Saya inget banget malam itu, anak saya yang besar, waktu itu masih sekitar 6 tahun, tanya sesuatu yang bikin saya diam cukup lama.
“Ayah, kenapa orang-orang minta tolong ke Ayah soal digital marketing?”
Saya pikir dia tidak ngerti apa itu digital marketing. Ternyata dia tahu cukup banyak dari dengerin saya telepon. Dan pertanyaannya jujur banget sebetulnya, lebih jujur dari banyak pertanyaan yang orang dewasa tanya ke saya. Kenapa orang-orang minta tolong ke kamu? Apa yang bikin mereka pilih kamu, bukan orang lain?
Waktu itu saya belum bisa jawab dengan bagus. Saya cuma bilang “karena Ayah sering bantu orang.” Yang sebenarnya bukan jawaban.
Beberapa tahun kemudian saya baru ngerti jawabannya. Dan jawabannya ada di sesuatu yang saya pelajari dari cara kerja Google Shopping, sistem iklan e-commerce yang keliatannya jauh dari urusan personal brand seorang ayah karyawan. Tapi ternyata prinsipnya sama persis.
Kenapa Tidak Semua Orang yang Butuh Kamu Sama Siapnya
Di Google Shopping, ada konsep yang namanya Search Intent Hierarchy. Intinya sederhana: tidak semua orang yang berpotensi beli produkmu ada di posisi yang sama. Ada yang sudah tahu merek kamu dan langsung cari nama mereknya. Ada yang tahu kategori produk yang mereka butuh tapi belum tahu merek mana. Ada yang masih riset umum, belum jelas mau beli apa.
Tiga lapis ini punya tingkat konversi yang sangat berbeda. Yang sudah kenal merek, angka konversinya bisa 5 sampai 10 kali lebih tinggi dari yang masih di tahap broad search. Biaya per klik juga lebih rendah karena relevansinya tinggi.
Sekarang ganti kata “merek” dengan namamu. Atau ganti dengan reputasimu di satu bidang tertentu.
Ada orang yang dengar nama kamu disebut teman dan langsung cari informasi tentang kamu. Ada yang tahu mereka butuh konsultan freelance atau orang dengan skill tertentu, tapi belum tahu kamu ada. Ada yang masih browsing luas tanpa tujuan jelas.
Ketiganya berpotensi jadi klien, kolega, atau audiens kamu. Tapi effort yang dibutuhkan untuk closing, untuk dapat kepercayaan mereka, sangat berbeda.
Tier 1: Branded Intent, Paling Mudah Tapi Paling Sering Diabaikan
Branded intent artinya orang sudah tahu namamu. Mereka cari kamu spesifik.
Di dunia personal brand, ini terlihat seperti:
- Ada yang sebut namamu saat orang lain minta rekomendasi di grup WhatsApp
- Ada yang langsung DM kamu karena pernah lihat kontenmu sebelumnya
- Ada yang bilang “saya lihat postingan kamu soal X, saya butuh bantuan soal itu”
Ini adalah sinyal paling kuat bahwa personal brand kamu sudah bekerja. Dan inilah yang paling mudah di-closing karena trust sudah ada sebelum percakapan bahkan dimulai.
Masalahnya, banyak Daddy yang fokus terlalu keras mengejar orang yang belum kenal mereka sama sekali, dan lupa untuk melayani dengan baik orang-orang yang sudah ada di tier branded ini. Saya sendiri pernah begitu. Energi habis bikin konten untuk jangkau orang baru, padahal ada beberapa orang lama yang sebenarnya tinggal satu percakapan lagi untuk jadi klien atau proyek.
Tier branded perlu dipelihara dulu. Ini berarti kamu hadir untuk orang yang sudah kenal kamu. Reply pesan mereka. Follow up konversasi yang pernah terjadi tapi tidak selesai. Tanya kabar kalau sudah lama tidak ngobrol. Effort kecil, return-nya tidak proporsional kecilnya.
Cara Aktivasi Tier Branded Kamu Sekarang
Buka daftar kontak atau DM-mu. Siapa yang pernah tanya tentang skill atau expertise kamu tapi belum berlanjut jadi apa-apa? Siapa yang pernah bilang “nanti kita ngobrol lebih lanjut” tapi tidak ada follow up? Itu adalah branded tier kamu yang sedang tidur.
