Saya inget betul sore itu. Anak saya yang kecil, si laki yang sekarang 4 tahun, lagi main mainan di ruang keluarga. Kakaknya datang, ambil salah satu mainannya, dia langsung nangis kencang. Saya sudah lelah, sudah habis kerja, dan yang keluar dari mulut saya adalah: “Sudah, jangan nangis. Bilang baik-baik sama kakak.”
Hasilnya? Dia nangis lebih kencang.
Dan saya frustrasi, karena saya sudah ngomong yang “benar.” Saya sudah tahu cara bicara ke anak. Tapi kenapa tidak mempan?
Pertanyaan itu yang kemudian bawa saya ke konsep parenting dari Jepang yang namanya Shitsuke. Dan jawaban yang saya temukan bukan yang saya harapkan, tapi yang saya butuhkan.
Apa Itu Shitsuke dan Kenapa Beda dari Disiplin yang Biasa Kita Praktikkan
Shitsuke dalam budaya Jepang secara harfiah berarti “membentuk karakter melalui latihan.” Tapi kalau diterjemahkan ke konteks parenting modern, artinya lebih spesifik: disiplin preventif.
Bukan tunggu anak buat kesalahan, baru hukum.
Bukan nunggu anak tantrum, baru jelasin kenapa tidak boleh.
Ide dasarnya: orang tua secara aktif mengajarkan perilaku yang diinginkan sebelum situasi bermasalah muncul. Kamu tidak perlu jadi “hakim” yang menghukum, kamu jadi “guru” yang mengajarkan.
Ini berbeda fundamental dari cara disiplin yang banyak dari kita terima waktu kecil. Cara yang kita tahu umumnya reaktif: anak salah, orang tua bereaksi, ada konsekuensi. Kalau cukup konsekuensinya, anak akan berhenti.
Masalahnya, siklus itu tidak pernah benar-benar selesai. Anak berhenti karena takut, bukan karena ngerti. Dan begitu rasa takutnya hilang, atau situasinya sedikit berbeda, perilaku yang sama muncul lagi.
Shitsuke menawarkan pendekatan yang berbeda melalui 3 prinsip yang saling menopang.
3 Prinsip Shitsuke
Prinsip 1: Model Perilaku yang Kamu Inginkan
Ini yang paling tidak enak didengar karena langsung nunjuk balik ke kita.
Anak adalah observational learner. Mereka belajar paling banyak bukan dari apa yang kita katakan, tapi dari apa yang mereka lihat kita lakukan setiap hari. Saat kita marah di jalan, saat kita frustrasi sama laptop, saat kita bereaksi ke pasangan, saat kita handle kekecewaan, anak memperhatikan itu semua dan menyimpannya.
Kalau kamu mau anak yang bisa bicara dengan tenang waktu mereka marah, kamu perlu jadi contoh anak yang bicara dengan tenang waktu kamu marah. Kalau kamu mau anak yang bisa terima “tidak” tanpa drama, kamu perlu tunjukkan bahwa kamu juga bisa terima situasi yang tidak sesuai harapan tanpa drama.
Saya tahu ini bukan hal yang mudah. Saya sendiri masih belajar ini.
Yang membuat prinsip ini lebih achievable adalah konsep yang saya sebut modeling repair, dan ini adalah bagian yang sering dilewatkan orang. Kamu tidak harus sempurna. Kamu harus jujur.
Kalau kamu terlanjur marah dan berteriak ke anak, kamu bisa kembali ke anak dan bilang: “Maaf Daddy berteriak tadi. Daddy tidak seharusnya begitu. Lain kali Daddy akan coba tarik napas dulu.”
Ini bukan tanda lemah. Ini mengajarkan dua hal sekaligus kepada anak kamu: bahwa semua orang bisa berbuat salah, dan bahwa ada cara untuk memperbaiki hubungan setelah kesalahan. Dua skill emosional yang mereka butuhkan sepanjang hidup.
Saya sudah coba ini ke anak saya yang perempuan, yang sekarang hampir 8 tahun. Awalnya awkward banget buat saya. Tapi perubahan yang saya lihat di cara dia minta maaf ke adiknya setelah itu, itu yang bikin saya yakin ini worth it.
Prinsip 2: Ekspektasi yang Kristal Jelas dan Aturan yang Konsisten
Ini yang berhubungan langsung dengan jawaban kenapa anak “nakal” terus.
Anak tanpa aturan yang jelas ada dalam kondisi yang, kalau kita bayangkan dari sudut pandang mereka, cukup melelahkan. Mereka terus-terusan harus menebak: boleh ini tidak ya? kalau saya lakukan ini apa yang terjadi? kemarin boleh, sekarang boleh tidak?
