Sebelum Mulai Side Hustle, Bikin Thesis Dulu, Bukan Feeling
Sebelum kamu mikirin mau jualan apa, jawab dulu satu pertanyaan: kenapa orang tertentu bakal beli dari kamu, bukan dari yang lain, dan bukan cuma karena kasihan.
Saya sering ketemu cerita yang polanya mirip. Ada Daddy yang baru gajian, ngerasa perlu tambahan income, terus ikut reseller skincare atau bikin kaos custom karena lagi rame di grup WhatsApp. Modal keluar sekitar Rp500 ribu sampai Rp1 juta buat stok awal, rajin posting tiap hari di Story, tapi dua bulan jalan yang beli cuma sodara dan temen kantor sendiri. Habis itu stok numpuk, semangat abis, terus mikir “ah saya emang gak berbakat jualan.”
Saya gak yakin itu soal bakat. Yang sering kelewat itu satu langkah kecil sebelum mulai jualan: kamu belum pernah jawab dengan jelas, kenapa orang di luar lingkaran kamu bakal beli. Bukan kenapa menurut kamu produknya bagus. Kenapa yang sebenarnya, dari sisi orang yang belum kenal kamu sama sekali.
Kenapa Ide “Kayaknya Laku” Sering Mental di Bulan Kedua
Kebanyakan side hustle mulai dari feeling. Lihat orang lain jualan sesuatu, kelihatan gampang, ikutan. Atau lihat tren di TikTok, produknya viral, langsung stok. Masalahnya, feeling itu gak bisa dijelasin ke orang lain, apalagi ke calon pembeli yang gak kenal kamu.
Ada satu prinsip yang saya pegang dari kerjaan konsultasi saya sehari-hari: pesan yang coba menjangkau semua orang biasanya gak kena kuat ke siapapun. Kalau kamu jualan “produk bagus untuk semua orang yang mau sehat” atau “kaos nyaman untuk siapa saja”, itu kedengaran aman, tapi gak ada satupun orang yang ngerasa itu ditujukan spesifik ke dia.
Praktisi strategi menyebut ini thesis, yaitu satu kalimat yang nangkep kenapa orang tertentu benar-benar akan beli, bukan sekadar deskripsi produk. Thesis yang lemah bunyinya kira-kira begini: “produk berkualitas untuk yang peduli kesehatan.” Thesis yang tajam lebih spesifik, misalnya: “ibu kantoran yang capek kerja shift dan takut kulitnya keliatan lebih tua dari usianya, butuh rutinitas 5 menit yang bisa dia lakuin sebelum anak bangun.” Dua-duanya bisa untuk produk yang sama persis. Tapi yang kedua langsung kerasa “ini ngomongin saya” buat orang yang cocok, dan itu yang bikin orang berhenti scroll terus beli.
Cara Gali Bahan Sebelum Nulis Thesis
Sebelum nulis satu kalimat thesis, kamu butuh bahan dulu. Datanya sebenarnya udah ada di sekitar kamu, cuma jarang dibaca dengan cara yang benar.
Baca review, bukan buat cek rating, tapi buat nyari kata yang diulang. Kumpulin 15-20 review bintang 5 dari produk sejenis di marketplace. Catat kata emosional yang muncul lebih dari 3 kali, misalnya “akhirnya”, “lega”, “gak nyangka”. Kata yang berulang itu nunjukin apa yang orang benar-benar rasain, bukan cuma fitur yang mereka puji.
Baca review 1 bintang punya kompetitor. Ini yang paling sering dilewatin padahal paling berharga. Cari keluhan yang terus muncul tapi belum ada satupun brand yang benerin. Itu celah kosong yang bisa kamu isi. Misalnya kalau di kategori kamu banyak yang komplain “gak ada yang jelasin cara pakainya, jadi saya nyoba-nyoba sendiri,” itu sinyal orang butuh edukasi, bukan cuma produk.
Ngobrol langsung, bukan survey formal. Kirim chat ke 5-10 orang yang udah pernah beli produk sejenis, atau yang kamu tahu lagi butuh. Tanya kapan tepatnya mereka mutusin beli, dan apa yang bikin mereka ragu sebelum akhirnya checkout. Jawabannya sering beda jauh dari yang kamu kira.
