Tiga Kalimat yang Harus Ada Sebelum Buat Konten
Saya pernah bikin konten selama 3 bulan penuh tanpa tahu sebetulnya saya mau bantu siapa dan apa yang saya mau mereka rasakan setelah baca tulisan saya.
Hasilnya, konten saya berceceran. Ada yang tentang produktivitas, ada yang tentang parenting, ada yang tentang tools digital, ada yang tentang mindset. Semua topik yang saya suka dan saya rasa relevan. Tapi tidak ada benang merahnya.
Orang yang sudah baca 5 artikel saya mungkin masih bingung saya ini siapa dan kenapa mereka harus terus baca.
Itu bukan masalah kualitas tulisan. Itu masalah tidak ada Purpose Statement.
Apa yang Saya Maksud dengan Purpose Statement
Bukan misi yang puitis. Bukan tagline brand yang terdengar bagus di slide presentasi. Bukan visi 10 tahun yang inspiring tapi tidak ada hubungannya dengan apa yang kamu kerjakan minggu ini.
Purpose Statement dalam konteks konten itu tiga pertanyaan fungsional yang harus kamu bisa jawab dengan jelas:
Satu: Problem apa yang kamu solve untuk reader kamu? Sespesifik mungkin. Bukan “membantu Daddy menjadi lebih produktif” tapi sesuatu seperti “membantu Daddy karyawan yang punya anak balita untuk bisa bikin income tambahan tanpa harus kurbankan waktu keluarga.”
Dua: Cara kamu solve-nya bagaimana? Ini mekanisme atau pendekatan kamu. Bukan hanya “lewat konten” tapi pendekatan spesifik apa yang kamu tawarkan. Sistem, framework, perspektif, atau pengalaman langsung yang membedakan cara kamu dengan orang lain yang menulis tentang topik yang sama.
Tiga: Kalau reader apply apa yang kamu tulis, hasilnya apa? Konkret dan realistis. Bukan “jadi Daddy yang lebih baik” tapi sesuatu yang bisa diverifikasi, seperti “punya sistem yang memungkinkan mereka kerja efektif dalam 2-4 jam dan sisanya benar-benar hadir untuk keluarga tanpa rasa bersalah.”
Kenapa Ini Bukan Soal Motivasi
Saya perlu jujur tentang ini karena sering salah dimengerti.
Purpose Statement yang bagus itu tidak harus inspiring. Tidak harus membuat kamu semangat setiap pagi. Fungsinya bukan motivasional, fungsinya fungsional.
Ketika ada ide konten yang muncul, baik dari pengalaman sendiri, dari artikel yang dibaca, dari obrolan dengan teman, Purpose Statement adalah filter pertama yang kamu terapkan. Ide ini relevant dengan problem yang saya solve? Ide ini selaras dengan pendekatan saya? Kalau reader apply ini, mereka dapat result yang saya janjikan?
Kalau jawaban ketiga pertanyaan itu tidak semuanya ya, ide itu tidak masuk ke content plan kamu. Sederhana tapi sangat menghemat waktu dan energi, terutama buat Daddy yang tidak punya luxury untuk nulis semua yang terlintas di kepala.
Proses Bikin Purpose Statement yang Beneran Bekerja
Mulai dari Masalah, Bukan dari Diri Sendiri
Kesalahan yang paling sering saya lihat adalah orang mulai Purpose Statement dari diri sendiri: “saya suka produktivitas, saya suka parenting, saya mau berbagi tentang ini.” Itu interest kamu, bukan value proposition kamu.
Mulai dari orang yang mau kamu bantu. Siapa mereka konkretnya? Dalam situasi seperti apa? Pain point spesifik apa yang mereka rasakan? Setelah itu baru kamu tarik balik ke: dari semua yang saya tahu dan saya alami, bagian mana yang paling relevan untuk solve pain point ini?
Urutan itu penting. Problem dulu, baru solusi. Bukan sebaliknya.
Tulis Draft Pertama, Lalu Tes ke Diri Sendiri
Setelah punya draft, tes dengan cara yang sederhana: bayangkan kamu terima 5 ide konten yang berbeda hari ini. Terapkan Purpose Statement-mu sebagai filter. Apakah dengan jelas bisa kamu bedakan mana yang masuk dan mana yang tidak?
Kalau tidak bisa membedakan, Purpose Statement-mu masih terlalu abstract. Konkretkan lagi.
Kalau semua 5 ide lolos filter, mungkin Purpose Statement-mu terlalu broad. Sempitkan lagi.
Idealnya, dari 5 ide acak, 1-2 yang benar-benar masuk, 1-2 yang borderline tapi butuh angle adjustment, dan 1-2 yang jelas tidak relevan.
Versi Pertama Tidak Harus Sempurna
Waktu pertama saya bikin Purpose Statement ini, versi pertamanya agak generic dan masih terlalu lebar. Saya revisi setelah 6 minggu ketika sudah punya data dari beberapa konten yang perform dan yang tidak. Revisi kedua jauh lebih spesifik dan terasa lebih natural karena sudah ada validasi dari audiens yang nyata.
