Saya inget waktu itu anak pertama saya baru berumur sekitar 6 tahun dan saya sedang dipinang ikut sebuah project baru. Bayarannya kelihatan bagus, komitmennya 6 bulan, dan secara teori itu langkah karir yang masuk akal. Tapi sesuatu di dalam diri saya ragu.
Saya tidak ragu soal proyeknya. Saya ragu soal apa yang harus saya lepaskan untuk itu. Enam bulan itu bukan cuma angka. Itu berarti sore-sore saya dengan anak berkurang drastis, akhir pekan saya lebih banyak habis di depan screen, dan energi saya di jam-jam penting dengan keluarga akan jatuh ke titik paling rendah.
Tapi yang bikin saya tidak langsung menolak juga: bagaimana kalau ini memang bagus? Bagaimana kalau saya menyesal tidak ambil?
Nah, di sinilah saya belajar sesuatu dari cara kerja eksperimen di dunia marketing yang ternyata sangat bisa diterapkan ke keputusan hidup nyata.
Geolift: Cara Paling Rigorous Ukur Apakah Sesuatu Benar-benar Menghasilkan
Di dunia Google Ads, ada metode eksperimen yang namanya geolift test. Konsepnya sederhana tapi powerful. Sebelum brand berani investasi besar di suatu campaign, mereka tidak langsung bakar budget jutaan rupiah. Mereka pilih dua wilayah yang mirip secara karakteristik. Satu wilayah dijalankan campaign-nya (treatment). Satu wilayah lagi tidak (holdout). Lalu keduanya dipantau selama 4-8 minggu.
Yang dicari bukan apakah penjualan naik di wilayah treatment. Yang dicari adalah apakah ada incremental lift nyata. Apakah ada hal baru yang terjadi yang tidak akan terjadi kalau tanpa investasi itu?
Ini perbedaan yang kelihatannya kecil tapi sangat penting.
Banyak campaign kelihatan “berhasil” karena penjualan naik. Tapi setelah di-geolift, ternyata penjualan itu terjadi dari orang-orang yang memang sudah mau beli. Campaign-nya tidak menghasilkan pelanggan baru. Tidak ada lift baru. Investasinya besar, hasilnya nol tambahan.
Dan ini persis yang sering terjadi juga di kehidupan Daddy.
Keputusan Besar yang Tidak Ditest Dulu
Kita sering commit ke sesuatu yang besar tanpa test dulu. Ambil kursus 3 bulan. Daftar gym satu tahun. Ikut program freelance 6 bulan. Ambil proyek side hustle yang butuh 10 jam seminggu.
Dan setelah 2-3 bulan, baru ketahuan: ini tidak menghasilkan yang diharapkan. Atau lebih parah lagi, ini menghasilkan sesuatu yang memang sudah ada, bukan hal baru. Waktu sudah habis. Energi terkuras. Dan yang paling menyakitkan, waktu dengan anak sudah lewat dan tidak bisa dikembalikan.
Masalahnya bukan di eksekusinya. Masalahnya di tidak ada test kecil dulu sebelum commit besar.
Bagaimana Prinsip Geolift Bekerja untuk Daddy
Sederhananya gini. Sebelum kamu commit ke sesuatu yang besar, tanya dua pertanyaan ini dulu.
Pertama: Apa versi mini dari ini yang bisa kamu coba dalam 4 minggu?
Hampir semua hal yang kelihatan besar bisa diperkecil. Side hustle yang rencananya butuh 10 jam seminggu, coba dulu versi 2-3 jam seminggu selama 4 minggu. Kursus yang harganya Rp5 juta, coba dulu beli 1 modul pertamanya seharga Rp200rb. Kebiasaan olahraga yang rencananya 5x seminggu, coba dulu 2x seminggu selama 3 minggu.
Bukan karena kamu tidak yakin. Tapi karena kamu mau punya data nyata sebelum commit penuh.
Kedua: Apa yang dimaksud “berhasil” di test kecil ini?
Ini yang sering dilupakan. Sebelum test dimulai, kamu harus define dulu apa yang kamu cari. Bukan “lihat dulu hasilnya”. Itu tidak cukup. Harus konkret.
Kalau side hustle: Apakah kamu bisa dapat minimal 1 pembayaran kecil dalam 4 minggu? Kalau tidak bisa dapat 1 klien meski kecil dalam 4 minggu, apa yang membuat kamu percaya akan dapat 5 klien dalam 3 bulan?
Kalau habit baru: Apakah kamu bisa konsisten 80% dari target selama 3 minggu? Kalau tidak, habit itu mungkin belum siap di-scale, bukan berarti ide-nya jelek.
Kalau investasi waktu besar: Apakah setelah 2 minggu kamu masih mau melanjutkan, bukan cuma merasa harus? Motivasi yang sehat itu berbeda dengan motivasi yang dipaksakan.
Tentukan “Holdout” Kamu
Ini bagian yang paling krusial dari geolift dan juga yang paling sering diabaikan.
Di eksperimen marketing, holdout region adalah wilayah yang tidak diintervensi. Fungsinya sebagai baseline. Tanpa holdout, kamu tidak bisa tahu apakah naik atau turunnya karena campaign atau karena faktor lain.
Dalam kehidupan Daddy, holdout kamu adalah: apa yang tidak akan kamu korbankan selama test berlangsung?
Ini wajib didefinisikan di awal. Bukan di tengah jalan.