Perhatiin komentar di konten yang viral di niche kamu. Kalau ada video soal topik yang mirip sama yang kamu mau jual dapat ribuan komentar, baca komentarnya. Yang di-like banyak orang biasanya nunjukin apa yang paling “kena” buat banyak orang sekaligus.
3 Filter Buat Ngecek Thesis Kamu Udah Tajam Apa Belum
Setelah kamu punya draft thesis, cek pakai tiga filter ini sebelum lanjut jualan.
Filter pertama, uji pengecualian. Tanya ke diri sendiri, siapa yang gak akan tertarik sama thesis ini? Kalau jawabannya “gak ada, ini cocok buat semua orang,” itu tanda thesis kamu masih terlalu lebar. Thesis yang bagus justru berani bikin sebagian orang bilang “ah ini bukan buat saya”, karena itu artinya dia ngena banget ke orang yang memang cocok.
Filter kedua, uji keunikan dibanding kompetitor. Coba bayangin kompetitor kamu ngomongin thesis yang sama, dengan kredibilitas yang sama. Kalau bisa, berarti thesis kamu belum cukup situated ke situasi spesifik kamu. Cari sudut yang cuma bisa kamu klaim, misalnya karena kamu sendiri pernah ngalamin masalah itu.
Filter ketiga, uji pengakuan customer. Bayangin calon pembeli baca thesis kamu dalam bentuk caption atau iklan. Apa reaksinya “ini tentang saya banget” atau cuma “menarik sih, tapi bukan saya”? Kalau reaksinya yang kedua, thesis kamu perlu dipertajam lagi.
5 Gerakan Buat Mempertajam Thesis Kamu
Draft pertama hampir selalu masih terlalu lebar. Ini lima gerakan yang bisa kamu pakai satu-satu buat mempertajam.
Gerakan 1, kasih kejelasan ke siapa. Dari “orang yang mau sehat” jadi “karyawan usia 30-an yang gula darahnya udah mulai naik tapi belum mau minum obat seumur hidup.”
Gerakan 2, ganti yang abstrak jadi konkret. Dari “biar ibu ngerasa baik soal dirinya” jadi “biar ibu ngerasa dia masih serius ngurus dirinya sendiri, bukan cuma jadi mesin ngurus anak.”
Gerakan 3, tambah lapisan tersembunyi. Dari “beli buat self-care” jadi “beli self-care sebagai alasan sah buat berhenti sebentar, di tengah rasa bersalah karena udah capek kerja seharian tapi belum sempat main sama anak.”
Gerakan 4, tambah momen pemicunya. Dari “beli sprei bagus” jadi “beli sprei bagus habis quarter yang berat di kantor, sebagai cara ngerebut balik satu hal kecil yang bisa dia kontrol sendiri.”
Gerakan 5, tambah konteks sosial ala Indonesia. Dari “beli buat pemulihan” jadi “beli ritual pemulihan yang bisa dia jelasin ke pasangan sebagai ‘perlu, biar besok bisa kerja lagi’, bukan ‘boros, buat diri sendiri doang’.” Ini penting di konteks kita, karena banyak keputusan beli di rumah tangga Indonesia harus bisa dijustifikasi ke pasangan dulu.
| Sebelum (Lebar) | Sesudah (Tajam) |
|---|---|
| “Suplemen buat yang mau sehat” | “Suplemen buat karyawan yang takut gula darahnya jadi alasan dia gak bisa gendong cucu nanti” |
| “Kaos custom buat siapa aja” | “Kaos custom buat komunitas kantor yang mau punya identitas bareng tanpa keluar budget seragam resmi” |
| “Kelas online buat belajar skill baru” | “Kelas online buat Daddy yang cuma punya 1 jam malam sebelum anak minta ditemenin tidur” |
Bagaimana Ini Bekerja di Kehidupan Saya
Saya pakai logika yang sama waktu mikirin siapa yang saya tulis di blog ini. Awalnya gampang banget kepikiran nulis “buat semua orang tua yang mau lebih baik”, karena kedengarannya aman dan gak menyaring siapa-siapa. Tapi begitu saya coba, kontennya jadi hambar, gak ada yang ngerasa itu benar-benar buat dia.
