Saya inget banget waktu itu. Momen di mana dua hal yang bertentangan ada di kepala saya di waktu yang sama. Di satu sisi, ada proyek klien yang saya ragu bisa kerjain sendiri, padahal saya sudah kerjain hal serupa puluhan kali. Di sisi lain, di hari yang beda, saya terlalu yakin bisa deliver sesuatu yang sebetulnya di luar kapasitas saya saat itu. Dua-duanya salah. Tapi rasanya berbeda, jadi susah disadari kalau keduanya punya masalah yang sama.
Masalahnya bukan soal percaya diri atau tidak percaya diri. Masalahnya adalah saya tidak punya cara yang akurat untuk melihat diri saya sendiri.
Kalau kamu pernah nolak peluang karena merasa “belum siap” padahal sebenarnya sudah cukup siap, itu satu masalah. Tapi kalau kamu pernah overcommit, bilang iya ke hal yang sebetulnya kamu belum punya kemampuan atau kapasitasnya, itu masalah yang sama, dari arah yang berbeda. Dua-duanya berakar dari cara pandang diri sendiri yang tidak akurat.
Ada konsep yang saya pelajari belakangan ini dari Dr. Dharius Daniels, pastor yang udah bertahun-tahun jadi salah satu sumber belajar saya, konsepnya dia sebut sober judgment. Artinya menilai diri sendiri dengan penilaian yang wajar. Tidak lebih tinggi dari yang seharusnya, tidak lebih rendah dari yang seharusnya. Akurat.
Sederhana kedengarannya. Tapi saya rasa ini salah satu hal yang paling susah dilakukan secara konsisten.
Kenapa Dua Ekstrem Ini Sama-Sama Mahal
Kita sering dikasih pesan yang hanya setengah, bahwa kesombongan itu buruk, jadi kita harus rendah hati. Bagus. Tapi yang sering luput adalah bahwa rendah diri berlebihan itu sama mahalnya. Bedanya, rendah diri berlebihan terasa seperti kerendahan hati yang baik, jadi lebih susah dikenali.
Kalau kamu menilai dirimu terlalu tinggi, kamu overcommit, kamu underdeliver, kamu merusak kepercayaan orang lain terhadap kamu, dan kamu merusak kepercayaan dirimu sendiri karena kamu buktikan ke diri sendiri bahwa kamu tidak bisa diandalkan.
Kalau kamu menilai dirimu terlalu rendah, kamu tidak melangkah ke tempat yang sebetulnya kamu bisa jangkau. Kamu kehilangan peluang bukan karena kamu tidak mampu, tapi karena kamu meyakinkan diri sendiri bahwa kamu tidak mampu. Dan setiap kali kamu mundur dari momen itu, kamu semakin percaya versi diri kamu yang kurang itu.
Untuk Daddy yang setiap harinya sudah terbagi antara pekerjaan, anak, dan seribu hal lain, kedua kesalahan ini bayarnya mahal. Waktu yang kamu buang untuk meragukan diri yang tidak perlu diragukan itu tidak bisa balik. Energi yang habis karena overcommit ke hal yang bukan kapasitas kamu sekarang itu tidak bisa diisi ulang secepat itu.
Makanya sober judgment bukan sekadar konsep psikologi. Ini practical tool.
Tiga Krisis yang Bikin Kita Gagal Lihat Diri Sendiri
Dari apa yang saya pelajari, ada tiga pola yang bikin orang susah untuk punya sober judgment. Dan tiga-tiganya sangat familiar kalau kamu seorang Daddy yang sedang membangun sesuatu sambil juga mau hadir untuk anak.
Krisis Identitas, Siapa Sebetulnya Saya?
Ini yang paling foundational. Cara kamu menjawab pertanyaan itu, “sebetulnya saya ini siapa?”, akan membentuk semua keputusan yang kamu ambil setelahnya.
Ada orang yang sudah berkali-kali berhasil mengerjakan sesuatu, tapi tetap merasa dirinya “belum layak” atau “belum cukup.” Ada juga orang yang baru satu kali berhasil, tapi sudah merasa dirinya ahli di bidang itu dan mulai kasih advice ke semua orang. Dua-duanya tidak akurat.
Sober judgment di level identitas artinya ini: kamu jujur dengan apa yang sudah kamu buktikan ke diri sendiri, dan kamu juga jujur dengan apa yang belum. Bukan rendah diri. Bukan sombong. Tapi akurat.
