Saya inget banget momen itu. Anak saya yang laki lagi main di lantai, dan saya minta dia masuk kamar untuk siap-siap tidur. Saya bilang dari sofa, sambil lihat hp, “Nak, udah malam, masuk kamar ya.” Dia lirik saya sekali, terus lanjut main. Saya ulang. Dia pura-pura gak denger. Saya ulang lagi dengan nada sedikit lebih tinggi. Baru dia bereaksi, dan itu pun sambil cemberut.
Yang bikin saya frustrasi bukan anaknya. Yang bikin frustrasi adalah saya ngerasa kayak gak punya otoritas. Padahal saya bapaknya. Padahal saya yang minta hal yang wajar.
Waktu saya akhirnya belajar tentang ini, satu hal langsung jelas: masalahnya bukan di anak saya. Masalahnya ada di teknik saya sendiri. Tepatnya, saya hampir tidak melakukan satu pun dari hal-hal yang membuat instruksi ke anak itu benar-benar tersampaikan.
Ini yang ingin saya bagikan di artikel ini.
Kenapa Anak Kadang Tidak Mengikuti Instruksi Kita
Ada kesalahpahaman besar di sini. Banyak dari kita, termasuk saya dulu, langsung menyimpulkan: anak saya keras kepala, anak saya susah diatur, anak saya memang beda. Tapi ada satu hal yang tidak pernah kita tanyakan ke diri sendiri: apakah saya sudah setup situasinya dengan benar sebelum minta dia lakukan sesuatu?
Perilaku anak bukan soal karakter saja. Perilaku anak sangat dipengaruhi oleh teknik orang di sekitar mereka. Anak yang sama bisa sangat kooperatif dengan guru tertentu, dan sangat susah diajak kerja sama dengan guru lain. Bukan karena anaknya berubah. Tapi karena pendekatannya berbeda.
Dan pendekatan itu bisa dipelajari. Bisa dipraktikkan. Dan ternyata, ada 5 hal konkret yang bisa kita lakukan sebelum memberi instruksi ke anak supaya instruksi itu punya kemungkinan jauh lebih besar untuk diikuti.
5 Elemen yang Saya Pakai Sebelum Minta Anak Lakukan Sesuatu
1. Berhadapan Langsung (Face to Face)
Ini yang paling sering saya lewati. Saya minta anak lakukan sesuatu sambil saya masih ngetik, atau sambil lihat hp, atau dari ruangan lain. Hasilnya hampir selalu sama: diabaikan.
Sebelum minta anak lakukan sesuatu yang penting, bergerak dulu. Berdiri, pindah ke dekat dia, dan hadapi dia langsung. Bukan harus dramatis atau serius banget, cukup pastikan posisi kamu menghadap dia dan dia bisa melihat kamu juga.
Ini sinyal fisik yang bilang ke anak: yang mau kamu sampaikan itu serius. Bukan instruksi asal lempar dari kejauhan.
2. Dekat (Proximity)
Sedekat mungkin. Ini yang sering diremehkan. Kalau anak lagi duduk di lantai, saya duduk di lantai juga dekat dia. Kalau dia lagi di meja, saya berdiri dekat meja itu.
Jarak fisik yang terlalu jauh bikin instruksi terasa seperti teriakan dari kejauhan. Dan anak, terutama yang lebih kecil, sering benar-benar tidak merespons sinyal yang datang dari luar radius kenyamanan mereka. Ini bukan kemalasan, ini memang cara otak anak memproses informasi.
3. Kontak Mata (Eye Contact)
Sebelum mulai ngomong, pastikan ada kontak mata dulu. Kalau perlu, tunggu. Jangan mulai instruksi sebelum anak benar-benar melihat kamu.
Ini yang saya mulai lakukan dan perbedaannya cukup nyata. Sebelum saya bilang apa pun, saya tunggu sampai anak saya lihat ke arah saya. Itu titik mulai yang benar. Bukan ketika saya sudah selesai bicara tapi dia baru mulai ngeh ada yang ngomong ke dia.
Kontak mata dijaga dari awal sampai instruksi selesai dan aktivitas yang diminta sudah mulai.
