Saya pernah tanya ke beberapa orang yang punya newsletter, pertanyaannya sederhana: kalau ada orang yang baru pertama kali sampai ke Substack kamu, apa yang mereka akan temukan di sana?
Jawabannya rata-rata sama: artikel-artikel yang sudah pernah ditulis.
Dan itu problem yang cukup serius, sebetulnya.
Karena begini, bayangkan kamu sedang cari newsletter baru di Substack. Kamu browse, kamu klik salah satu. Landing di homepage-nya. Dan yang pertama kamu lihat adalah… artikel nomor terbaru, yang kamu tidak tahu konteksnya, tidak tahu relevan buat kamu atau tidak, tidak tahu apakah penulisnya orang yang layak kamu ikuti atau tidak.
Kemungkinan besar kamu pergi dalam 10 detik.
Nah, ini masalah yang bisa diselesaikan dengan satu halaman. Satu post yang di-pin di posisi paling atas. Dan sebagian besar newsletter tidak punya ini, atau punya tapi isinya generik dan tidak ada tenaganya sama sekali.
Kalau kamu sedang bangun newsletter, khususnya newsletter yang ingin jadi salah satu cara untuk nambah income sambil tetap bisa hadir untuk anak, ini adalah halaman yang paling perlu kamu urus duluan.
Saya mau breakdown strukturnya.
Kenapa Pinned Post Itu Sales Page, Bukan Artikel Biasa
Sebelum masuk ke strukturnya, saya perlu luruskan dulu mindset-nya.
Pinned post bukan artikel. Bukan tempat kamu nulis konten informatif yang enak dibaca. Ini lebih mirip mini sales letter. Halaman yang tugasnya satu: meyakinkan orang yang baru datang bahwa mereka ada di tempat yang tepat.
Dan berbeda dari artikel, pinned post ini tidak akan pernah “expired”. Artikel punya shelf life, tapi pinned post relevan selama newsletter kamu masih jalan.
Implikasinya: kamu perlu luangkan waktu yang proper untuk menulisnya. Ini bukan tulisan 30 menit yang kamu bikin karena butuh konten cepat.
7 Seksi dalam Pinned Post yang Benar
Seksi 1: Welcome — Kamu Ada di Tempat yang Tepat
Buka dengan konfirmasi. Siapapun yang baru sampai ke newsletter kamu, mereka butuh tahu dalam 2-3 kalimat apakah mereka nyasar atau ada di tempat yang benar.
Bukan intro panjang tentang siapa kamu. Bukan cerita panjang. Cukup: newsletter ini untuk orang seperti ini, dan kalau kamu adalah orang seperti itu, kamu ada di tempat yang tepat.
Simple tapi banyak yang lupa ini.
Seksi 2: Siapa Pembaca Ini
Nama sebanyak 2-3 sub-tipe pembaca yang kamu tuju. Spesifik, bukan generik.
Kalau kamu tulis newsletter untuk Daddy karyawan yang mau nambah income, jangan bilang “untuk siapa saja yang mau sukses secara finansial.” Terlalu luas. Bilang: untuk karyawan yang baru punya anak pertama dan mulai sadar bahwa gaji itu tidak cukup tapi tidak tahu harus mulai dari mana. Atau: untuk Daddy yang kerja 8 jam sehari tapi mau punya side income yang tidak butuh 8 jam lagi.
Semakin spesifik kamu naming pembacamu, semakin besar kemungkinan mereka merasa “eh, ini gue banget.”
Seksi 3: Masalah Terbesar Mereka
Ini yang banyak orang skip padahal krusial.
Orang tidak akan peduli sama solusi yang kamu tawarkan sampai mereka merasa dulu bahwa masalah mereka itu nyata, relevan, dan dimengerti oleh kamu.
Jadi sebelum cerita tentang konten newslettermu, cerita dulu tentang masalah pembacamu. 3-5 poin pain point spesifik yang kamu tahu dirasakan oleh orang-orang yang kamu tuju.
Kalau kamu nulis ini dengan tepat, orang yang baca akan merasa seperti kamu sedang ngebahas situasi hidup mereka secara persis.
Seksi 4: Nilai Berulang Newsletter Kamu (Yang Paling Penting)
Menurut saya ini seksi terpenting dari seluruh pinned post.
Pertanyaannya: setiap kamu publish, kamu kasih apa ke pembaca? Bukan tema umum. Tapi apa yang konkret dan bisa mereka harapkan ada di setiap edisi?
Ini yang sering kabur di banyak newsletter. “Saya nulis tentang produktivitas” itu terlalu umum. Yang lebih kuat: “Setiap Senin saya kasih satu framework yang bisa kamu coba dalam 2-4 jam kerja di minggu ini, lengkap dengan template siap pakai.”
Itulah yang orang sebut sebagai tangible, repeatable value. Sesuatu yang konkret, bisa diekspekasikan, dan berulang setiap edisi.
Ini juga yang nanti mempengaruhi apakah orang akan stay sebagai subscriber jangka panjang. Kalau mereka tahu apa yang akan mereka dapat setiap minggu dan itu relevan untuk mereka, mereka tidak akan unsubscribe.
Seksi 5: Siapa Kamu
Baru setelah 4 seksi di atas, kamu boleh cerita tentang dirimu.
Kenapa urutannya begini? Karena orang lebih peduli pada diri mereka sendiri dulu sebelum peduli pada siapa kamu. Kalau kamu buka pinned post dengan autobiografi panjang, kebanyakan orang akan scroll atau pergi.
