Saya pernah duduk di depan laptop cukup lama, dengan halaman kosong di depan saya, dan coba nulis tentang apa yang bisa saya tawarkan ke orang lain.

Setiap kali saya tulis sesuatu, saya langsung hapus lagi karena satu pikiran yang terus muncul: “ini mah semua orang juga bisa.” Project yang saya kelola, masalah tim yang saya hadapi, cara saya belajar sesuatu yang ternyata salah total sebelum akhirnya nemu yang benar, semua itu terasa… terlalu biasa untuk dibagikan apalagi dijual.

Saya rasa banyak Daddy yang sering ada di titik yang sama. Bertahun-tahun kerja, sudah punya pengalaman yang tidak sedikit, tapi waktu ditanya “kamu ahli di apa?” atau “skill kamu apa yang bisa dikomersialisasi?”, tiba-tiba semua yang kita tahu terasa tidak cukup.

Ada nama untuk fenomena ini: curse of knowledge. Semakin kamu tahu sesuatu, semakin terasa biasa bagimu, karena kamu tidak ingat lagi bagaimana rasanya tidak tahu.

Ini yang Berubah di Cara Saya Memandang Pengalaman Sendiri

Perubahan terjadi waktu saya sadar satu hal: saya tidak sedang menjual kepada orang yang sudah setara dengan saya. Saya berbicara kepada orang yang sedang di titik yang saya sudah lewati 3-5 tahun lalu.

Dan di situlah pengalaman “biasa” itu jadi tidak biasa lagi.

Semua yang terasa sudah terlalu familiar bagimu, mulai dari cara kamu handle konflik di tim, cara kamu mengelola prioritas di tengah chaos, cara kamu belajar skill baru tanpa budget kursus besar, cara kamu recovering dari keputusan yang salah, semua itu adalah informasi yang sangat berharga bagi seseorang yang sedang menghadapinya untuk pertama kali.

Yang membuat perbedaan besar adalah bukan seberapa impressive pencapaianmu, tapi seberapa relevan perjalananmu dengan masalah yang sedang dihadapi orang lain.

Tiga Cara Melihat Pengalamanmu Dengan Sudut Pandang Berbeda

Tanyakan: “Pernah ada yang datang ke saya dengan pertanyaan ini?”

Ini cara paling sederhana untuk ukur apakah pengalamanmu bernilai. Kalau dalam 1-2 tahun terakhir ada rekan kerja, teman, atau saudara yang pernah datang ke kamu dengan pertanyaan tertentu, itu bukan kebetulan. Mereka datang karena secara instinktif mereka tahu kamu punya sesuatu yang relevan untuk masalah mereka.

Pertanyaan-pertanyaan itu adalah petunjuk tentang dimana nilai kamu dilihat oleh orang lain, bahkan kalau kamu sendiri tidak melihatnya.

Buat “Anti-Thesis” dari Pengalamanmu

Ini yang menarik. Banyak orang fokus pada apa yang berhasil dalam perjalanan mereka. Tapi yang sering lebih berharga adalah apa yang tidak berhasil, kenapa tidak berhasil, dan apa yang akhirnya mereka ubah.

Seseorang yang sudah pernah coba sesuatu dan gagal, lalu belajar dari kegagalan itu dan menemukan cara yang lebih baik, itu jauh lebih relevan bagi orang yang sekarang mau mencoba hal yang sama dibandingkan seseorang yang sukses tanpa hambatan dari awal.

Pengalaman “salah jalan” itu seringkali lebih langka dan lebih berharga daripada pengalaman “langsung berhasil.”

Rapikan Pengalamanmu Jadi Framework Sederhana

Ini langkah yang mengubah pengalaman menjadi sesuatu yang bisa dijual atau dibagikan secara sistematis. Ambil satu hal yang sudah kamu lakukan berulang kali, dan coba tulis dalam 3-5 langkah. Tidak harus sempurna, tidak harus lengkap, yang penting ada strukturnya.

Misalnya, kalau kamu sering dimintai saran soal cara naik jabatan di lingkungan kerja korporat, coba tulis: “Ini cara saya pikirkan soal itu, ada 4 hal yang saya perhatikan setiap kali saya evaluasi posisi seseorang di organisasi.”

Framework itu tidak harus original. Kamu tidak perlu menemukan sesuatu yang belum pernah ada di dunia. Yang perlu kamu lakukan adalah merapikan pengalaman nyata kamu ke dalam format yang bisa dikonsumsi orang lain, dan itu sendiri sudah punya nilai.

Bagaimana Ini Bekerja di Kehidupan Saya

Jujur, saya baru benar-benar percaya pada ini setelah melihatnya bekerja dalam skala kecil dulu. Bukan dari klaim besar.

Waktu saya mulai tulis tentang hal-hal yang saya pelajari dari pengalaman praktis di digital marketing, bukan teori dari buku atau kursus tapi hal-hal yang saya alami sendiri dan coba sendiri, itu yang pertama kali mendapat respons yang berarti. Orang merespons karena mereka merasa “oh, ini orang pernah di posisi yang saya hadapi sekarang.”

Tidak perlu pencapaian besar untuk memulainya. Yang perlu ada adalah keberanian untuk bilang “ini yang saya lihat dan alami,” bukan “ini yang kata buku harus dilakukan.”

