Saya inget banget satu malam. Anak-anak udah tidur, istri saya juga udah merem lebih dulu karena kecapean beresin rumah dari sore. Saya masih rebahan sambil pegang HP, scroll marketplace tanpa tujuan jelas, dan tiba-tiba ketemu satu barang dengan label “sisa 2” plus timer merah yang lagi menghitung mundur. Jam itu udah lewat jam 11 malam.
Saya nggak butuh barang itu. Saya cuma capek, dan sebelum otak saya sempat mikir “emang perlu?”, jempol saya udah di tombol checkout. Untungnya saya sadar di detik-detik terakhir dan batalin. Tapi butuh effort buat sadar dulu, dan justru itu yang bikin saya penasaran. Kenapa di jam segitu, di kondisi selelah itu, saya paling gampang tergoda?
Kalau kamu Daddy yang kerja delapan jam terus lanjut ngurus anak sampai jam sembilan atau sepuluh malam, jam-jam setelah anak tidur itu justru jam paling rawan buat keuangan keluarga. Bukan karena kamu boros. Karena di jam itu otak kamu ada di kondisi yang paling gampang diambil alih sama trigger belanja, dan ini bukan cuma perasaan saya, ini ada dasarnya di riset perilaku konsumen.
Kenapa Jam Capek Itu Jam Paling Rawan
Ada riset dari David Lewis, penulis buku The Brain Sell, yang secara spesifik neliti kapan orang paling rentan impulsive buying. Titik rawannya bukan pas orang lagi santai-santai biasa. Ada dua kondisi yang sama-sama bikin orang gampang kebeli, dan dua kondisi itu kelihatannya berlawanan.
Kondisi pertama, pas lagi nggak enak, capek, stres, atau lagi down. Kondisi kedua, pas lagi senang banget dan mode “sesekali boleh dong”, misalnya waktu liburan. Yang jadi sama dari dua kondisi ini, alarm rasional di kepala kita sama-sama turun. Bedanya cuma pemicunya, satu dari rasa lelah, satu dari rasa senang berlebih.
Buat Daddy karyawan yang capek kerja dan baru punya anak, kondisi pertama itu yang paling sering ketemu. Jam sepuluh atau sebelas malam setelah hari yang panjang, badan lelah, otak lelah, dan hape jadi satu-satunya hal yang masih terasa “hiburan” yang available. Itu kombinasi yang persis sama dengan kondisi rawan yang Lewis temukan di risetnya.
Dua Tipe Belanja yang Sebenarnya Kamu Lakukan
Lewis juga bikin pembedaan yang menurut saya kena banget kalau dipetakan ke kehidupan Daddy: ada orang yang “doing shopping” dan ada yang “going shopping”. Doing shopping itu belanja dengan tujuan jelas dan mau cepat selesai, contohnya beli diapers yang emang habis atau susu formula yang stoknya udah tinggal sedikit. Going shopping itu belanja buat hiburan, buat ngisi waktu, atau tanpa sadar buat ngobati mood yang lagi jelek.
Yang saya sadari dari kebiasaan saya sendiri, siang hari saya hampir selalu doing shopping. Buka aplikasi, cari barang spesifik, checkout, tutup aplikasi. Tapi malam hari setelah anak tidur, tanpa saya rencanakan, saya geser jadi going shopping. Scroll tanpa tujuan, lihat-lihat “siapa tahu ada yang menarik”, dan di mode ini justru paling mudah kena trigger barang yang sebenarnya nggak ada di rencana belanja bulanan.
Masalahnya, going shopping itu sendiri nggak salah. Yang bikin bahaya adalah kalau kamu going shopping justru di jam paling lelah, dengan dompet yang tetap sama terbatasnya seperti siang hari.
“Sisa 2” Itu Bukan Kebetulan
Ini bagian yang paling bikin saya “oh” waktu baca risetnya. Ada perbedaan antara kebutuhan biasa dan yang disebut want-need. Kebutuhan biasa itu rasanya kayak “boleh sih kalau ada”. Want-need itu berubah jadi “harus punya ini sebelum kehabisan”, padahal barangnya sama saja dengan kemarin.
Cara menciptakan want-need itu cuma dua: batasi supply, dan bikin orang lain kelihatan udah punya. Makanya toko online suka pakai kombinasi “stok terbatas” plus foto orang lain yang udah pakai barangnya. Dua elemen ini kalau digabung, otak kita membaca situasinya jadi “kalau saya nggak ambil sekarang, saya bakal ketinggalan sesuatu yang orang lain sudah dapat”. Rasa takut ketinggalan itu jauh lebih kuat dorongannya dibanding rasa “lumayan kalau punya”.
Saya nggak bilang semua timer di aplikasi belanja itu bohong. Kadang memang stoknya benar terbatas. Tapi mekanismenya tetap sama, dirancang supaya kamu memutuskan lebih cepat dari biasanya, dan keputusan cepat itu yang paling sering menang waktu badan sudah capek.
Cara Saya Lawan Ini, Bukan dengan Niat Doang
Yang saya pelajari, otak kita cuma bisa benar-benar fokus ke satu pemikiran sadar dalam satu waktu. Ada satu teknik defense sederhana dari riset ini, kalau kamu sengaja masukkan satu pemikiran lain yang cukup butuh perhatian, momentum impulsif itu keputus di tengah jalan. Contoh yang dipakai di risetnya lucu banget, bayangin gajah warna pink yang lompat ke kolam custard biru. Aneh, tapi efeknya nyata, otak kamu dipaksa mikir hal lain dulu, dan jeda itu cukup buat kesadaran kamu balik.