4. Kontak Fisik Ringan (Physical Contact)
Sentuhan ringan di bahu, lengan, atau lutut sebelum dan saat bicara. Ini bukan soal afeksi yang over, cukup sentuhan yang bilang “hei, kamu dan saya terhubung sekarang.”
Kalau anak sudah duduk dan siap, high five kecil atau tepuk bahu bisa jadi cara masuk. Ini membuat transisi dari “anak lagi di dunianya sendiri” ke “anak siap dengarkan” jauh lebih mulus.
Tanpa ini, instruksi sering terasa seperti suara dari luar yang masuk ke dunia mereka tanpa izin. Dengan ini, ada “pintu masuk” yang lebih natural.
5. Energi yang Tenang dan Pasti (Calm and Confident Energy)
Ini yang paling halus tapi paling berpengaruh. Anak bisa merasakan energi ragu-ragu.
Kalau kamu masuk ke situasi dengan nada setengah minta izin, atau suara yang terlalu excited seolah bujuk-bujuk, atau justru sudah kesal duluan, itu semua dibaca oleh anak. Dan responsnya biasanya tidak sesuai harapan.
Yang bekerja adalah energi yang tenang tapi pasti. Bukan keras. Bukan mengancam. Tapi juga bukan memohon. Ini bisa dilatih. Saya sendiri masih latihan ini tiap hari, jujur ya. Tapi semakin sering dipraktikkan, semakin natural.
Bayangkan kamu masuk ke situasi dengan keyakinan: “Anak ini bisa melakukan ini, dan saya masuk untuk membantu dia melakukan itu.” Bukan “Ya ampun ini anak susah banget.” Perbedaan internal ini keluar lewat cara kamu berbicara, cara kamu bergerak, cara kamu menunggu respons.
Satu Hal Lagi yang Sering Membuat Instruksi Gagal Sebelum Dimulai
Di luar 5 elemen tadi, ada satu pola yang saya sadari sering merusak semuanya bahkan sebelum kita mulai: kita terlalu banyak bertanya tentang hal yang penting.
Maksudnya begini. Ada tiga cara kita berbicara ke anak:
Question adalah pertanyaan yang memberi anak pilihan nyata untuk menjawab apa pun. “Mau makan sekarang atau nanti?” Anak bisa jawab “nanti” dan itu jawaban yang sah. Kita harus siap dengan itu.
Statement adalah informasi saja. “Ini sudah jam 7 malam.” Bisa didengar, bisa diabaikan. Tidak ada yang harus dilakukan oleh anak dari statement.
Direction adalah yang seharusnya dipakai kalau sesuatu memang penting untuk dilakukan. “Tolong duduk di sini. Kita akan belajar 10 kata bersama. Setelah selesai, kita break.” Jelas. Ada aksi. Ada endpoint yang diketahui anak.
Masalah yang sering terjadi: kita bertanya tentang hal yang penting. “Mau belajar sekarang tidak?” adalah pertanyaan. Anak bisa jawab tidak, dan jawaban itu sah karena kita yang bertanya. Tapi kalau belajarnya memang harus sekarang, itu bukan situasi yang cocok untuk pertanyaan.
Bukan berarti anak tidak boleh diberi pilihan. Boleh. Tapi pilihan diberikan untuk hal yang memang tidak penting hasilnya: “Mau pakai spidol merah atau hijau?” Dua-duanya oke untuk kita. Anak merasa punya kontrol. Kita tetap di jalur yang kita mau. Ini bukan manipulasi, ini cara komunikasi yang menghormati kebutuhan anak untuk merasa punya otonomi, sambil kita tetap yang pegang arah.
Bagaimana Ini Bekerja di Kehidupan Saya
Yang pertama kali saya ubah adalah berhenti ngomong dari kejauhan. Itu saja, hanya itu dulu.
Setiap kali mau minta anak lakukan sesuatu, saya berdiri, pindah ke dekat dia, tunggu sampai ada kontak mata. Baru bicara. Dua minggu pertama rasanya awkward karena sebelumnya saya terbiasa instruksi sambil multitask. Tapi hasilnya cukup berbeda.
