Saya inget waktu pertama kali coba kenalan sama orang yang saya kagumi di internet. Saya kirim DM, basa-basi dua kalimat, terus langsung nanya bisa kerja sama gak. Dibaca, gak dibalas. Dan saya gak salahin dia. Soalnya kalau saya jadi dia, saya juga gak akan balas.
Yang saya gak sadar waktu itu, orang bisa mencium niat kita dari kalimat pertama. Begitu mereka rasa kita cuma butuh sesuatu dari mereka, pintunya langsung ketutup. Buat Daddy karyawan yang lagi pelan-pelan coba bangun sesuatu di luar gaji, ini masalah nyata. Kamu gak punya banyak waktu, paling 2-4 jam di luar kerja dan keluarga, jadi tiap interaksi yang gagal itu kerasa banget. Makanya cara networking-nya harus bener dari awal.
Ada satu pendekatan yang saya pikir paling masuk akal buat orang yang sibuk dan gak suka jualan, namanya non-needy networking. Inti satu kalimatnya, kamu bangun koneksi dengan niat berteman dan kasih nilai dulu, bukan dengan niat minta-minta.
Kenapa Networking Biasa Bikin Capek dan Gak Jalan
Coba pikir, kenapa networking itu sering kerasa melelahkan? Karena kebanyakan dari kita melakukannya dengan logika transaksi. Saya kenalan, saya kasih sesuatu, saya harap dapat balasan. Jadi tiap kali kirim pesan, ada ekspektasi tersembunyi di belakangnya. Dan ekspektasi itu kebaca.
Ada riset kecil soal ini yang menurut saya menarik. Kebanyakan orang kalau ngobrol, 70 persen isinya tentang diri sendiri. Cerita pencapaian, cerita masalah, cerita rencana. Cuma sisanya yang tentang lawan bicara. Padahal yang bikin orang ngerasa nyaman itu justru kebalikannya, ketika mereka merasa didengar.
Buat Daddy yang baru mulai, ada satu jebakan lagi. Kita sering ngerasa harus punya sesuatu dulu, harus punya pencapaian dulu, baru berani kenalan sama orang. Padahal gak. Yang dibutuhkan bukan portofolio, tapi ketertarikan yang tulus sama orang lain. Itu yang gratis dan itu yang langka.
7 Langkah Non-Needy Networking
Ini bukan rumus kaku yang harus diikuti urut sampai mati. Ini lebih ke urutan logis yang bikin koneksi tumbuh natural. Anggap ini peta, bukan checklist.
1. Reach Out, Mulai dari Niat yang Bener
Pilih orang yang beneran menginspirasi kamu, atau yang kerjaannya kamu kagumi, atau yang ada kesamaan arah sama kamu. Bukan asal pilih orang yang followernya gede. Niat awal ini penting, soalnya kalau niatnya cuma karena dia terkenal, nanti ketahuan di obrolan.
2. Inspired Compliment, Pujian yang Spesifik
Ini bedanya orang yang beneran baca sama orang yang cuma mau dapet perhatian. Jangan bilang “konten kamu keren”. Bilang hal spesifik, misalnya “yang kamu tulis soal cara bagi waktu antara kerja dan anak itu kena banget, terutama bagian kamu berhenti merasa bersalah”. Itu nunjukin kamu beneran nyimak.
3. Show Interest, Tunjukkan Penasaran yang Tulus
Tanya soal rencana atau project mereka. Bukan basa-basi, tapi penasaran beneran. Apa yang lagi mereka bangun, kenapa mereka pilih jalan itu. Orang suka ditanya soal hal yang mereka peduli.
4. Lead with Value, Kasih Dulu Tanpa Minta Balasan
Ini langkah yang paling sering dilewat dan paling penting. Cari atau buat sesuatu yang membantu tujuan mereka, terus kirim. Tanpa minta apa-apa. Bisa artikel yang relevan, bisa kontak orang yang mereka cari, bisa input atas sesuatu yang lagi mereka kerjain. Yang penting kamu kasih dulu.
5. Get on a Call, Kalau Memungkinkan
Ini opsional, jadi gak usah dipaksa. Tapi kalau ada kesempatan video call, nilai koneksinya beda. Lima belas menit tatap muka bisa lebih dalam dari sebulan chat. Buat Daddy yang waktunya mepet, satu call singkat kadang lebih efisien daripada balas-balasan pesan seminggu.
6. Follow Up with Value, Inget Apa yang Mereka Cerita
Kalau di obrolan sebelumnya mereka cerita lagi cari sesuatu, dan kamu nemu itu, kirim. Sama konteksnya kenapa ini berguna buat mereka. Ini yang bikin orang inget kamu. Bukan karena kamu cerdas, tapi karena kamu nyimak dan inget.
7. Follow Up with an Ask, Baru di Sini Boleh Minta
Setelah relasi terbentuk, baru ada permintaan. Dan framing-nya tetap berbasis nilai yang sudah kamu kasih, bukan permintaan dingin yang muncul tiba-tiba. Bedanya, di titik ini kamu bukan orang asing lagi yang minta tolong, tapi teman yang udah saling kasih.
Aturan 70/20/10 yang Bikin Semua Beda
Kalau kamu cuma mau inget satu hal dari artikel ini, inget yang ini. Dalam tiap obrolan, jaga porsinya. 70 persen tentang mereka dan apa yang mereka peduli. 20 persen tentang pengalaman atau kesamaan yang kalian punya. Cuma 10 persen tentang kamu.