Tapi setelah mereka merasa “oke, newsletter ini relevan buat saya, problem saya dimengerti, dan nilai yang ditawarkan masuk akal,” barulah mereka ingin tahu: siapa yang ada di balik semua ini?
Di seksi ini cukup: nama, latar belakang relevan, kenapa kamu yang layak bicara tentang topik ini, dan kalau relevan, link ke hal lain yang pernah kamu buat.
Seksi 6: Popular Posts (Skip Kalau Baru Mulai)
Kalau newsletter kamu baru jalan dan artikel masih di bawah 10, skip seksi ini dulu. Isi nanti.
Kalau sudah punya library yang cukup, ini penting: orang yang baru datang tidak tahu harus mulai dari mana. Kamu perlu guide mereka ke 3-5 artikel terbaik atau paling representatif.
Bukan semua artikel yang pernah kamu tulis. Pilih yang paling bisa mewakili suara dan konten newsletter kamu.
Seksi 7: CTA — Langkah Selanjutnya
Tutup dengan satu permintaan yang jelas.
Kalau newsletter kamu pure free: minta mereka subscribe kalau belum.
Kalau ada versi paid: jelaskan bedanya free vs paid dan kenapa worth it untuk upgrade.
Kalau ada produk atau layanan lain: link dari sini, bukan semua sekaligus tapi yang paling relevan.
Dan kalau belum punya apa-apa: tidak apa-apa. Fokus dulu bangun newsletter-nya, CTA-nya cukup “subscribe dan nantikan edisi berikutnya.”
Cara Saya Pakai Framework Ini
Saya sendiri pernah punya newsletter yang pinned post-nya tidak ada. Beneran, homepage-nya langsung artikel terbaru. Dan waktu saya cek analytics, bounce rate-nya tinggi, orang masuk dan pergi dalam hitungan detik.
Setelah saya bikin pinned post dengan 7 seksi ini, ada perbedaan yang terasa. Orang yang subscribe tidak langsung unsubscribe dalam seminggu pertama, karena mereka sudah tahu apa yang mereka masuk dan apa yang akan mereka dapat.
Yang perlu saya jujurkan: menulis pinned post yang proper itu tidak bisa dikerjakan dalam 30 menit. Saya habiskan mungkin 2-3 jam untuk versi pertama saya, dan itu pun masih saya revisi beberapa kali setelahnya. Tapi ini investasi waktu yang worth it karena halaman ini bekerja terus 24 jam setelah kamu publish.
Kapan Ini Cocok / Belum Waktunya
Framework ini cocok untuk kamu kalau:
- Kamu sudah tahu dengan jelas siapa target pembaca newsletter kamu
- Kamu sudah tahu apa yang akan kamu berikan secara konsisten di setiap edisi
- Newsletter kamu sudah live atau sedang dalam proses setup
Ini belum waktunya kalau:
- Kamu belum punya clarity tentang topik atau pembaca newsletter kamu. Pinned post yang bagus dimulai dari clarity tentang untuk siapa newsletter ini. Kalau itu belum ada, pinned post-nya pun akan tidak fokus.
Tentang Efisiensi Waktu
Salah satu hal yang saya pelajari dalam proses membangun newsletter dengan constraint waktu 2-4 jam sehari adalah: tidak semua konten membutuhkan effort yang sama.
Artikel weekly itu berulang, tapi pinned post itu one-time effort dengan impact jangka panjang. Logikanya sama seperti Daddy Freedom System yang saya terapkan di hidup saya: kerjakan hal yang effort-nya terbatas tapi hasilnya terus berjalan.
Pinned post adalah salah satu dari hal-hal itu.
Kalau kamu mau setup newsletter yang benar dari awal, atau mau rebuild fondasi newsletter yang sudah jalan tapi belum optimal, saya tulis tentang ini lebih dalam di newsletter Not A Perfect Daddy. Daftar di daddy.co.id/newsletter.
FAQ
Apakah saya harus update pinned post secara berkala? Tidak harus sering, tapi ada beberapa trigger yang worth it untuk update: kalau fokus newsletter kamu berubah, kalau kamu punya penawaran baru yang relevan, atau kalau kamu sudah punya enough popular posts untuk ditambahkan ke seksi 6. Selebihnya, biarkan saja.
Pinned post di Substack itu di-index Google tidak? Ya, Substack pages bisa di-index. Tapi jangan tulis pinned post dengan mindset SEO. Tulis untuk orang yang sudah sampai di halamanmu, bukan untuk orang yang belum tahu kamu ada.
Boleh tidak pinned post ditulis dalam Bahasa Indonesia kalau newsletter saya untuk pasar lokal? Jelas boleh. Bahkan disarankan kalau target pembacamu adalah orang Indonesia. Bahasa yang sama dengan pembaca = koneksi yang lebih natural dari awal.
Apakah semua 7 seksi harus ada di versi pertama? Tidak semua. Seksi 6 (popular posts) bisa ditambah nanti. Yang wajib dari awal: welcome, siapa pembaca, masalah mereka, nilai berulang, siapa kamu, dan CTA. Itu 6 dari 7, dan sudah cukup kuat untuk mulai.
Berapa lama waktu yang realistis untuk menulis pinned post yang layak? Kalau kamu sudah punya clarity tentang newsletter kamu, 2-3 jam untuk draft pertama adalah normal. Bukan sesuatu yang bisa dikerjakan sambil lalu. Blok waktu khusus untuk ini.

