Jujur ya, ini yang sering bikin Daddy stuck pas mau mulai nulis atau bikin konten: bukan gak tahu cara nulis, tapi gak tahu apa yang sebenarnya mau dia katakan. Ada perasaan pengen ngomong sesuatu, tapi pas duduk di depan layar, kosong. Akhirnya nulis tips generik yang sebenarnya kamu sendiri gak peduli-peduli amat.
Saya mau bagi satu cara yang gak biasa untuk nemuin apa yang beneran kamu yakini. Namanya surat jujur. Ini diadaptasi dari latihan menulis yang biasa dipakai orang yang mau nemuin pesan inti mereka, tapi saya terjemahin untuk Daddy yang waktunya cuma 2-4 jam seminggu dan baru punya anak.
Hasil dari latihan ini bukan tulisan yang bisa langsung dipublish. Hasilnya adalah satu kalimat keyakinan yang selama ini kamu pendam, yang nanti jadi inti dari semua yang kamu omongin. Karena kalau kamu gak tahu apa yang kamu yakini, semua konten kamu akan terasa kosong dan gampang dilupain.
Kenapa Daddy Sering Gak Tahu Apa yang Dia Yakini
Bukan karena kamu gak punya pendirian. Kamu punya. Tapi pendirian itu ketutup banyak lapisan.
Lapisan pertama, kesopanan. Kamu udah terlatih untuk gak ngomong yang bikin orang gak nyaman. Di kantor, di keluarga besar, di mana-mana, kamu jaga supaya gak nyinggung. Lama-lama kamu lupa apa yang sebenarnya kamu rasain, karena kamu selalu nyaringnya.
Lapisan kedua, takut salah. Kamu mikir, “siapa gue, berani-berani punya pendapat.” Apalagi sebagai ayah baru, kamu sendiri masih banyak gak tahunya. Jadi kamu nahan, nunggu sampai ngerasa cukup pantas, yang gak pernah dateng.
Lapisan ketiga, kebiasaan ngehalusin. Pas kamu nulis, kamu otomatis bikin versi yang aman. Yang keluar bukan yang kamu rasain, tapi yang kamu pikir pantas ditulis. Dan versi aman itu hambar, gak nyangkut ke siapa-siapa.
Surat jujur ini cara untuk nembus tiga lapisan itu sekaligus.
Cara Nulis Surat Jujur
Langkah 1: Sediakan 30 Menit Tanpa Gangguan
Cari waktu pas anak udah tidur atau lagi sama pasangan. Sediakan 30 menit. Kalau bisa pakai kertas dan pulpen, lebih bagus, karena lebih lambat dan lebih jujur daripada ngetik. Matiin notifikasi. Taruh hp di ruangan lain.
Tiga puluh menit ini bukan untuk mikir keras. Justru sebaliknya. Ini untuk berhenti nyaring dan mulai numpahin.
Langkah 2: Tulis Tanpa Berhenti, Tanpa Diedit
Ini aturan pentingnya: jangan berhenti, jangan balik ngedit. Begitu pulpen jalan, terus aja. Kalau mentok, tulis “saya mentok, saya mentok,” sampai ide berikutnya dateng. Jangan pernah baca ulang dan benerin di tengah jalan. Ngedit itu pekerjaan nanti. Sekarang tugasnya cuma numpahin.
Kenapa gak boleh ngedit? Karena begitu kamu ngedit, lapisan kesopanan dan takut salah langsung balik. Yang keluar jadi versi aman lagi. Nulis terus tanpa berhenti bikin penjaga di kepala kamu capek, dan keyakinan asli kamu mulai bocor keluar.
Langkah 3: Mulai dari Kalimat Pemicu
Kalau bingung mulai dari mana, pakai salah satu kalimat ini, terus lanjutin:
- “Yang bikin saya kesal soal cara orang kerja adalah…”
- “Saya percaya bahwa…”
- “Yang gak ada yang berani ngomong soal jadi ayah adalah…”
- “Kalau ada satu hal yang pengen saya ubah, itu…”
- “Saya capek banget sama…”
Pilih satu yang langsung bikin ada yang gerak di dada. Biasanya kalimat yang bikin kamu sedikit gak nyaman itu yang paling kaya. Lanjutin dari situ tanpa mikir mau ke mana.
Langkah 4: Cari Satu Kalimat yang Paling Nyala
Setelah 30 menit, baru kamu boleh baca ulang. Jangan nilai bagus atau jeleknya tulisan. Cari satu hal: bagian mana yang pas kamu baca, ada rasanya. Bagian yang bikin kamu mikir “iya, ini yang beneran saya rasain.”
Itu benih keyakinan kamu. Mungkin masih kasar, masih panjang, masih berantakan. Gak apa-apa. Tugas kamu tinggal merapikan jadi satu kalimat yang jelas. Bukan bikin lebih sopan, tapi bikin lebih jelas.
Dari Keyakinan Kasar ke Pendirian yang Tenang
Nah, di sini ada hal penting buat Daddy. Pas kamu numpahin, mungkin yang keluar agak galak atau marah. Itu bagus untuk tahap numpahin, karena di situ ada energinya. Tapi pas mau dipakai jadi konten, kamu gak perlu bawa galaknya.
