Jawaban singkat

Kalau income tambahan kamu seret, jangan mulai dari ganti warna tombol atau permak desain. Mulai dari yang paling besar pengaruhnya: tawaranmu. Ada urutan yang benar untuk memperbaiki, dari pengungkit terbesar ke yang terkecil, dan kebanyakan orang malah melakukannya terbalik.

Saya mau ngomong ini agak tegas, karena ini kesalahan yang saya lihat berulang. Daddy yang baru mulai jualan, pas hasilnya kurang, refleks pertamanya hampir selalu ke hal kecil. Ganti warna tombol. Ganti font. Permak tampilan biar lebih cakep. Padahal itu bagian yang paling kecil pengaruhnya. Sementara hal yang paling menentukan, yaitu tawarannya sendiri, malah gak disentuh.

Ini bukan soal kamu malas atau kurang usaha. Ini soal salah urutan. Dan kabar baiknya, begitu urutannya bener, kamu gak perlu kerja lebih banyak, kamu cuma perlu kerja di tempat yang bener.

Kenapa urutan itu penting

Bayangin kamu lagi benerin keran bocor di rumah. Airnya netes terus, bikin tagihan naik. Terus kamu malah sibuk ngelap lantai yang basah berulang-ulang. Lantainya emang kering sebentar, tapi kerannya tetap netes. Kamu capek, hasilnya gak berubah.

Itu persis yang terjadi kalau kamu permak desain padahal yang bocor itu tawaranmu. Energimu kepakai, tapi sumber masalahnya gak kesentuh. Makanya hasilnya gak gerak-gerak.

Prinsipnya gini: perbaikan itu punya tingkatan pengaruh. Ada yang dampaknya gede banget, ada yang kecil. Kalau kamu mulai dari yang kecil, kamu buang waktu berminggu-minggu di hal yang cuma geser sedikit. Kalau kamu mulai dari yang gede, satu perbaikan aja bisa ngubah segalanya. Buat Daddy yang waktunya cuma 2 sampai 4 jam di sela kerja kantor dan ngurus bayi, ini bukan soal teori. Ini soal jangan buang waktu yang udah sedikit di tempat yang salah.

Urutan memperbaiki, dari yang paling besar

Ini tingkatannya. Kerjakan dari atas, jangan loncat ke bawah sebelum yang atas beres.

Pengungkit 1: Tawaran (paling besar)

Ini yang paling menentukan, sejauh ini. Tawaran itu mencakup: apa yang kamu jual, untuk siapa, harganya berapa, ada bonus apa, ada jaminan apa. Kalau tawaranmu lemah, gak ada permak desain yang bisa nolongin.

Tanya diri sendiri jujur. Apakah ini beneran nyelesaiin masalah yang orang rela bayar? Harganya masuk akal gak buat hasil yang dijanjiin? Ada gak alasan buat orang percaya, kayak jaminan kecil? Tawaran yang lemah bisa bikin cuma 1 dari 100 orang beli. Tawaran yang kuat bisa naik berlipat. Bedanya sebesar itu. Jadi kalau ada satu hal aja yang kamu benerin minggu ini, benerin ini.

Pengungkit 2: Pesan dan posisi

Setelah tawaran beres, baru ke cara kamu menyampaikannya. Apa sudut yang kamu pakai? Apa kamu ngomong ke masalah yang orang rasain, atau ngomong soal fitur yang kamu bangga? Ini soal apakah orang ngerasa “ini buat saya” dalam tiga detik pertama, atau langsung skip.

Pengungkit 3: Judul dan kalimat pembuka

Judul itu yang nentuin orang lanjut baca atau enggak. Orang lama bilang, sebagian besar keberhasilan tulisan jualan itu ada di judulnya. Coba bikin beberapa versi judul, jangan cuma satu, terus lihat mana yang bikin orang berhenti scroll. Ini pengungkit yang lumayan besar dan gampang dicoba.

Pengungkit 4 ke bawah: ajakan, bukti, lalu desain

Baru setelah tiga di atas beres, kamu turun ke hal yang lebih kecil: kalimat ajakan, susunan bukti, dan terakhir baru desain serta warna tombol. Desain itu penting, tapi pengaruhnya paling kecil dibanding semua di atasnya. Makanya dia di paling bawah daftar, bukan di atas.

Tabel urutan biar gampang diinget

Urutan Yang diperbaiki Seberapa besar pengaruhnya Kapan dikerjakan
1 Tawaran (produk, harga, jaminan) Paling besar Pertama, selalu
2 Pesan dan posisi Besar Setelah tawaran beres
3 Judul dan pembuka Cukup besar Mingguan, gampang dicoba
4 Ajakan dan susunan bukti Sedang Setelah 3 di atas
5 Desain dan warna tombol Paling kecil Paling terakhir

Aturan satu kalimat: jangan pernah ngutak-ngatik baris 5 kalau baris 1 belum kamu sentuh. Itu terbalik, dan itu yang bikin banyak orang muter di tempat.

