Jujur ya. Ini bukan cerita yang enak untuk diceritakan.

Beberapa waktu yang lalu, saya transfer Rp3,2 juta untuk kursus yang katanya akan mengubah cara saya kerja. Seminggu kemudian, saya belum buka satu modul pun. Sebulan kemudian, saya masih di modul pertama. Tiga bulan kemudian, saya ingat kursus itu hanya karena iseng scroll email lama.

Rp3,2 juta. Untuk kursus yang tidak saya selesaikan.

Bukan sekali. Saya punya setidaknya dua atau tiga pengalaman serupa kalau saya mau jujur. Jumlah totalnya kalau dikumpulkan, mungkin lebih dari Rp8 juta yang saya bayar untuk kursus dan program yang tidak saya selesaikan.

Dan ini yang bikin saya lebih malu lagi: saya bukan orang yang malas belajar. Saya baca buku, saya dengerin podcast, saya suka explore hal baru. Tapi kursus online? Ada sesuatu yang berbeda di sana yang sering bikin saya gagal.

Apa yang Sebenarnya Terjadi

Saya mulai jujur ke diri sendiri setelah kejadian kursus Rp3,2 juta itu. Kenapa saya tidak selesai? Kenapa sesuatu yang sudah saya bayar mahal, yang sudah saya riset berbulan-bulan, akhirnya saya tinggalkan begitu saja?

Ternyata masalahnya berlapis.

Pertama, saya beli di waktu yang salah. Saya beli waktu sedang “mood” untuk berubah, tapi tidak waktu saya sudah siap. Mood dan kesiapan itu dua hal yang berbeda. Mood bisa datang dari konten motivasi yang saya konsumsi, dari frustasi di kerjaan, dari ngobrol sama teman yang baru berhasil sesuatu. Mood itu tidak stabil dan tidak cukup sebagai fondasi untuk belajar hal baru.

Kesiapan itu berbeda. Kesiapan artinya saya sudah tahu slot waktunya di mana, saya sudah tahu tujuan konkretnya apa, dan saya sudah punya sistem untuk tetap konsisten meski mood turun.

Waktu saya beli kursus itu, saya punya mood tapi tidak punya kesiapan.

Kedua, saya tidak tahu apa “berhasil” artinya. Tujuan saya waktu beli kursus itu terlalu kabur. “Saya mau jadi lebih produktif” atau “saya mau bisa kerja lebih efisien” itu bukan tujuan. Itu harapan abstrak. Dan waktu tidak ada tujuan konkret, tidak ada cara untuk mengukur progres, dan tidak ada rasa “ini worth it” yang muncul dari setiap sesi belajar.

Ketiga, saya underestimate betapa terbatasnya waktu saya setelah punya anak. Sebelum anak pertama lahir, saya bisa malam-malam buka laptop dan belajar 2 jam. Setelah punya anak, malam itu adalah waktu paling tidak reliable untuk direncanakan. Anak bisa tidur, bisa tidak. Istri butuh ngobrol, bisa ya bisa tidak. Dan kalau saya sudah capek dari seharian kerja dan ngurusin anak, otak saya sudah tidak dalam kondisi terbaik untuk menyerap materi baru.

Yang Berubah Setelah Saya Sadar Ini

Saya tidak langsung berhasil. Bahkan setelah sadar ini, saya masih pernah beli kursus dan tidak selesai satu kali lagi. Tapi setelah itu, saya mulai eksperimen dengan pendekatan yang berbeda.

Yang pertama berubah adalah cara saya membuat keputusan beli. Sebelum bayar apapun sekarang, saya tanya ke diri sendiri dua pertanyaan. Pertama: dalam 60 hari ke depan, apa perubahan konkret yang saya harapkan dari kursus ini? Bukan yang abstrak. Yang bisa saya ukur. Kalau tidak bisa jawab itu, saya tidak beli.

Kedua: slot waktu mana yang akan saya gunakan untuk belajar ini, dan apakah slot itu realistis untuk 3 bulan ke depan? Kalau jawabannya “nanti kalau ada waktu,” saya tidak beli. Karena saya sudah tahu, “nanti kalau ada waktu” tidak pernah datang untuk Daddy dengan anak kecil.

Yang kedua berubah adalah ekspektasi saya tentang berapa banyak yang bisa dipelajari dalam satu waktu. Saya dulu pikir belajar itu harus blok besar, minimum 1 jam, supaya bisa masuk ke konten yang dalam. Ternyata tidak.

Saya mulai coba sesi 20 menit, tiga kali seminggu. Total 60 menit seminggu. Dan itu cukup untuk maju, terutama di dua bulan pertama waktu saya masih sedang membangun kebiasaannya. Setelah tiga atau empat minggu, sesi itu alami memanjang karena saya sudah tahu ritmenya dan tidak butuh banyak waktu untuk “masuk mode.”

Yang ketiga berubah adalah saya mulai kasih tahu istri tentang apa yang saya pelajari. Bukan untuk minta izin. Tapi karena saya butuh akuntabilitas. Dan cara paling mudah adalah kasih tahu orang yang paling sering kamu temui setiap hari. Kalau seminggu berlalu dan saya tidak buka kursus, istri kadang nanya “gimana kursus kamu?” Dan itu cukup untuk membuat saya tidak menghilang selama sebulan.