Ketidakpastian itu tidak membuat anak santai. Itu membuat mereka anxious, dan cara mereka menangani anxiousness itu adalah dengan terus mencoba, terus test batas, sampai mereka tahu pasti di mana batasnya.
Jadi yang kita kira “nakal” atau “tidak bisa dibilangin” sering kali adalah anak yang sedang dalam mode penelitian. Mereka sedang cari tahu peta batas yang sesungguhnya.
Aturan yang jelas menghilangkan kebutuhan untuk penelitian itu. Kalau anak tahu dengan pasti bahwa layar mati jam 7 malam, setiap hari, tidak ada pengecualian, mereka tidak perlu lagi test apakah malam ini mungkin beda. Energi testing itu bisa pindah ke hal lain.
Yang sama pentingnya adalah konsistensi dari semua caregiver. Di banyak keluarga Indonesia, ini tantangan yang nyata karena bukan hanya ayah dan ibu, tapi ada nenek, ada kakek, mungkin ada mbak atau pembantu rumah tangga yang juga terlibat mengasuh anak.
Kalau di rumah Daddy bilang tidak boleh makan di depan TV, tapi kalau sama nenek boleh, anak belajar satu hal: batasnya tergantung siapa yang jaga. Hasilnya bukan anak yang tidak mau ikut aturan, tapi anak yang terus test karena mereka tahu ada kemungkinan dapat jawaban berbeda kalau tanya orang yang berbeda.
Solusinya? Satu percakapan jujur dengan semua caregiver tentang aturan mana yang tidak bisa dikompromikan. Tidak harus semua hal, tapi beberapa hal utama yang kamu dan pasangan sepakati perlu konsisten dari siapapun yang jaga.
Prinsip 3: Ajarkan Skill-nya, Bukan Hanya Hentikan Perilakunya
Ini yang menjawab frustrasi saya di awal cerita tadi.
Waktu saya bilang ke anak saya yang kecil “jangan nangis, bilang baik-baik sama kakak,” saya sebenarnya meminta dia melakukan sesuatu yang belum punya skill-nya. Dia belum punya skill untuk mengkomunikasikan kekecewaan secara verbal saat emosinya sedang peak. Dia belum punya skill untuk bergiliran. Dia belum punya skill untuk menunggu.
Setiap “perilaku buruk” yang kita lihat pada anak, dalam banyak kasus adalah sinyal skill yang belum dimiliki. Bukan tanda karakter buruk. Bukan tanda tidak mau nurut. Hanya belum ada tool-nya di kotak peralatan mereka.
Anak yang tantrum di supermarket? Kemungkinan besar belum punya skill untuk handle kekecewaan saat keinginan tidak terpenuhi.
Anak yang merebut mainan dari teman? Belum punya skill untuk bergiliran dan menunggu.
Anak yang berteriak saat marah? Belum punya cara lain untuk mengekspresikan intensitas emosi itu.
Kalau kita hanya fokus menghentikan perilakunya tanpa mengajarkan skill penggantinya, kita menutup satu pintu tapi tidak membuka pintu baru. Anak masih punya kebutuhan yang sama, hanya tidak ada cara yang “diizinkan” untuk memenuhinya.
Cara mengajarkan skill ini perlu konkret dan spesifik. Bukan “kamu harus sabar.” Tapi “kakak sedang pakai dinosaur itu. Kamu bisa dapat main dalam 1 menit. Kamu bisa pegang yang ini dulu sambil tunggu.” Semakin konkret instruksi skill-nya, semakin anak bisa menggunakannya.
Bagaimana Ini Bekerja di Kehidupan Saya
Saya bukan ahli parenting. Saya ayah yang masih belajar, dengan dua anak yang usianya cukup jauh berbeda sehingga kebutuhan mereka sangat berbeda juga.
Yang saya mulai terapkan setelah memahami Shitsuke adalah fokus pada prinsip ketiga dulu, karena itu yang paling langsung saya bisa lakukan sekarang. Ketika anak saya yang kecil merebut mainan kakaknya, saya tidak langsung bilang “jangan.” Saya coba masuk ke situasinya dulu: “Kamu mau itu ya? Iya bagus kan itu. Tapi sekarang kakak yang pakai. Kamu bisa minta giliran sambil bilang ‘kakak, boleh pinjam?’”
Hasilnya tidak langsung sempurna. Kadang dia tetap nangis. Tapi ada momen di mana dia coba, dan berhasil, dan ekspresi mukanya saat kakaknya menyerahkan mainan itu dengan sukarela, itu beda dari kalau dia dapat karena direbut atau karena saya paksa kasih.
