Saya inget waktu kelas 4 SD. Ada pelajaran olahraga dan guru kasih tugas ke dua anak paling atletis di kelas untuk pilih tim masing-masing. Satu per satu nama dipanggil sampai tinggal tiga orang yang belum dipilih. Saya salah satunya.

Bukan cerita paling menyedihkan di dunia. Tapi ada pelajaran dari momen itu yang saya baru pahami bertahun-tahun kemudian.

Dua kapten tim itu tidak bodoh. Mereka tidak pilih berdasarkan rasa kasihan atau urutan alfabet. Mereka pilih berdasarkan satu pertanyaan sederhana: siapa yang paling mungkin bikin tim saya menang? Mereka pilih 2-3 orang terbaik duluan, dan sisanya baru belakangan.

Itu adalah logika power law yang paling polos yang pernah saya lihat.

Power Law Itu Sederhana, Tapi Sering Kita Abaikan

Prinsip power law mengatakan ini: dalam hampir semua sistem, sebagian kecil dari total elemen menghasilkan sebagian besar dari total hasil.

Di bisnis: 10% dari produk kamu menghasilkan 90% dari revenue. Di konten: 10% dari konten yang kamu buat menghasilkan 90% dari jangkauan. Di jaringan: 10% dari orang yang kamu kenal menghasilkan 90% dari peluang yang datang ke kamu.

Ini bukan teori yang perlu dibuktikan. Ini pola yang berulang di hampir semua tempat kalau kamu mau lihat datanya.

Masalahnya adalah secara naluri, kebanyakan orang, termasuk saya di awal, bereaksi terhadap power law dengan cara yang salah. Ketika tahu 10% menghasilkan 90%, respons intuitifnya adalah “berarti saya harus tambah effort supaya 90% yang lain juga jadi produktif”. Bukan “berarti saya harus temukan 10% itu lebih cepat dan fokus di sana”.

Kenapa Daddy Karyawan Sangat Perlu Pahami Ini

Kamu tidak punya waktu unlimited. Saya tidak punya waktu unlimited. Kalau kamu kerja 8 jam sehari, punya anak kecil di rumah, dan coba bangun income sampingan, waktu yang kamu punya untuk eksperimen itu sangat terbatas.

Ini beda dari situasi orang yang full-time jadi creator atau entrepreneur. Mereka bisa coba 20 hal dan lihat mana yang bekerja. Kamu mungkin hanya punya kapasitas untuk coba 3-4 hal secara serius sebelum kamu lelah dan menyerah.

Ini artinya efisiensi eksperimen jauh lebih penting untuk Daddy karyawan daripada untuk orang yang full-time di game ini.

Logika power law memberi kamu framework untuk itu. Alih-alih coba segalanya sedikit-sedikit, kamu bisa desain eksperimen kecil yang cepat, ukur hasilnya, dan secepatnya shift resource ke yang menunjukkan tanda-tanda paling bagus.

Bagaimana Mengaplikasikan Ini dalam Praktik

Saya bukan sedang kasih framework yang terdengar canggih tapi susah dipakai. Ini adalah cara praktis yang bisa langsung dicoba.

Untuk Konten

Kalau kamu sudah pernah posting minimal 20-30 konten di satu platform, buka analytics kamu sekarang. Urutkan berdasarkan reach atau engagement tertinggi. Lima teratas itu adalah sinyal kuat tentang apa yang audiens kamu nilai.

Bukan berarti 5 konten itu harus kamu ulang terus kata per kata. Tapi angle, format, atau topiknya adalah panduan untuk konten berikutnya. Kalau konten tentang “cara saya manage waktu sambil anak sakit” dapat 10x reach dari rata-rata konten kamu, itu sinyal bahwa angle personal + konteks parenting bekerja untuk audiens kamu.

Buat 5 konten berikutnya dengan variasi dari angle yang terbukti itu. Bukan coba-coba format baru yang belum ada datanya.

Untuk Ide Produk atau Jasa

Sebelum invest waktu panjang membuat produk, lakukan apa yang disebut “explore cepat”. Keluarkan 5-7 ide produk atau jasa yang mungkin kamu bisa tawarkan. Test minimal setiap ide: share tentang topiknya di konten, lihat mana yang dapat paling banyak pertanyaan atau respons “ini berguna”.

Fokus resources kamu ke ide yang dapat respons terkuat, bukan ke ide yang secara teori terdengar paling bagus di kepala kamu.

Untuk Platform

Kalau kamu baru mulai, jangan coba hadir di Instagram, TikTok, LinkedIn, dan YouTube sekaligus. Pilih satu yang paling sesuai dengan cara kamu berkomunikasi secara natural, habiskan 3 bulan di sana dengan konsistensi, dan ukur hasilnya.

Setelah ada tanda-tanda traction di satu platform, barulah repurpose konten ke platform lain. Tidak perlu buat ulang dari nol.

