Anak saya yang besar, yang sekarang sudah 8 tahun, punya kebiasaan aneh. Setiap kali dia lihat saya buka laptop di akhir pekan, dia datang, duduk di sebelah saya, dan tanya satu pertanyaan yang sama. Bukan “Daddy lagi ngapain?” Tapi: “Daddy kerja buat siapa?”
Pertama kali dia tanya, saya jawab sekenanya. “Buat klien, Nak.” Dia angguk-angguk, lalu pergi main lagi.
Minggu berikutnya, pertanyaan yang sama. “Buat siapa?” Kali ini saya sedikit lebih serius jawabnya. “Buat orang yang butuh bantuan Daddy.” Dia diam sebentar, terus tanya lagi: “Orang seperti siapa?”
Dan saya… tidak bisa jawab.
Bukan karena saya tidak tahu bisnis saya. Tapi karena ternyata, setelah dua tahun ngurusin konten, nulis artikel, coba-coba personal brand, saya sendiri masih bingung mau ngomong ke siapa.
Kalau kamu pernah nonton video tentang personal brand atau niche selection, kamu pasti sudah hafal mantranya: “temukan niche yang spesifik”, “jangan jadi generalis”, “pilih satu audiens yang sempit dan dominasi”. Saya sudah dengar itu ratusan kali. Saya bahkan sudah catat di Notion, bikin mindmap, nulis di sticky note yang ditempel di meja kerja.
Tapi dua tahun berlalu dan saya masih berputar-putar di tempat yang sama.
Niche Hunting yang Tidak Pernah Selesai
Kalau kamu mau tahu seperti apa niche hunting yang benar-benar serius tapi tidak kemana-mana, inilah gambaran dua tahun saya.
Bulan pertama, saya yakin niche saya adalah digital marketing. Masuk akal, kan? Itu yang saya kerjakan sehari-hari. Tapi terasa terlalu luas. Semua orang bicara digital marketing.
Bulan ketiga, saya coba niche down ke performance marketing. Iklan Facebook dan Google. Lebih spesifik. Tapi rasanya seperti saya sedang jual sesuatu yang orang lain juga jual, dengan cara yang sama.
Bulan keenam, saya pivot ke AI tools untuk marketer. Ini yang paling bikin saya excited karena memang sedang saya pelajari. Bikin beberapa konten. Dapat beberapa like. Tapi setelah tiga bulan, saya mulai merasa seperti reporter yang meliput industri yang bukan rumah saya.
Bulan kesembilan, saya coba personal brand untuk konsultan. Kedengarannya oke. Tapi siapa yang mau dengerin konsultan yang tidak punya posisi jelas?
Dan begitu seterusnya. Setiap kali saya coba niche baru, ada fase awal yang exciting, lalu ada fase dua minggu kemudian waktu saya duduk di depan layar kosong dan tidak tahu mau nulis apa.
Totalnya, saya sudah coba setidaknya 5 arah berbeda dalam dua tahun. Sekitar 18 bulan kalau dihitung dari awal serius. Dan setiap kali stuck, saya balik ke Google, baca artikel baru tentang cara nemuin niche, dan prosesnya mulai lagi dari awal.
Waktu Pertanyaan Anak Saya Tidak Bisa Saya Jawab
Jadi, kembali ke pertanyaan anak saya tadi. “Buat orang seperti siapa?”
Saya diam cukup lama sampai dia mulai gelisah dan mau pergi. Terus saya bilang, “Tunggu. Daddy mau pikir dulu.”
Dia balik duduk. Saya lihat muka dia yang serius menunggu jawaban ayahnya. Dan satu hal yang lucu terjadi — karena saya dipaksa jawab dengan cara yang bisa dipahami anak 8 tahun, otak saya tiba-tiba mulai jalan dengan cara yang berbeda.
Saya tidak bisa bilang “decision maker di stage B2B SME yang mau scaling dengan digital marketing”. Itu tidak ada artinya buat dia.
Saya coba jawab jujur: “Buat Daddy yang lain. Daddy yang kerjanya sibuk, punya anak kecil di rumah, mau tetap bisa hadir buat anak tapi juga mau nambah income keluarga.”
Anak saya angguk-angguk dengan serius. Terus dia bilang: “Oh, berarti buat Daddy kayak kamu ya?”
Dan saya… ketawa. Tapi juga merasa seperti baru ditampar dengan sangat lembut.
Ya. Persis. Buat Daddy kayak saya dulu. Dua tahun lalu.
Kenapa Masa Lalu Kamu adalah Avatar Terbaik
Ada satu konsep dari Dan Koe yang saya baca tapi tidak pernah benar-benar saya internalisasi sampai momen itu: target avatar terbaik adalah diri kamu sendiri satu sampai tiga tahun lalu.