Juga untuk diri saya sendiri sebagai model: saya mulai lebih sadar saat saya bereaksi berlebihan di depan anak. Dan kalau sudah terlanjur, saya coba balik dan minta maaf dengan cara yang bisa mereka pahami. Tidak setiap kali berhasil. Tapi cukup sering untuk membangun sesuatu.
Siapa yang Akan Dapat Manfaat Paling Besar?
Cocok kalau kamu: punya anak usia 2-8 tahun dan mulai frustrasi karena anak “tidak mau dengar” meski sudah berulang kali dikasih tahu. Juga cocok kalau kamu sadar cara disiplin yang kamu dapat waktu kecil tidak mau kamu ulangi ke anak, tapi belum tahu konkretnya harus mulai dari mana.
Mungkin belum waktunya kalau: anak kamu masih di bawah 18 bulan karena kapasitas kognitif untuk memahami aturan dan skill sosial seperti bergiliran baru berkembang setelahnya. Fokus di usia itu lebih ke attachment dan regulasi dasar.
Kalau Kamu Mau Terus Explore Topik Parenting Praktis
Saya tulis tentang pengalaman nyata jadi ayah, bukan teori textbook, di newsletter Not A Perfect Daddy setiap minggu. Kalau topik seperti ini berguna buat kamu, masuk saja.
Kalau mau saya kirim tips dan framework parenting praktis langsung ke email kamu, masuk ke newsletter Not A Perfect Daddy di sini — gratis, dan saya kirim tiap minggu.
Gabung Newsletter Not A Perfect Daddy →
Pertanyaan yang Sering Muncul
Apakah Shitsuke berarti tidak boleh ada konsekuensi sama sekali?
Tidak. Konsekuensi tetap ada tempat, tapi bukan jadi senjata utama. Dalam framework Shitsuke, konsekuensi logis dan natural masih dipakai, yaitu konsekuensi yang berhubungan langsung dengan perilakunya. Kalau anak lempar mainan, mainan itu disimpan untuk sementara. Itu masuk akal buat anak. Yang dihindari adalah hukuman yang arbitrary dan tidak ada hubungannya dengan perilaku, atau hukuman yang berbasis rasa malu. Tujuannya tetap mengajarkan, bukan menyakiti atau mempermalukan.
Bagaimana kalau pasangan tidak sepakat dengan pendekatan ini?
Ini tantangan yang nyata dan valid. Yang paling pragmatis adalah mulai dari area yang ada persetujuan, tidak perlu semuanya langsung berubah. Pilih satu atau dua hal konkret yang kalian berdua bisa commit untuk konsisten, misalnya soal waktu layar atau waktu tidur. Dari situ bangun kepercayaan bahwa konsistensi bekerja. Lebih mudah mengajak pasangan masuk ke pendekatan baru kalau mereka sudah melihat hasilnya di area kecil.
Kalau nenek sudah punya cara tersendiri, apakah saya harus minta mereka berubah?
Tidak harus semua hal berubah. Yang perlu adalah alignment di beberapa aturan inti, bukan total keseragaman. Pendekatan yang lebih efektif daripada konfrontasi langsung adalah framing sebagai “tolong bantu saya ajarkan ini ke anak”, bukan “cara nenek salah.” Orang tua yang lebih tua umumnya lebih mudah bergerak kalau mereka merasa dilibatkan, bukan dikritik.
Anak saya sudah 6 tahun, apakah masih bisa menerapkan ini atau sudah terlambat?
Tidak ada yang terlambat untuk mulai, meski perubahan mungkin butuh waktu lebih panjang karena pola yang sudah terbentuk. Untuk anak 6 tahun kamu bahkan bisa lebih eksplisit dalam mengajarkan skill karena kapasitas bahasa dan pemahaman mereka sudah lebih berkembang. Yang penting kamu konsisten dan ekspektasinya realistis, perubahan butuh waktu minggu sampai bulan, bukan hari.
Apakah ini cocok untuk anak yang punya kebutuhan khusus atau lebih sensitif?
Prinsip dasarnya cocok tapi implementasinya perlu disesuaikan. Anak yang lebih sensitif secara temperamen mungkin butuh lebih banyak waktu dan repetisi dalam belajar skill tertentu. Modeling repair justru sangat penting untuk anak sensitif karena mereka lebih mudah membawa perasaan bersalah. Kalau kamu punya anak dengan kebutuhan khusus yang sudah terdiagnosis, sebaiknya konsultasi dengan terapis yang familiar dengan profil spesifik anak kamu untuk penyesuaian lebih lanjut.