Keyakinan yang kuat untuk Daddy itu tenang tapi jelas. Bukan “orang yang lembur sampai malam itu bodoh.” Tapi “saya gak percaya masa kecil anak harus dikorbankan demi karier yang sebenarnya bisa dikejar pelan-pelan.” Yang pertama nyerang orang. Yang kedua nyatain pendirian. Yang kedua justru lebih kuat, karena dia ngajak, bukan ngancem.
Kamu menentang sebuah kebiasaan atau cara pikir, bukan menyerang orangnya. Ini penting banget. Karena tujuan kamu bukan bikin orang merasa diserang, tapi bikin Daddy yang ngerasain hal yang sama merasa, “akhirnya ada yang ngomong, dan dia ngerti.”
Bagaimana Ini Bekerja di Kehidupan Saya
Saya jujur, keyakinan saya sekarang gak muncul dalam semalam. Dia kebentuk pelan dari pengalaman yang gak enak. Saya pernah ada di titik di mana income besar, tapi saya sadar angka besar bukan bukti hidup saya beres. Dan saya pegang satu prinsip yang gak pernah saya kompromiin sejak punya anak: gak nitip anak, hadir untuk anak itu nyata.
Dari situ keyakinan saya jadi jelas: kerja 2-4 jam sehari, income tetap nyata, dan hadir untuk anak itu mungkin, dan masa kecil anak gak bisa diulangin. Itu yang saya ulang terus dengan banyak cara di tulisan saya. Pas saya pegang satu keyakinan ini, nulis jadi jauh lebih gampang, karena saya gak lagi nyari topik, saya cuma nyari cara baru ngomongin satu hal yang sama.
Kalau kamu belum nemu keyakinan kamu, gak apa-apa. Saya juga butuh waktu lama dan banyak salah jalan. Tapi surat jujur ini bisa mempercepat. Dia maksa keluar apa yang udah ada di dalam kamu, tinggal belum disuarakan.
Siapa yang Akan Dapat Manfaat Paling Besar?
Cocok kalau kamu: Daddy yang udah pengen mulai nulis atau bikin konten, tapi selalu mentok di “mau ngomong apa ya.” Kamu ngerasa punya sesuatu di dalam, tapi belum bisa narik keluar.
Mungkin belum waktunya kalau: kamu lagi di fase paling sibuk dengan bayi baru, dan 30 menit fokus pun susah didapet. Gak apa-apa, simpan latihan ini buat nanti. Keyakinan kamu gak akan ke mana-mana, dia nungguin.
Kalau Mau Saya Temani Nemuin dan Mengasah Suara Kamu
Tiap minggu saya kirim satu email soal cara Daddy yang kerja nemuin suaranya dan bangun income tanpa ngorbanin keluarga, ditulis dari pengalaman nyata, bukan teori. Gratis, dan saya kirim tiap minggu.
Gabung Newsletter Not A Perfect Daddy →
Pertanyaan yang Sering Muncul
Gimana kalau setelah 30 menit gak ada yang nyala sama sekali?
Itu wajar di percobaan pertama, dan bukan berarti kamu gagal. Kadang lapisan penjaga di kepala terlalu tebal di kali pertama. Coba lagi besok atau lusa, dengan kalimat pemicu yang beda. Yang sering kejadian, di percobaan kedua atau ketiga baru bocor yang jujur, karena kamu udah lebih terbiasa numpahin tanpa nyaring. Mulai dari yang paling sederhana dulu, satu kalimat pemicu, lalu biarin jalan.
Keyakinan saya kok mirip punya orang lain, apa gak masalah?
Gak masalah. Yang bikin keyakinan kamu beda bukan kalimatnya, tapi cerita dan cara kamu ngomonginnya. Dua Daddy bisa sama-sama percaya “hadir untuk anak itu penting,” tapi cara mereka sampai ke keyakinan itu, pengalaman yang mereka bawa, dan suara mereka beda. Jadi jangan terhambat karena kalimatnya pernah kamu denger. Yang gak bisa ditiru itu kamu sendiri.
Apakah keyakinan saya boleh berubah seiring waktu?
Boleh, malah wajar. Keyakinan kamu akan makin tajam seiring kamu nulis dan lihat respons orang. Yang penting kamu mulai dari satu pendirian yang jujur sekarang, bukan nunggu sampai punya keyakinan yang sempurna dan final. Sama kayak kamu jadi ayah, kamu belajar sambil jalan, bukan nunggu sampai siap.
Saya takut keyakinan saya bikin orang gak suka. Wajar gak takut ini?
Wajar banget, dan saya juga ngerasain itu. Tapi pikirin gini: keyakinan yang gak bikin siapa pun mikir ulang itu biasanya terlalu aman sampai gak nyangkut ke siapa-siapa. Kuncinya, lihat siapa yang gak suka. Kalau yang gak suka itu memang bukan Daddy yang kamu tuju, ya gak apa-apa. Yang kamu jaga adalah orang yang merasa terwakili, bukan menyenangkan semua orang.
Berapa sering saya harus ngulang latihan ini?
Gak perlu sering. Sekali kamu nemu keyakinan inti, kamu gak perlu cari yang baru tiap minggu. Justru kekuatannya datang dari ngomongin satu hal yang sama berulang kali dengan cara berbeda. Kamu bisa balik ke latihan ini setahun sekali, atau pas kamu ngerasa suara kamu mulai kabur, untuk nyetel ulang. Selebihnya, tugas kamu bukan nyari keyakinan baru, tapi memperdalam yang udah ada.

