Anak saya yang perempuan waktu itu kelas 2, dan saya minta dia baca halaman pertama buku pelajaran IPA-nya. Dia baca. Tapi matanya… kosong, gitu loh. Saya bisa lihat dia sedang membaca huruf, bukan sedang memahami sesuatu.
Terus satu jam kemudian, saya lihat dia duduk di lantai, nonton video tentang bagaimana gunung berapi terbentuk. Tanpa disuruh siapapun. Selama 40 menit. Sambil sesekali minta adiknya lihat, “Eh, liat ini, liat ini.”
Dan saya berdiri di pintu kamarnya, mikir. Ini bukan masalah. Ini petunjuk.
Saya sering ngobrol sama orang tua lain dan yang paling sering muncul adalah variasi dari kekhawatiran yang sama: anak gak mau belajar. Susah disuruh baca. Lebih milih main atau nonton. Tapi kalau kita jujur, pertanyaannya bukan “kenapa anak tidak mau belajar.” Pertanyaan yang lebih tepat adalah: belajar apa, dengan cara apa, dan apakah itu terhubung ke sesuatu yang sudah dia pedulikan?
Jim Kwik, seorang pakar brain dan learning, punya pendekatan yang cukup berbeda dari cara kebanyakan orang tua mikirin soal ini. Dia bukan ngomong soal metode belajar yang lebih efisien. Dia ngomong soal bagaimana membangun kecintaan belajar itu sendiri. Dan itu yang jauh lebih penting, terutama kalau kita mau anak kita terus belajar bahkan setelah mereka lulus sekolah dan tidak ada yang mengawasi.
Ada 6 cara yang dia jabarkan, dan saya mau ceritakan dari sudut saya sebagai Daddy yang punya waktu 2-4 jam sehari untuk bersama anak.
Kenapa Kecintaan Belajar Lebih Penting dari Nilai
Dulu saya pikir kalau anak dapat nilai bagus, berarti dia belajar dengan baik. Ternyata tidak sesederhana itu.
Nilai itu bisa datang dari hafalan. Dari bimbel yang bagus. Dari rasa takut kena marah kalau tidak lulus. Tapi kecintaan belajar, itu beda. Itu yang membuat orang tetap membaca di usia 40, tetap mengambil kursus baru di usia 50, tetap penasaran waktu orang lain sudah merasa tau segalanya.
Dan yang cukup bikin saya terdiam waktu pertama dengar ini: kecintaan belajar bukan bawaan lahir. Bukan soal apakah anak kita “tipe yang suka belajar” atau tidak. Itu dibangun, perlahan, dari interaksi dan pengalaman yang mereka kumpulkan bersama orang-orang terdekat mereka. Termasuk kita.
6 Cara Membangun Kecintaan Belajar Anak
1. Hubungkan ke Minat yang Sudah Ada
Ini yang paling fundamental tapi paling sering dilewati.
Otak kita, termasuk otak anak, sangat buruk dalam menerima informasi yang tidak relevan. Tapi ketika informasi itu terhubung ke sesuatu yang sudah kita pedulikan, sesuatu yang sudah punya “hook” di dalam kepala kita, daya serapnya berbeda.
Anak saya yang laki suka sekali dinosaur. Suka banget. Bisa cerita panjang soal nama-nama dinosaur yang saya sendiri tidak hafal. Dan waktu saya mulai pakai itu sebagai pintu masuk, misalnya nanya “kira-kira dinosaur bisa hidup di cuaca dingin gak ya,” dia langsung masuk ke percakapan panjang yang, tanpa dia sadar, itu pelajaran sains.
Kalau kamu tidak tahu minat anak, observasi dulu. Lihat apa yang mereka tonton berulang. Apa yang mereka ceritakan tanpa diminta. Itu adalah petunjuk.
2. Buat Belajar Terasa Seperti Main
Kwik menekankan ini berulang kali: belajar yang kaku, pasif, dan hanya melibatkan mata membaca adalah cara yang sangat tidak natural untuk otak manusia, apalagi otak anak.
Belajar yang natural itu lebih interaktif. Ada hands-on. Ada game. Ada pertanyaan yang tidak langsung dijawab tapi dibiarkan menggantung dulu sampai anak penasaran mencari jawabannya sendiri.