Bukannya karena itu cara yang paling mudah. Tapi karena itulah satu-satunya posisi di mana kamu punya semua yang kamu butuhkan untuk benar-benar membantu seseorang.
Kamu sudah hidup di dalam masalah itu. Kamu tahu rasanya dari dalam, bukan dari hasil riset. Kamu tahu bagian mana yang paling menyakitkan. Kamu tahu at 2 AM waktu kamu overthinking, pertanyaan apa yang muncul. Kamu tahu jalan mana yang sudah kamu coba dan tidak berhasil sebelum akhirnya nemu yang work.
Itu adalah sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan riset keyword. Tidak bisa disimulasikan dengan survei audiens. Empati yang kamu punya untuk masalah itu adalah empati yang genuine karena kamu benar-benar di sana.
Saya dua tahun lalu adalah Daddy yang baru punya anak kedua, kerja penuh waktu, mulai sadar bahwa cara kerja saya yang lama tidak bisa terus-terusan dilanjutkan tanpa ada yang dikorbankan, dan sedang coba-coba cara untuk bisa hadir lebih untuk keluarga tanpa income keluarga jatuh. Saya coba berbagai sistem, banyak yang gagal, sebagian berhasil, dan sekarang saya sudah di titik di mana saya kerja rata-rata 2-4 jam sehari dan bisa lebih fleksibel hadir untuk anak.
Orang yang persis dalam situasi seperti itu dua tahun lalu, itulah orang yang paling bisa saya bantu. Bukan karena saya guru terbaik di dunia untuk topik ini. Tapi karena saya masih ingat dengan detail bagaimana rasanya berada di sana, dan saya tahu jalan mana yang ternyata berhasil.
Cara Terapkan Ini dari Pengalaman Sebagai Daddy
Kalau kamu sekarang dalam proses yang sama, entah itu niche hunting untuk personal brand, cari arah bisnis sampingan, atau bahkan cuma bingung mau konten apa yang dibuat, ada cara sederhana untuk mulai dari sini.
Pertama, lihat ke belakang 12-24 bulan. Masalah apa yang kamu hadapi saat itu yang sekarang sudah kamu selesaikan? Bukan yang masih kamu struggle. Tapi yang sudah kamu lewati dan kamu punya ceritanya. Bisa soal parenting, soal keuangan keluarga, soal produktivitas sebagai ayah yang kerja, apapun.
Kedua, tanya pertanyaan yang sama seperti anak saya tanya. “Ini buat orang seperti siapa?” Dan coba jawab dengan cara yang bisa dipahami anak 8 tahun. Kalau jawabannya butuh lima klausa dan dua tanda hubung untuk bisa dimengerti, itu terlalu abstrak. Kalau jawabannya bisa dijawab dengan “oh, berarti buat orang kayak kamu ya?” - kamu sudah di tempat yang benar.
Ketiga, cek apakah kamu bisa cerita dari dalam. Bukan “saya riset topik ini”, tapi “saya pernah ada di sana”. Ada perbedaan besar antara konten dari orang yang sudah melewati sesuatu versus konten dari orang yang mempelajari sesuatu. Pembaca bisa merasakannya, bahkan kalau mereka tidak bisa mengartikulasikan kenapa.
Keempat, mulai dari yang paling konkret. Bukan semua pengalaman kamu harus jadi niche. Pilih satu masalah spesifik yang kamu ingat dengan sangat jelas momen “sebelum” dan “sesudah”-nya. Semakin spesifik transisinya, semakin mudah orang yang ada di “sebelum” itu mengenali diri mereka.
Untuk saya, transisi itu adalah dari “Daddy yang kerja banyak tapi sering merasa guilty karena tidak hadir” ke “Daddy yang punya sistem kerja lebih sedikit tapi tetap bisa hadir untuk anak”. Itu konkret. Saya ingat detail-detailnya. Dan saya tahu masalah spesifik apa yang harus diselesaikan untuk sampai ke sana.
Bagaimana Ini Bekerja di Kehidupan Saya
Setelah momen dengan anak saya itu, saya berhenti niche hunting. Saya mulai nulis dari apa yang saya tahu dari dalam.
Artikel pertama yang saya tulis dengan pendekatan ini, saya tulis dalam dua jam. Padahal biasanya saya bisa duduk tiga jam dan tidak menghasilkan apa-apa yang benar-benar bagus karena saya terlalu sibuk mikir “apakah ini cukup niche?” atau “apakah ini yang mau dibaca audiens?”.
