Saya inget banget satu malam, anak-anak udah tidur, saya buka laptop buat ngerjain satu project sampingan yang saya terima dua hari sebelumnya. Baru setengah jalan ngerjain, saya baca ulang chat awal sama klien itu, dan saya sadar saya salah paham sama apa yang sebenarnya dia mau. Bukan salah besar, tapi cukup bikin saya harus ngulang dari awal, dan waktu 2 jam malam itu yang harusnya cukup buat selesai, jadi kepake buat benerin arah doang.
Yang bikin saya kesel bukan klien itu. Yang bikin saya kesel itu saya terima kerjaan itu terlalu cepat, cuma modal “oke deal, saya kerjain,” tanpa nanya dulu apa yang sebenarnya dia butuhkan dan kenapa. Padahal waktu saya cuma 2-4 jam kerja sehari. Sekali salah paham kayak gitu, satu malam kerja bisa abis cuma buat muter balik.
Dari situ saya mulai sadar, ada satu kebiasaan dari dunia agency yang biasa disebut riset onboarding sebelum kerja sama klien baru, yang ternyata bisa dipangkas jadi versi kecil buat Daddy yang cuma punya waktu terbatas tiap malam. Bukan buat bikin dokumen tebal, tapi buat mastiin kamu dan klien beneran ngomongin hal yang sama sebelum kamu mulai ngetik atau ngedesain apapun.
Kenapa Riset Dulu Bukan Buang Waktu, Justru Nyelametin Waktu
Kesalahan yang paling sering saya lihat, dan dulu saya sendiri lakuin, adalah mikir riset itu formalitas yang ngulur waktu. Padahal justru sebaliknya. Kalau kamu cuma punya 2-4 jam sehari buat kerja sampingan, satu kali salah paham di tengah proyek bisa makan waktu jauh lebih banyak daripada 15-20 menit riset di awal.
Di dunia agency, ada yang namanya protokol riset 30 hari sebelum campaign klien dijalankan. Alasannya sederhana, mayoritas campaign yang gagal itu bukan gagal di eksekusi, tapi gagal karena minggu pertama yang tidak terstruktur. Asumsi yang salah dari awal, dibawa terus sampai akhir, dan baru ketahuan pas sudah kepalang jauh.
Buat Daddy yang side hustle, logikanya sama persis, cuma skalanya beda. Kamu bukan agency dengan tim riset, kamu cuma satu orang dengan waktu yang udah dijatah ketat buat keluarga. Justru karena itu, kamu tidak mampu nanggung ongkos salah paham di tengah jalan. Satu proyek yang molor karena revisi berkali-kali bisa nyerobot waktu yang harusnya buat main sama anak atau tidur cukup.
Tiga Hal yang Saya Cek Sebelum Bilang Deal
Saya nggak nyalin protokol riset 30 hari itu mentah-mentah, jelas nggak masuk akal buat side hustle. Tapi tiga inti dari situ, yang di dunia agency disebut financial audit, customer research, dan money model document, saya pangkas jadi tiga pertanyaan praktis yang saya tanya sebelum mulai kerja apapun.
1. Angka Dulu, Baru Semangat
Ini versi kecil dari financial audit. Sebelum saya terima kerjaan, saya pastikan dulu dua hal, berapa yang dia mau bayar dan berapa lama dia harapin selesai. Kedengarannya basic, tapi banyak yang lompat langsung ke “oke saya kerjain” tanpa nanya dua ini eksplisit.
Kalau angka dan waktu yang dia sebut nggak masuk akal dibanding effort yang dibutuhin, di sinilah saya tahu harus nego dulu atau bahkan tolak halus, daripada terima terus nyesel di tengah jalan. Ini yang di dunia agency disebut CFA, semacam perbandingan antara hasil yang kamu dapat dengan effort yang kamu keluarin. Kalau perbandingannya kelihatan berat sebelah dari awal, jangan dipaksain jalan, karena beratnya bakal kerasa pas kamu udah setengah jalan, bukan pas masih di obrolan awal.
2. Nanya Masalah Aslinya, Bukan Nebak
Ini versi kecil dari customer research yang biasanya dilakuin lewat wawancara langsung ke pelanggan. Buat side hustle, saya cuma pakai dua pertanyaan simpel, “sebelum ini, apa yang jadi masalah kamu?” dan “gimana kamu tahu ini yang kamu butuhin, bukan yang lain?”
Dua pertanyaan ini kelihatan sepele, tapi sering banget jawabannya beda jauh dari yang saya bayangin waktu pertama baca brief singkatnya. Klien sering nulis permintaan dalam bentuk solusi yang menurut dia benar, padahal masalah aslinya beda, dan solusi yang lebih tepat juga beda. Kalau saya langsung eksekusi permintaan mentah tanpa nanya masalah aslinya, saya bisa kerja keras buat sesuatu yang sebenarnya nggak dia butuhin.
3. Tulis Satu Halaman Sebelum Mulai
Ini versi kecil dari yang di agency disebut money model document, dokumen yang jadi acuan semua keputusan setelahnya. Buat saya, versinya cuma beberapa baris chat yang saya rangkum ulang dan kirim balik ke klien sebelum mulai, isinya apa yang akan saya kerjain, berapa lama, berapa kali revisi yang termasuk, dan seperti apa hasil akhirnya dianggap selesai.