Saya sendiri mulai mengubah cara ini. Daripada suruh anak “belajar berhitung,” saya kadang minta dia bantu hitung diskon waktu belanja. Atau minta dia selesaikan “tantangan matematika” yang saya frame seperti teka-teki. Kecil, tapi cara otak menerima informasi itu berbeda kalau ada unsur game di sana.
3. Gunakan Cerita, Bukan Fakta Kering
Satu penelitian sederhana: otak kita 22 kali lebih mudah mengingat informasi yang dibungkus dalam cerita dibandingkan fakta yang berdiri sendiri.
Ini bukan teori abstrak. Ini sebabnya kita masih ingat dongeng yang diceritakan orang tua kita puluhan tahun lalu, tapi tidak ingat 80% materi ujian yang kita hafal semalam sebelum ujian.
Kwik menyebut ini sebagai “story as a memory palace.” Bukan hanya untuk anak-anak, tapi ini jauh lebih natural untuk anak karena otak mereka masih dalam fase di mana narrative adalah primary mode of understanding.
Artinya kalau kamu mau anak ingat sesuatu, bungkus dalam cerita. Bukan ceramah, bukan daftar fakta. Cerita dengan karakter, situasi, dan resolusi.
4. Jadi Model Lifelong Learner
Ini yang menurut saya paling underrated.
Anak tidak belajar dari apa yang kita katakan. Mereka belajar dari apa yang mereka lihat kita lakukan. Dan kalau setiap hari yang mereka lihat adalah orang tua yang scrolling HP, nonton Netflix, tapi tidak pernah terlihat sedang belajar sesuatu yang baru, maka pesan yang masuk ke kepala mereka adalah: belajar itu selesai waktu sekolah selesai.
Saya mulai baca buku di ruang keluarga, bukan di kamar tersembunyi. Dan kadang saya ceritakan ke anak saya apa yang saya baca, dengan cara yang sederhana. Bukan kuliah, cuma ngobrol. “Papa baru baca tadi tentang bagaimana lebah berkomunikasi, keren banget loh.” Itu aja. Dua menit.
Kwik menyebut prinsip ini sederhana: kalau anak lihat kamu masih belajar, mereka belajar bahwa belajar tidak pernah selesai. Dan itu adalah fondasi yang jauh lebih kuat dari nilai rapor manapun.
5. Puji Proses, Bukan Hasil
Ini yang paling sulit diubah karena kita semua tumbuh di sistem yang memuji hasil.
Nilai A dapat pujian. Juara kelas dapat hadiah. Lulus ujian mendapat tepuk tangan. Tapi yang terjadi di balik layar, proses mencoba, mengulang, bertanya hal yang terasa bodoh, itu jarang sekali mendapat apresiasi yang setara.
Carol Dweck menyebut ini sebagai fixed mindset vs growth mindset, dan Kwik menghubungkannya langsung dengan kecintaan belajar. Anak yang terbiasa dipuji hanya karena hasil cenderung menghindari tantangan baru karena risiko gagalnya terlalu tinggi untuk harga diri mereka.
Sedangkan anak yang dipuji karena proses, karena usahanya, karena keberaniannya mencoba hal baru, mereka belajar bahwa nilai mereka sebagai orang tidak bergantung dari seberapa sempurna hasilnya.
Konkretnya: ganti “Wah, kamu dapat nilai 90, hebat!” dengan “Wah, tadi kamu mau coba lagi padahal soalnya susah, itu yang bikin Papa bangga.”
6. Libatkan Anak dalam Menentukan Tujuan Belajarnya Sendiri
Kwik menyebut ini sebagai salah satu perubahan paling powerful. Ketika anak punya agency atas apa yang mereka pelajari dan kenapa, motivasi intrinsiknya berbeda.
Bukan berarti tidak ada kurikulum. Tapi di luar itu, coba sesekali tanya: “Kamu pengen bisa apa dalam 3 bulan ke depan? Ada hal yang pengen kamu pelajari tapi belum sempat?” Dan dengarkan jawabannya dengan sungguh-sungguh.
Anak saya yang perempuan pernah bilang dia pengen bisa gambar wajah orang. Itu jadi proyek kecil kami selama satu bulan, saya carikan video tutorial, kami lihat bersama, dan saya duduk menemaninya latihan. Tidak ada nilai. Tidak ada ujian. Tapi semangat belajarnya waktu itu, saya tidak pernah lihat dia se-antusias itu belajar sesuatu di buku teks.
