Saya inget banget momen itu. Artikel pertama sudah jadi, foto sudah siap, saya tinggal tekan tombol publish. Tapi jari saya tidak bergerak.

Yang ada di kepala saya waktu itu bukan soal kontennya bagus atau tidak. Yang ada di kepala saya adalah: “siapa saya kok berani-beraninya nulis soal ini?”

Dan itu bukan sekali. Itu terjadi berkali-kali, di beberapa artikel pertama. Bahkan setelah artikel sudah keluar pun, ada satu bagian di kepala saya yang masih menunggu seseorang komen “ini salah, kamu tidak paham apa yang kamu tulis.”

Ternyata perasaan ini punya nama: imposter syndrome. Dan ternyata juga, hampir semua orang yang mulai membuat konten atau membangun personal brand merasakan hal yang sama.

Kenapa Ini Sangat Umum, Terutama untuk Kita yang Sibuk

Kamu mungkin karyawan yang sudah kerja 8-10 jam sehari. Punya anak kecil di rumah. Waktu luang, kalau ada, lebih banyak habis untuk istirahat atau main sama anak daripada belajar hal baru.

Nah, di sela-sela itu kamu mau mulai berbagi sesuatu. Entah itu pengalaman parenting, insight soal karier, atau apapun yang kamu pelajari.

Tapi begitu buka layar untuk nulis atau rekam video, yang keluar duluan bukan ide. Yang keluar duluan adalah perbandingan. Kamu buka Instagram orang yang sudah lebih dulu ada di bidang itu, dan tiba-tiba apa yang mau kamu bagikan terasa kecil sekali.

Masalahnya, perbandingan itu tidak apple-to-apple. Kamu membandingkan hari pertama kamu dengan hari ke-2000 orang lain.

Yang Tidak Kita Lihat dari Creator yang Sudah Jalan

Saya punya teman yang sekarang follower-nya cukup besar. Kalau kamu lihat kontennya sekarang, terlihat mulus, percaya diri, tahu banget mau ngomong apa.

Saya lihat konten pertamanya. Suara gemetar, pencahayaan buruk, poin yang disampaikan melompat-lompat tanpa alur yang jelas. Itu bukan sarkasme, itu memang kondisi awal semua orang.

Mereka tidak lahir dalam kondisi sudah jadi creator yang bagus. Mereka berlatih di depan umum, dan audiens yang kecil di awal itu justru jadi ruang aman untuk berlatih sebelum audiensnya besar.

Yang membedakan mereka dari yang tidak pernah mulai bukan bahwa mereka tidak takut. Yang membedakan mereka adalah bahwa mereka tetap posting meski takut.

Otak Kita Dirancang untuk Fokus ke Ancaman

Ada alasan biologis kenapa imposter syndrome ini terasa begitu kuat. Otak manusia, secara evolusi, lebih sensitif ke ancaman daripada ke hal positif. Satu komentar negatif terasa lebih besar dari 10 komentar yang mengapresiasi.

Makanya, kalau kamu tidak aktif mengumpulkan bukti bahwa kontenmu berguna, otak kamu akan default ke mode ragu. Ini bukan kelemahan, ini memang cara kerja otak yang harus kamu pahami supaya bisa dikelola.

Kamu Tidak Harus Jadi yang Paling Pintar

Ini insight yang paling mengubah cara pandang saya soal membuat konten: kamu tidak bersaing dengan ahli terbaik di bidangmu. Kamu bersaing dengan orang yang berani konsisten posting.

Dan dalam persaingan itu, kamu tidak harus paling pintar. Kamu hanya harus paling relevan untuk audiens yang tepat.

Kalau kamu baru satu tahun jadi ayah, kamu sudah jauh lebih relevan untuk Daddy yang baru punya bayi tiga bulan daripada seorang psikolog anak yang belum pernah jadi orang tua. Pengalaman langsung dan kejujuran tentang prosesnya jauh lebih berharga dari kualifikasi formal di banyak konteks.

Cara Saya Mulai Berdamai dengan Imposter Syndrome Itu

Saya tidak akan bilang saya sudah bebas dari ini. Sampai sekarang pun kadang masih muncul, terutama kalau topiknya baru atau kontennya lebih personal dari biasanya.

Yang berubah adalah cara saya meresponsnya.

Saya Berhenti Menunggu “Siap”

Ada momen di mana saya sadar bahwa “siap” itu tidak akan datang kalau saya terus menunggu. Rasa siap itu muncul setelah kamu mulai, bukan sebelumnya. Saya tidak tahu itu sebelum saya benar-benar coba.

Analogi yang masuk akal untuk saya: kamu tidak akan bisa berenang lebih baik hanya dengan membaca buku renang. Kamu harus masuk ke air, entah nyaman atau tidak, dan tubuhmu akan belajar dari prosesnya.

Posting konten juga seperti itu. Kamu tidak akan tahu resonan dengan siapa sampai kamu benar-benar posting dan lihat siapa yang merespons.

Saya Mulai Kumpulkan Bukti Secara Aktif

Ini yang saya tidak lakukan di awal dan menyesal. Di beberapa minggu pertama, ada komentar bagus, ada DM yang bilang konten saya berguna, tapi saya tidak catat. Hilang begitu saja.

Sekarang, setiap ada respons positif yang masuk, saya screenshot dan simpan di folder khusus. Bukan untuk ego, tapi untuk momen di mana self-doubt datang kencang. Kalau otak saya mulai bilang “kontenmu tidak berguna untuk siapapun,” saya buka folder itu dan lihat buktinya.

