Kalau kamu udah beberapa minggu posting konten dan rasanya kayak teriak ke ruang kosong, kemungkinan besar bukan karena kontenmu jelek. Masalahnya ada di satu hal yang jarang disadari: kamu nulis untuk “audience” yang gak pernah ada.
Saya mau langsung ke inti masalahnya. Kebanyakan Daddy yang mulai bangun personal brand atau side income lewat konten, berhenti di tahap yang sama: mikirin siapa target market mereka secara terlalu luas, terus nulis sesuatu yang “aman” biar bisa dipahami semua orang. Hasilnya konten yang gak nyambung ke siapa pun.
Kenapa “Audience Umum” Itu Jebakan
Coba jujur ke diri sendiri. Kalau ditanya siapa target konten kamu, jawabannya apa? Kalau jawabannya sesuatu kayak “Daddy muda di Indonesia” atau “orang tua yang mau lebih produktif”, itu bukan target, itu kategori demografis. Dan kategori demografis gak pernah baca konten kamu, karena kategori itu gak pernah eksis sebagai satu orang yang duduk sambil scroll HP jam 9 malam sambil mikirin masalah yang sama kayak kamu.
Ini yang sebetulnya terjadi, dan kebanyakan orang gak sadar: pas kamu nulis untuk “semua orang di kategori itu”, otak kamu otomatis nyari kalimat yang paling general biar gak salah sasaran. Kamu jadi hati-hati, hasilnya bahasa jadi hambar, poinnya jadi kabur, dan gak ada satu orang pun yang baca terus mikir “ini gue banget”. Padahal itu reaksi yang kamu incar dari awal.
Saya udah lihat pola ini berkali-kali, baik di konten saya sendiri waktu masih coba-coba, maupun di konten orang lain yang stuck di angka engagement yang sama selama berbulan-bulan. Bukan karena kurang rajin posting. Bukan juga karena topiknya kurang menarik. Tapi karena gak ada satu orang spesifik di kepala mereka pas nulis.
Framework Sederhana: Cari Satu Orang, Bukan Satu Market
Ada satu ide dari buku tentang content marketing yang saya baca ulang beberapa waktu lalu, dan menariknya, inti dari framework riset audience yang biasanya dipakai brand besar itu sebenarnya bisa disederhanakan jadi versi personal yang jauh lebih ringan buat orang kayak kita yang kerja 2-4 jam sehari dan gak punya waktu buat riset market formal.
Versi aslinya biasanya nyuruh kamu jawab pertanyaan kayak: siapa audience kamu, umur berapa, profesi apa, gimana masalah mereka masuk ke kehidupan sehari-hari, konten format apa yang mereka konsumsi, di platform mana mereka aktif. Semua itu valid, tapi buat brand besar yang punya tim riset. Buat kita yang cuma punya waktu di sela kerja dan sebelum anak bangun, versi itu kepanjangan.
Jadi saya sederhanakan jadi satu pertanyaan aja: siapa SATU orang yang kalau baca ini, bakal berhenti scroll dan bilang “ini gue banget”?
Langkah 1: Tentukan Satu Orang, Bukan Satu Kelompok
Bayangkan diri kamu sendiri, tapi versi 1-2 tahun lalu. Sebelum kamu tahu apa yang kamu tahu sekarang. Kalau topik kamu soal manajemen waktu setelah punya anak, bayangkan diri kamu waktu masih bingung kenapa kerja 8 jam sehari tapi rasanya gak produktif dan anak juga gak dapat waktu yang cukup.
Kalau bukan diri sendiri, boleh juga orang lain yang nyata. Temen kerja yang pernah curhat masalah yang sama ke kamu lewat WhatsApp. Adik ipar yang baru punya anak pertama dan keliatan struggling. Yang penting orangnya nyata, bukan gabungan karakteristik yang kamu karang.
Langkah 2: Tulis Seolah Ngomong ke Orang Itu
Setelah punya satu orang di kepala, tulis persis kayak kamu lagi jawab pertanyaan dia lewat chat. Bukan nulis artikel untuk publik. Ini bedanya jauh. Kalimat kamu otomatis jadi lebih spesifik, lebih jujur, dan lebih berani, karena kamu gak lagi mikirin “gimana biar semua orang paham”, tapi “gimana biar orang ini ngerti”.
Langkah 3: Set Goal Kecil, Bukan Goal Viral
Ini bagian yang sering dilewatkan. Kebanyakan orang set goal konten yang samar, kayak “mau lebih rame” atau “mau lebih banyak engagement”. Goal kayak gitu gak bisa diukur, dan karena gak bisa diukur, kamu gak pernah tahu apakah pendekatan kamu benar atau salah.
Goal yang jauh lebih berguna itu kecil dan spesifik. Misalnya: dalam satu minggu, saya mau dapat 1 komentar dari orang yang bilang “ini gue banget” atau versi yang mirip. Bukan 1.000 likes. Bukan viral. Cuma 1 orang yang merasa dilihat.
Kenapa ini penting? Karena goal kecil ini fungsinya validasi, bukan hasil akhir. Kalau dalam beberapa kali posting kamu dapat reaksi itu, artinya “satu orang” yang kamu bayangkan tadi cukup representatif buat orang lain yang situasinya mirip. Baru dari situ masuk akal mikirin soal scale, newsletter, atau produk digital. Lompat ke goal besar sebelum validasi kecil ini biasanya yang bikin orang kerja keras nulis konten yang gak kemana-mana.