Baru terasa beda pas saya persempit ke satu orang spesifik: Daddy karyawan capek yang baru punya anak, yang kerjanya masih 8 jam sehari tapi pengen belajar kerja cerdas, bukan kerja keras, biar bisa hadir untuk anak tanpa harus resign dulu. Thesis itu ngecualiin banyak orang, termasuk Daddypreneur yang udah sukses dan pengusaha besar. Tapi buat orang yang memang cocok, tulisan saya jadi kerasa lebih nempel, dan itu yang bikin Not A Perfect Daddy bisa jalan sampai sekarang.
Siapa yang Akan Dapat Manfaat Paling Besar?
Cocok kalau kamu: udah coba side hustle tapi hasilnya stuck, atau mau mulai tapi masih di tahap “kayaknya ini laku deh” tanpa alasan yang bisa kamu jelasin ke orang lain.
Mungkin belum waktunya kalau: kamu bahkan belum riset sama sekali soal siapa yang mau kamu jual. Gak apa-apa, riset dulu barang seminggu, baru balik ke sini buat nyusun thesisnya. Thesis yang bagus butuh bahan, bukan cuma logika di kepala doang.
Kalau Kamu Mau Bahas Ini Lebih Detail
Nulis thesis buat side hustle itu satu skill yang kepakenya berkali-kali, bukan cuma sekali pas mulai. Kalau kamu mau saya kirim template dan contoh lebih lengkap langsung ke email kamu, saya tulis lebih dalam di newsletter Not A Perfect Daddy. Daftar di daddy.co.id/newsletter.
Gabung Newsletter Not A Perfect Daddy →
Pertanyaan yang Sering Muncul
Apa bedanya thesis dengan target market atau buyer persona biasa?
Buyer persona biasanya isinya data demografis, umur, pekerjaan, penghasilan. Thesis lebih dalam dari itu, dia jelasin alasan emosional kenapa orang itu benar-benar mau beli, momen apa yang jadi pemicunya, dan kenapa produk kamu spesifik yang bisa jawab itu. Kamu bisa punya buyer persona detail tapi thesis yang masih generik, dan itu yang bikin konten kamu gak nempel walau targetingnya udah benar.
Saya jualan jasa freelance, bukan produk fisik. Apa ini tetap relevan?
Sangat relevan, malah lebih penting. Klien gak beli jam kerja kamu, mereka beli rasa aman bahwa masalah mereka bakal selesai, atau validasi bahwa keputusan mereka udah benar milih kamu. Coba jawab, kenapa klien tertentu mending pilih kamu dibanding freelancer lain yang skillnya mirip. Kalau jawabannya cuma “harga saya lebih murah”, itu belum thesis, itu baru taktik harga.
Berapa banyak calon customer yang perlu saya tanya sebelum yakin sama satu thesis?
Ngobrol sama 5-10 orang biasanya udah cukup buat nangkep pola awal, apalagi kalau kamu baru mulai. Kalau jawaban dari 5 orang itu punya benang merah yang mirip, itu sinyal kuat. Kalau jawabannya beda-beda semua, mungkin kamu masih perlu nyempitin lagi siapa target kamu sebelum nulis thesis.
Apa saya harus ganti thesis kalau side hustle saya belum laku dalam sebulan?
Belum tentu. Satu bulan itu waktu yang pendek buat nilai sesuatu, apalagi kalau kamu baru mulai posting. Yang perlu dicek dulu, apa kamu udah benar-benar coba komunikasiin thesis itu di konten kamu, atau kamu masih pakai bahasa lama yang lebar. Ganti komunikasinya dulu sebelum buru-buru ganti thesisnya.
Thesis ini bikin saya kehilangan sebagian calon pembeli, apa itu masalah?
Sebagian iya, dan itu memang tujuannya. Thesis yang jelas menyaring orang yang gak cocok dan menarik orang yang benar-benar sepaham. Buat Daddy yang waktunya cuma 2-4 jam sehari, gak perlu ngelayanin semua orang. Cukup ngelayanin orang yang tepat dengan baik, itu udah lebih dari cukup buat mulai jalan.

