Saya inget banget itu sekitar awal 2023. Saya sudah punya outline course, sudah ada nama bagus, sudah mikirin bagaimana cara promosi. Tiga bulan saya sempat menyicil kontennya di waktu senggang, malam-malam setelah anak tidur. Baru pas saya mulai tanya ke beberapa orang yang saya kira akan beli, jawabannya tidak sesuai ekspektasi sama sekali.
Bukan karena ide saya buruk. Tapi karena saya tidak pernah tanya ke orang yang tepat sebelum mulai bikin.
Itu pelajaran mahal yang saya tidak mau kamu ulang. Soalnya sebagai Daddy yang punya 2-4 jam kerja di malam hari setelah anak tidur, waktu itu adalah aset yang tidak bisa dikembalikan. Kalau kamu buang 3 bulan bikin sesuatu yang tidak ada yang beli, itu bukan cuma kerugian finansial, itu kerugian waktu yang seharusnya bisa kamu pakai untuk hadir untuk anak atau untuk proyek yang lebih masuk akal.
Jadi ini yang ingin saya bagikan: cara memvalidasi ide produk digital kamu sebelum satu baris konten pun kamu buat.
Masalahnya: Kita Jatuh Cinta dengan Ide Sebelum Tanya Pasar
Ini sifat manusia. Kita punya pengalaman atau keahlian yang kita pikir berharga, kita bayangkan orang lain mau beli, dan kita langsung masuk mode “bikin dulu, jual kemudian”. Masalahnya, pikiran kita tidak selalu sama dengan pasar.
Yang paling berbahaya adalah validasi palsu. Kamu tanya ke teman, mereka bilang “wah bagus ide ini”, kamu makin semangat bikin. Padahal teman tidak akan bayar Rp2 juta untuk kursus online kamu. Mereka bilang bagus karena tidak mau buat kamu kecewa, bukan karena mereka akan checkout di Rp2.5 juta.
Validasi yang benar adalah ketika orang rela kasih sesuatu, minimal waktu atau email mereka, untuk sesuatu yang belum selesai kamu buat.
Framework Validasi: Tiga Langkah Sebelum Produksi
Langkah 1: Posting 8-10 Konten tentang Topik Itu
Sebelum landing page, sebelum waitlist, sebelum apapun, kamu harus cek dulu apakah ada yang peduli dengan topik ini di dunia maya. Cara termudah adalah posting konten, bisa di Instagram, LinkedIn, atau platform yang audiens kamu ada di sana, tentang topik yang akan jadi isi produk kamu.
Bukan promo. Bukan teaser. Konten yang genuinely berguna. Contohnya kalau kamu mau bikin kursus tentang personal finance untuk keluarga muda, posting tips konkret tentang cara atur anggaran keluarga dengan satu penghasilan. Kalau yang follow kamu 2.000 orang dan tidak ada yang engage, itu data. Kalau save-nya tinggi atau ada yang share, itu data yang berbeda.
Kamu butuh 3-4 minggu untuk ini. Ya, lambat. Tapi lebih baik lambat di sini daripada buang 4 bulan bikin course yang sepi pembeli.
Langkah 2: Buka Waitlist, Target 100 Email dalam 30 Hari
Kalau konten mulai dapat traksi, langkah berikutnya adalah waitlist sederhana. Ini tidak perlu mewah. Landing page satu halaman dengan form email sudah cukup. Tuliskan apa yang sedang kamu buat, siapa yang akan dapat manfaat paling besar, dan kapan kira-kira keluar.
Target yang masuk akal untuk ukuran biasa adalah 100-200 email dalam 30 hari organik. Kalau kamu belum punya audience besar dan tidak mau keluar uang iklan, 100 email dari orang yang genuinely tertarik itu sudah sinyal bagus.
Kalau hanya 15 orang daftar dalam 30 hari, itu bukan tanda kamu harus lebih keras promosi. Itu tanda kamu harus evaluasi ulang apakah topiknya tepat, atau cara kamu komunikasikan manfaatnya perlu diubah.
Langkah 3: Wawancara 10 Orang dari Waitlist
Ini langkah yang paling sering dilewati dan paling penting. Ambil 10 orang yang sudah daftar waitlist dan minta 20-30 menit untuk ngobrol. Tanya pertanyaan sederhana: “Apa masalah terbesar kamu sekarang terkait [topik ini]?” dan “Apa yang sudah kamu coba untuk atasi masalah itu?”
Jangan tanya “apa yang kamu mau dari kursus saya”, soalnya orang tidak tahu apa yang mereka mau sampai kamu kasih opsi. Tanya masalah mereka. Dari 10 percakapan itu, pola akan muncul. Dan pola itu yang jadi tulang punggung produk kamu.
Artinya, produk yang kamu buat benar-benar menjawab masalah nyata, bukan masalah yang kamu asumsikan ada.