Ada cerita yang menurut saya menggambarkan ini dengan baik. Dalam kisah Gideon di Alkitab, ketika malaikat datang menemui Gideon yang sedang bersembunyi ketakutan, malaikat itu tidak bilang “stop bersembunyi” atau “ayo jangan takut.” Malaikat itu bilang: “Kamu adalah pahlawan yang gagah berani.”
Gideon bingung, karena dia tidak merasa seperti itu. Tapi perhatikan apa yang terjadi, cara dia melihat dirinya berubah dulu, dan dari sana perilakunya berubah secara natural.
Ini yang saya pelajari: kalau kamu ingin mengubah perilaku seseorang, atau mengubah perilaku dirimu sendiri, ubah dulu cara dia atau kamu melihat dirinya. Behavior follows identity. Bukan sebaliknya.
Krisis Perbandingan, Apa yang Dimiliki Orang Lain yang Saya Tidak Punya?
Ini yang saya rasa paling banyak nyedot energi Daddy di era sekarang. Scroll Instagram 10 menit, sudah nemu 5 orang yang kelihatannya lebih sukses, lebih hadir untuk anak, lebih produktif, lebih finansial stabil. Dan kamu mulai mikir, apa yang mereka punya yang saya gak punya?
Pertanyaan itu kelihatannya wajar. Tapi kalau tidak dijawab dengan benar, dia bisa sangat merusak cara kamu melihat dirimu sendiri.
Dr. Daniels bilang sesuatu yang saya simpan: setiap orang sudah diberi gift yang spesifik untuk perjalanan hidupnya. Gift itu tidak bisa dibandingkan satu sama lain, karena konteksnya berbeda. Kamu tidak bisa bilang apel lebih baik dari jeruk, keduanya ada di kategori yang berbeda, dengan fungsi yang berbeda, untuk orang yang butuh hal berbeda.
Sober judgment dalam konteks perbandingan artinya ini: kamu akui apa yang kamu punya, tanpa merendahkan diri karena orang lain punya yang kelihatannya lebih banyak. Dan kamu juga tidak memuji dirimu sendiri secara tidak realistis karena kamu melihat orang yang punya lebih sedikit.
Yang paling praktis dari ini: waktu 2-4 jam yang kamu punya setiap hari itu cukup untuk membangun sesuatu yang nyata, kalau kamu stop membandingkan kecepatan dan ukuran perjalananmu dengan orang lain.
Krisis Kolaborasi, Untuk Siapa Gift Saya Sebenarnya Ada?
Ini yang menurut saya paling jarang dibicarakan. Dan ini yang paling mengubah cara saya berpikir.
Kalau kamu punya skill tertentu, kemampuan tertentu, atau insight tertentu yang orang lain tidak punya, siapa yang sebetulnya butuh itu? Jawabannya, menurut Dr. Daniels, adalah: orang-orang di sekitar kamu yang sedang membutuhkan persis itu.
Konsepnya begini: gift yang kamu punya bukan milikmu sepenuhnya. Kamu lebih seperti host, kamu yang mengelola, kamu yang menggunakannya, tapi dia ada untuk diberikan ke orang yang membutuhkannya. “Freely you received, freely give.”
Kalau kamu withhold gift atau kemampuan kamu karena takut tidak dihargai, atau karena kamu pikir “saya belum cukup bagus untuk share ini”, kamu sebetulnya menahan sesuatu yang bukan hanya milik kamu. Ada orang di luar sana yang lagi butuh persis apa yang kamu punya, hari ini.
Untuk konteks Daddy: skill yang kamu bangun dari pengalaman bertahun-tahun itu, cara kamu problem-solve, cara kamu handle tekanan, itu bukan hanya untuk penghasilan kamu. Itu juga untuk anak kamu yang sedang memperhatikan. Untuk istri kamu yang butuh partner yang bisa diandalkan. Sober judgment di level kolaborasi artinya kamu tahu value dirimu cukup untuk diberikan, tanpa harus nunggu “sempurna dulu.”
Bagaimana Ini Bekerja di Kehidupan Saya
Jujur ya, saya sendiri masih belajar ini. Tapi satu perubahan konkret yang saya rasakan: saya mulai lebih sering berhenti di momen di mana saya mau nolak sesuatu, dan tanya ke diri sendiri, apakah penolakan ini berbasis data nyata, atau berbasis cara saya melihat diri saya?
