Ini yang saya temukan dari hampir semua cerita perubahan yang pernah saya baca atau dengerin: ada satu bagian yang hampir selalu dilewati.
Bagian itu namanya “action yang salah dulu”.
Setiap orang yang berhasil mengubah sesuatu di hidupnya pasti pernah coba pendekatan yang tidak berhasil sebelum ketemu yang berhasil. Itu bukan pengecualian, itu rumus standar. Tapi kalau kamu perhatikan, hampir tidak ada yang cerita bagian itu dengan jelas.
Yang kita ceritakan: “Dulu saya begini. Sekarang saya begitu. Rahasianya adalah…”
Yang dilewati: “Waktu itu saya coba cara X selama 3 bulan dan hasilnya nol. Saya frustasi. Saya hampir berhenti. Dan cara X itu bukan langkah kecil, itu investasi waktu dan uang yang cukup besar.”
Bagian yang dilewati itu justru yang paling berguna untuk orang yang mendengarnya.
Kenapa Kita Selalu Skip Bagian Ini
Ada beberapa alasan dan saya pernah ada di semua posisi ini.
Yang pertama adalah malu. Action yang salah itu sering terasa bodoh kalau dilihat dari belakang. “Kenapa saya pikir itu akan berhasil?” Dan kita tidak mau orang tahu bahwa kita pernah buat keputusan yang bisa dibilang tidak optimal.
Yang kedua adalah kita pikir itu tidak relevan. Kalau hasilnya sudah bagus sekarang, kenapa perlu cerita yang jelek dulu? Yang penting kan hasilnya.
Yang ketiga, dan ini yang paling menarik untuk saya: kita sering tidak sadar bahwa itu bagian yang paling penting untuk diceritakan. Kita tidak habiskan energi untuk sadar tentang ini karena tidak ada yang mengajarkan ini.
Ada framework cerita namanya PARR yang secara eksplisit menempatkan “Action yang salah” sebagai satu dari enam elemen cerita. Bukan opsional. Bukan bonus. Tapi elemen yang wajib ada. Dan ketika saya mulai sadar ini, saya mulai sadar betapa banyak cerita yang saya dengar selama ini punya lubang besar di bagian itu.
Ini Bukan Hanya Soal Konten
Saya mulai nulis ini dalam konteks content creation, tapi semakin saya pikir semakin saya sadar bahwa ini lebih luas dari itu.
Sebagai Daddy, kita sering cerita ke anak dengan cara yang sama persis: versi yang sudah dipoles, tanpa bagian yang salah dulu.
“Dulu Daddy rajin belajar makanya berhasil.” Yang dilewati: “Dulu Daddy sempat berhenti belajar selama hampir setahun karena merasa bosan dan tidak ada yang peduli. Baru mulai lagi waktu ada momen yang bikin sadar.”
Atau: “Daddy selalu usahakan hadir untuk anak.” Yang dilewati: “Ada periode di mana Daddy terlalu fokus ke kerja dan anak-anak saya lihat cukup sering tapi tidak benar-benar hadir. Itu yang saya angsuran sekarang.”
Versi yang dipoles melindungi image kita. Tapi versi yang jujur termasuk yang salah itu yang memberi anak kita izin untuk salah juga, dan yang lebih penting, izin untuk bangkit setelah salah.
Apa yang Berubah Kalau Kita Mau Cerita Bagian Ini
Pertama, orang yang mendengarnya tidak lagi merasa sendirian dengan kesalahan mereka. Salah satu perasaan paling berat waktu kita lagi di titik rendah adalah perasaan bahwa semua orang lain kayaknya tidak pernah ada di posisi ini. Kalau ada yang mau cerita “saya juga pernah disana, dan ini yang saya coba yang tidak berhasil”, itu sangat meringankan beban itu.
Kedua, orang yang mendengarnya bisa skip beberapa kesalahan yang tidak perlu mereka lakukan. Kalau kamu tahu bahwa seseorang sudah coba cara X dan tidak berhasil karena alasan Y, kamu tidak perlu ulangi cara X. Ini adalah knowledge transfer yang sebenarnya, bukan hanya transfer hasil tapi transfer perjalanannya.
Ketiga, kamu sendiri belajar lebih dalam tentang perjalananmu sendiri. Waktu kamu dipaksa cerita bagian yang salah secara conscious dan terstruktur, kamu mulai lihat pattern yang mungkin tidak pernah kamu sadar sebelumnya. Kenapa saya selalu coba hal yang sama dulu? Apa yang biasanya jadi trigger untuk saya akhirnya berubah arah?
Satu Langkah yang Saya Coba Konsistenkan
Setiap kali saya cerita sesuatu, baik di tulisan, ke teman, ke anak, saya tanya diri sendiri: “Sudah cerita bagian yang salah belum?”