Bagaimana Ini Bekerja di Kehidupan Saya
Jujur ya, saya bukan orang tua yang setiap hari punya sistem sempurna. Dengan kondisi kerja 2-4 jam sehari dan dua anak yang keduanya punya energi masing-masing, tidak semua hari saya bisa duduk menemani belajar dengan cara ideal.
Tapi yang saya temukan adalah hal kecil yang konsisten itu lebih berdampak dari sesi besar yang jarang. Lima menit cerita sebelum tidur tentang hal baru yang saya pelajari hari ini. Satu pertanyaan saat makan malam yang bukan soal nilai atau PR. Membaca buku di depan mereka, bukan tersembunyi.
Itu yang bisa saya lakukan. Dan saya rasa itu cukup untuk memulai.
Siapa yang Akan Dapat Manfaat Paling Besar?
Cocok kalau kamu: Daddy yang merasa anaknya “tidak suka belajar” padahal sebenarnya tidak suka cara belajar yang selama ini ditawarkan. Atau Daddy yang ingin membangun fondasi keingintahuan anak, bukan hanya hasil akademis jangka pendek.
Mungkin belum waktunya kalau: Kamu sedang dalam krisis akademis anak yang butuh intervensi cepat untuk ujian besok lusa. Artikel ini lebih soal fondasi jangka panjang, bukan quick fix nilai.
Kalau kamu mau terus ikuti topik parenting seperti ini
Setiap minggu saya kirim satu topik tentang parenting, produktivitas, atau mindset untuk Daddy yang masih belajar, seperti saya. Tidak sempurna, tapi jujur.
Kalau mau saya kirim langsung ke email kamu, masuk ke newsletter Not A Perfect Daddy di sini, gratis, dan saya kirim tiap minggu.
Gabung Newsletter Not A Perfect Daddy →
Pertanyaan yang Sering Muncul
Anak saya sudah SMP, apa masih bisa diubah kecintaan belajarnya?
Masih bisa, tapi butuh sedikit lebih banyak kesabaran karena ada layer kebiasaan dan pengalaman yang sudah terbentuk. Yang penting mulai dari tempat di mana dia masih punya sedikit cahaya, topik atau format apa yang kadang masih bikin dia penasaran, dan bangun dari sana. Tidak ada titik di mana seseorang sudah “tidak bisa lagi” belajar untuk suka belajar.
Bagaimana kalau anak saya minatnya hanya ke hal yang tidak berguna seperti game?
“Tidak berguna” adalah frame yang cukup kuat dan bisa jadi penghalang. Game sendiri melibatkan problem solving, strategi, ketekunan, dan kadang literasi yang cukup tinggi. Yang lebih penting: bisakah kamu temukan jembatan antara dunia game yang dia cintai ke topik lain? Banyak anak yang masuk ke coding, matematika, bahkan sejarah lewat pintu yang bermula dari game.
Saya terlalu capek pulang kerja untuk bisa aktif seperti ini, gimana?
Tidak perlu aktif besar setiap hari. Salah satu poin Kwik yang saya pegang adalah modeling itu sendiri sudah powerful. Duduk di meja yang sama sambil baca hal yang kamu sendiri genuinely penasaran, itu sudah mengirim sinyal. Anak tidak butuh kita selalu “on” tapi hadir untuk anak secara fisik dan terlihat sebagai manusia yang masih belajar, itu sudah sangat berarti.
YouTube itu oke atau tidak untuk belajar?
Medianya netral. Yang penting adalah kontennya dan bagaimana kita dudampingi. 40 menit nonton video gunung berapi dengan rasa ingin tahu yang genuine itu jauh lebih baik dari 40 menit membaca buku dengan mata kosong. Kalau YouTube adalah pintu masuk ke rasa ingin tahu anak, gunakan itu sebagai jembatan, bukan musuh.
Kalau dua anak saya minatnya beda banget, apa bisa diterapkan bareng?
Bisa, tapi butuh pendekatan yang berbeda untuk masing-masing. Yang paling mudah adalah sesi bersama tapi dengan topik yang dipilih bergantian. Minggu ini minat si kakak, minggu depan minat si adik. Dan kedua-duanya ikut hadir mendengarkan, karena mendengar topik yang kita belum terlalu familiar itu sendiri adalah latihan keingintahuan yang baik.