Momen yang Mengubah Cara Saya Kerja

Ada satu periode di mana saya mencoba hadir di tiga platform sekaligus sambil masih karyawan. Instagram, LinkedIn, dan mulai coba YouTube Shorts. Effort-nya terasa besar, tapi hasilnya di ketiga platform itu setengah-setengah semua. Tidak ada yang benar-benar tumbuh karena energy saya terbagi rata.

Waktu saya putuskan untuk fokus hanya di satu platform selama 2 bulan dengan konsistensi penuh, sesuatu berubah. Bukan berarti hasilnya spektakuler dalam 2 bulan itu, tapi saya mulai bisa lihat pola mana yang bekerja dan mana yang tidak. Dari sana saya bisa mulai allocate waktu yang terbatas ke hal yang datanya bilang bekerja, bukan ke hal yang instingnya bilang perlu dicoba.

Itulah power law dalam konteks praktis Daddy yang kerja dengan waktu terbatas: temukan yang bekerja lebih cepat lewat eksperimen yang terdesain, kemudian commit ke sana.

Siapa yang Akan Dapat Manfaat Paling Besar?

Cocok kalau kamu: sudah mencoba beberapa hal di dunia income sampingan atau konten tapi merasa tidak ada yang benar-benar jalan, atau merasa energy kamu terpecah ke terlalu banyak arah. Power law memberi perspektif untuk menyederhanakan dan fokus.

Mungkin belum waktunya kalau: kamu baru benar-benar mulai dan belum punya data apapun. Di fase itu kamu memang harus explore dulu, baru bisa pilih. Power law bukan alasan untuk tidak mencoba, ini alasan untuk mencoba dengan lebih terstruktur dan berhenti mencoba hal yang datanya sudah jelas tidak bekerja.

Satu Langkah Lebih Jauh dari Kebanyakan Daddy

Kebanyakan orang baca tentang power law dan angguk-angguk setuju tapi tidak mengubah cara mereka bekerja. Satu langkah lebih jauh yang konkret: minggu ini, buka analytics konten kamu dan identifikasi satu tema atau format yang sudah jelas bekerja lebih baik dari yang lain. Commit untuk buat 3 konten berbasis tema itu sebelum coba tema baru.

Kalau mau saya kirim template “explore vs exploit” yang saya gunakan untuk keputusan konten dan produk langsung ke email kamu, masuk ke newsletter Not A Perfect Daddy di sini, gratis, dan saya kirim tiap minggu.

Gabung Newsletter Not A Perfect Daddy ->

Pertanyaan yang Sering Muncul

Bagaimana cara tahu kalau saya sudah “exploit” sesuatu yang benar, bukan terjebak di zona nyaman?

Ada bedanya. Exploit yang sehat adalah ketika kamu punya data yang bilang “ini bekerja lebih baik dari alternatif lain” dan kamu scale itu. Zona nyaman adalah ketika kamu menghindari eksperimen baru bukan karena data tapi karena takut. Satu cara test: apakah keputusan fokus kamu didasarkan pada angka yang kamu lihat, atau pada perasaan? Kalau jawabannya perasaan, mungkin itu zona nyaman.

Kalau semua orang fokus ke hal yang sama karena power law, bukan berarti kompetisi makin ketat di area yang terbukti bekerja?

Pertanyaan yang bagus dan ya, ada benarnya. Tapi yang sering dilupakan adalah power law berlaku di level yang lebih spesifik. “Konten parenting” mungkin ramai, tapi “konten parenting dari perspektif ayah karyawan di Indonesia” sudah jauh lebih niche. Di level yang lebih spesifik, power law tetap berlaku tapi kompetisinya jauh lebih kecil.

Apakah ini berarti kalau suatu ide tidak bekerja dalam 1-2 bulan, langsung abandon?

Tidak selalu. Ada variabel yang perlu diperiksa dulu sebelum abandon: apakah kamu sudah cukup konsisten? Apakah eksekusinya sudah cukup baik atau masih dalam tahap belajar? Apakah kamu sudah reach orang yang tepat? 30-60 hari dengan konsistensi yang betul-betul konsisten adalah minimum untuk konten. Tapi kalau setelah itu tidak ada tanda-tanda engagement atau respons sama sekali, pivot bukan tanda kekalahan, itu keputusan berdasarkan data.

Bagaimana mengaplikasikan power law dalam konteks waktu sehari-hari sebagai Daddy?

Ini yang paling langsung terasa manfaatnya. Lihat jadwal hari kamu dan tanyakan: dari semua yang kamu lakukan, mana 20% aktivitas yang menghasilkan 80% dari progress pekerjaan atau income? Setelah identifikasi itu, tanya lagi: ada aktivitas di sisa 80% yang bisa dikurangi, didelegasikan, atau dieliminasi tanpa mengorbankan yang penting? Ini bukan soal kerja lebih sedikit, ini soal kerja di hal yang benar-benar menggerakkan jarum.