Ini terdengar sederhana, mungkin terlalu sederhana. Tapi cara kerja otak kita memang seperti itu: dia butuh bukti konkret untuk counter narasi negatif. Tanpa bukti yang aktif dikumpulkan, narasi negatif yang menang default-nya.

Saya Fokus ke Satu Orang, Bukan ke Semua Orang

Pergeseran terbesar yang saya rasakan adalah ketika saya berhenti mikir “apakah ini bagus untuk semua orang?” dan mulai mikir “apakah ini berguna untuk satu orang yang tepat?”

Kalau ada satu Daddy karyawan yang pulang malam, anaknya sudah tidur, dan dia baca artikel ini lalu besok dia coba satu hal kecil yang beda, itu sudah cukup. Itu sudah worth it untuk saya tulis.

Tidak perlu viral. Tidak perlu ratusan ribu pembaca. Satu orang yang benar-benar terbantu itu sudah merupakan kontribusi nyata.

Bagaimana Ini Bekerja di Kehidupan Saya

Waktu saya pertama kali nulis soal sistem kerja 2-4 jam, saya sempat stop di tengah jalan. Saya tiba-tiba ragu: siapa saya untuk ngajarin orang cara kerja efisien, sementara saya sendiri masih belajar? Masih ada hari di mana sistem saya berantakan juga.

Yang saya lakukan adalah tetap tulis, tapi saya jujur soal kondisi saya. Saya bukan contoh sempurna. Saya seseorang yang sedang mencoba, sudah menemukan beberapa hal yang bekerja, dan ingin membagikannya. Ternyata justru bagian “saya masih belajar” itu yang paling banyak dapat respons dari pembaca.

Orang tidak butuh kamu sempurna. Orang butuh kamu jujur dan relevan.

Siapa yang Akan Dapat Manfaat Paling Besar?

Cocok kalau kamu: Punya pengalaman atau insight di satu bidang, sudah lama mau mulai berbagi tapi selalu ada alasan untuk nunda. Karyawan atau profesional yang merasa “belum cukup qualified” untuk punya suara publik.

Mungkin belum waktunya kalau: Kamu memang belum punya konten atau perspektif apapun yang mau dibagikan, atau kamu belum jelas mau ngomong ke siapa. Imposter syndrome beda dari tidak tahu mau ngomong apa. Yang satu soal rasa takut, yang satu soal clarity.

Kalau Kamu Mau Lebih Dalam soal Ini

Topik ini sering banget muncul di newsletter Not A Perfect Daddy. Bukan dalam bentuk motivasi kosong, tapi dalam bentuk cerita dan langkah konkret yang saya coba sendiri. Kalau mau saya kirimkan langsung ke email kamu setiap minggu, daftar di sini:

Gabung Newsletter Not A Perfect Daddy ->

Pertanyaan yang Sering Muncul

Apakah imposter syndrome berarti saya memang belum siap sharing?

Tidak selalu. Bahkan sebagian besar kali, imposter syndrome justru muncul ketika kamu sedang berada di tepi pertumbuhan. Ketika sesuatu terasa menantang dan penting, otak kamu memunculkan proteksi ini. Bedain antara “saya takut karena ini penting untuk saya” dengan “saya memang tidak tahu apa-apa soal topik ini.” Yang pertama adalah imposter syndrome. Yang kedua adalah sinyal untuk belajar lebih dulu.

Kalau konten pertama saya jelek, apakah itu akan merusak reputasi saya?

Jujur: tidak. Audiens kamu di awal sangat kecil. Dan kalau pun ada yang lihat, orang lebih menghargai keberanian untuk mulai daripada kesempurnaan. Yang benar-benar merusak reputasi adalah kalau kamu berbohong atau memberi informasi yang secara aktif merugikan orang. Konten yang tidak sempurna tapi jujur jauh lebih aman daripada yang sempurna tapi tidak otentik.

Saya takut dikritik oleh orang yang lebih ahli dari saya. Bagaimana kalau mereka salahkan konten saya?

Kritik dari orang yang lebih ahli bisa jadi gift kalau kamu menerimanya dengan terbuka. Itu artinya ada yang membaca dan peduli cukup untuk merespons. Yang lebih sering terjadi justru adalah orang yang lebih ahli tidak tertarik untuk mengkritisi konten pemula, mereka punya audiens dan konten mereka sendiri. Dan kalau kritiknya valid, kamu bisa perbaiki dan belajar dari situ.

Berapa lama saya harus konsisten sebelum mulai terasa lebih natural?

Dari yang saya rasakan dan lihat di orang-orang yang saya amati, 30 hari pertama adalah yang paling berat. Di situ kamu masih terasa asing dengan prosesnya, engagement masih sepi, dan self-doubt masih kencang. Masuk hari ke-60 sampai ke-90, mulai ada ritme. Kamu sudah tahu prosesnya, mulai ada feedback dari audiens, dan itu yang mulai membangun rasa percaya diri yang sesungguhnya. Bukan tiba-tiba confidence, tapi evidence yang terakumulasi.

Bagaimana cara memilih angle yang membuat saya tidak perlu merasa sebagai “expert”?

Gunakan angle perjalanan, bukan angle expert. Bukan “saya ahli di X, ini yang harus kamu lakukan”, tapi “saya sedang belajar X, ini yang saya temukan sejauh ini.” Angle ini jauh lebih relatable dan justru lebih jujur untuk kebanyakan kita. Dan kalau memang ada pengalaman nyata yang bisa kamu ceritakan, itu sudah jadi angle yang cukup kuat untuk mulai.