Rasa Ingin Tahu Anak Itu Bisa Menyelamatkan Karier Kamu
Anak saya yang besar, yang sekarang sudah 8 tahun, punya kebiasaan yang dulu sering bikin saya geleng-geleng kepala.
Setiap kali ada pertanyaan di kepalanya, dia langsung tanya. Tidak pakai pembukaan. Tidak pakai “maaf ya ganggu, boleh tanya sebentar tidak?” Dia cuma bilang: “Daddy, kenapa langit biru?” atau “Daddy, kalau saya tidur besok bisa langsung ke hari Natal?” atau yang paling sering, kalau saya lagi melamun, “Daddy lagi pikirin apa?”
Langsung. Ke poin. Tanpa filter.
Waktu itu saya sering bilang, “tunggu dulu ya, Daddy lagi…” Dan saya tidak selesaikan kalimat itu karena saya tahu saya sedang tidak melakukan sesuatu yang lebih penting dari menjawab pertanyaan anaknya sendiri.
Tapi belakangan saya mulai melihat kebiasaan itu dari sudut yang berbeda.
Yang Hilang Setelah Kita Dewasa
Ada penelitian yang menarik soal frekuensi pertanyaan anak vs orang dewasa. Anak usia 4-6 tahun bertanya rata-rata 300 pertanyaan per hari. Orang dewasa di lingkungan kerja? Jauh lebih sedikit – dan yang lebih mengkhawatirkan, banyak yang menahan pertanyaan yang seharusnya ditanya karena takut terlihat tidak kompeten atau mengganggu.
Ini bukan soal anak lebih pintar dari orang dewasa. Ini soal anak belum punya filter sosial yang membuat kita menghambat rasa ingin tahu kita sendiri.
Dan filter itu, yang kita kembangkan perlahan sejak sekolah, punya biaya yang sering tidak kita sadari.
Di dunia kerja, orang yang tidak bertanya waktu tidak tahu cenderung membuat asumsi. Asumsi yang salah membutuhkan koreksi. Koreksi membutuhkan waktu. Dan waktu adalah satu-satunya sumber daya yang tidak bisa kamu tambah – apalagi kalau kamu Daddy yang sudah mengalokasikan sebagian besar waktunya untuk keluarga.
Pola Bertanya Anak yang Perlu Kita Pelajari Kembali
Saya tidak menyarankan kamu mulai tanya pertanyaan eksistensial ke klien soal kenapa langit biru. Tapi ada dua pola dari cara anak bertanya yang kalau diterapkan di konteks kerja, punya dampak nyata.
Pola Pertama: Langsung ke Inti, Tanpa Preambel
Waktu anak saya mau tanya sesuatu, dia tidak mulai dengan “Daddy, boleh saya interupsi sebentar, saya ada pertanyaan kalau Daddy tidak sibuk…” Dia langsung tanya.
Di konteks kerja, ini diterjemahkan ke: ketika kamu perlu klarifikasi atau informasi dari seseorang, langsung ke pertanyaannya. Tidak perlu tiga paragraf konteks sebelum pertanyaan yang sebenarnya muncul.
“Ini tentang apa?” bukan “Saya ingin menindaklanjuti email yang saya kirim kemarin terkait hal yang sudah kita diskusikan di rapat minggu lalu yang berkaitan dengan proyek X. Intinya saya ingin tanya…”
Yang pertama itu yang berhasil. Otak penerima langsung tahu apa yang diminta.
Pola Kedua: Tidak Takut Kelihatan Tidak Tahu
Anak tidak malu tidak tahu. Mereka tanya karena mereka tidak tahu – dan mereka tidak merasa itu adalah kelemahan.
Orang dewasa sering menahan pertanyaan karena takut kelihatan tidak kompeten. Tapi yang sebenarnya terjadi: menahan pertanyaan membuat kamu membuat keputusan dengan informasi yang kurang. Dan keputusan dengan informasi yang kurang lebih sering salah.
Bertanya waktu kamu tidak tahu adalah tanda kedewasaan, bukan kelemahan. Orang yang paling kompeten di ruangan biasanya yang paling banyak bertanya, karena mereka tahu nilai dari informasi yang akurat.
Koneksinya ke Cara Kamu Nulis Pesan
Rasa ingin tahu yang langsung ini juga berlaku untuk pesan kerja yang kamu tulis.
Subject line atau pembuka pesan yang kuat bekerja dengan prinsip yang sama: menciptakan rasa ingin tahu pada penerima, atau langsung memberikan informasi yang relevan. Keduanya berasal dari sikap yang sama – tahu apa yang kamu mau sampaikan dan berani menyampaikannya langsung.
Pesan yang diawali dengan basa-basi panjang biasanya datang dari ketidakpastian: kamu tidak tahu persis apa yang mau diminta, jadi kamu mengisi ruang dengan konteks yang tidak perlu. Tapi kalau kamu tahu persis apa yang kamu minta – seperti anak yang tahu persis apa yang ingin dia tanyakan – kamu bisa langsung ke sana.
