Saya pernah dua bulan penuh bikin konten side hustle yang isinya sama persis dengan lima akun lain yang saya follow. Tone-nya beda dikit, tapi pesannya sama, harga terjangkau, kualitas bagus, cocok untuk semua orang. Hasilnya ya gitu-gitu aja. Bukan jelek, cuma tidak ada yang berhenti scroll karena ngerasa ini beda.
Waktu itu saya baru sadar, masalahnya bukan di produk. Masalahnya, saya jualan di tengah keramaian, di kuadran yang paling ramai dari semua kuadran yang ada. Semua orang lomba jadi yang paling murah dan paling bagus, dan itu perlombaan yang capek karena selalu ada yang bisa lebih murah dari kamu besok.
Kenapa Kompetisi di Tengah Itu Melelahkan
Seth Godin, penulis buku marketing yang saya baca ulang tahun lalu waktu lagi cari cara bikin side hustle saya kelihatan beda, punya satu observasi yang nempel di kepala saya. Dia bilang, kebanyakan bisnis kecil berlomba di tengah spektrum nilai, murah dan populer, karena itu yang paling gampang dipahami. Tapi justru karena gampang dipahami, di situ juga paling ramai kompetitornya.
Bayangkan kamu jual kopi kemasan buat orang kantoran. Kalau posisi kamu cuma “kopi enak, harga terjangkau”, coba hitung berapa banyak akun lain yang bilang persis sama. Puluhan, mungkin ratusan. Pembeli tidak punya alasan kuat kenapa harus pilih kamu dibanding yang lain, selain kebetulan lihat kamu duluan di feed.
Yang bikin saya penasaran, band Grateful Dead, yang disebut Godin di bukunya, justru sukses besar karena posisi mereka aneh, bukan karena posisi mereka aman. Musik mereka kasar sekaligus rapi di waktu yang sama, dua sisi yang biasanya tidak digabung. Mereka cuma punya satu lagu di tangga top-40 selama 30 tahun karir, tapi tetap hasilkan ratusan juta dolar dari rekaman karena punya penggemar yang benar-benar terikat, bukan penggemar yang sekadar tahu nama mereka.
Cara Bikin Peta XY untuk Side Hustle Kamu
Ini bagian yang paling praktis, dan saya coba bikin sesederhana mungkin biar kamu bisa langsung praktik malam ini juga sambil nemenin anak main.
Langkah 1: Pilih Dua Pasang Nilai yang Relevan
Pikirkan dua pasang nilai yang berlawanan dan relevan buat kategori produk kamu. Kalau kamu jual jasa desain, pasangan pertama bisa “cepat lawan detail”, pasangan kedua bisa “terjangkau lawan premium”. Kalau kamu jual makanan rumahan, bisa “praktis lawan otentik” dan “harga hemat lawan bahan premium”.
Jangan pilih pasangan nilai yang terlalu abstrak seperti “baik lawan buruk”. Itu bukan pasangan nilai, itu penilaian. Yang kamu cari adalah dua kualitas yang sama-sama valid, cuma beda arah.
Langkah 2: Gambar Sumbu, Taruh Kompetitor
Gambar garis horizontal untuk pasangan pertama, garis vertikal untuk pasangan kedua. Sekarang, ambil 5 sampai 10 kompetitor atau akun sejenis yang kamu tahu, dan taruh mereka di titik yang paling menggambarkan posisi mereka.
Yang biasanya kejadian, sebagian besar akan menumpuk di satu area, biasanya area tengah-bawah, yang artinya terjangkau dan praktis. Itu area yang paling ramai karena paling mudah dipahami orang.
Langkah 3: Cari Kuadran yang Kosong, Lalu Tanya Bisa Gak Kamu Isi
Setelah lihat di mana kompetitor menumpuk, cari kuadran yang masih kosong atau sepi. Lalu tanya ke diri sendiri, apa produk atau jasa saya bisa jujur diposisikan di sana, bukan cuma diklaim doang.
Contohnya, kalau semua kompetitor kopi kemasan bilang praktis dan murah, mungkin posisi kosong ada di “otentik dan personal”, misalnya kopi dengan cerita asal biji dan proses roasting yang kamu jelaskan sendiri lewat konten. Bukan berarti kamu harus jadi mahal, tapi kamu punya alasan lain buat orang pilih kamu selain harga.
| Kuadran | Contoh Posisi | Risiko | Cocok Untuk |
|---|---|---|---|
| Murah + Praktis | Kebanyakan kompetitor ada di sini | Perang harga, margin tipis | Volume tinggi, modal besar |
| Premium + Praktis | Cepat tapi berkualitas tinggi | Butuh sistem operasional rapi | Kamu yang sudah punya proses matang |
| Murah + Detail | Terjangkau tapi personal | Butuh waktu lebih banyak per pembeli | Side hustle kecil, jam kerja terbatas |
| Premium + Detail | Eksklusif dan personal | Pasar lebih kecil, tapi loyal | Kamu dengan cerita atau skill unik |
Posisi Sudah Ketemu, Lalu Ngomongnya Gimana
Nemuin kuadran yang kosong itu setengah jalan doang. Setengah lagi, cara kamu jelasin posisi itu ke calon pembeli harus nyambung sama apa yang mereka sudah percaya, bukan malah nyiptain kepercayaan baru dari nol.
Godin cerita soal J.C. Penney, toko ritel Amerika yang gantiin CEO baru, dan CEO itu mikir kupon belanja itu murahan, jadi dia hapus semua kupon dari toko. Yang dia tidak paham, orang yang belanja di sana punya keyakinan, “orang seperti kami belanja pakai kupon, itu tandanya kami pintar belanja, bukan tanda kami miskin”. Begitu kuponnya dihapus, penjualan langsung turun separuh dalam waktu singkat, dan CEO itu akhirnya dipecat, kuponnya dikembalikan.