Kirim pesan sederhana. Bukan pitch, bukan promosi. Cukup sapaan yang menunjukkan kamu ingat. “Hei, waktu itu kita sempat ngobrol soal X, saya baru ingat. Gimana kondisinya sekarang?” Tiga pesan begini per minggu, konsisten selama satu bulan, biasanya cukup untuk membuka beberapa percakapan yang nyata.
Tier 2: Category Intent, Tempat Mayoritas Klien Potensialmu
Category intent adalah orang yang tahu mereka butuh sesuatu di bidangmu, tapi belum tahu kamu ada.
Mereka mungkin posting di LinkedIn bahwa mereka cari freelancer untuk proyek tertentu. Atau bertanya di grup Facebook soal rekomendasi. Atau googling kata kunci yang spesifik ke bidangmu. Mereka sedang aktif mencari solusi, tapi kamu belum ada di radar mereka.
Ini adalah kolam terbesar. Dan untuk masuk ke sini, kamu perlu hadir di tempat yang tepat dengan cara yang tepat.
Yang paling mudah dicoba: identifikasi 2 atau 3 tempat di mana orang dengan category intent itu berkumpul. Bisa grup industri, forum online, komunitas profesi, atau bahkan event offline. Kemudian hadir di sana bukan sebagai orang yang jualan, tapi sebagai orang yang tahu dan mau berbagi. Jawab pertanyaan. Kasih insight. Tunjukkan cara berpikirmu.
Konversi dari category ke branded butuh waktu. Mungkin 3 sampai 6 kali pertemuan konten sebelum seseorang mulai mengingat namamu. Ini tidak bisa dipercepat paksa, tapi bisa dipercepat dengan konsistensi. Kamu tidak bisa muncul sekali setahun dan berharap diingat.
Catatan penting: jangan coba hadir di semua tempat sekaligus. Pilih satu dulu, dalam 2-4 jam kerja yang kamu punya per hari, kamu tidak akan bisa kelola lebih dari satu komunitas dengan baik kalau kamu juga punya pekerjaan utama dan keluarga yang butuh kehadiranmu.
Category Intent Butuh Konsistensi, Bukan Keramaian
Satu kesalahan yang sering terjadi adalah orang berpikir mereka perlu muncul di banyak tempat sekaligus supaya category intent bisa tertangkap. Kenyataannya justru sebaliknya.
Lebih baik muncul setiap minggu di satu komunitas selama 6 bulan daripada muncul sekali sebulan di 6 komunitas berbeda. Yang pertama orang mulai mengenalmu. Yang kedua kamu tidak diingat di mana-mana.
Tier 3: Broad Intent, Bukan Prioritas untuk Daddy dengan Waktu Terbatas
Broad intent adalah orang yang masih di tahap riset umum. Mereka belum tahu persis apa yang mereka butuh, belum tahu siapa yang bisa bantu, dan belum siap memutuskan apa pun.
Di Google Shopping, biaya untuk menjangkau grup ini tinggi dan return-nya paling rendah. Di personal brand, analoginya sama: ini adalah orang yang butuh paling banyak konten, paling banyak touchpoint, paling banyak waktu sebelum mereka bahkan bisa jadi calon klienmu.
Bukan berarti mereka tidak penting. Konten broad intent yang bagus adalah konten yang nanti naik peringkat di Google, yang dishare orang, yang membangun audiens panjang. Tapi dalam jangka pendek, kalau kamu punya waktu terbatas dan butuh hasil nyata, ini bukan tempat untuk taruh energi pertama.
Prioritas untuk Daddy yang kerjanya sudah di atas 8 jam sehari dan ingin bangun personal brand di sisa waktunya: Tier 1 dulu (branded yang sudah ada), lalu Tier 2 (hadir konsisten di satu komunitas), Tier 3 belakangan kalau kapasitas sudah ada.
Bagaimana Ini Bekerja di Kehidupan Saya
Jujur, saya tidak langsung ngerti konsep ini. Saya habiskan cukup banyak waktu dan energi di awal untuk mencoba jangkau orang baru, bikin konten broad, muncul di mana-mana, padahal ada beberapa orang yang sudah kenal saya yang sebetulnya tinggal saya follow up.