Anak saya yang laki, yang 4 tahun itu, masih suka ngeyel. Tapi frekuensinya berkurang. Dan lebih sering dari sebelumnya, dia langsung respons kalau saya sudah berdiri dekat dia dan ada kontak mata duluan sebelum saya bicara. Bukan 100%, dia masih anak 4 tahun. Tapi lebih konsisten dari sebelumnya.
Yang lebih penting, saya tidak lagi ngerasa kehilangan otoritas. Saya masuk ke situasi dengan cara yang lebih jelas, dan itu sendiri sudah mengubah dinamikanya.
Siapa yang Akan Dapat Manfaat Paling Besar?
Cocok kalau kamu: punya anak usia 3-10 tahun dan sering frustrasi ketika instruksi tidak diikuti, sudah coba berbagai cara tapi hasilnya tidak konsisten, atau merasa anak lebih nurut ke orang lain dibanding ke kamu.
Mungkin belum waktunya kalau: kamu sedang dalam situasi yang butuh penanganan lebih dari sekadar teknik komunikasi, misalnya ada kebutuhan khusus yang memerlukan pendampingan profesional.
Kalau Kamu Mau Lebih Banyak tentang Parenting Praktis untuk Daddy
Ini bukan teori dari buku teks. Ini hal-hal yang saya pelajari dan coba terapkan di kehidupan nyata, sambil tetap kerja, sambil tetap hadir untuk anak. Saya tulis hal-hal seperti ini tiap minggu di newsletter Not A Perfect Daddy.
Kalau mau saya kirim langsung ke email kamu, masuk gratis di sini.
Gabung Newsletter Not A Perfect Daddy →
Pertanyaan yang Sering Muncul
Apakah ini harus dilakukan setiap kali, bahkan untuk hal kecil?
Tidak harus setiap saat untuk hal-hal yang benar-benar sepele. Tapi untuk instruksi yang memang penting, ya, kelima elemen ini layak dilakukan secara sadar, setidaknya sampai jadi kebiasaan. Kalau sudah jadi otomatis, kamu tidak akan merasa ini butuh usaha ekstra. Awalnya memang perlu perhatian penuh, tapi lama-lama jadi natural.
Bagaimana kalau saya sudah melakukan semua ini tapi anak tetap tidak mau?
Ini bisa terjadi, dan wajar. Lima elemen ini bukan jaminan 100%. Ini meningkatkan probabilitasnya secara signifikan, bukan memastikan hasilnya selalu seperti yang kita mau. Kalau sudah dilakukan dengan baik tapi anak tetap tidak kooperatif, mungkin ada faktor lain: anak sedang lapar, mengantuk, atau ada sesuatu yang mengganggunya. Perlu dilihat situasinya lebih dekat.
Apakah anak akan jadi terlalu bergantung pada “ritual” ini untuk bisa kooperatif?
Kekhawatiran yang wajar. Tapi ini bukan ritual — ini cara komunikasi yang menghormati anak sebagai manusia yang butuh sinyal yang jelas. Semakin sering kamu melakukan ini, anak juga belajar untuk lebih responsif terhadap komunikasi yang jelas. Jadi justru sebaliknya, mereka tidak jadi bergantung pada ritual ini, mereka jadi lebih terlatih merespons komunikasi yang baik secara umum.
Bagaimana dengan anak yang sudah terbiasa tidak mengikuti instruksi selama bertahun-tahun?
Perubahan kebiasaan butuh waktu lebih panjang. Jangan harap satu minggu langsung 180 derajat. Yang realistis adalah kamu mulai konsisten, dan dalam 2-4 minggu sudah mulai ada tanda-tanda yang berbeda. Prosesnya lebih lama kalau polanya sudah berlangsung lama, tapi tetap bisa berubah.
Apakah teknik ini berbeda untuk anak perempuan dan laki-laki?
Secara teknis, kelima elemen ini berlaku untuk keduanya. Mungkin ada perbedaan dalam hal konten instruksinya atau cara anak merespons energi, tapi proximity, kontak mata, kontak fisik ringan, dan direction yang jelas bekerja lintas gender dan usia (dalam rentang anak-anak).