Kedengarannya gampang, tapi susah dipraktikkan. Soalnya naluri kita pengen cerita soal diri sendiri, pengen nunjukin kita layak. Tapi justru di situ bedanya. Orang yang bisa nahan diri buat lebih banyak nanya daripada cerita, itu yang diingat.
Saya sendiri masih belajar ini. Saya introvert, anak tunggal, gak pernah punya mentor beneran, jadi solo fighter dari dulu. Buat orang kayak saya, ngobrol itu effort. Tapi justru karena itu, aturan 70/20/10 ngebantu, karena saya gak perlu pinter ngomong, saya cukup pinter nanya dan dengerin.
Tabel Cepat: Bedakan Tujuan Networking Kamu
Banyak orang gagal karena nyampur dua hal yang sebenarnya beda. Ini perbandingannya biar jelas.
| Hal | Tujuan | Cara | Ekspektasi Realistis |
|---|---|---|---|
| DM manual / obrolan personal | Bangun relasi, validasi ide | 70/20/10, kasih nilai dulu | Beberapa teman beneran dalam 1-2 bulan |
| Konten yang dibagikan orang | Nambah audience | Bikin konten relatable | Pertumbuhan pelan tapi konsisten |
| Mastermind kecil | Saling support dan tumbuh | Grup 3-5 orang selevel | Akuntabilitas dan cross-promotion natural |
Lihat baris pertama. DM bukan alat buat naikin follower, itu alat buat bangun relasi. Jangan berharap DM bikin kamu viral. Dua hal beda, dua mekanisme beda.
Bagaimana Ini Bekerja di Kehidupan Saya
Dulu di masa multi-level dari 2011, saya sempat bimbing ribuan orang satu per satu, gratis. Anggap itu masa lalu, tapi ada satu hal yang nempel sampai sekarang. Yang paling berkesan dari ribuan orang itu bukan transaksinya, tapi beberapa pertemanan yang sampai sekarang masih jalan, padahal bisnisnya udah lama selesai. Pertemanan yang terjadi selama proses membangun itu sering lebih bernilai dari bisnis yang dibangun. Saya baru ngerti itu belakangan.
Sekarang dengan kondisi kerja 2-4 jam sehari, saya gak punya waktu buat networking yang transaksional dan melelahkan. Jadi saya pilih sedikit orang, saya kasih nilai dulu, dan saya gak buru-buru. Jujur, ini lebih lambat. Tapi yang nyangkut lebih awet.
Siapa yang Akan Dapat Manfaat Paling Besar?
Cocok kalau kamu: Daddy karyawan yang lagi pelan-pelan bangun sesuatu di luar gaji, introvert atau gak suka jualan, dan cuma punya 20-30 menit sehari buat ini. Kamu gak butuh audience besar buat mulai, cukup ketulusan dan kesabaran.
Mungkin belum waktunya kalau: Kamu lagi butuh hasil cepat bulan ini juga, atau kamu masih lihat orang sebagai daftar leads yang harus dikonversi. Pendekatan ini lambat di awal, dan kalau niatnya masih transaksi, orang akan kecium.
Kalau Mau Belajar Pelan Tapi Konsisten
Networking yang bener itu satu bagian kecil dari cara kerja cerdas, bukan kerja keras, buat Daddy yang mau income nyata tapi tetap hadir untuk anak. Saya nulis hal-hal kayak gini tiap minggu, pelan, jujur, dari apa yang saya coba sendiri.
Kalau mau saya kirim framework dan catatan praktis kayak gini langsung ke email kamu, masuk ke newsletter Not A Perfect Daddy di sini, gratis, dan saya kirim tiap minggu.
Gabung Newsletter Not A Perfect Daddy →
Pertanyaan yang Sering Muncul
Saya gak punya pencapaian apa-apa, apa orang mau saya ajak kenalan?
Mau, kalau kamu datang dengan ketertarikan yang tulus dan bukan minta-minta. Orang gak nilai kamu dari portofolio di obrolan pertama, mereka nilai dari apakah kamu enak diajak ngomong dan apakah kamu nyimak. Ketulusan itu gak butuh modal. Yang penting kamu kasih nilai dulu sebelum minta apa-apa, sekecil apapun nilainya.
Berapa banyak orang yang harus saya hubungi biar dapat hasil?
Lebih baik sedikit tapi dalam daripada banyak tapi dangkal. Saya lebih suka punya 5 koneksi yang beneran kenal saya daripada 50 yang cuma pernah saya sapa sekali. Buat awal, coba 1 kenalan baru per minggu dengan inspired compliment, terus rawat yang sudah ada. Kualitas relasi mengalahkan jumlah.
Gimana kalau saya kasih nilai terus tapi gak pernah ada balasannya?
Kalau setelah beberapa kali kasih nilai gak ada respons sama sekali, ya udah, lepas aja, gak usah dipaksa. Tapi jangan terlalu cepat ngerasa rugi, soalnya non-needy networking emang lambat, dan kadang balasannya datang berbulan kemudian dari arah yang gak kamu duga. Yang penting niat awalmu beneran kasih, bukan kasih sambil ngitung balasan.
Apakah ini bisa dilakukan cuma lewat chat, tanpa harus video call?
Bisa. Video call itu opsional, bukan wajib. Banyak relasi tumbuh bagus cuma lewat teks, terutama buat kamu yang waktunya mepet atau kurang nyaman tampil di kamera. Tapi kalau ada satu kesempatan call singkat 15 menit, itu sering bikin koneksi lebih dalam lebih cepat. Pilih yang sesuai kondisi kamu.

