare Daddy Exercise.
Bukan tentang goals. Bukan tentang mimpi. Justru sebaliknya.
Caranya: tulis jujur, di kertas, versi dirimu 5 tahun dari sekarang kalau tidak ada yang berubah mulai hari ini. Bukan versi yang sedikit lebih buruk. Versi yang benar-benar tidak mau kamu bayangkan.
Untuk saya, gambarannya seperti ini waktu pertama kali saya lakukan:
Masih stuck di jadwal yang sama. Kerja dari pagi sampai sore, tapi tidak jelas outputnya ke mana. Income tidak naik, tapi tagihan terus jalan. Anak-anak sudah lebih besar, sudah punya kesibukan sendiri, dan saya masih di meja yang sama dengan browser yang sama. Saya hadir secara fisik di rumah, tapi absen secara mental setiap kali ada yang penting terjadi.
Anak laki-laki saya yang sekarang 4 tahun, waktu itu sudah masuk SD. Saya tidak bisa ingat satu momen spesifik yang benar-benar saya hadir di dalamnya.
Saya tulis ini, lalu saya baca ulang.
Dan yang saya rasakan bukan sedih, bukan takut. Lebih ke… tidak mau. Secara harfiah tidak mau ini terjadi.
Ternyata rasa itu lebih kuat dari target apapun yang pernah saya tulis sebelumnya.
Target positif terasa inspiring di atas kertas, tapi sering kabur begitu hari-hari biasa datang. Tapi gambaran yang tidak mau terjadi itu lebih konkret, lebih visceral, dan lebih sulit untuk diabaikan.
Ini bukan soal negatif thinking. Ini soal menggunakan bahan bakar yang lebih jujur.
Kenapa Ini Bekerja Secara Psikologis
Saya bukan ahli psikologi, jadi saya tidak akan pura-pura menjelaskan mekanisme otak secara detail. Tapi dari pengalaman sendiri dan dari banyak percakapan dengan Daddy lain yang mencoba ini, ada pola yang konsisten.
Motivasi dari goals positif naik-turun. “Mau income segini,” “mau bisa kerja dari mana saja,” “mau lebih sering quality time dengan anak.” Semua terdengar bagus. Tapi di hari Selasa yang biasa-biasa saja, waktu badan capek dan ada distraksi dari mana-mana, goals positif itu terasa jauh.
Tapi rasa tidak mau jadi versi buruk itu, karena itu tentang sesuatu yang konkret dan dekat, cenderung lebih stabil.
Bukan untuk menakut-nakuti diri sendiri. Tapi untuk jujur dengan apa yang benar-benar penting.
Dua Mode Daddy yang Berbeda Hasilnya
Ada dua cara bereaksi terhadap gambaran Nightmare Daddy itu.
Cara pertama: tenggelam di sana. Ngerasa bersalah, ngerasa overwhelmed, lalu tidak bergerak sama sekali karena gambaran masalahnya terlalu besar. Kalau ini yang terjadi, latihan ini tidak sedang dipakai dengan benar.
Cara kedua: pakai gambaran itu sebagai titik tolak. Bukan untuk diratapi, tapi untuk ditolak. “Saya tidak mau ini terjadi. Jadi apa yang bisa saya mulai hari ini?”
Saya sebut ini perbedaan antara Daddy yang menunggu dan Daddy yang bergerak.
Yang menunggu punya pola yang familiar: tunggu gaji naik dulu, tunggu anak agak besar dulu, tunggu kondisi lebih baik dulu, tunggu ada waktu lebih. Minta validasi dari semua orang sebelum berani ambil satu langkah. Scroll konten orang yang sudah berhasil sambil bilang ke diri sendiri “nanti saya juga mau begitu.”
Yang bergerak mulai dari kondisi yang ada sekarang. Tidak tunggu sempurna. Ambil satu langkah kecil hari ini, lihat apa yang bisa dipelajari dari sana, lalu langkah berikutnya.
Nightmare Daddy Exercise membantu kamu berpindah dari mode pertama ke mode kedua. Karena waktu gambarannya cukup jelas dan cukup tidak enak, “nanti” mulai terasa seperti pilihan yang lebih mahal dari sekadar ketidaknyamanan mulai sekarang.
Bagaimana Ini Bekerja di Kehidupan Saya
Setelah pertama kali menulis Nightmare Daddy saya, saya tidak langsung berubah 180 derajat. Bukan begitu cara kerjanya.
Yang berubah adalah setiap kali saya mau prokrastinasi hal yang penting, saya punya sesuatu yang lebih konkret untuk diingat. Bukan “ingat targetmu.” Tapi lebih ke: “ingat versi yang tidak mau kamu jadi itu.”