Contoh konkret: kamu mau test side hustle baru 3 jam seminggu. Holdout kamu mungkin adalah: jam makan malam dengan keluarga tidak boleh disentuh. Sabtu pagi dengan anak tetap ada. Waktu tidur tidak turun di bawah 6 jam. Ini bukan negosiable selama 4 minggu test.
Kalau di tengah test kamu mulai mengorbankan holdout itu, itu tanda bahaya. Berarti ide itu belum bisa fit dengan realita hidup kamu sekarang, dan scale-up justru akan makin merusaknya.
Bagaimana Ini Bekerja di Kehidupan Saya
Kembali ke tawaran proyek 6 bulan yang saya ceritakan di awal. Yang saya lakukan adalah tanya: apakah ada versi test-nya?
Ternyata ada. Saya minta coba satu minggu onboarding dulu sebelum tanda tangan kontrak penuh. Satu minggu itu saya track: energi saya di akhir hari kayak gimana? Apakah sore saya masih ada untuk anak? Apakah waktu dengan istri masih terjaga?
Setelah satu minggu, data-nya cukup jelas. Bukan jelek, tapi tidak seperti yang saya bayangkan. Energi saya lebih terkuras dari ekspektasi. Anak saya bertanya dua kali kenapa saya masih di depan laptop pas dia mau mandi.
Dua kali dalam satu minggu. Kalau ini di-scale 24 minggu, itu 48 momen yang hilang.
Saya tidak jadi ambil proyeknya. Bukan karena proyeknya jelek, tapi karena test kecil itu memberi data yang tidak bisa saya abaikan.
Siapa yang Akan Dapat Manfaat Paling Besar?
Cocok kalau kamu: sudah kerja dengan waktu terbatas dan sering merasa setiap keputusan baru terasa seperti harus mengorbankan sesuatu yang penting. Juga cocok kalau kamu tipe yang mudah excited dengan ide baru tapi kemudian burn out setelah 2 bulan.
Mungkin belum waktunya kalau: kamu sedang dalam situasi darurat finansial di mana tidak ada luxury untuk test dulu. Kadang hidup memang menuntut keputusan langsung, dan itu valid juga.
Kalau Topik Ini Nyambung dengan Cara Kamu Kerja Sekarang
Saya nulis lebih banyak soal sistem kerja Daddy yang tidak mengorbankan waktu keluarga di newsletter Not A Perfect Daddy. Bukan teori motivasi. Lebih ke apa yang saya coba, apa yang berhasil, dan apa yang tidak. Termasuk beberapa keputusan yang saya test dulu sebelum commit.
Kalau mau saya kirim langsung ke email kamu, masuk ke newsletter Not A Perfect Daddy di sini, gratis, dan saya kirim tiap minggu.
Gabung Newsletter Not A Perfect Daddy ->
Pertanyaan yang Sering Muncul
Bagaimana kalau test kecil tidak memberikan hasil yang jelas?
Itu juga informasi yang valid. Kalau setelah 4-6 minggu kamu tidak tahu apakah “berhasil” atau tidak, itu biasanya berarti definisi sukses-mu di awal kurang konkret. Coba ulangi dengan metrik yang lebih spesifik. Kalau masih tidak jelas juga, pertanyaannya mungkin bukan soal metode eksekusinya, tapi soal apakah ini memang sesuatu yang kamu mau, atau sesuatu yang kamu pikir kamu seharusnya mau.
Test kecil terasa membuang waktu. Kenapa tidak langsung jalan saja?
Saya mengerti perasaan ini. Rasanya seperti tidak produktif. Tapi coba hitung dari sisi yang lain: kalau commit besar 3-6 bulan dan ternyata salah arah, kamu kehilangan lebih dari sekadar waktu. Kamu kehilangan momentum, energi, dan mungkin momen dengan anak yang tidak bisa digantikan. Test 4 minggu itu investasi kecil untuk menghindari rugi besar. Dengan workload yang sudah padat, Daddy yang kerja 2-4 jam sehari tidak punya cukup margin untuk recovery kalau salah arah.
Apakah ini berarti saya tidak boleh spontan dalam mengambil keputusan?
Ada keputusan yang memang cocok diambil spontan, terutama yang low-stakes dan mudah di-reverse. Mau coba warung makan baru? Langsung. Mau beli buku baru? Langsung. Tapi kalau investasi waktu atau uangnya signifikan dan sulit di-reverse, prinsip geolift ini sangat layak dipakai. Kuncinya bukan di spontanitas vs perencanaan, tapi di seberapa besar konsekuensinya kalau ternyata salah.
Bagaimana jelaskan konsep ini ke pasangan yang mau kita langsung commit?
Jujur saja bahwa kamu mau coba dulu versi kecilnya, bukan menunda. Framing-nya penting. “Aku mau coba dulu 4 minggu sebelum commit penuh, biar kita bisa keputusan yang lebih yakin bersama” terdengar lebih solid dari “aku masih ragu”. Dan memang itu yang lebih jujur. Ini bukan ragu, ini verifikasi sebelum investasi.
Bagaimana kalau orang lain melihat test kecil ini sebagai kurang serius?
Itu persepsi mereka, dan itu oke. Seriusnya kamu bukan dibuktikan dari seberapa cepat kamu commit, tapi dari seberapa baik kamu menggunakan data untuk mengambil keputusan yang tepat. Di jangka panjang, Daddy yang membuat keputusan berbasis bukti kecil akan lebih stabil dari yang selalu “all-in” tanpa verifikasi dulu.