Ini bukan soal formal-formalan. Ini soal mastiin kamu berdua ngomongin hal yang sama, dan kalau ada yang berubah di tengah jalan, kamu punya acuan buat bilang “ini beda dari yang kita sepakati di awal, ada tambahan biaya atau waktu ya.” Tanpa ini, kamu gampang kena scope creep, kerjaan nambah terus tanpa nambah bayaran, dan waktu 2-4 jam kerjamu abis buat hal yang nggak pernah disepakati dari awal.
| Pendekatan | Waktu di Depan | Risiko Salah Paham | Hasil Akhir |
|---|---|---|---|
| Langsung terima, langsung kerja | 0 menit | Tinggi, ketahuan pas sudah jalan | Sering revisi, waktu kerja membengkak |
| Riset 3 pertanyaan dulu | 15-20 menit | Rendah, ketahuan sebelum mulai | Lebih jarang revisi besar, waktu lebih terjaga |
| Riset formal ala agency 30 hari | Berminggu-minggu | Sangat rendah | Tidak realistis untuk side hustle 2-4 jam sehari |
Bagaimana Ini Bekerja di Kehidupan Saya
Sejak saya biasain tiga pertanyaan ini sebelum bilang deal, saya nggak pernah lagi ngalamin malam di mana saya harus ngulang kerjaan dari nol gara-gara salah arah. Bukan berarti semua proyek jadi mulus tanpa masalah, tetap ada revisi di sana sini, itu wajar. Tapi revisi yang terjadi sekarang lebih ke penyesuaian kecil, bukan pembongkaran ulang karena saya kerjain hal yang beda dari yang klien maksud.
Yang paling kerasa buat saya, waktu yang tersisa buat keluarga jadi lebih terjaga. Dulu kalau ada salah paham, yang kepotong bukan cuma jam kerja, tapi jam yang harusnya buat hadir untuk anak, karena saya jadi begadang lebih lama buat ngejar deadline yang molor. Sekarang, 15-20 menit riset di depan itu justru yang bikin saya bisa tutup laptop tepat waktu.
Siapa yang Akan Dapat Manfaat Paling Besar?
Cocok kalau kamu: baru mulai nerima klien atau proyek sampingan lewat chat, sering ngerasa proyek molor karena revisi berulang, atau kerja dengan waktu ketat 2-4 jam sehari yang nggak bisa kamu tebus dengan begadang terus-terusan.
Mungkin belum waktunya kalau: kamu masih di tahap nyari klien pertama dan belum ada yang nawarin kerjaan sama sekali. Fokusnya beda, urusin dulu cara dapat orang yang mau bayar, baru nanti kebiasaan riset ini kamu pakai begitu ada yang serius mau kerja sama.
Kalau Kamu Mau Sistem yang Lebih Lengkap
Tiga pertanyaan ini cuma potongan kecil dari cara saya atur kerja sampingan supaya nggak makan waktu keluarga. Kalau kamu mau lihat gimana saya susun keseluruhan sistemnya biar bisa kerja cerdas, bukan kerja keras, sambil tetap punya waktu buat anak, saya bahas lebih dalam di newsletter Not A Perfect Daddy.
Kalau mau saya kirim tips dan template kecil kayak gini langsung ke email kamu, masuk ke newsletter Not A Perfect Daddy di sini, gratis, dan saya kirim tiap minggu.
Gabung Newsletter Not A Perfect Daddy →
Pertanyaan yang Sering Muncul
Kalau klien buru-buru dan nggak sabar dengan riset ini, gimana?
Kalau klien beneran nggak sabar cuma buat jawab dua tiga pertanyaan singkat lewat chat, itu sinyal duluan sebelum kamu mulai kerja. Bukan berarti langsung tolak, tapi siapin diri kalau proyek ini kemungkinan besar bakal banyak revisi dadakan juga di tengah jalan, karena pola yang sama biasanya keulang.
Apa saya harus bikin ini keliatan formal biar kelihatan profesional?
Nggak perlu. Justru kalau kamu bikin kelewat formal, kadang klien kecil malah risih atau ngerasa ribet. Cukup lewat chat biasa, natural, kayak ngobrol, tapi tetap nanya tiga hal inti itu sebelum bilang oke deal.
Bagaimana kalau saya udah kadung terima kerjaan tanpa riset dan sekarang lagi jalan?
Nggak apa-apa, kamu masih bisa masukin ini di tengah jalan. Bilang aja ke klien, “biar hasilnya makin pas, boleh saya tanya dulu beberapa hal soal ini,” lalu tanya dua pertanyaan masalah aslinya. Lebih baik telat riset daripada nggak sama sekali.
Apa ini cuma berlaku buat kerjaan jasa, bukan produk?
Prinsipnya tetap sama walau kamu jual produk digital, bukan jasa. Bedanya kamu nggak nanya soal deliverable spesifik, tapi nanya masalah apa yang bikin dia tertarik sama produkmu, biar kamu tahu produk mana yang paling pas kamu rekomendasiin, bukan asal jual yang paling mahal.
Berapa lama saya harus pakai kebiasaan ini sampai jadi otomatis?
Buat saya sendiri butuh beberapa minggu sampai kerasa nggak canggung lagi nanya tiga hal ini di depan. Awalnya kerasa kaku, kayak lagi interogasi klien. Tapi begitu kamu ngerasain sekali aja proyek yang mulus karena riset di depan ini, kebiasaan itu jadi susah dilepas lagi.