Prosesnya tidak instan, dan saya tidak mau berlebihan tentang hasilnya. Tapi yang saya temukan adalah bahwa mulai membagikan pengalaman dengan cara yang jujur dan spesifik itu membuka percakapan yang tidak pernah saya prediksi sebelumnya. Dari percakapan itulah peluang-peluang kecil mulai muncul, satu langkah lebih jauh setiap kalinya.

Ketakutan yang Paling Umum (Dan Cara Saya Hadapi)

Ada satu keberatan yang hampir selalu muncul waktu saya ngobrol tentang ini dengan orang lain: “tapi ada orang yang lebih berpengalaman dari saya yang sudah nulis tentang hal yang sama.”

Iya, kemungkinan besar ada. Tapi orang itu bukan kamu. Dan perjalananmu bukan perjalanan mereka. Ada bagian dari pengalamanmu yang spesifik dan unik, bahkan kalau topiknya sama dengan yang sudah banyak dibahas orang lain.

Dan satu hal lagi: orang tidak selalu mencari yang paling ahli. Mereka sering mencari seseorang yang lebih mudah diidentifikasi, lebih terasa seperti mereka, lebih mudah diakses. Kalau kamu Daddy yang kerja di industri X dengan pengalaman Y tahun, ada Daddy lain yang persis di posisi yang sama 3 tahun lalu yang mungkin jauh lebih memilih belajar darimu daripada dari seseorang yang sudah terlalu “di atas.”

Siapa yang Akan Dapat Manfaat Paling Besar?

Cocok kalau kamu: sudah punya pengalaman kerja minimal 3-5 tahun di satu bidang, pernah membantu orang lain dengan expertise kamu meskipun tidak dibayar, dan mau mulai berpikir tentang bagaimana pengalamanmu bisa jadi sumber income tambahan, tapi masih ragu karena merasa “belum cukup ahli.”

Mungkin belum waktunya kalau: kamu baru saja mulai di bidang tertentu dan belum punya pengalaman nyata yang bisa dibagikan. Authenticity itu penting, dan konten atau layanan yang dibangun dari pengalaman yang belum ada justru bisa merusak kepercayaan yang sedang kamu bangun.

Kalau Kamu Mau Mulai Tapi Tidak Tahu dari Mana

Saya tulis soal ini di newsletter Not A Perfect Daddy, termasuk latihan sederhana untuk mengidentifikasi apa yang sebenarnya sudah kamu miliki dan bagaimana cara mulai membungkusnya. Kalau mau:

Kalau mau saya kirim framework sederhana ini langsung ke email kamu, masuk ke newsletter Not A Perfect Daddy di sini, gratis, dan saya kirim tiap minggu.

Gabung Newsletter Not A Perfect Daddy →

Pertanyaan yang Sering Muncul

Bagaimana cara memulai kalau saya tidak tahu harus mulai dari mana?

Mulai dari pertanyaan paling sederhana ini: dalam 2 tahun terakhir, topik apa yang sering orang tanya ke kamu? Bukan apa yang kamu rasa paling tahu, tapi apa yang orang lain secara organik datang ke kamu untuk tanya. Itu titik mulai yang paling natural, karena sudah ada permintaan nyata dari orang di sekitarmu.

Apakah saya perlu keluar dari pekerjaan dulu untuk mulai monetisasi skill?

Tidak. Justru lebih aman kalau tidak. Kamu bisa mulai kecil sambil masih kerja, karena kamu tidak ada tekanan finansial untuk langsung dapat klien besar. Income dari skill yang kamu monetisasi bisa dimulai dari proyek kecil, konsultasi 1-2 jam per minggu, atau konten yang pelan-pelan membangun reputasi. Itu bisa dilakukan pararel dengan pekerjaan utama.

Kalau saya share pengalaman di media sosial, apakah atasan saya tidak masalah?

Ini tergantung kontrak kerjamu dan kebijakan perusahaan. Yang perlu dihindari adalah berbagi informasi konfidensial atau spesifik tentang perusahaan tempat kamu kerja. Tapi berbagi cara berpikir, pendekatan, dan pelajaran dari pengalaman kerja secara umum biasanya aman dan bahkan kadang meningkatkan reputasi kamu di industri. Baca dulu kontrak kerja kamu untuk pastikan.

Bagaimana cara pricing jasa saya kalau saya belum pernah jual sebelumnya?

Mulai dari apa yang terasa adil untuk waktu kamu, bukan dari apa yang terasa “layak” dari sisi pencapaian. Kalau kamu mau mulai dengan sesi konsultasi 1 jam, hitung berapa nilai waktu kamu per jam di pekerjaan utama, dan jadikan itu sebagai anchor. Kamu tidak perlu murah untuk mendapat klien pertama, tapi jangan juga menetapkan harga yang membuat kamu tidak nyaman deliver-nya.

Gimana kalau saya sudah mulai tapi tidak ada yang merespons?

Kemungkinan satu dari dua hal: topiknya belum spesifik cukup untuk masalah yang dialami orang, atau distribusinya belum menjangkau orang yang tepat. Coba tanyakan kepada 2-3 orang yang kamu kenal di industri terkait, apakah konten atau tawaran kamu terasa relevan untuk masalah yang mereka hadapi. Feedback langsung dari orang nyata jauh lebih berharga dari analisis engagemen di awal.