Pelajarannya buat side hustle kamu, setelah nemu posisi di peta XY, jangan cerita posisi itu pakai bahasa yang kamu suka, tapi pakai bahasa yang sudah dipercaya calon pembeli kamu. Kalau posisi kamu “otentik dan personal” buat kopi kemasan, jangan malah promosinya penuh istilah teknis roasting yang orang awam tidak paham. Cerita dengan bahasa yang bikin mereka merasa, “oh ini memang untuk orang kayak saya”.
Cara paling gampang cek ini, baca ulang komentar atau chat dari pembeli kamu sendiri. Kalau ada kata atau frasa yang berulang muncul dari mereka, pakai kata itu di caption dan deskripsi produk kamu. Itu tandanya kamu ngomong dalam bahasa yang mereka sudah pakai, bukan bahasa yang kamu paksa mereka pelajari.
Kapan Perlu Cek Ulang Posisi Kamu
Positioning bukan sekali jadi lalu selesai. Ada beberapa tanda yang biasanya muncul kalau posisi kamu perlu dicek ulang.
Tanda pertama, makin banyak akun baru yang muncul dengan pesan mirip kamu. Kalau kuadran yang tadinya sepi mulai ramai, itu artinya waktunya geser sedikit atau perdalam sisi yang paling sulit ditiru, biasanya cerita personal kamu sendiri. Tanda kedua, kamu sendiri merasa bosan menjelaskan produk dengan kalimat yang sama terus-terusan. Itu kadang sinyal posisi kamu sudah tidak sepenuhnya jujur mewakili siapa kamu sekarang.
Tanda ketiga, dan ini yang paling sering saya alami, feedback dari pembeli mulai berubah. Dulu orang bilang mereka suka karena harga, sekarang mereka mulai bilang suka karena ceritanya. Itu artinya posisi kamu sebenarnya sudah bergeser secara alami, dan kamu cuma perlu sadar dan mempertegas ke arah yang sudah mulai terjadi itu.
Bagaimana Ini Bekerja di Kehidupan Saya
Saya sendiri pernah coba ini waktu mikirin cara jelasin apa yang saya kerjakan lewat konten daddy.co.id. Ternyata banyak konten seputar Daddy dan side hustle isinya soal motivasi cepat kaya atau tips generik. Saya coba geser ke posisi yang lebih jujur, konten dari Daddy yang kerjanya juga 2-4 jam kerja, bukan Daddy yang sudah sukses besar dan lupa gimana rasanya capek habis kerja kantor terus harus mikirin anak.
Bukan posisi yang paling ramai, tapi posisi yang bikin orang yang situasinya sama kayak saya merasa, oh ini yang saya cari. Itu bedanya antara ngomong ke semua orang dan ngomong ke orang yang tepat.
Siapa yang Akan Dapat Manfaat Paling Besar?
Cocok kalau kamu: sudah punya produk atau jasa yang jalan, tapi merasa konten kamu mirip banget dengan kompetitor lain dan sulit menjelaskan kenapa harus pilih kamu.
Mungkin belum waktunya kalau: kamu masih di tahap validasi ide dan belum tahu apakah produknya laku sama sekali. Selesaikan validasi dulu, positioning bisa nyusul.
Kalau Kamu Mau Bikin Sistem Side Hustle yang Jalan Tanpa Nyita Waktu Keluarga
Peta XY ini cuma satu bagian kecil dari cara saya bangun income tambahan sambil tetap kerja cerdas, bukan kerja keras. Saya tulis lebih dalam soal ini, termasuk cara saya atur waktu supaya tetap bisa hadir untuk anak, di newsletter Not A Perfect Daddy.
Gabung Newsletter Not A Perfect Daddy →
Pertanyaan yang Sering Muncul
Kalau saya sudah coba posisi tertentu tapi tidak jalan, apa artinya posisinya salah?
Belum tentu. Bisa jadi posisinya benar tapi cara komunikasinya belum konsisten, atau audiens yang kamu jangkau belum tepat. Cek dulu apakah kamu sudah jelaskan posisi itu berkali-kali dengan cara yang sama sebelum menyimpulkan posisinya yang salah.
Bagaimana kalau kompetitor saya juga mulai geser ke kuadran yang saya pilih?
Itu wajar, dan biasanya tanda posisi kamu memang menarik. Yang bisa kamu lakukan, perkuat cerita personal dan pengalaman kamu di posisi itu, karena itu yang paling sulit ditiru orang lain.
Apakah peta XY ini cuma buat produk fisik atau bisa juga jasa dan konten?
Bisa dipakai untuk apa saja, termasuk personal brand. Sumbu nilainya cuma perlu disesuaikan, misalnya untuk konten bisa “santai lawan serius” dan “teoretis lawan praktik langsung”.
Saya bingung pilih dua pasang nilai yang tepat, ada caranya?
Cara paling mudah, baca ulang 10 komentar atau pesan dari calon pembeli kamu, lihat kata-kata apa yang sering mereka pakai buat menjelaskan apa yang mereka cari. Dari situ biasanya muncul pasangan nilai yang relevan.
Apakah ini perlu dikerjakan sendiri atau bisa dibantu tools AI?
Bisa dibantu, misalnya minta AI list kompetitor berdasarkan kata kunci, tapi keputusan menaruh posisi di peta tetap butuh penilaian kamu sendiri karena itu soal rasa dan pengamatan langsung ke pasar kamu.