Latihan sederhana: sebelum kirim pesan apapun, tanya ke diri sendiri dengan cara yang jujur seperti anak kecil: “Sebetulnya apa yang saya mau tahu atau mau orang ini lakukan?” Jawab itu dengan satu kalimat. Taruh kalimat itu di paling depan pesan kamu.
Bagaimana Ini Bekerja di Kehidupan Saya
Jujur ya, saya tidak bisa bilang saya belajar ini dari buku atau workshop. Saya belajarnya dari anak saya.
Ada satu momen yang cukup membekas. Waktu itu saya sedang nulis email yang sudah tiga paragraf tapi belum sampai ke intinya, dan anak saya masuk kamar dan tanya langsung, “Daddy, itu email buat siapa?”
“Buat klien,” saya jawab.
“Dia tahu emailnya tentang apa?”
Saya baca ulang yang sudah saya tulis. Tiga paragraf, dan belum ada yang menjelaskan tujuan emailnya.
Saya hapus dua paragraf pertama. Email itu kemudian dibuka dan dibalas dalam waktu 2 jam, padahal biasanya perlu nunggu sampai keesokan harinya.
Itu pelajaran dari anak 8 tahun yang tidak tahu apapun soal copywriting atau komunikasi bisnis.
Siapa yang Akan Dapat Manfaat Paling Besar?
Cocok kalau kamu: sering merasakan pesan kerjamu tidak mendapat respons secepat yang kamu butuhkan, atau sering menulis email panjang yang ternyata tidak jelas apa poinnya setelah kamu baca ulang.
Mungkin belum waktunya kalau: kamu sudah punya sistem komunikasi yang bekerja dan tidak merasakan hambatan di sana – ada hal lain yang lebih butuh perhatian kamu.
Kalau Mau Satu Langkah Lebih Jauh
Ini satu potongan kecil dari cara saya mencoba belajar dari anak-anak saya, bukan hanya mengajar mereka. Saya tulis lebih banyak tentang hal seperti ini di newsletter Not A Perfect Daddy – catatan mingguan dari seorang Daddy yang masih terus belajar, untuk Daddy lain yang juga masih belajar.
Kalau mau saya kirim cerita dan framework semacam ini langsung ke email kamu setiap minggu, masuk di sini:
Gabung Newsletter Not A Perfect Daddy →
Pertanyaan yang Sering Muncul
Apakah ini efektif di budaya kerja Indonesia yang masih kental formalitasnya?
Di konteks formal memang perlu disesuaikan, tapi prinsipnya tetap berlaku. “Langsung ke poin” tidak berarti kasar atau tidak hormat – itu berarti tidak membuang waktu penerima dengan informasi yang tidak relevan di awal. Kamu tetap bisa sopan di tone sambil efisien di substansi. Justru di konteks profesional, kemampuan menyampaikan sesuatu secara jelas dan ringkas itu dipandang lebih tinggi bukan lebih rendah.
Bagaimana cara mengajari anak tentang hal ini tanpa menghilangkan rasa ingin tahu naturalnya?
Ini pertanyaan yang bagus dan agak kebalik dari topik artikel ini. Anak tidak perlu diajar ini – mereka sudah punya. Yang perlu dijaga adalah tidak menekan kebiasaan itu terlalu dini dengan terlalu sering mengatakan “tidak sekarang” atau “jangan ganggu Daddy.” Tentu ada waktu yang tidak tepat, tapi kalau setiap pertanyaan anak selalu ditunda, perlahan mereka berhenti bertanya.
Saya kadang tidak tahu apa yang saya mau tanya karena masalahnya memang kompleks. Bagaimana cara memulai pesan di situasi seperti itu?
Kalau masalahnya memang kompleks dan kamu belum bisa merumuskan satu pertanyaan yang jelas, itu biasanya tanda bahwa kamu perlu pikir dulu sebelum kirim pesan. Coba tulis semua yang ada di kepala kamu tentang masalah itu, lalu baca ulang dan tanya: “sebetulnya apa satu hal yang paling butuh saya tahu dari orang ini?” Setelah itu, baru tulis pesannya.
Apakah ada situasi di mana basa-basi di awal pesan itu memang perlu?
Ada. Kalau ini pertama kali kamu kontak seseorang yang belum pernah kenal kamu, satu-dua kalimat perkenalan itu wajar dan membantu. Kalau ada situasi yang sensitif secara emosional atau personal, sedikit kehangatan di awal membantu. Tapi untuk pesan rutin ke orang yang sudah kenal kamu, basa-basi yang panjang cenderung lebih menghambat dari membantu.
Kalau anak saya bertanya terus sementara saya lagi kerja, bagaimana saya seimbangkan ini?
Ini yang tidak mudah dan saya tidak akan berpura-pura punya jawaban sempurna untuk ini. Yang membantu buat saya: buat “jam fokus” yang jelas – misalnya 2 jam pagi saat anak masih tidur atau sekolah – dan di luar jam itu saya berusaha lebih ada. Bukan sempurna, tapi lebih terstruktur. Kalau kamu sudah kerja 2-4 jam di waktu yang tepat, sisa hari kamu lebih bebas untuk hadir untuk anak tanpa rasa bersalah.