Saya mulai lebih serius soal time blocking. Bukan karena termotivasi oleh target, tapi karena tidak mau hari-hari berlalu tanpa ada yang bergerak ke mana-mana. Dua sampai empat jam kerja yang terstruktur setiap harinya lebih menggerakkan daripada jadwal ambisius yang tidak pernah konsisten saya jalankan.
Saya mulai lebih intentional soal momen kecil bersama anak-anak. Bukan karena ada artikel parenting yang menginspirasi, tapi karena gambaran “hadir secara fisik tapi absen secara mental” itu terlalu dekat dengan kenyataan dan terlalu tidak enak untuk dibiarkan. Duduk di lantai main sama mereka tanpa HP di tangan terasa berbeda, dan mereka juga merasakannya, meskipun tidak pernah bilang apa-apa.
Ini masih proses, dan itu tidak apa-apa. Saya tidak bilang saya sudah selesai atau sudah sempurna. Ada hari-hari yang masih berat. Tapi sistemnya jalan karena ada sesuatu yang lebih dari sekadar keinginan abstrak.
Framework: Daddy Freedom System Dimulai dari Sini
Kalau kamu pernah dengar tentang Daddy Freedom System, backbone-nya adalah lima langkah: Clarity, Skill, Offer, Audience, Scale. Tapi yang sering terlewat adalah: semua langkah itu tidak akan bergerak kalau Clarity-nya belum ada.
Dan Clarity paling kuat tidak datang dari brainstorming goals. Datang dari jujur tentang apa yang tidak mau terjadi.
Nightmare Daddy Exercise adalah entry point ke Clarity. Bukan satu-satunya cara, tapi cara yang paling jujur yang pernah saya temukan.
Setelah kamu tahu versi yang tidak mau kamu jadi, langkah berikutnya jauh lebih mudah untuk diprioritaskan. Skill apa yang perlu dikuasai? Offer apa yang perlu dibangun? Sistem apa yang perlu jalan supaya waktu kamu tidak lagi habis hanya untuk hal-hal yang tidak bergerak?
Semua itu lebih mudah dijawab kalau kamu sudah jelas dengan “tidak mau”-nya.
Cara Melakukan Nightmare Daddy Exercise
Sederhana. Tidak perlu aplikasi, tidak perlu format khusus.
Ambil kertas dan pulpen. Tulis, dalam kalimat jujur, versi dirimu 5 tahun dari sekarang kalau tidak ada yang berubah mulai hari ini.
Beberapa pertanyaan yang bisa membantu:
- Anak kamu sudah berumur berapa? Kamu hadir di hidup mereka atau tidak?
- Income kamu naik, stagnan, atau turun?
- Kamu masih menghabiskan 2-3 jam sehari di jalan, atau sudah punya cara lain?
- Kamu masih menunggu kondisi sempurna untuk mulai, atau sudah mulai?
Baca ulang setelah selesai. Jangan cepat-cepat. Biarkan gambarannya masuk.
Kalau ada bagian yang bikin kamu tidak nyaman, bagian itu yang paling penting.
Satu Proyek Aktif yang Sedang Dibangun
Ada satu insight lain yang saya temukan setelah rutin melakukan latihan ini: otak Daddy yang tidak punya proyek aktif akan mencari masalah sendiri untuk dikhawatirkan.
Kecemasan tentang masa depan anak, soal income, soal karir, soal apakah pilihan yang dibuat sudah benar, sebagian besar itu bukan karena situasinya memang berbahaya. Tapi karena pikiran yang idle akan selalu mencari sesuatu untuk dijadikan fokus kecemasan.
Solusi paling praktis yang saya temukan: selalu ada satu hal yang sedang dibangun. Tidak harus besar. Bukan proyek ambisius yang butuh 2 tahun. Tapi sesuatu yang konkret, yang ada progresnya hari ini dan minggu depan.
Bisa newsletter yang sedang dibangun pembacanya. Bisa satu digital product yang sedang dalam proses. Bisa skill spesifik yang sedang diperdalam dan akan dipakai untuk sesuatu yang nyata dalam 3 bulan ke depan.
Ketika ada proyek aktif, pikiran punya order. Ada tempat untuk energi itu pergi. Dan waktu Nightmare Daddy Exercise itu dilakukan, ada juga pertanyaan yang lebih konkret: “Proyek yang sedang saya bangun ini, apakah cukup untuk menggerakkan saya menjauhi gambaran itu?”
Kalau jawabannya ya, teruskan. Kalau tidak, mungkin perlu dievaluasi apa yang sedang dikerjakan dan kenapa.