Bagaimana Ini Bekerja di Kehidupan Saya
Waktu saya akhirnya belajar dari kesalahan course pertama itu, saya mulai terapkan proses ini untuk proyek berikutnya. Saya mulai posting konten tentang satu topik spesifik selama sebulan sebelum saya bikin apapun. Saya lihat mana yang dapat respons paling banyak, mana yang disave, mana yang dibagikan. Baru setelah saya dapat gambaran yang jelas tentang apa yang orang peduli, saya mulai bentuk produknya.
Hasilnya berbeda. Bukan karena saya lebih pintar atau lebih keras kerja, tapi karena saya mulai dari tempat yang benar.
Yang lebih penting lagi, proses validasi ini bisa dikerjakan dalam waktu 30-45 menit per malam setelah anak tidur. Tidak perlu quit job. Tidak perlu modal besar. Kamu cukup konsisten posting dan mendengarkan responnya.
Siapa yang Akan Dapat Manfaat Paling Besar?
Cocok kalau kamu: sudah punya keahlian dari pekerjaan sekarang atau pengalaman hidup yang bisa diajarkan ke orang lain, tapi belum tahu apakah ada yang mau bayar untuk belajar dari kamu.
Mungkin belum waktunya kalau: kamu belum punya keahlian spesifik yang terbukti memberikan hasil nyata. Produk digital bukan cara belajar keahlian, itu cara memonetisasi keahlian yang sudah ada.
Kalau Kamu Mau Belajar Lebih Lanjut tentang Sistem Income Tambahan untuk Daddy
Saya tulis lebih banyak tentang topik ini di newsletter Not A Perfect Daddy setiap minggu. Bukan teori-teori besar, lebih ke langkah konkret yang bisa kamu mulai meski waktu kamu terbatas.
Kalau mau saya kirim tips dan framework tentang income tambahan untuk Daddy langsung ke email kamu, masuk ke newsletter Not A Perfect Daddy di sini, gratis, dan saya kirim tiap minggu.
Gabung Newsletter Not A Perfect Daddy →
Pertanyaan yang Sering Muncul
Kalau saya tidak punya followers sama sekali, bagaimana cara bikin waitlist?
Nah, ini pertanyaan yang masuk akal. Kalau followers di semua platform masih di bawah 500, kamu perlu strategi tambahan. Yang paling tidak butuh modal besar adalah bergabung aktif di komunitas online yang sudah ada, entah itu grup Facebook, grup WhatsApp profesional, atau forum yang relevan dengan topik kamu. Berikan nilai nyata di sana dulu, bukan langsung promo waitlist. Setelah beberapa minggu aktif dan orang mulai kenal kamu, baru kamu announce apa yang sedang kamu siapkan. Mulai dari mana kamu sudah ada, bukan dari platform baru yang harus dibangun dari nol.
Berapa harga yang wajar untuk produk digital pertama?
Ini sangat tergantung pada siapa target kamu dan seberapa besar masalah yang kamu pecahkan. Tapi untuk produk pertama yang belum punya banyak testimoni, kisaran Rp500rb sampai Rp2 juta adalah range yang realistis dan tidak terlalu friction untuk pembeli. Kalau kamu pricing terlalu murah, persepsi nilainya rendah. Kalau terlalu mahal di awal, barrier masuk terlalu tinggi untuk orang yang belum kenal kamu. Yang penting, jangan pricing berdasarkan berapa lama kamu bikinnya, tapi berdasarkan nilai yang pembeli dapat.
Saya sudah punya ide sejak lama tapi selalu nunda. Bagaimana cara mulai?
Jujur ya, proses validasi ini sengaja saya desain untuk orang yang sering nunda karena takut salah langkah. Karena kamu tidak commit bikin produk dulu, kamu cuma posting konten dan buka form waitlist. Beban mentalnya jauh lebih ringan. Mulai dari satu konten hari ini. Satu. Lihat responnya. Lanjut dari sana.
Bagaimana kalau topik saya sudah ada yang jual? Persaingan tinggi?
Persaingan bukan masalah, justru itu tanda ada permintaan. Masalahnya baru muncul kalau kamu tidak punya sudut pandang yang berbeda. Tanya ke diri sendiri: siapa yang akan paling terbantu oleh versi kamu, bukan versi generik yang sudah ada? Kalau kamu bisa jawab pertanyaan itu dengan spesifik, kamu sudah punya diferensiasi yang cukup untuk mulai.
Produk digitalnya harus berupa kursus video? Ada format lain?
Tidak harus. Kursus video adalah yang paling sering dipikirkan orang tapi bukan satu-satunya opsi. Template siap pakai, e-book singkat yang sangat praktis, live workshop online bulanan, atau bahkan sesi konsultasi terjadwal semuanya bisa jadi produk digital. Pilih format yang paling cocok dengan cara kamu mengajar dan paling mudah dibuat dengan waktu yang kamu punya sekarang.

