Ada satu kalimat yang mungkin paling sering saya ucapkan ke anak saya sebelum saya sadar seberapa sering saya mengucapkannya.
“Nanti ya, Daddy lagi sibuk.”
Saya tidak bermaksud jahat. Sungguh tidak. Saya memang sedang sibuk. Ada email yang harus dibalas, ada panggilan yang harus diambil, ada satu hal lagi yang harus diselesaikan sebelum bisa benar-benar duduk dan main bareng anak.
Masalahnya, “nanti” itu tidak pernah benar-benar datang.
Satu hal selesai, muncul satu hal lain. Dan anak saya, yang usianya masih 4 tahun waktu itu, tidak punya konsep waktu yang cukup untuk memahami kenapa Daddy selalu bilang nanti tapi tidak pernah benar-benar hadir.
Yang dia tahu: dia minta, Daddy bilang nanti, dan nanti tidak datang.
“Nanti Kita Main” Adalah COD dalam Parenting
Saya pernah baca tentang konsep Cash on Delivery dalam konteks bisnis: ketika pembayaran tidak dilakukan di muka, tapi ditunda sampai barang atau jasa diterima, bisnis itu butuh working capital buffer yang lebih besar. Ada biaya tersembunyi dari penundaan itu, dan kalau tidak dikelola, biaya itu akan terakumulasi sampai akhirnya meledak.
Parenting bekerja dengan cara yang mirip mengejutkan.
Setiap kali kamu bilang “nanti kita main”, kamu sedang menciptakan hutang kehadiran. Anak kamu tidak menghapus permintaan itu dari memorinya. Dia menunggu. Dan setiap “nanti” yang tidak ditepati menambah satu layer lagi pada catatan yang dia buat, secara bawah sadar, tentang apakah Daddy bisa diandalkan.
Biaya tersembunyinya bukan langsung terasa. Tidak ada alarm yang bunyi saat kamu bilang nanti untuk keseratus kali. Tapi ada sesuatu yang perlahan terkikis: kepercayaan anak bahwa kamu akan hadir saat dia butuh.
Dan saat kepercayaan itu sudah terkikis cukup jauh, anak berhenti meminta. Bukan karena dia tidak butuh kamu lagi. Tapi karena dia sudah belajar bahwa meminta ke kamu tidak menghasilkan kehadiran kamu.
Kenapa Kita Terperangkap di Pola Ini
Saya tidak mau jadi terlalu keras dengan diri sendiri atau dengan siapapun yang membaca ini dan mengenali pola ini. Karena kondisinya memang tidak mudah.
Daddy karyawan yang baru punya anak, atau yang anaknya sudah tumbuh tapi ritme kerjanya masih menyita energi, itu benar-benar kelelahan. Kerja 8 jam atau lebih, commute makan waktu, dan sampai rumah energi sudah menipis. Dan anak yang bersemangat main justru datang saat tangki energi kamu paling kosong.
Ada beberapa alasan kenapa “nanti” jadi respons default:
Pertama, working capital energi kita habis. Seperti bisnis yang tidak punya cash buffer, kita tidak punya cadangan energi untuk keluarga karena semuanya sudah dipakai di tempat kerja. Ini bukan kemalasan, ini mismanajemen distribusi energi.
Kedua, kita tidak pernah benar-benar menghitung biaya penundaan itu. Dalam bisnis, ada angka jelas: hutang sekian, bunga sekian, jatuh tempo sekian. Dalam parenting, biayanya tidak terlihat sampai sudah cukup besar. Jadi kita terus menunda karena tidak merasa ada yang rusak.
Ketiga, kita percaya bahwa “quality time” sesekali bisa menggantikan “quantity time” yang absen. Satu liburan keluarga bisa cover berbulan-bulan “nanti kita main”. Secara teori mungkin masuk akal. Secara praktik, di kepala anak yang masih kecil, tidak begitu cara kerjanya.
Dari “Nanti” ke “Sekarang” Tidak Harus Besar
Ini yang saya pelajari setelah beberapa waktu mencoba berbeda: perubahan dari pola COD ke pola yang lebih sehat tidak harus berupa revolusi besar.
Tidak harus liburan mewah. Tidak harus resign dari kerjaan. Tidak harus jadi Daddy yang sempurna.
Yang dibutuhkan adalah sesuatu yang jauh lebih sederhana tapi jauh lebih sulit: konsistensi pada hal-hal kecil yang kamu tepati.
Satu Slot yang Tidak Bisa Dinegosiasi
Satu perubahan paling konkret yang saya lakukan adalah memutuskan satu slot waktu setiap hari yang tidak bisa diganggu oleh pekerjaan. Tidak besar, cuma 20 menit setelah makan malam.
Dua puluh menit. Selama waktu itu, HP saya letakkan menghadap bawah. Tidak ada email, tidak ada notifikasi. Hanya saya dan anak.
Yang menarik adalah bukan durasi 20 menitnya yang paling penting. Yang paling penting adalah konsistensinya. Anak belajar bahwa slot ini pasti ada. Bukan nanti, bukan kalau ada waktu. Setiap hari.
Begitu anak mulai percaya bahwa slot ini pasti ada, ada sesuatu yang berubah. Dia lebih jarang minta perhatian di luar slot itu, karena dia tahu ada waktunya. Dia tidak perlu compete terus dengan laptop saya, karena ada bagiannya sendiri yang sudah dijamin.
Beri Batas Waktu yang Konkret, Bukan “Nanti”
Kalau memang belum bisa sekarang, jangan bilang “nanti”. Berikan waktu spesifik.