Saya nggak pakai gajah pink, tapi saya bikin versi saya sendiri. Ada satu pertanyaan yang saya wajibkan ke diri sendiri sebelum tekan checkout di atas jam sepuluh malam: “Kalau saya lihat barang ini lagi besok siang, masih semenarik ini nggak?” Pertanyaan sederhana ini cukup buat interrupt pola otomatis saya, karena mikirin jawabannya butuh satu pemikiran sadar yang beda dari dorongan “beli sekarang”.
Langkah lain yang saya pakai, saya charge HP di ruang tamu setelah jam sepuluh, bukan di kamar. Kedengarannya kecil, tapi karena barrier fisiknya ada, momentum belanja tengah malam otomatis kepotong sebelum sempat mulai.
Bagaimana Ini Bekerja di Kehidupan Saya
Saya nggak klaim udah sempurna soal ini. Ada malam-malam saya masih kebeli barang kecil yang sebenarnya nggak penting, dan itu nggak apa-apa, saya bukan Daddy yang sempurna soal keuangan juga. Tapi sejak saya kasih nama ke pola ini, saya lebih sering sadar di tengah jalan dibanding sebelumnya. Dulu saya sadar setelah barang datang, sekarang saya sadar sebelum bayar. Itu bedanya.
Yang saya rasakan paling nyata, keluarga saya jadi punya sedikit lebih banyak ruang untuk hal yang sebenarnya kami rencanakan, misalnya tabungan pendidikan anak, karena bocor kecil dari belanja impulsif malam hari udah berkurang. Bukan angka besar, tapi konsisten kecil itu yang akhirnya kelihatan bedanya di akhir bulan.
Siapa yang Akan Dapat Manfaat Paling Besar?
Cocok kalau kamu: Daddy yang notice pola belanja onlinemu justru lebih aktif di malam hari setelah anak tidur, atau kamu udah pernah checkout sesuatu dan besoknya nyesel kenapa beli.
Mungkin belum waktunya kalau: kamu memang belum punya masalah dengan belanja impulsif, atau belanja malam kamu memang selalu terencana dan doing shopping. Kalau begitu, artikel ini sekadar pengetahuan tambahan, bukan sesuatu yang harus langsung diubah.
Kalau Kamu Mau Bangun Sistem yang Lebih Sadar, Bukan Cuma Nahan Diri
Belanja impulsif cuma satu gejala kecil dari pola hidup yang kerja terus tapi nggak sempat berhenti dan mikir. Kalau kamu mau belajar cara membangun sistem harian yang bikin kamu lebih sadar dan hadir untuk anak, bukan cuma capek terus reaktif tiap malam, saya tulis lebih dalam di newsletter Not A Perfect Daddy. Daftar di daddy.co.id/newsletter.
Gabung Newsletter Not A Perfect Daddy ->
Pertanyaan yang Sering Muncul
Kenapa saya sadar barang itu nggak perlu, tapi tetap kebeli juga?
Karena kesadaran rasional dan dorongan beli itu diproses di bagian otak yang berbeda, dan waktu badan capek, bagian yang rasional itu kalah kuat. Ini bukan soal kamu kurang tahan diri, ini soal kondisi otak yang lagi lemah di jam itu. Solusinya bukan nambah tekad, tapi kurangi kesempatan otak kamu ada di kondisi rawan itu sambil pegang HP dengan akses checkout.
Apakah semua orang rentan di jam yang sama?
Nggak selalu jam yang sama, tapi pola risikonya sama: saat kamu paling capek atau paling stres di hari itu. Buat sebagian Daddy itu jam sebelas malam, buat yang lain bisa jadi jam istirahat siang di kantor waktu lagi banyak tekanan kerjaan. Kenali jam rawan versi kamu sendiri, bukan jam rawan versi orang lain.
Kalau saya sudah kebeli, apa yang sebaiknya saya lakukan?
Cek dulu kebijakan pengembalian sebelum barang datang, banyak platform sekarang punya window pembatalan atau retur. Tapi yang lebih penting, catat pola ini di HP kamu, jam berapa, kondisi apa waktu itu. Itu data yang bisa kamu pakai buat kenali jam rawan kamu sendiri ke depannya.
Apakah teknik “pemikiran lain” ini bisa dipakai untuk hal selain belanja?
Bisa. Prinsip yang sama dipakai orang buat interrupt kebiasaan lain, misalnya buka media sosial otomatis tanpa sadar. Intinya sama, otak cuma bisa fokus satu hal sadar dalam satu waktu, jadi masukin satu pertanyaan atau gerakan fisik kecil sebelum kebiasaan otomatis itu jalan.
Bagaimana cara ngomong soal ini ke istri tanpa kedengaran defensif?
Saya sendiri lebih nyaman cerita ini sebagai temuan, bukan pengakuan bersalah. “Aku baru sadar aku gampang kebeli barang jam segini, makanya aku mau coba charge HP di luar kamar” itu kedengaran beda dengan “aku emang boros”. Yang satu ngajak solusi bareng, yang satu cuma nyalahin diri sendiri.