Yang saya temukan setelah coba pendekatan berbeda: setiap kali saya fokus dulu ke orang yang sudah tahu saya ada, branded tier itu, hasilnya lebih cepat dan lebih tidak melelahkan. Bukan karena hasilnya lebih besar, tapi karena satu percakapan dengan orang yang sudah percaya jauh lebih bermakna daripada sepuluh percakapan dengan orang yang masih asing.
Dan dalam konteks waktu 2-4 jam yang saya punya untuk urusan ini, fokus ke tier yang lebih siap itu pilihan yang masuk akal. Saya tidak punya bandwidth untuk kerja keras di tier yang paling berat sekalipun.
Siapa yang Akan Dapat Manfaat Paling Besar?
Cocok kalau kamu: punya skill atau expertise yang sudah dikenal beberapa orang, ada beberapa koneksi yang pernah tanya-tanya soal apa yang kamu bisa tapi belum ada kelanjutannya, dan mau bangun income tambahan dari skill itu tapi bingung mulai dari mana.
Mungkin belum waktunya kalau: kamu belum punya clarity soal skill apa yang mau kamu tawarkan. Sebelum bicara soal siapa yang cari kamu, kamu perlu tahu dulu apa yang kamu tawarkan. Itu langkah sebelumnya, dan artikel ini belum akan banyak membantu kalau pondasinya belum ada.
Kalau Mau Mulai Petakan Tier Personal Brand Kamu
Kalau kamu mau saya kirim template sederhana untuk petakan siapa yang ada di tier mana dari daftar kontak kamu, plus langkah konkret per tier, masuk ke newsletter Not A Perfect Daddy di sini. Saya kirim materi praktis tiap minggu, gratis, dan tidak ada pitching produk di dalamnya.
Gabung Newsletter Not A Perfect Daddy →
Pertanyaan yang Sering Muncul
Gimana kalau saya rasa tidak ada yang ada di tier branded saya sama sekali?
Coba dulu pikir lebih luas. Branded intent bukan cuma orang yang secara eksplisit sebut namamu. Ini juga termasuk siapa yang pernah tanya pendapatmu soal sesuatu yang relevan dengan skill kamu, siapa yang pernah bilang “kamu yang cocok buat urusan ini”, siapa yang suka engage dengan kontenmu. Mereka ada di tier branded. Mungkin tidak banyak, tapi mereka ada. Dan 3 orang di tier branded lebih berharga dari 30 orang di tier broad.
Apakah saya perlu buat konten berbeda untuk masing-masing tier?
Secara prinsip ya, tapi kamu tidak perlu langsung buat tiga jenis konten sekaligus. Mulai dari konten yang memperkuat tier 1 dan tier 2 dulu. Untuk tier 1 ini artinya konten yang specific dan mendalam yang hanya relevan kalau orang sudah kenal bidangmu. Untuk tier 2, konten yang menjawab pertanyaan spesifik yang orang di kategorimu sering tanya. Tier 3 datang belakangan.
Berapa lama saya perlu kerja di tier 1 sebelum pindah ke tier 2?
Tidak ada angka pasti, tapi satu indikator sederhana: kalau kamu sudah rutin follow up branded tier dan hasilnya mulai stabil, artinya ada percakapan yang konsisten masuk, baru tambahkan effort ke tier 2. Kalau tier 1 kamu masih sering lupa di-follow up atau belum ada yang closing, itu tanda kamu belum perlu tambah tier baru dulu.
Saya kerja kantoran, waktu untuk personal brand sangat terbatas. Tier mana yang paling worth?
Tier 1 selalu worth karena effort per hasil-nya paling efisien. Tier 2 worth kalau kamu sudah punya clarity soal komunitas mana yang relevan dan kamu bisa komit hadir setidaknya seminggu sekali. Tier 3 skip dulu kalau waktu kamu di bawah 2 jam per hari untuk ini. Satu langkah lebih jauh setiap minggu di tier yang tepat lebih baik dari berlari di tier yang salah.
Bagaimana kalau orang-orang di tier branded saya tidak ada yang potensial jadi klien atau proyek?
Tier branded tidak selalu soal klien langsung. Mereka bisa jadi sumber referral, kolaborator, atau bahkan yang memperkenalkan kamu ke tier 2. Jangan ukur nilai orang di tier branded hanya dari apakah mereka akan bayar jasa kamu. Nilai bisa datang dari cara lain yang tidak kelihatan di awal.