“Daddy selesai ini 15 menit lagi ya, habis itu kita main.”
Dan tepati. Sekalipun 15 menitnya molor jadi 20, segera update: “Sorry ya, ternyata 5 menit lagi.”
Ini melatih anak untuk memahami bahwa kamu tidak menghindar, hanya sedang ada sesuatu yang perlu diselesaikan dulu. Dan saat kamu konsisten tepati janji kecil ini, hutang kepercayaan itu pelan-pelan mulai dibayar.
Ubah Kualitas “Sekarang” yang Pendek Menjadi Lebih Hadir
Ada perbedaan besar antara duduk bareng anak selama 30 menit tapi pikiran di tempat lain, dengan duduk 10 menit tapi benar-benar hadir, benar-benar menatap, benar-benar mendengar.
Anak, terutama yang masih kecil, tidak menghitung jam. Mereka merasakan apakah kamu ada di sini atau tidak.
Dan ini yang saya maksud tentang hadir untuk anak secara fisik sekaligus mental. Bukan hanya tubuh di ruang yang sama.
Bagaimana Ini Bekerja di Kehidupan Saya
Jujur ya, saya butuh waktu untuk sadar bahwa “nanti kita main” saya sudah menjadi pola, bukan pengecualian. Saya pikir saya sudah cukup hadir karena saya ada di rumah. Tapi ada di rumah dan hadir untuk anak itu dua hal berbeda.
Perubahan yang paling terasa buat saya bukan dari satu keputusan besar, tapi dari satu komitmen kecil yang dijaga: 20 menit malam tanpa HP. Itu yang saya mulai, dan itu yang paling konsisten saya jalankan.
Yang saya temukan setelah beberapa bulan: anak saya lebih jarang “minta perhatian di waktu yang salah”, karena dia sudah tahu ada waktunya sendiri. Istri saya juga notice perbedaannya, bukan dari ngomong ke dia tapi dari lihat perubahan sikap anak.
Ini bukan transformasi besar. Ini satu langkah lebih jauh dari tidak melakukan apa-apa. Dan ternyata itu cukup untuk mulai mengubah arah.
Siapa yang Akan Dapat Manfaat Paling Besar?
Cocok kalau kamu: Daddy yang sudah sadar bahwa “nanti” terlalu sering menjadi jawaban, dan mau mulai dengan satu komitmen kecil yang konkret dan bisa dijaga konsisten.
Mungkin belum waktunya kalau: Kamu sedang dalam krisis pekerjaan yang benar-benar menguras waktu dan energi sampai tidak ada margin sama sekali. Dalam situasi itu, langkah pertama bukan menambah komitmen baru ke anak, tapi dulu selesaikan krisis itu dengan target waktu yang jelas.
Kalau Kamu Mau Lebih Dalam
Banyak hal tentang kehadiran sebagai Daddy, cara menjaga koneksi tanpa harus mengorbankan satu dengan yang lain, dan framework kecil yang bisa langsung dicoba, saya tulis di newsletter Not A Perfect Daddy. Saya kirim setiap minggu, gratis.
Daftar di daddy.co.id/newsletter.
Gabung Newsletter Not A Perfect Daddy ->
Pertanyaan yang Sering Muncul
Apakah anak yang lebih besar (di atas 7 tahun) masih terpengaruh oleh pola ini?
Ya, bahkan mungkin lebih terasa dampaknya karena mereka sudah mulai memproses secara sadar. Anak yang lebih besar mulai membandingkan: “kenapa Daddy ada untuk hal lain tapi tidak untuk saya?” Bedanya, mereka mungkin tidak bilang langsung, tapi penarikan diri perlahan dari Daddy yang sering absen itu ada. Yang bagusnya: di usia ini komunikasi juga bisa lebih eksplisit. Kamu bisa bilang ke anak yang lebih besar: “Daddy mau minta maaf karena terlalu sering bilang nanti. Sekarang Daddy mau coba lebih baik.” Itu momen yang kuat.
Bagaimana kalau saya bekerja dari rumah dan batasan kerja-keluarga sudah kabur?
Ini justru lebih rentan ke pola COD, karena kamu secara fisik ada tapi tidak hadir. Anak bisa lihat kamu tapi tidak bisa akses kamu. Solusi yang paling konkret: ada boundary visual yang jelas, misalnya saat pintu ruang kerja tutup artinya Daddy sedang kerja, saat pintu terbuka artinya bisa didatangi. Dan saat “jam kerja” selesai, benar-benar selesai. Bukan sambil sebelah mata masih balas email.
Kalau istri lebih sering hadir dan anak sudah lebih dekat ke ibu, apa yang bisa dilakukan?
Mulai dari yang kecil dan konsisten. Tidak perlu langsung compete atau mengejar ketertinggalan dengan gesture besar. Anak merespons konsistensi, bukan intensitas sesaat. Satu hal yang kamu lakukan setiap hari secara konsisten akan mengubah pola itu perlahan, lebih efektif dari satu momen besar yang tidak berkelanjutan.
Berapa lama sampai pola “nanti kita main” ini bisa berubah?
Tidak ada angka pasti, tapi dari apa yang saya amati, dua minggu konsistensi sudah cukup untuk anak mulai merespons berbeda. Satu bulan sudah cukup untuk dinamika berubah cukup terasa. Kuncinya bukan kecepatan, tapi tidak ada “nanti” yang tidak ditepati selama proses itu.