Cycles of Progress: Tidak Semua Fase Terasa Maju
Satu hal yang penting untuk disampaikan: ada fase-fase dalam perjalanan setiap Daddy di mana segalanya terasa kabur dan tidak jelas. Fase di mana kamu tidak tahu langkah selanjutnya dan semuanya terasa stuck.
Itu normal. Bukan tanda gagal.
Dari pengalaman saya sendiri dan dari banyak percakapan, perjalanan ini berjalan dalam siklus: ada fase bingung, lalu mulai explore solusi, lalu ada momen intensi dan eksekusi, lalu mulai ada ritme dan sistem yang jalan, lalu naik ke level baru dan bingung lagi dari awal.
Yang membedakan Daddy yang akhirnya sampai ke level berikutnya dengan yang tidak, bukan karena yang satu lebih berbakat atau lebih punya waktu. Bedanya di satu hal: mereka tidak berhenti di fase bingung.
Nightmare Daddy Exercise paling berguna justru di fase bingung ini. Karena waktu semua terasa tidak jelas dan tidak ada arah, gambaran yang tidak mau terjadi itu jadi kompas yang paling sederhana: “Saya tidak tahu ke mana harus pergi, tapi saya tahu saya tidak mau ke sana.”
Dari titik itu, satu langkah kecil ke arah apapun yang berlawanan dengan gambaran tersebut sudah merupakan progress nyata.
Kapan Ini Cocok, Kapan Belum Waktunya
Latihan ini paling efektif kalau kamu sudah cukup jujur dengan kondisi sekarang. Kalau kamu masih dalam mode defensif, masih meyakinkan diri sendiri bahwa “semuanya baik-baik saja,” hasilnya mungkin tidak akan begitu dalam.
Tapi kalau kamu sudah di titik di mana kamu tahu ada yang perlu berubah tapi belum ketemu bahan bakarnya, ini mungkin worth dicoba.
Ini juga bukan latihan sekali jalan. Saya kembali ke catatan ini beberapa bulan sekali, terutama waktu merasa mulai kehilangan arah atau kehilangan momentum.
Tidak Harus Sempurna untuk Mulai
Satu hal yang selalu saya ingatkan ke diri sendiri setelah latihan ini: kondisi tidak perlu sempurna untuk mulai membangun sistem yang lebih baik.
Nightmare Daddy itu gambaran yang tidak mau terjadi. Bukan gambaran yang pasti terjadi. Masih ada jarak antara sekarang dan sana. Dan jarak itu adalah ruang untuk bergerak.
Bukan sempurna. Tapi satu langkah lebih jauh dari kemarin sudah cukup.
Kalau kamu mau eksplorasi lebih dalam soal cara membangun sistem yang benar-benar jalan di tengah jadwal Daddy yang padat, saya tulis tentang ini lebih dalam di newsletter Not A Perfect Daddy. Daftar di daddy.co.id/newsletter.
FAQ
Apakah Nightmare Daddy Exercise bisa dilakukan berdua dengan pasangan? Bisa, tapi saya sarankan lakukan sendiri dulu. Output paling jujur datang waktu tidak ada yang perlu di-manage kesannya. Setelah kamu punya gambaran yang jelas, baru diskusikan.
Bagaimana kalau gambarannya terlalu gelap dan malah bikin tidak semangat? Kalau sampai ke titik itu, kemungkinan ada hal yang lebih dalam yang perlu diproses. Latihan ini seharusnya menggerakkan, bukan melumpuhkan. Kalau hasilnya yang kedua, mungkin butuh pendekatan yang berbeda dulu.
Apa bedanya Nightmare Daddy Exercise dengan overthinking? Overthinking tidak produktif dan tidak mengarah ke mana-mana. Latihan ini punya tujuan: mengidentifikasi gambaran yang tidak mau terjadi, lalu menggunakannya sebagai bahan bakar untuk bergerak. Ada output yang jelas di akhirnya.
Berapa sering idealnya mengulang latihan ini? Tidak ada aturan baku. Saya biasanya kembali ke sana setiap 2-3 bulan, atau kapanpun merasa kehilangan arah. Yang penting bukan frekuensinya, tapi kejujurannya setiap kali melakukannya.
Apakah ini relevan untuk Daddy yang masih karyawan dan belum punya bisnis sendiri? Sangat relevan. Bahkan mungkin lebih relevan, karena jarak antara kondisi sekarang dan gambaran yang tidak mau terjadi itu terasa lebih nyata. Latihan ini tidak butuh kamu jadi pemilik bisnis dulu.