Bukan untuk mencari-cari kelemahan atau drama. Tapi karena saya sadar bahwa satu langkah lebih jauh dari cerita yang “aman” itu seringkali di bagian itulah nilai yang paling besar ada.
Saya tidak selalu berhasil. Masih ada saat-saat di mana saya cerita versi yang sudah dipoles karena lebih mudah. Tapi semakin sering saya sadar tentang ini, semakin sering saya pilih untuk include bagian yang tidak nyaman itu.
Dan respons yang saya dapat setiap kali melakukan itu selalu lebih meaningful dari respons terhadap cerita yang sudah rapi.
Siapa yang Akan Dapat Manfaat Paling Besar?
Cocok kalau kamu: sering punya cerita atau pengalaman yang mau dishare tapi merasa “belum layak” atau “belum siap”, atau sudah cerita tapi merasa koneksinya kurang dalam dengan yang mendengar. Mungkin ini karena bagian yang paling penting sedang dilewati.
Mungkin belum waktunya kalau: kamu sedang di tengah proses yang belum selesai dan belum ada titik baliknya. Menceritakan masalah tanpa resolusi apapun itu berbeda dari menceritakan action yang salah dalam arc yang lebih panjang. Tunggu sampai ada minimal satu shift perspektif yang bisa kamu share, bahkan kalau hasilnya belum sempurna.
Kalau Kamu Mau Coba Lebih Dalam Soal Ini
Newsletter Not A Perfect Daddy yang saya kirim tiap minggu sering berisi momen seperti ini: percobaan yang tidak berhasil, titik baliknya di mana, dan apa yang berubah setelahnya. Tidak selalu dramatis, kadang kecil saja. Tapi selalu ada bagian yang salah dulu sebelum yang benar.
Kalau mau saya kirim langsung ke email kamu, daftar di newsletter Not A Perfect Daddy di sini, gratis dan tiap minggu.
Gabung Newsletter Not A Perfect Daddy ->
Pertanyaan yang Sering Muncul
Apakah menceritakan action yang salah akan bikin orang meragukan kapabilitas saya?
Ini kekhawatiran yang hampir semua orang punya. Tapi data yang saya lihat, baik dari pengalaman sendiri maupun dari konten orang lain, menunjukkan yang sebaliknya. Orang yang mau cerita pernah salah dan kemudian berubah justru dinilai lebih credible, bukan kurang. Alasannya: orang tahu bahwa tidak ada transformasi yang terjadi tanpa ada yang salah dulu. Kalau kamu tidak pernah cerita yang salah, orang mulai curiga ceritanya tidak lengkap.
Bagaimana kalau “action yang salah” saya melibatkan keputusan yang mungkin kontroversial?
Kamu selalu punya kontrol atas level detail yang kamu share. Yang penting adalah jujur bahwa ada pendekatan yang tidak berhasil, tidak harus sampai detail yang bisa menyakiti diri sendiri atau orang lain. “Saya sempat punya cara pikir yang tidak membantu soal ini” itu tetap menyampaikan bahwa ada yang salah dulu, tanpa harus masuk ke detail yang tidak perlu.
Apakah ada risiko bahwa cerita action yang salah membuat orang juga ikut melakukan kesalahan yang sama?
Justru sebaliknya: dengan ceritakan action yang salah beserta kenapa tidak berhasil, kamu memberi orang context untuk tidak perlu ulangi kesalahan yang sama. Kalau kamu hanya cerita solusinya tanpa cerita jalan buntu yang pernah kamu coba, orang mungkin tetap akan coba jalan buntu itu sendiri karena tidak tahu bahwa sudah pernah dicoba dan tidak berhasil.
Seberapa sering saya perlu cerita kegagalan supaya tidak terlihat seperti selalu gagal?
Ini bukan soal frekuensi. Ini soal apakah ada arc yang jelas. Satu cerita tentang action yang salah diikuti dengan transformasi yang genuine jauh lebih kuat dari dua puluh cerita sukses tanpa konteks perjuangan. Bukan kuantitas kegagalan yang diceritakan, tapi kualitas arc perjalanannya yang bikin perbedaan.
Apakah framework PARR ini hanya untuk konten atau ada aplikasinya di kehidupan sehari-hari?
Jauh lebih luas dari konten. PARR pada dasarnya adalah cara kita merefleksikan pengalaman sendiri dengan sadar, dan cara kita mentransfer wisdom itu ke orang lain, entah ke anak, ke pasangan, ke teman, ke siapapun. Setiap kali kamu sadar bahwa “ini yang saya coba dulu yang tidak berhasil”, kamu sedang melakukan satu putaran learning yang lebih deliberate dari yang biasanya terjadi secara default.