Yang berubah bukan kemampuan nulis saya. Yang berubah adalah saya tidak perlu lagi meyakinkan diri sendiri bahwa topik ini relevan. Saya sudah tahu itu relevan karena saya sendiri pernah sangat membutuhkan jawaban yang sekarang saya punya.
Itu juga yang bikin saya bisa konsisten. Kalau konten kamu adalah reportase tentang industri yang bukan rumah kamu, setiap kali kamu mau nulis kamu harus motivasi diri sendiri untuk riset dan nulis. Kalau konten kamu adalah cerita dari pengalaman yang kamu hidupi sendiri, yang kamu butuhkan bukan motivasi, tapi waktu untuk duduk dan ngetik.
Sekarang, setiap kali saya mau nulis sesuatu, saya tanya ke diri sendiri: “Ini sesuatu yang saya sendiri dulu butuh tapi tidak bisa nemuin? Atau ini cuma sesuatu yang saya pikir orang lain butuh tapi saya sendiri tidak pernah merasakannya?”
Kalau jawabannya yang kedua, saya tidak nulis itu dulu.
Siapa yang Akan Dapat Manfaat Paling Besar?
Cocok kalau kamu: Daddy yang sudah beberapa bulan atau bahkan beberapa tahun coba-coba personal brand tapi masih merasa tidak ada yang “klik”, atau yang masih bingung mau ngomong ke siapa dan rasanya setiap niche yang dicoba terasa seperti kostum yang tidak pas di badan.
Mungkin belum waktunya kalau: Kamu baru saja keluar dari masalah yang kamu hadapi dan belum punya waktu untuk refleksi. Nulis dari pengalaman butuh jarak yang cukup untuk bisa lihat pola, bukan cuma rasa sakitnya. Kalau kamu masih di tengah-tengah masalah, tulis itu dulu sebagai catatan untuk diri sendiri. Nanti kamu akan tahu kapan sudah cukup jauh untuk bisa cerita ke orang lain.
Kalau Kamu Mau Lanjutkan Obrolan Ini
Saya nulis tentang topik seperti ini di newsletter Not A Perfect Daddy. Bukan tips parenting yang terdengar sempurna, bukan motivasi pagi. Lebih ke catatan jujur dari Daddy yang masih belajar, untuk Daddy yang juga masih belajar. Kalau itu terdengar seperti yang kamu butuhkan, kamu bisa masuk dari sini.
Gabung Newsletter Not A Perfect Daddy ->
Pertanyaan yang Sering Muncul
Bagaimana kalau pengalaman saya terasa terlalu “biasa” untuk dijadikan niche?
Ini yang paling sering saya dengar, dan biasanya itu tanda bahwa kamu menilai pengalaman kamu dari sudut pandang orang yang sudah melewatinya, bukan orang yang masih di tengah-tengahnya. Hal yang terasa “biasa” buat kamu sekarang bisa terasa sangat berharga buat orang yang masih stuck di sana. Coba ingat betapa frustrasinya kamu dua tahun lalu waktu cari informasi soal hal yang sekarang kamu anggap biasa. Frustasi itu adalah signal bahwa ada kebutuhan yang belum terpenuhi saat itu.
Apakah saya harus pilih satu niche saja?
Untuk mulai, ya. Bukan karena kamu tidak boleh punya banyak topik, tapi karena niche yang terlalu lebar bikin kamu tidak bisa membangun kedekatan dengan pembaca. Orang yang kamu tuju harus bisa lihat diri mereka di konten kamu. Kalau kontenmu terlalu lebar, tidak ada yang merasa “ini buat saya banget”. Mulai dari satu, kuasai koneksi dengan audiens itu dulu, baru ekspansi kalau memang relevan.
Bagaimana kalau pengalaman saya di area yang tidak ada uangnya?
Niche tidak harus langsung monetizable dari hari pertama. Yang lebih penting adalah apakah ada orang lain yang sedang mengalami hal yang sama dan butuh bantuan. Kalau ada, kamu bisa mulai bangun kepercayaan dulu. Monetisasi akan lebih mudah datang kalau kamu sudah punya orang-orang yang percaya bahwa kamu tahu apa yang kamu bicarakan karena kamu sudah melaluinya.
Kalau niche dari pengalaman pribadi, apakah itu terlalu terbatas audiensnya?
Justru sebaliknya. Pengalaman yang spesifik justru lebih bisa beresonansi karena terasa nyata, bukan generik. Cerita tentang “Daddy yang kerja konsultasi dari rumah sambil punya dua anak dan coba sistem 2-4 jam kerja sehari” jauh lebih menarik daripada “tips produktivitas untuk profesional”. Yang pertama punya wajah. Yang kedua bisa ditulis oleh siapapun dan tidak punya karakter.