Itu prosesnya. Bukan duduk sekali langsung sempurna.
Bagaimana Ini Bekerja di Kehidupan Saya
Jujur, saya tidak selalu ketat dengan Purpose Statement untuk setiap konten yang saya buat. Ada saat-saat saya nulis sesuatu yang agak melenceng dari filter itu karena rasanya relevan dan menarik secara personal.
Yang saya temukan dari pengalaman itu: konten yang paling resonan dengan pembaca yang saya mau bantu selalu yang paling ketat selaras dengan Purpose Statement. Konten yang saya buat karena “ini menarik” tapi tidak terlalu relevan dengan problem spesifik yang saya solve, biasanya perform flat.
Bukan berarti tidak boleh sesekali keluar dari filter. Tapi kalau kamu mulai rutin keluar, itu biasanya sinyal bahwa Purpose Statement-mu perlu di-update, bukan ditinggal.
Siapa yang Akan Dapat Manfaat Paling Besar?
Cocok kalau kamu: Daddy yang sudah atau mau mulai bikin konten secara reguler, punya topik yang jelas tapi merasa kontennya tidak terfokus, atau yang sudah bikin konten beberapa bulan tapi tidak tahu kenapa tidak ada yang benar-benar “sticky” di audiens.
Mungkin belum waktunya kalau: kamu masih di tahap figuring out mau nulis tentang apa sama sekali. Purpose Statement paling berguna setelah kamu punya satu topik inti yang sudah jelas dan kamu yakin mau ditekuni setidaknya 6-12 bulan. Kalau masih sangat awal, prioritaskan dulu eksperimen konten daripada mendefinisikan Purpose Statement.
Ini yang Saya Bahas Lebih Dalam di Newsletter
Bagaimana saya implementasi filter ini sambil tetap bisa hadir untuk anak dan tidak larut di depan laptop sampai malam, itu yang lebih sering saya bahas di newsletter Not A Perfect Daddy. Kalau mau saya kirim langsung ke email kamu, daftar gratis di bawah ini.
Gabung Newsletter Not A Perfect Daddy ->
Pertanyaan yang Sering Muncul
Apakah Purpose Statement ini harus ditampilkan ke publik atau cukup jadi dokumen internal?
Cukup dokumen internal. Tapi komponen-komponennya bisa jadi dasar bio, kalimat pertama newsletter, atau about page. Fungsi utama Purpose Statement adalah kompas internal ketika kamu bikin keputusan konten, bukan pesan marketing untuk dipajang. Kalau kamu mau adaptasi jadi sesuatu yang dipublikasikan, itu bisa, tapi itu versi yang sudah diedit untuk konsumsi publik, bukan verbatim tiga kalimat internalnya.
Bagaimana kalau saya tidak yakin dengan “hasil” yang saya janjikan di pertanyaan ketiga?
Itu justru sinyal bagus bahwa kamu perlu duduk dan jujur dulu tentang apa yang benar-benar bisa kamu deliver. Kalau tidak yakin dengan outcome yang kamu janjikan, reader kamu juga kemungkinan besar akan merasakan ketidakjelasan itu. Lebih baik Purpose Statement dengan janji yang modest tapi credible daripada yang ambitious tapi hollow. Mulai dari yang kamu benar-benar yakin bisa kamu bantu, tidak perlu muluk-muluk.
Berapa sering Purpose Statement perlu direview?
Minimal setiap 6 bulan. Tapi juga review setiap kali kamu merasa banyak konten yang tidak perform atau terasa tidak connected dengan audiens. Itu biasanya tanda Purpose Statement sudah tidak match dengan siapa audiensmu yang sebenarnya berkembang jadi. Yang penting jangan terlalu sering ganti di tahun pertama, karena kamu butuh waktu cukup untuk validasi.
Apakah satu orang bisa punya lebih dari satu Purpose Statement?
Bisa, kalau kamu punya lebih dari satu channel atau platform yang target audiensnya berbeda. Tapi untuk satu channel atau blog, satu Purpose Statement yang jelas jauh lebih baik dari dua yang setengah-setengah. Mulai dari satu. Kalau kamu sudah solid di satu, baru pertimbangkan untuk expand.
Bagaimana kalau Purpose Statement saya mirip dengan orang lain yang sudah lebih besar audiensnya?
Mirip bukan berarti sama. Yang membedakan adalah angle spesifik, pengalaman yang kamu bawa, dan bagaimana kamu bicara ke audiensmu. Dua orang bisa punya Purpose Statement yang secara high-level mirip tapi cara mereka mengeksekusi dan sudut pandang mereka cukup berbeda untuk punya tempatnya masing-masing. Yang perlu kamu hindari adalah copy-paste positioning orang lain, bukan menghindari topik yang sudah ada pemainnya.