Bagaimana Ini Bekerja di Kehidupan Saya
Jujur, saya juga masih belajar soal ini, dan gak selalu konsisten melakukannya. Tapi ada satu momen yang saya inget jelas. Waktu itu saya lagi nulis soal manajemen waktu kerja, dan draft pertama saya isinya generic banget, semacam “banyak orang tua yang kesulitan bagi waktu antara kerja dan keluarga”. Saya baca ulang dan rasanya hambar, bahkan buat saya sendiri.
Terus saya coba ganti pendekatan. Saya bayangkan satu obrolan spesifik yang pernah saya alami, waktu ada temen kerja yang cerita dia ngerasa bersalah tiap kali pulang kerja dan anaknya udah ngantuk duluan sebelum sempet main bareng. Saya tulis ulang draft itu seolah saya lagi balas chat dia langsung, bukan nulis artikel untuk orang banyak. Hasilnya jauh lebih spesifik, dan yang menarik, respons yang saya dapat juga lebih personal, bukan sekadar like doang tapi orang yang bener-bener cerita balik situasi mereka.
Saya juga belum sepenuhnya disiplin nerapin goal kecil setiap kali posting. Kadang saya masih kebawa pengen “hasil yang lebih besar” dan lupa validasi dulu di skala kecil. Tapi setiap kali saya balik ke prinsip ini, tulis untuk satu orang, set goal kecil, hasilnya selalu lebih jelas dibanding waktu saya nulis buat “audience” yang abstrak.
Siapa yang Akan Dapat Manfaat Paling Besar?
Cocok kalau kamu: Baru mulai bangun personal brand atau side income lewat konten, kerja 2-4 jam sehari di sela tanggung jawab kerja dan keluarga, dan ngerasa kontenmu selama ini “aman” tapi gak ada yang connect. Cocok juga kalau kamu udah posting rutin tapi engagement-nya stuck di angka yang sama tiap minggu.
Mungkin belum waktunya kalau: Kamu udah punya audience yang jelas dan konten kamu memang udah konsisten dapat reaksi personal dari pembaca. Kalau kamu di tahap itu, masalahnya bukan lagi soal “satu orang”, tapi soal scale dan sistem distribusi, yang butuh pendekatan lain lagi.
Kalau kamu mau belajar cara bangun personal brand dan income tambahan tanpa harus korbanin waktu buat hadir untuk anak, saya tulis lebih dalam di newsletter Not A Perfect Daddy. Daftar di daddy.co.id/newsletter.
Pertanyaan yang Sering Muncul
Gimana kalau saya nulis untuk satu orang, tapi orang itu sendiri gak pernah baca konten saya?
Gak masalah, karena tujuannya bukan supaya orang itu literally baca. Tujuannya supaya kamu punya patokan konkret saat menulis, biar bahasanya spesifik dan gak general. Orang lain yang situasinya mirip sama “satu orang” itu yang justru bakal ngerasa konten kamu ditujukan ke mereka, meskipun mereka gak pernah kamu bayangkan secara langsung.
Apakah saya perlu ganti “satu orang” ini setiap kali ganti topik?
Kadang iya, kadang enggak. Kalau topiknya masih dalam ranah yang sama, misalnya soal manajemen waktu, satu orang yang sama bisa dipakai berkali-kali. Tapi kalau kamu pindah topik yang jauh berbeda, misalnya dari income ke parenting, wajar kalau kamu perlu bayangkan orang yang berbeda juga, karena masalah yang mereka hadapi juga beda.
Bukannya riset audience yang lebih formal, pakai data dan tools, hasilnya lebih akurat?
Riset formal punya tempatnya, terutama kalau kamu udah di skala yang lebih besar dan butuh keputusan berbasis data. Tapi buat tahap awal, terutama kalau kamu cuma punya 2-4 jam kerja sehari, riset formal justru sering jadi alasan buat menunda nulis. Pendekatan “satu orang” ini bukan pengganti riset, tapi jalan pintas yang cukup akurat untuk mulai, dan bisa kamu perdalam nanti setelah ada traksi.
Kalau goal kecil saya belum tercapai setelah beberapa minggu, apa artinya saya harus ganti topik total?
Belum tentu. Coba cek dulu apakah “satu orang” yang kamu bayangkan itu udah cukup spesifik, atau masih terlalu umum. Sering kali masalahnya bukan di topik, tapi di seberapa jelas gambaran orang yang kamu tuju. Baru kalau setelah diperjelas berkali-kali masih juga nol respons, itu saat yang wajar buat mempertimbangkan topik atau angle yang berbeda.
Apakah pendekatan ini juga berlaku kalau saya bikin konten untuk mempromosikan produk atau jasa, bukan cuma personal brand?
Berlaku, dan mungkin malah lebih penting di situ. Konten promosi yang ditulis untuk “semua orang yang butuh jasa ini” biasanya kedengaran kayak iklan generic. Tapi kalau kamu tulis seolah lagi jelasin ke satu calon klien spesifik yang punya masalah tertentu, hasilnya jauh lebih meyakinkan, karena orang bisa ngerasa dipahami, bukan cuma dijualin.