Satu Kursus yang Akhirnya Saya Selesaikan

Pertama kalinya saya selesai kursus online dalam waktu yang wajar, saya terapkan semua yang saya tulis di atas. Saya tulis tujuannya sebelum mulai: “Dalam 60 hari, saya mau bisa setup satu sistem konten sederhana yang bisa jalan tanpa harus saya pikirkan setiap hari.”

Saya block Senin, Rabu, Jumat jam 21.30 sampai 21.50 (20 menit, setelah anak tidur). Dan saya kasih tahu istri tentang target ini.

Hasilnya, kursus itu saya selesaikan dalam sekitar 7 minggu. Bukan karena materinya mudah, tapi karena saya datang dengan sistem, bukan dengan harapan.

Dan ini yang menarik: rasa setelah selesai itu berbeda dari waktu saya selesai baca buku atau selesai nonton video YouTube. Ada rasa “saya yang menentukan, saya yang sampai” yang berbeda kualitasnya.

Mungkin karena ada uang yang diinvestasikan. Mungkin karena ada usaha yang terstruktur. Entah. Tapi it felt different.

Bagaimana Ini Bekerja di Kehidupan Saya

Kalau saya jujur, saya tidak 100 persen selesai setiap kursus yang saya beli sekarang. Masih ada yang saya mulai dan tidak lanjutkan. Tapi rasionya berubah. Dulu mungkin 1 dari 5 yang selesai. Sekarang mungkin 3 dari 5.

Yang berubah bukan disiplin saya. Yang berubah adalah sistem saya. Dan itu yang saya pegang: bukan hadir untuk anak dengan cara menjadi superhuman yang tidak pernah lelah, tapi dengan cara membuat sistem yang bekerja bahkan di hari-hari di mana energinya rendah.

Bukan ayah sempurna. Tapi setidaknya ayah yang belajar dari kesalahan.

Siapa yang Akan Dapat Manfaat Paling Besar?

Cocok kalau kamu: punya daftar kursus yang belum selesai, sudah capek dengan pola beli-tidak-selesai-beli-lagi, dan mau coba pendekatan yang berbeda tanpa harus punya waktu ekstra yang tidak realistis.

Mungkin belum waktunya kalau: kamu baru punya bayi di bawah 3 bulan atau sedang dalam fase hidup yang sangat chaotic. Di fase itu, menambah satu kewajiban belajar justru bisa menambah tekanan yang tidak perlu. Ada timing yang lebih tepat.

Kalau Kamu Mau Ngobrol Lebih Lanjut Tentang Ini

Di newsletter Not A Perfect Daddy, saya sesekali nulis tentang hal-hal yang tidak mudah untuk diakui, termasuk kegagalan belajar dan apa yang saya pelajari dari sana. Bukan konten motivasi. Lebih ke refleksi jujur dari ayah yang masih belajar.

Kalau mau saya kirim langsung ke email kamu, masuk ke newsletter Not A Perfect Daddy di sini, gratis, dan saya kirim tiap minggu.

Gabung Newsletter Not A Perfect Daddy →

Pertanyaan yang Sering Muncul

Apakah ada cara untuk meminta refund kalau kursus ternyata tidak sesuai ekspektasi?

Tergantung platform dan kebijakannya. Kebanyakan platform besar punya window refund antara 7 sampai 30 hari. Tapi sebelum minta refund, tanya ke diri sendiri dulu: apakah kursus ini tidak bagus, atau saya yang belum siap? Kalau jawabannya yang kedua, refund tidak akan menyelesaikan masalahnya. Kamu akan beli kursus lain dan pola yang sama akan berulang.

Bagaimana cara menjelaskan ke diri sendiri bahwa uang yang sudah keluar itu bukan “sia-sia”?

Ini soal mindset, dan jujur saya masih kadang struggle di sini. Yang membantu untuk saya adalah berhenti hitung kursus yang tidak selesai sebagai kerugian, dan mulai hitung sebagai tuition for clarity. Setiap kursus yang tidak selesai mengajarkan saya sesuatu tentang diri saya sendiri: timing yang salah, tujuan yang terlalu kabur, atau metode belajar yang tidak cocok. Itu juga valuable, meski tidak murah.

Berapa banyak kursus yang wajar untuk dimiliki bersamaan?

Untuk Daddy dengan waktu terbatas, saya rekomendasikan satu kursus aktif di satu waktu. Punya dua atau tiga yang “sedang berjalan” hampir selalu berarti tidak ada yang sungguh-sungguh berjalan. Selesaikan satu dulu. Ambil jeda 2 minggu untuk implementasi. Baru mulai yang berikutnya.

Kalau anak saya rewel dan slot 20 menit saya sering terganggu, bagaimana?

Ini nyata dan tidak ada jawaban yang sempurna. Yang saya lakukan: punya slot cadangan. Kalau Senin malam gagal karena anak tidak mau tidur, saya pindah ke Selasa pagi sebelum anak bangun, meski cuma 15 menit. Prinsipnya adalah jangan skip seminggu penuh hanya karena satu sesi gagal. Satu sesi yang pendek lebih baik dari tidak ada sama sekali.

Apakah anak-anak saya nanti akan tanya kenapa Daddy beli-beli kursus terus?

Kalau beli tapi tidak selesai, iya kemungkinan besar mereka akan lihat polanya di suatu hari. Anak belajar bukan dari apa yang kita katakan tapi dari apa yang kita lakukan. Satu kursus yang selesai dan menghasilkan perubahan nyata jauh lebih berharga untuk ditunjukkan ke anak dari sepuluh kursus yang dimulai tapi tidak selesai.