Contoh spesifik: ada momen di mana klien tanya apakah saya bisa handle sesuatu yang belum pernah saya kerjakan secara persis. Defaultnya dulu adalah langsung bilang tidak yakin. Sekarang saya berhenti dan tanya, apakah ada komponen dari pengalaman saya yang relevan untuk ini? Kalau ada, saya jawab dari sana, bukan dari rasa tidak yakin itu.
Hasilnya tidak selalu sempurna. Tapi lebih akurat dari sebelumnya.
Dan di sisi lain, saya juga lebih cepat sadar kalau saya mulai overestimate kemampuan saya di sesuatu. Bukan karena saya tiba-tiba lebih rendah hati, tapi karena saya punya pertanyaan yang lebih baik untuk diri sendiri: “Ini berbasis apa? Pengalaman nyata, atau hanya rasa yakin yang tidak punya dasar?”
Siapa yang Akan Dapat Manfaat Paling Besar?
Cocok kalau kamu: Daddy yang merasa sering ragu untuk melangkah meskipun sebetulnya sudah punya kemampuannya, atau sebaliknya, sering berjanji lebih dari yang bisa kamu deliver dan akhirnya capek sendiri.
Mungkin belum waktunya kalau: kamu sedang dalam fase di mana kebutuhan dasar keluarga belum terpenuhi dan energi kamu perlu ke arah yang lebih operasional dulu. Sober judgment penting, tapi tidak mendesak kalau pondasi belum ada.
Kalau Kamu Mau Lanjut dari Sini
Kalau artikel ini nyambung dan kamu mau saya kirim hal-hal sejenis langsung ke email kamu setiap minggu, masuk ke newsletter Not A Perfect Daddy di sini, gratis, dan saya tulis sendiri.
Gabung Newsletter Not A Perfect Daddy →
Pertanyaan yang Sering Muncul
Sober judgment ini berbeda dari “kenali dirimu” yang sering dibilang orang?
Sebetulnya berhubungan, tapi fokusnya beda. “Kenali dirimu” kadang masih cukup abstrak, mengenal kepribadian, strengths and weaknesses. Sober judgment lebih operasional: bagaimana cara kamu menilai dirimu pada saat kamu perlu membuat keputusan. Apakah penilaian itu akurat? Atau sudah distorted oleh rasa takut, oleh perbandingan, atau oleh ekspektasi yang tidak realistis dari diri sendiri?
Kalau saya sudah merendahkan diri terlalu lama, gimana cara “reset” cara pandang ini?
Yang paling saya temukan efektif bukan afirmasi. Afirmasi tanpa bukti itu lemah. Yang lebih solid adalah kamu kumpulkan bukti kecil, hal-hal yang sebetulnya sudah berhasil kamu lakukan, tapi kamu tidak hitung karena terlalu sibuk fokus ke yang belum berhasil. Mulai dari sana. Bukan dari klaim baru tentang siapa kamu, tapi dari evidence yang sudah ada.
Apakah ini bisa diterapkan ke cara saya parenting anak juga?
Sangat bisa. Kalau kamu pernah langsung komentar ke perilaku anak tanpa dulu mempengaruhi cara dia melihat dirinya sendiri, “jangan begitu”, “stop berperilaku seperti itu”, hasilnya biasanya tidak bertahan lama. Yang lebih kuat adalah kamu bantu anak membangun identitas yang benar dulu. Dari sana, perilakunya akan mengikuti secara lebih natural. Saya tulis lebih detail soal ini di artikel terpisah.
Kalau saya sedang dalam kondisi burnout, apakah sober judgment masih bisa dipraktekkan?
Burnout sering bikin cara pandang kita sangat tidak akurat, biasanya ke arah negatif. Jadi ya, justru di kondisi burnout, check ke sober judgment itu perlu. Bukan untuk motivasi, tapi untuk verifikasi: apakah yang kamu rasakan tentang dirimu sekarang itu berbasis data, atau itu sinyal kelelahan yang sedang mendistorsi persepsimu?
Ini ada hubungannya dengan iman?
Secara personal bagi saya, ya. Satu hal yang saya percaya adalah bahwa cara Tuhan melihat kita seringkali lebih akurat dari cara kita melihat diri kita sendiri, dan sering kali, Dia melihat lebih tinggi dari yang kita lihat sendiri. Tapi prinsip sober judgment ini saya rasa universal dan bisa dipegang oleh siapapun terlepas dari background spiritualnya.