Satu hal lagi: ubah satu, bukan semua sekaligus

Ini penting biar usahamu gak sia-sia. Kalau kamu ubah tawaran, judul, dan desain barengan terus tiba-tiba penjualan naik, kamu gak akan tahu yang mana penyebabnya. Jadi gak bisa kamu ulangi, gak bisa kamu kembangin.

Ubah satu hal aja tiap kali. Lihat efeknya. Catat. Baru pindah ke yang berikutnya. Buat Daddy sibuk, ini malah lebih ringan, karena kamu cuma fokus ke satu hal per minggu, bukan ngerombak semuanya sekaligus terus pusing sendiri.

Bagaimana ini bekerja di kehidupan saya

Saya pernah ngalamin sendiri godaan buat permak hal kecil duluan. Pas produk digital saya hasilnya belum sesuai harapan, gampang banget kepikiran “mungkin tampilannya kurang menarik”. Tapi pas saya jujur ngecek, masalahnya bukan di situ. Masalahnya di tawarannya, kurang jelas buat siapa dan kenapa harganya segitu.

Begitu saya benerin tawarannya dulu, perjelas untuk siapa dan apa hasilnya, baru hal-hal lain mulai masuk akal. Buat saya pelajarannya jelas: pasar yang mutusin, bukan selera saya. Saya bisa aja merasa desain saya udah bagus, tapi kalau angka bilang lain, ya angka yang bener. Ego saya gak relevan. Dan ini yang saya temukan, kerja cerdas, bukan kerja keras, di urusan jualan itu artinya benerin keran yang bocor dulu, bukan ngelap lantai berulang-ulang.

Siapa yang akan dapat manfaat paling besar?

Cocok kalau kamu: Daddy yang udah punya produk atau jasa kecil, udah jalan tapi hasilnya seret, dan sering bingung harus benerin apa duluan sampai akhirnya malah ngutak-ngatik hal kecil. Kamu punya waktu terbatas dan gak mau buang energi di tempat yang salah.

Mungkin belum waktunya kalau: Kamu belum punya tawaran sama sekali, masih di tahap mikirin mau jual apa. Kalau gitu, fokus dulu bikin tawaran pertamanya ada, baru nanti urusan memperbaiki. Gak ada yang bisa dioptimasi kalau belum ada yang jalan.

Kalau kamu mau urutan perbaikan yang lebih rinci

Saya sering bahas cara Daddy yang kerja kantoran benerin income tambahannya tanpa buang waktu, dengan urutan yang masuk akal buat orang sibuk, bukan teori marketing yang bertele-tele.

Kalau mau saya kirim hal-hal kayak gini langsung ke email kamu, masuk ke newsletter Not A Perfect Daddy di sini, gratis, dan saya kirim tiap minggu.

Gabung Newsletter Not A Perfect Daddy →

Pertanyaan yang sering muncul

Gimana cara tahu tawaran saya yang bermasalah, bukan yang lain?

Cara paling cepat, tanya beberapa orang yang mirip target kamu: kalau ini ditawarin ke kamu, kamu beli gak, kenapa? Kalau jawabannya banyak yang “kayaknya kemahalan” atau “saya gak butuh ini”, itu masalah tawaran, bukan desain. Kamu juga bisa lihat di mana orang berhenti: kalau banyak yang lihat tapi sedikit yang lanjut, kemungkinan besar tawaran atau pesannya yang kurang nendang.

Saya gak punya banyak pengunjung, masih bisa benerin?

Bisa mulai, tapi hati-hati nyimpulin. Dengan pengunjung sedikit, perubahan angka sering cuma kebetulan, bukan beneran lebih bagus. Jadi pakai akal sehat dan masukan langsung dari orang dulu, sambil pelan-pelan ngumpulin data. Jangan ambil kesimpulan besar dari lima orang doang, itu belum cukup buat dipercaya.

Berapa lama sampai keliatan hasil dari perbaikan tawaran?

Tergantung seberapa banyak orang yang lihat. Idealnya kamu kasih waktu satu sampai dua minggu, atau sampai cukup banyak orang yang merespons, baru nilai. Jangan dinilai cuma dari satu dua hari, karena hari per hari itu naik turun wajar. Yang penting kamu ngukur, bukan nebak dari perasaan.

Apa desain beneran gak penting sama sekali?

Penting, tapi pengaruhnya paling kecil dibanding yang lain, makanya dikerjain terakhir. Desain yang rapi dan gampang dibaca itu perlu, jangan sampai berantakan. Tapi desain cakep gak akan nyelametin tawaran yang lemah. Urutannya tetap: benerin yang besar dulu, baru poles yang kecil belakangan.